Babysitter-ku Maduku

Babysitter-ku Maduku
Bab 94


__ADS_3

"Ayo, ambil lagi yang banyak! Itu belum cukup untuk kita berdua," ucap lelaki yang kini tengah mengamankan Pak Kosim.


Lelaki yang sedang berdiri di hadapan Nyonya Arniz pun kembali menyeringai. Setelah memasukkan semua uang yang diberikan oleh Nyonya Arniz ke dalam saku jaketnya, kini lelaki itu kembali mengancam Nyonya Arniz dengan senjata api rakitan miliknya.


"Kamu dengar itu, Nyonya! Serahkan semua barang berhargamu! Hape, perhiasan dan gelang jam mewah itu," titahnya sambil melirik jam tangan mahal, pemberian Tuan Malik di hari ulang tahunnya.


"Ba-baiklah!"


Nyonya Arniz melepaskan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian menyerahkannya kepada lelaki itu. "Ini, ambillah!"


"Hape, mana hape?!" Lelaki itu masih mengulurkan tangannya ke hadapan Nyonya Arniz. Sementara sebelah tangannya yang lain memasukkan jam tangan itu ke dalam sakunya.


Dengan tangan gemetar, Nyonya Arniz kembali merogoh ke dalam tas mahalnya kemudian mengeluarkan sebuah ponsel berharga puluhan juta tersebut. "I-ini!"


Lelaki itu meraih ponsel mahal milik Nyonya Arniz dengan cepat, secepat kilat. Dan kini tatapannya tertuju pada beberapa perhiasan yang masih melekat di tubuh Nyonya Arniz.


"Lepaskan perhiasanmu!"


"Ya, baiklah!"

__ADS_1


Nyonya Arniz ingin semua itu segera berakhir. Ia ingin kedua penjahat tersebut segera pergi meninggalkannya. Oleh sebab itu, ia pun tidak memikirkan berapa kerugian yang akan ia terima setelah ini.


"I-ini, ambillah semuanya. Tapi kumohon, setelah ini lepaskan kami," lirih Nyonya Arniz dengan terbata-bata.


"Sipp! Begitu, donk!" sahut lelaki itu.


Setelah semua perhiasan, hape, jam tangan serta uang Nyonya Arniz masuk ke dalam kantongnya, lelaki itu pun berniat pergi. Namun, baru satu langkah ke depan, lelaki itu kembali lagi.


"Hei, serahkan cincin itu!"


Lelaki itu menunjuk cincin yang melingkar di jari manis Nyonya Arniz. Lelaki itu tahu bahwa cincin itu bukanlah cincin sembarangan. Ia yakin cincin emas 24k yang bertahtakan berlian itu pasti lah sangat mahal dan kalau di jual, ia pasti akan punya banyak uang.


"Aku sudah memberikan semuanya kepada kalian! Kenapa kalian tidak pergi saja? Lagi pula harga cincin ini tidak seberapa," sahut Nyonya Arniz. Mencoba memberanikan dirinya untuk bicara, walaupun saat itu senjata api milik lelaki tersebut masih mengacung tepat di hadapannya.


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya serahkan cincin itu! Kalau tidak," ancam lelaki itu sembari meletakkan pistol tersebut tepat di kening Nyonya Arniz.


Tubuh Nyonya Arniz bergetar hebat dan air mata wanita itu akhirnya merembes. Keluar dari pelupuk matanya dan kini meluncur deras di kedua pipinya.


"Kumohon, jangan ambil cincinku. Itu cincin pernikahanku," lirih Nyonya Arniz sambil menangkupkan kedua tangannya ke hadapan lelaki itu.

__ADS_1


Namun, karena Nyonya Arniz tidak juga menyerahkan cincin itu kepadanya. Sang perampok itu pun memilih mengambilnya sendiri. Ia menarik paksa cincin tersebut dari jari manis Nyonya Arniz hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Jangan, kumohon! Jangan ambil cincinku!"


Dengan susah payah, akhirnya cincin itu berhasil ia dapatkan. Lelaki itu tertawa pelan sembari menyimpan cincin tersebut ke dalam saku jaketnya. "Terima kasih banyak, Nyonya!"


Baru satu langkah lelaki itu beranjak dari mobil miliknya, Nyonya Arniz menarik paksa jaket lelaki itu agar mengembalikan cincin pernikahannya.


"Kembalikan cincinku! Kumohon!"


Lelaki itu kesal. Ia segera berbalik kemudian menepis tangan Nyonya Arniz dengan kasar. "Lepaskan aku, bodoh!" kesalnya.


Nyonya Arniz tampak meringis kesakitan karena tangannya dipukul oleh lelaki itu. Namun, hal itu tidak membuat Nyonya Arniz putus asa. Ia kembali mencengkram kain penutup wajah lelaki itu dan menariknya dengan keras.


Kain penutup wajah itu pun terlepas dari kepala Sang Perampok dan kini wajah lelaki itu terpampang jelas di depan mata Nyonya Arniz. Baik Nyonya Arniz, maupun lelaki itu sama-sama syok. Mata mereka membesar dengan mulut menganga.


"Ka-kamu!" pekik Nyonya Arniz yang akhirnya sadar siapa lelaki itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2