Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 104 -Kedatangan Tak Terduga


__ADS_3

Melvin menahan erangan kesakitan ketika mendapat satu tusukan di dadanya. Jika saja ia tidak menghindar sama sekali, yang tertusuk pasti tepat mengenai jantung dan ia akan mati seketika.


Dirinya yang memang sudah kelelahan dan kehabisan energi sama sekali tak bisa melawan. Bahkan serangan belati yang dilesatkan tadi dilakukan dengan paksa walau tubuhnya sudah mencapai batas.


Stev menarik pedang yang sudah ia tancapkan pada tubuh Melvin dan membuat pria itu langsung bertekuk lutut.


Saat Stev akan menusuk Melvin untuk kedua kalinya, lengannya ditahan dari samping. Ia pun melakukan tendangan pada orang itu agar menjauh darinya.


Namun tendangan itu hanya mengenai udara kosong. Felix berhasil menghindar tepat waktu, "Lawanmu adalah aku. Jangan alihkan pandanganmu."


Saat itu pula, Stev berakhir bertarung melawan Felix. Serangannya yang kuat dan penuh energi itu membuat Felix merasa sedikit kesulitan. Berkali kali serangan bahkan berhasil melukainya.


Buukk


Buuukk


Triingg


Braakk


Swuuhh


Felix terpental hingga tubuhnya menghantam tanah. Ia segera berguling ke samping saat Stev melompat ke arahnya dengan pedang terayun.


Dengan segera, Felix kembali berdiri. Walaupun dedebuan sedikit menghalangi pandangannya, namun ia terus memasang sikap waspada.


Sebuah lesatan tombak mengarah tepat ke arah kepalanya. Ia yang menyadari itu segera menepis serangan. Namun yang terjadi, ia justru terlempar keluar dari kepulan debu.


Ia mempertahankan posisinya di udara dan mendarat dengan kedua kaki terlebih dahulu. Belum sempat bernapas dengan tenang, pukulan dari samping hampir mendarat di wajahnya andai ia tidak menyilangkan tangan ke depan.


Sreekk


Felix terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia menatap siapa yang sudah menyerang dan terkejut ketika melihat Silvia dalam keadaan utuh. Kepala yang seharusnya sudah terpenggal itu berada di tempatnya walau terdapat bekas garis merah di leher.


"Seharusnya kepala dan tubuhnya terpisah seperti mayat hidup lain. Tapi dia..," batin Felix dengan waspada.


Ia tersentak dan mengarahkan pandangannya ke atas ketika menyadari serangan tombak dari udara.


Brruukk


Bersamaan dengan jatuhnya tombak, tanah menjadi retak dan terbelah. Dedebuan terbawa angin dengan kencang hingga menutupi sebagian pandangan.


"Mereka bukan mayat biasa. Kekuatan, kecepatan, senjata. Selama melawan mayat hidup, aku tidak pernah melihat ada mayat yang membawa senjata. Mereka menyerang dengan kuku ataupun gigitan. Tapi mereka..., bertarung dengan senjata. Apa kemampuan mayat hidup semakin kuat dalam hal bertarung?" batin Melvin.


"...Tidak ada api di sini. Iblis dengan kemampuan api juga sudah pergi. Apa yang harus dilakukan? Kepala dari mayat wanita itu juga kembali ke tempatnya walau sudah terpenggal.

__ADS_1


Kelemahan mayat hidup adalah api, tapi mereka mayat hidup yang berbeda. Apa kelemahan yang dimiliki juga akan berbeda? Atau mereka malah memiliki lebih banyak kelemahan dibandingkan mayat hidup lain?"


Meski dalam keadaan tak baik, Melvin masih memikirkan kelemahan yang mungkin dimiliki kedua mayat itu. Ia memang tak bisa membantu untuk menyerang, tapi setidaknya ia ingin bisa membantu meringankan pertarungan.


"Kelemahan.. Kelemahan mereka.." Melvin mengingat ingat setiap gerakan yang dilakukan selama pertarungan. Memang sulit melihat pergerakan mereka selama bertarung karena alur itu sangat cepat, tapi ia bisa sedikit melihatnya.


"Uhuk..," Melvin memuntahkan darah sambil menekan dadanya yang terluka dalam. Ia menggertakkan gigi dan terus memikirkan kelemahan yang dimiliki kedua mayat hingga ia teringat satu kejadian.


Napasnya ia tarik dalam dalam dan langsung berteriak sekuat tenaga, "MEREKA TIDAK SEPERTI MAYAT LAIN! MEREKA BUKAN MELIHAT DENGAN 'SUHU', TAPI DENGAN 'AURA'! TAHAN AURA YANG KELUAR DARI TUBUHMU SEKUAT MUNGKIN AGAR MEREKA TIDAK MENGETAHUI KEBERADAANMU! LALU HANCURKAN MEREKA!"


"Uhuk..," Melvin mengatur napasnya. Keringat bercucuran dari keningnya dan membasahi seluruh wajah dan leher. Padahal ia terluka dalam di bagian dada, tapi harus berteriak. Ini membuatnya semakin kesakitan.


Tapi apa yang disampaikannya diterima dengan baik oleh telinga Felix. Ia awalnya merasa tak percaya dengan ucapan itu. Namun tidak ada salahnya untuk mencoba.


Felix menekan aura di tubuhnya secara paksa sampai tidak terasa sama sekali. Melakukan hal ini memang membutuhkan keahlian dalam pengendalian aura yang sangat baik. Apalagi bila ingin sampai aura tidak terasa sama sekali. Tapi untungnya, ia ahli dalam hal ini.


Saat Felix benar benar menghilangkan auranya, baik Stev maupun Silvia menengok ke sekeliling. Sikap mereka terlihat waspada walau tidak tergambarkan dalam raut wajah.


