Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 100 -Pendapat


__ADS_3

Malam semakin larut dan sudah menuju waktu pagi. Namun Felix dan rekan rekannya tidak tidur sama sekali. Mereka berada di ruang utama di rumah yang menjadi markas mereka selama beberapa hari terakhir.


Ketiganya berwajah serius dan yang tertidur hanya Ray satu satunya. Pria ber-ikat kepala itu tidur sambil bersandar pada kursi, begitu pula dengan manusia lawan bicaranya sebelumnya yang kini juga tertidur.


"Si bodoh itu malah mabuk dan tidur disaat seperti ini. Dia tidak tahu situasi," kesal pemuda berwajah dingin dengan mata biru laut, Kay.


"Kau seperti tidak tahu sifatnya saja," Felix menyunggingkan senyum.


Ken yang duduk berseberangan dengan kedua temannya itu nampak menaikkan kedua kakinya ke atas meja, sedangkan kedua tangannya terlipat ke belakang sebagai sandaran kepala. Ekspresinya menjadi santai, "Yah... Walaupun begitu, sejak masalah yang muncul di sini, dia menjadi sangat bisa diandalkan.


Kemampuan api yang lebih sering digunakan untuk menyalakan api unggun itu bisa dikatakan menjadi senjata utama yang paling ampuh untuk melawan mayat hidup."


Felix mengangguk setuju, "Tapi kita tidak bisa terus seperti ini. Di luar sana, 'dia' pasti sedang berusaha mengatasi masalah yang sedang terjadi. Kita tidak bisa hanya diam saja dan membiarkannya menyelesaikan ini sendiri."


"Tapi sebelum mengatasi masalah ini, apa 'dia' sudah menyelesaikan masalahnya sendiri?" sahut Kay.


Felix menghela napas dan memejamkan matanya sejenak, "Kita sudah terlalu lama tinggal jauh dari iblis lain. Lalu saat kita berkunjung untuk menemuinya, kita malah mendengar berita tidak menyenangkan.


Sebenarnya... Aku sedikit khawatir dengan keadaannya. Mereka mengatakan jika 'dia' menghilang entah kemana. Tapi aku percaya, 'dia' akan baik baik saja. Karena 'dia' adalah rekan kita. Kemampuannya tidak diragukan."


"Semoga saja seperti itu," balas Kay.


Ken tersenyum mengejek dengan mata menatap pemuda bermata biru laut itu, "Walaupun wajahmu itu selalu dingin, tapi kau sangat perhatian ya? Aku jadi penasaran, apa jika aku berada di posisi 'dia', kau akan perhatian seperti itu juga padaku?"


Kay menghela napas malas ketika melihat ekspresi itu, "Tidak akan."


Ken menurunkan kakinya dan seketika mencondongkan tubuhnya ke depan, "Apa? Jadi kau hanya mempedulikan 'dia' saja ya? Aku sangat iri~"


"Berhenti berbicara dengan nada seperti itu."


"Lihatlah dia, Fel. Tatapannya sangat tajam padaku, dia ingin mengancam anak polos tak berdosa sepertiku," rengek Ken sambil menunjuk nunjuk Kay.


"Adukan saja sesukamu."


"Sudahlah, sudah.. Kita akan membahas hal yang penting. Kenapa kalian jadi meributkan hal sia sia?" Felix menggelengkan kepala dan langsung menepuk wajahnya. Diantara rekan rekannya ini, ia 'lah yang paling tua, jadi ia sudah sepatutnya menjadi penengah antara sesama rekannya.


"Tapi sebelum itu, apa yang akan kita lakukan pada para manusia ini?" ucap Kay dengan serius.


Ken seketika antusias dan berucap, "Membunuhnya?"


"Apa di otakmu hanya ada pikiran membunuh, huh?" cibir Kay.

__ADS_1


"Jika kita membawa mereka, itu akan sulit. Apalagi melihat kondisi salah satu diantara mereka yang sudah kehilangan satu kaki. Lalu jika kita meninggalkan mereka, pada hari berikutnya pasti akan ada mayat hidup yang menemukan mereka. Mereka akan kesulitan dan tidak akan mendapat hidup yang panjang. Walau memang aku akui, orang yang disebut ketua dan orang bernama Lym itu cukup kuat, tapi tetap saja ada 'beban' yang mereka bawa.


Bagaimana menurut kalian? Membawa dan bekerjasama dengan mereka atau membiarkan mereka mati dengan sendirinya di sini?" ucap Felix sambil menatap Ken dan Kay bergantian.


"Meninggalkan mereka di sini," balas Kay.


Felix seketika menatap pemuda bermata biru laut itu, "Kenapa? Apa alasanmu?"


"Pertama, aku tidak percaya dengan cerita si ketua tadi yang beralasan anak dan keponakannya ada di dunia iblis. Cerita sebelumnya tentang penyerangan diam diam itu mungkin aku percaya, tapi tidak tentang anak dan keponakan itu.


Kedua, aku tidak mau ada 'beban' yang dibawa. Masalah ini bisa saja sangat serius. Membawa mereka hanya akan membuat repot," jawab Kay dengan panjang lebar.


"Bukankah ini sudah serius? Keadaannya sudah sampai melibatkan banyak iblis," sahut Ken.


"Oke, aku sudah paham. Bagaimana denganmu, Ken?" Felix kini menatap pemuda berambut putih dengan mata merah.


Ken mengusap usap dagunya. Matanya ia lirikkan ke atas dan berpikir, "Um.. Bagaimana ya? Aku percaya dengan cerita ketua bernama Melvin itu. Bisa saja anak dan keponakannya berniat menyerang iblis di dunia ini karena suatu alasan.


Melihat dari aura yang dia miliki, dia bisa sangat membantu. Jika dia tidak membawa 'beban', dia bisa mengatasi mayat hidup dan bertahan dengan cukup baik. Pendapatku, bawa saja Melvin, tinggalkan manusia lainnya. Jika dia tidak mau, maka bisa dipaksa dan berikan ancaman bila dia tidak mau, heh.. Haha.. Hahahaha.."


"Tawa gilanya keluar," batin Kay. Ia menatap Felix, "Bagaimana denganmu sendiri?"


"Kupikir... Habisi mereka. Iblis dan blizt adalah musuh sejak dulu. Untuk apa menolong mereka?"


"Hahahaha..Bagus itu, bagus! Aku juga setuju jika kau mau seperti itu!" Ken nampak sangat antusias. Ekspresinya yang kegirangan itu lebih seperti seorang psikopat.


"Tidak ada yang waras," batin Kay sambil menggelengkan kepala.


"Hish.. Kepalaku pusing."


Felix melihat ke belakang, dimana kursi lain berada. Matanya menatap lurus pada pemuda ber-ikat kepala yang terbangun itu, "Kau cepat sekali bangun. Padahal belum ada semalam."


Ray memegangi kepalanya. Ia merasa sangat pusing. Namun matanya berusaha melihat orang yang sudah berbicara padanya.


"Kau bangun di waktu yang tepat," ucap Ken dengan girang.


Belum sempat memberikan respon, Ken tiba tiba berada di dekat Ray dan menariknya untuk duduk bersama dengan yang lain.


Ray melepaskan tangannya dari Ken dengan kesal, "Hish.. Jangan menarikku seperti itu! Kau membuatku tambah pusing."


"Itu salahmu. Kenapa kau malah tidur dan bersenang senang sendiri seperti itu?" Ken mendengus.

__ADS_1


Ray tidak mempedulikan ucapan itu dan segera menduduki kursi di belakangnya, "Aduh.. Kepalaku pusing..."


"Bagaimana pendapatmu tentang manusia itu? Kita bawa mereka bersama atau kita tinggalkan mereka di sini?"


Ucapan Felix membuat Ray langsung mengerutkan kening. Ia memperhatikan pemuda itu dengan baik, "Ulangi."


"Kita bawa manusia manusia itu bersama atau kita tinggalkan di sini? Karena besok kita akan langsung bergerak."


Ray terkejut, "Hah? Kenapa kita tidak diam saja di sini? Bukankah lebih baik tinggal?"


"Apa kau mau kita hanya diam seperti ini? Di luar sana, 'dia' pasti sedang bergerak untuk menyelesaikan masalah tentang mayat ini. Kita tidak bisa membuatnya menyelesaikan ini sendiri."


"Ah..," Ray mengangguk angguk. Wajahnya yang tadi terlihat pusing kini sedikit membaik. Ia pun berucap acuh tak acuh, "Kalau begitu, bawa saja mereka. Selesai. Kenapa harus sampai diskusi seperti ini?"


Ken terlihat keheranan, "Kenapa? Bukankah lebih baik membiarkan mereka di sini?"


"Sederhana. Bawa mereka dan jadikan umpan untuk menarik mayat hidup sebanyak mungkin. Lalu saat banyak mayat hidup terkumpul di satu tempat, aku akan langsung membakar mereka. Itu akan lebih cepat."


Felix tertegun, begitupun dengan Ken. Mereka berdecak kagum dan tidak menyangka jika Ray dapat berpikir seperti itu.


Kay menggeleng, "Lalu bagaimana dengan manusia yang minum denganmu? Dia juga umpan?"


Ray mengangguk, "Jadikan dia umpan. Bagaiman dengan pendapatku? Kalian setuju?"


"Aku tidak tahu kau bisa memikirkan manfaat tentang sesuatu. Biasanya kau hanya tahu menyerang, bertarung dan menggoda wanita lain," sergah Kay.


"Hish.. Diamlah, mentang mentang kau memiliki wajah tampan, kau bisa meremehkanku begitu ya?!" kesal Ray.


"Kenapa? Kau iri?"


"Tidak, siapa yang iri? Jangan menuduh!"


"Kalian ini..," Felix menggeleng. "Aku setuju tentang rencana dari Ray. Idenya cukup bagus."


Kay mendengus, "Aku tidak mau mengakui ini, tapi idemu lumayan. Kau tidak menyia nyiakan kehadiran mereka dan memanfaatkannya dengan baik."


Ken tersenyum tipis, "Kau sudah dengar 'kan? Rencana kami.. Kenapa kau tidak keluar dan menunjukkan dirimu saja? Aku tahu kau tidak tidur."


Felix, Kay dan Ray terkesiap ketika mendengar ucapan rekan mereka yang paling muda. Seketika pandangan ketiganya mengikut arah pandang dari Ken.


Tak lama dari itu, dari sebuah kamar, keluar seorang pria dengan wajah tegas, namun terlihat berkharisma. Dia adalah ketua kelompok ini, Melvin. Ekspresinya serius ketika menatap para iblis, "Kau tahu? Lalu kenapa kau tidak membuatku keluar sejak tadi?"

__ADS_1


Ken tersenyum tak berdosa, "Karena aku ingin kau mendengarnya, ke-tu-a."


__ADS_2