
"Bagaimana, Bi? Dapat?" tanya Arini sembari menghampiri Bi Surti yang baru saja tiba di ruangan itu. Sejak tadi Arini sudah tidak sabaran menunggu kedatangan Bi Surti.
Wanita paruh baya itu tersenyum kemudian menyerahkan sebuah kantong kresek berukuran kecil berisi test pack pesanan Arini.
"Dapat, Non. Nih, test pack-nya."
"Ah, terima kasih, Bi. Sebaiknya aku coba periksa sekarang."
"Ya, Non. Bibi juga ikut penasaran," sahut Bi Surti.
Arini bergegas menuju kamar utama kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Bi Surti lebih memilih menunggu di luar saja dengan sabar.
Di dalam kamar mandi.
Setelah membaca petunjuk penggunaan dari alat test tersebut, Arini pun segera mempraktekkannya. Setelah beberapa saat, Arini pun selesai dan tinggal menunggu hasilnya keluar.
"Aduh, kok jantungku jadi deg-degan begini, ya." Arini mengelus dadanya dengan lembut.
Lima menit kemudian.
Arini memperhatikan garis merah yang tiba-tiba muncul di benda kecil mungil tersebut. Garis merah itu bukan hanya satu, tetapi ada dua garis merah yang membentang di sana.
Tangan Arini bergetar hebat. Ia masih belum yakin dengan apa yang ia lihat di depan mata kepalanya. Arini meraih bungkusan dari test pack tersebut kemudian membacanya lagi.
"Y-ya Tuhan! I-ini serius?!" Dada Arini bergerak turun-naik dengan sangat cepat. Napasnya memburu dan ia tersandar di dinding ruangan itu dengan tatapan yang masih tertuju pada benda kecil bergaris dua tersebut.
"Ya, Tuhan. Maafkan aku, tapi aku masih belum percaya dengan hal ini!"
__ADS_1
Arini menyimpan test pack itu ke tempat yang aman, kemudian bergegas keluar dari kamar utama dan menemui Bi Surti.
"Bagaimana, Non?" tanya Bi Surti dengan wajah serius menatap Arini.
"Bi, bisakah Bibi minta seseorang untuk membeli test pack itu lagi? Beli yang bagus, yang hasilnya tidak diragukan lagi."
Bukannya menjawab pertanyaan dari Bi Surti, Arini malah meminta wanita paruh baya itu untuk membeli test pack lagi. Bi Surti pun mengangguk dan ia setuju-setuju saja.
"Biar Bibi saja, Non. Lagi pula Bibi ke sana di antar sama Pak Security di depan, kok."
"Baik, Bi. Belinya yang banyak. Ehm, lima! Eh, jangan-jangan! Beli sepuluh sekalian," titahnya.
"Sepuluh, Non?!" pekik Bi Surti dengan wajah heran.
Arini mengangguk cepat. "Ya, Bi. Sepuluh!"
Setelah beberapa saat kemudian.
"Ini, Non, test pack-nya."
"Terima kasih sekali lagi, Bi. Kembaliannya ambil saja untuk Bibi."
Bi Surti kembali menyerahkan sebuah kantong kresek yang berisi 10 test pack dengan berbagai macam bentuk dan juga ukuran. Setelah kantong kresek itu sampai di tangannya, Arini pun bergegas menuju kamar mandi, sama seperti sebelumnya.
Arini mencoba semua test pack tersebut. Dari yang bentuknya biasa dengan harga yang murah, hingga yang lebih bagus. Yang pasti, harganya pun jauh lebih mahal.
Antara percaya dan tidak, tetapi hasil yang terlihat dari ke sepuluh test pack tersebut sama. Semuanya menyatakan bahwa saat ini Arini positif hamil. Arini duduk di lantai kamar mandi sambil menangis haru. Ia memeluk ke sebelas test pack itu sambil terus mengucap syukur.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Arini pun bangkit. Ia kembali menemui Bi Surti sembari membawa ke sebelas test pack tersebut.
"Non Arini? Nona kenapa?" tanya Bi Surti yang begitu terkejut melihat Arini berlari kecil ke arahnya sambil menitikkan air mata.
Arini memeluk wanita paruh baya itu kemudian menangis dalam pelukannya. Bi Surti yang masih kebingungan, mencoba menenangkan Arini. Walaupun sebenarnya ia tidak tahu apa yang menyebabkan Arini menangis.
"Bi, apakah saat ini aku sedang bermimpi? Coba lihat ini," ucap Arini di sela isak tangisnya.
Ia melerai pelukannya bersama Bi Surti kemudian duduk di sofa. Arini mengeluarkan ke sebelas test pack yang ia simpan di dalam saku dress-nya kemudian menggelar benda-benda itu ke atas sofa.
"Lihatlah, Bi. Hasilnya sama. Aku positif hamil."
Bi Surti pun tidak kalah terkejutnya. Wanita itu bahkan tanpa sadar menitikkan air mata karena terharu. Akhirnya Tuhan sudah membuktikan bahwa Arini bukanlah seorang wanita mandul.
"Ya, Tuhan! Terima kasih," gumam Bi Surti sembari memperhatikan satu-persatu benda mungil itu.
"Akhirnya Tuhan menjawab semua doaku, Bi," ucap Arini yang masih terisak.
"Selamat ya, Non. Bibi benar-benar senang mendengar kabar membahagiakan ini. Semoga Tuhan selalu melindungi Non Arini serta si jabang bayi. Semoga kalian selalu sehat dan selamat hingga hari lahiran nanti," ucap Bi Surti dengan mata berkaca-kaca.
Arini mengelus lembut perutnya yang masih rata. "Aku penasaran bagaimana reaksi Mas Malik jika tahu bahwa saat ini aku tengah mengandung anaknya," tutur Arini.
"Pasti Tuan Malik sangat bahagia. Walaupun Tuan Malik tidak pernah mengutarakannya, tetapi Bibi yakin dia juga mendambakan sosok mahluk kecil ini, Non."
"Semoga saja, Bi."
...***...
__ADS_1