
Waktu menunjukkan pukul 04.30 pagi. Di saat semua orang sedang terlelap, Arini sudah siap berangkat dan pergi meninggalkan rumah itu. Perlahan Arini melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan sangat perlahan agar orang-orang di dalam rumah tersebut tidak ada yang menyadari kepergiannya.
Kamar Anissa dan Bu Nining terdengar hening. Mereka masih terlelap dalam tidur nyenyak mereka. Apa lagi Bu Nining yang begadang hingga jam dua pagi untuk menemani si kecil Azkia yang saat itu sedang rewel. Sementara Dodi masih terlelap di atas sofa ruangan televisi.
Ketika melewati ruangan itu, Arini sempat menghentikan langkahnya dan menatap Dodi yang tertidur dengan posisi meringkuk. "Maafkan aku, Mas Dodi. Aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini," gumam Arini sambil menghela napas panjang.
Setelah itu ia pun kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan rumah tersebut, Arini sempat menoleh kembali dengan raut wajah sendu. Biar bagaimanapun kenangan dirinya di rumah itu sangatlah banyak. Ya, walaupun kenangan pahit lah yang paling mendominasi dari semuanya.
Kini Arini melangkah gontai menelusuri jalan utama di komplek perumahan tersebut tanpa rasa takut sedikitpun. Padahal saat itu kondisi di jalanan sangatlah sepi. Tak ada satu orangpun yang Arini temui pada saat itu. Jangankan warga komplek, para keamanan yang sering berjaga pun tidak kelihatan batang hidungnya.
Setibanya di depan komplek ternyata sebuah mobil mewah sudah menunggu kehadiran Arini di sana. Ketika pintu mobil tersebut terbuka, tampaklah Nyonya Arniz keluar dari mobil dengan wajah semringah. Wanita cantik yang masih mengenakan piyama tidur tersebut menghampiri Arini.
Nyonya Arniz meraih tas yang Arini bawa saat itu kemudian menyerahkannya kepada Pak Kosim, sopir pribadinya untuk di simpan ke dalam bagasi. "Mari masuk, Arini," ucap Nyonya Arniz.
"Ya, ampun, Nyonya. Apa saya tidak merepotkan Nyonya?" ucap Arini yang merasa sangat tidak enak.
"Tidaklah! Ini 'kan memang kemauannya aku. Tapi ... kok aku kayak maling, ya, mengendap-endap begini," gumam Nyonya Arniz sambil terkekeh pelan kemudian mendorong tubuh Arini agar segera masuk ke dalam mobil mewahnya.
__ADS_1
Setelah Arini masuk ke dalam mobil, Pak Kosim pun bergegas melajukan mobil tersebut meninggalkan komplek perumahan. Setelah beberapa puluh meter dari tempatnya menjemput Arini, akhirnya Nyonya Arniz bisa menghembuskan napas lega.
"Ah, akhirnya kita berhasil menculikmu, Arini!" ucap Nyonya Arniz sambil tergelak. Wanita itu bahkan sampai menepuk pundak Arini berkali-kali.
"Kamu tidak menyesal 'kan, Arini?" tanya Nyonya Arniz kemudian.
Arini menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum hangat. "Tidak, Nyonya. Saya tidak menyesal dengan keputusan saya saat ini. Saya bahkan sudah memikirkannya dengan matang," jawab Arini mantap.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Aku takut kamu menyesal dan kita bisa putar balik kembali ke kediamanmu," tutur Nyonya Arniz.
"Jangan, Nyonya. Saya yakin, saya tidak akan pernah menyesali hal ini dan seharusnya saya sudah melakukan hal ini dari dulu-dulu," sahutnya.
Dan yang paling penting dari semuanya adalah tidak akan ada suara-suara yang biasa membuat telinga Arini sakit. Tidak ada pemandangan yang akan membuat mata dan hati Arini perih.
Nyonya Arniz membuka pintu rumah itu kemudian memperlihatkannya kepada Arini. "Bagaimana? Apa kamu menyukainya?"
Mata Arini tampak berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan sosok Nyonya Arniz yang begitu peduli akan nasibnya. Arini refleks memeluk tubuh Nyonya Arniz sambil menitikkan air matanya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Nyonya. Saya tidak tahu harus bilang apa lagi kepada Anda dan saya pun tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Anda ini," lirih Arini.
Ternyata saat itu Nyonya Arniz tidak sendiri. Tuan Malik pun juga berada di tempat itu. Lelaki itu tiba lebih dulu dan menunggu kedatangan istrinya yang tengah menjemput Arini.
Tuan Malik tersenyum tipis menatap Arini yang kini sedang memeluk istrinya. Ia pun ikut senang karena ternyata Arini menyukai tempat itu. "Semoga kamu betah tinggal di sini, Arini," ucap Tuan Malik sembari berdiri di samping tubuh Nyonya Arniz.
"Terima kasih banyak, Tuan! Terima kasih banyak atas semua bantuan yang kalian berikan kepadaku," ucap Arini seraya melerai pelukannya bersama Nyonya Arniz dan membungkuk hormat berkali-kali kepada pasangan itu.
"Kami sangat senang bisa membantumu, Arini. Dan ingat, jangan sungkan untuk bicara kepada kami jika kamu membutuhkan bantuan. Baik aku maupun Tuan Malik akan selalu membuka lebar tangan kami untuk membantumu," sahut Nyonya Arniz kemudian.
"Terima kasih banyak," ucap Arini lagi.
Sebelum Nyonya Arniz dan Tuan Malik pergi dari kontrakan Arini, pasangan itu sempat membantu Arini merapikan rumah kontrakan tersebut tanpa merasa risih sedikitpun.
"Arini, kalau kamu masih repot, kamu bisa bolos kerja hari ini. Kamu tenang saja, uang gajimu tidak akan aku potong," ucap Nyonya Arniz sambil terkekeh pelan.
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Karena hari semakin pagi dan pasangan itu pun akhirnya pamit kepada Arini.
...***...