
Tak terasa sore pun menjelang. Arini bingung harus kemana sekarang. Sebenarnya, jauh dari lubuk hati Arini paling dalam, ia tidak ingin kembali ke kediamannya bersama Dodi. Namun, dengan uang hasil menjual ponsel yang cuma 750 ribu di sakunya, membuat Arini kesulitan menemukan kontrakan yang sesuai dengan budget-nya tersebut.
"Loh, kamu masih belum pulang, Arini?" tanya Nyonya Arniz yang terkejut karena ternyata Arini masih duduk terpaku di depan butiknya.
Arini pun tersenyum kepada Nyonya Arniz yang kini datang menghampirinya. "Ini saya mau pulang, Nyonya."
"Oh, kirain." Nyonya Arniz membalas senyuman Arini sembari mengelus pundak wanita itu dengan lembut.
Nyonya Arniz tersenyum lebar ketika melihat sebuah mobil sport berwarna hitam dengan atap terbuka melaju di kejauhan. Semakin lama, semakin dekat, dan semakin tampaklah seorang yang sedang mengendarai mobil mewah tersebut. Seorang laki-laki dewasa nan tampan membalas senyuman Nyonya Arniz dari kejauhan.
"Berondongku sudah menjemput. Sepertinya aku harus meninggalkanmu sendiri di sini, Arini," tutur Nyonya Arniz sambil mengedipkan matanya kepada Arini.
Arini tersenyum dengan wajah heran setelah mendengar penuturan Nyonya Arniz yang menyebut Tuan Malik sebagai berondongnya.
"Tidak usah heran. Malik Abraham itu berondongku, usia dia lima tahun lebih muda dariku. Coba lihat penampilannya, walaupun usianya sudah genap 40 tahun, tetapi penampilannya tidak kalah dari model-model pakaian ternama itu 'kan?" lanjut Nyonya Arniz dengan bangganya memuji Sang Suami.
Arini akhirnya mengerti. Ia pun menganggukkan kepalanya sambil tertawa pelan. "Ya, Nyonya. Tuan Malik memang terlihat sangat tampan," jawab Arini.
"Hush! Tapi kamu tidak boleh naksir suamiku, ya! Dia itu laki-laki yang begitu spesial buatku," sahutnya sambil tertawa renyah.
__ADS_1
"Tidak akan, Nyonya."
Akhirnya mobil mewah berwarna hitam itu berhenti tepat di hadapan Arini dan Nyonya Arniz. Setelah menghentikan mobilnya, Tuan Malik segera menghampiri Nyonya Arniz kemudian membukakan pintu mobil tersebut.
"Hmm, maaf karena aku tidak bisa mengajakmu serta, Arini. Kursinya hanya cukup untuk dua orang saja," ucap Nyonya Arniz sambil tersenyum kecut menatap Arini.
"Tidak apa, Nyonya. Lagi pula aku juga akan pulang setelah ini," jawab Arini.
"Baiklah, sampai jumpa lagi, Arini. Ingat, ya! Besok kamu sudah harus bekerja," ucap Nyonya Arniz lagi sembari duduk di mobil mewah tersebut.
Arini pun mengangguk dan mobil yang dikemudikan oleh Tuan Malik pun segera melesat, meninggalkan Arini di sana sendirian.
"Jadi, sekarang dia bekerja bersamamu, Sayang?" tanya Tuan Malik kepada Nyonya Arniz.
"Eh, jangan begitu, Sayang. Setiap orang punya rahasia masing-masing dan kita tidak patut ikut campur. Siapa tahu masalah itu adalah masalah rumah tangganya dan ia malu menceritakannya kepadamu," tutur Tuan Malik sambil terus fokus menatap jalan di hadapannya.
"Tapi aku benar-benar penasaran, Sayang. Pokoknya aku harus cari tahu!"
Tuan Malik hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sudah hapal dengan sikap istrinya itu. Jika wanita itu sudah penasaran, maka dia tidak akan pernah berhenti mencari tahu. "Terserah padamu lah," jawab Tuan Malik.
__ADS_1
Sementara itu.
"Ya Tuhan, kamu di mana, Arini," gumam Hendra yang kini sedang mencari keberadaan Arini. Selain karena diminta Bu Ria, ini juga merupakan keinginannya sendiri.
Sementara Hendra masih melaju bersama motor sportnya, Arini sedang berjalan menelusuri jalan sambil bertanya-tanya soal kontrakan di sekitar tempat itu.
Namun, hasilnya tetap sama. Pemilik kontrakan dan kos-kosan selalu meminta uang bayar di muka selama tiga bulan. Arini tampak pasrah, uang yang ia miliki saat ini tidak cukup untuk membayarnya.
Arini kembali melangkahkan kakinya dengan wajah pasrah dan tepat di saat itu, Hendra akhirnya menemukan wanita itu. Dengan hati riang, Hendra menghampiri Arini.
"Arini! Ah, syukurlah! Akhirnya aku menemukanmu di sini," ucap Hendra sembari membuka kaca helm yang ia kenakan.
"Mas Hendra?! Sedang apa Mas Hendra di sini?" tanya Arini heran.
"Aku mencarimu, Arini. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Apa lagi kata Ibu, kamu belum juga kembali sejak tadi pagi," tutur Hendra dengan wajah sendu menatap Arini.
Arini tersenyum kecut. "Aku baik-baik saja. Aku bukan wanita lemah yang akan menyerah dengan keadaanku, Mas. Jika Mas Dodi bahagia dengan kehidupan yang dipilihnya saat ini, maka aku pun harus bahagia dengan pilihanku sendiri," jawab Arini dengan penuh keyakinan.
Hendra tersenyum getir menatap Arini. Ia menyerahkan sebuah helm kemudian meminta Arini untuk pulang bersamanya. "Mari kita pulang," ucap Hendra kemudian.
__ADS_1
❤️❤️❤️ Sebenarnya Author sengaja bikin Arini tetap bertahan untuk SEMENTARA WAKTU di kediaman Dodi. Kenapa? Karena Author ingin Arini melihat sendiri AWAL KEHANCURAN Dodi, Anissa serta Ibu mertuanya. Nah, berbanding terbalik dengan Arini yang akan menyongsong kebahagiaannya sendiri. Ehm, buat Reader yang sudah bosan, bisa di skip 🙏🙏🙏😘😍
...***...