
Rafa mengambil napas sebanyak banyaknya dan mulai berucap, "Leon.. Sebenanya.."
Belum sempat Rafa menjelaskan, