Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 123


__ADS_3

Ceklek


Arini melemparkan senyuman hangatnya untuk lelaki yang kini sedang memasuki kamar utama, kamarnya bersama lelaki itu. Tuan Malik menatapnya kemudian membalas senyuman Arini dalam sekejap mata. Lelaki itu kembali memasang wajah dingin, sama seperti biasanya.


Ia berjalan menghampiri tempat tidur, di mana Arini masih mempersiapkan tempat tidur untuk mereka nanti malam. Tuan Malik berdiri di depan lemari pakaian sembari membuka satu persatu kancing kemejanya dengan posisi membelakangi Arini.


"Mas, bathtub-nya sudah kuisi dengan air hangat. Mas tinggal menggunakannya saja," ucap Arini sembari memperhatikan punggung Tuan Malik yang kini terpampang jelas di matanya. Punggung kekar dan berotot itu seolah menggoda Arini untuk disentuh.


Setelah melepaskan kemejanya, Tuan Malik berpaling dan menatap Arini untuk sesaat, kemudian berbalik lagi ke posisinya semula sambil mengucap terima kasih.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Karena Tuan Malik masih terlihat canggung ketika bicara dengannya, Arini pun memilih untuk kembali merapikan tempat tidur mewah milik mereka. Tuan Malik masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.


Huft!


Arini menghembuskan napas panjang setelah Tuan Malik masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa sedikit lebih lega, karena sejak dari tadi dadanya terus berdetak dengan sangat kencang ketika Tuan Malik berada di ruangan itu bersamanya.


"Aku ini sebenarnya kenapa? Dulu setelah menikah dengan Mas Dodi, aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini. Aku biasa-biasa aja sama Mas Dodi, ya walaupun ada sedikit rasa canggung. Namun, tidak separah sama Tuan Malik," gumam Arini sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Tuan Malik keluar dari ruangan itu dengan sebuah handuk yang menutupi area pribadinya. Lelaki itu terlihat jauh lebih segar. Rambut dan tubuhnya yang masih setengah basah, membuat Arini kembali tercengang.


"Ya, Tuhan! Tuan Malik ini begitu sempurna. Pantas saja mendiang Nyonya Arniz begitu tergila-gila pada sosok lelaki ini. Dan sekarang itu terjadi padaku. Apakah aku akan ikut tergila-gila padanya, sama seperti mendiang Nyonya Arniz?" gumam Arini dalam hati.


"Sebaiknya kita bersiap, Arini. Aku yakin pelayan pasti sudah menyiapkan makan malam untuk kita," kata Tuan Malik sembari mengeringkan rambutnya yang berwarna hitam legam.


"Baik, Mas." Arini mengangguk pelan dan tatapannya masih tertuju pada Tuan Malik. Suatu pandangan yang begitu sia-sia jika dilewatkan.


Tuan Malik menyadari hal itu. Sebenarnya ia merasa risih dan canggung ketika Arini memperhatikan dirinya. Namun, setelah ia sadar bahwa Arini adalah istri sahnya, ia pun tidak ingin mempermasalahkannya.


Tuan malik meraih setelan malamnya, kemudian melepaskan handuk yang tadi masih menempel di tubuh bagian bawahnya. Handuk itu melotot dan jatuh ke bawah. Menyaksikan hal itu, Arini pun refleks menutup matanya. Walaupun saat ini Tuan Malik adalah suaminya, tetapi ia masih belum sanggup jika harus melihat area pribadi lelaki itu secepat ini.


Tuan Malik sempat berbalik dan melirik Arini dengan sudut matanya. Lelaki itu terkekeh pelan dan kembali fokus pada pakaiannya. Setelah selesai mengenakan setelan malamnya, Tuan Malik merapikan rambutnya dengan menggunakan tangan. Ia melangkah menghampiri Arini yang masih mematung dengan mata tertutup.


"A-apa Mas sudah selesai berpakaian?" tanya Arini. Ia tidak ingin membuka mata kemudian disuguhkan dengan pemandangan yang menegangkan itu.


"Sudah, bukalah matamu," jawab Tuan Malik sembari mengelus lembut puncak kepala Arini.


Perlahan Arini membuka matanya kemudian menatap lelaki itu sambil tersenyum kecut.


"Mari," ajaknya sekali lagi dan kali ini tangan lelaki itu meraih tangan Arini dan menuntunnya keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Arini terus menatap wajah tampan lelaki yang sedang menuntunnya tersebut. Genggaman hangat Tuan Malik bahkan terasa hingga ke dalam hatinya.


"Tidak apa 'kan jika aku memegang tanganmu seperti ini?" ucap Tuan Malik tanpa berpaling sedikit ke arah Arini. Lelaki itu terus melangkah dan menuntun Arini menuju ruang makan.


"Te-tentu saja tidak, Mas. Bukankah sekarang aku adalah istri sahmu," jawab Arini dengan dada berdebar-debar.


Tuan Malik menghentikan langkahnya tepat di depan ruang makan. Ia berbalik dan menatap istrinya itu dengan seksama. Tuan Malik mengangkat tangannya, kemudian menyentuh pipi Arini sambil mengelusnya dengan lembut.


"Bagaimana kalau aku menyentuhmu seperti ini?"


Arini menganggukkan kepala. "Ya, tentu saja boleh."


Pasangan itu terdiam untuk beberapa saat dengan posisi seperti itu dan dengan tatapan yang saling bertaut.


"Ehm, Tuan, Nona. Makan malam sudah siap."


Tiba-tiba terdengar suara seorang pelayan yang menyapa mereka. Suara pelayan itu mengagetkan keduanya. Tuan Malik segera menarik tangannya kembali kemudian menatap pelayan itu sambil tersenyum.


"Baik, kami akan segera ke sana."


Pelayan itu mengangguk kemudian kembali melanjutkan tugasnya. Sementara Tuan Malik dan Arini meneruskan langkah mereka menuju meja makan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2