Pemuda dengan anting biru itu tertegun ketika melihat perubahan yang terjadi pada kedua mayat iblis. Ia berkedip dan kini tahu jika yang dikatakan Melvin memang benar.


Ketika Felix baru akan menghancurkan kedua Raja iblis itu, tiba tiba terdengar suara yang berada beberapa meter darinya.


"Kuharap kau tidak membawa kita ke tempat yang aneh aneh lagi."


"Diamlah, aku sudah berusaha semalaman sampai tidak tidur hanya untuk melakukan ini."


"Hah?!"


Triingg


Triingg


"Apa yang terjadi?!" Felix terkejut bukan main saat Stev dan Silvia menghilang dari hadapannya. Di saat yang sama pula, terdengar dentingan senjata yang saling beradu.


Melvin pun sama terkejutnya dengan apa yang terjadi. Ia terlambat merespon dengan keadaan saat ini.


Jumlah dari kemunculan itu berjumlah 8 orang. Mereka adalah Nix, Freed, Radolf, Kite, Nevan, Need, Rafa dan Leon. Mereka muncul tiba tiba di sini karena kemampuan berpindah yang dimiliki Nevan.


Kemunculan mereka yang tiba tiba dengan beberapa orang yang menguarkan aura kuat, membuat Stev dan Silvia bergerak menyerang rombongan itu.


Serangan tiba tiba yang dilakukan keduanya ditahan oleh Kite dan Leon. Namun karena serangan sangat mendadak, mereka tak bisa mengatur posisi kaki dengan baik hingga terdorong jauh ke belakang.


Pada akhirnya, Leon bertukar serangan dengan Stev. Sedangkan Kite bertukar serangan dengan Silvia. Gerakan mereka berempat sangat cepat hingga sulit dilihat mata.


Pergerakan dari Silvia dan Stev pun terlihat lebih cepat dibanding saat bertarung melawan Felix.

__ADS_1


Wuushh


Angin bertiup dengan kencang membuat dedebuan beterbangan. Freed dan Nevan bahkan sempat kelilipan karena tidak siap dengan terjangan debu yang menerpa.


Felix memperhatikan pertarungan yang berlangsung walau sedikit sulit untuk melihat. Namun ia segera tersadar bila kehadiran tiba tiba itu bukan hanya ada satu atau dua orang. Pandangannya beralih menatap orang orang itu walau tidak begitu jelas karena debu, "Kalian menyingkir dari sana! Di sini berbahaya!"


Mendengar teriakan, membuat sebagian dari orang orang itu menoleh dan menatap pemuda dengan anting biru di telinga kirinya. Mereka pun segera bergegas pergi dari sekitar pertarungan agar tidak ikut terlibat.


Rafa pun ikut menyingkir saat lengannya ditarik oleh Nevan.


"Nevan..! Rafa!"


Si pemilik nama tersentak ketika mendapat panggilan dari seseorang. Mereka langsung melihat sekitar. Saat menyadari siapa yang memanggil, membuat keduanya melebarkan mata karena terkejut.


"Ayah?!"


"Paman?!"


Rafa dan Nevan yang berlari ke arah berlawanan membuat yang lain langsung berhenti dan akhirnya mengikuti kedua pemuda itu.


Melihat keadaan Melvin membuat Rafa maupun Nevan langsung berlutut di depannya. Ekspresi keduanya jelas sangat khawatir ketika melihat banyak darah yang keluar dari tubuh pria itu.


"K-kenapa Ayah bisa ada di sini?!" Nevan tentu sangat terkejut ketika melihat kehadiran Ayahnya. Ia memang tahu jika ada beberapa blizt yang pergi ke dunia iblis. Tapi ia tidak tahu jika Ayahnya ikut kemari. Ia belum mendengar kabar ini dari Nix ataupun Freed.


"Tuan Melvin? A-anda.. Anda berdarah sangat banyak," Freed berekspreis pucat melihat keadaan pria itu. Melvin yang dianggap sebagai salah satu blizt terkuat pun bahkan sampai berada dalam keadaan kriris seperti ini.


Melvin tersenyum tipis sebelum akhirnya terbaring tidak sadarkan diri. Melihat wajah Rafa dan Nevan, membuatnya menjadi lega dan merasa tenang hingga ia malah pingsan.


"Ayah..?!" Nevan terkejut.


Rafa tidak tinggal diam. Ia menyentuh luka tusukan yang ada di tubuh Melvin. Seketika itu pula, tubuh pria tersebut bercahaya, "Kali ini aku pasti bisa," gumamnya.


"Melvin..," Radolf menatap wajah Ayah dari Nevan dengan dalam. Walaupun wajah pria itu sedikit lebih tua dari yang ada dalam ingatannya, tapi ia tahu itu adalah Melvin. "Aku sudah membuatmu kesulitan.."


*


*


"Dia.. Stev!" Leon menggertakkan giginya ketika tahu siapa yang dilawannya. Saat itu pula, gerakannya bertambah cepat dan tajam.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu walau kau sudah menjadi mayat hidup sekalipun!" Leon menggeram dengan mata berkilat merah. Saat ia berhasil membuat Stev terjatuh, ia langsung menusukkan pedangnya berkali kali pada tubuh itu seolah sedang melampiaskan semuanya.


Tidak hanya itu, Leon bahkan mulai membelah perut dari mayat Stev dan mengeluarkan segala isi di dalamnya.


"Dia sadis," Kite merinding sendiri saat tanpa sengaja melihat itu. "Ah!"

__ADS_1


Hampir saja dirinya terkena tebasan dari tombak Silvia andai tidak menepisnya, "Baiklah, kau tidak ingin diabaikan ya? Walau kau wanita, aku tidak akan segan."


__ADS_2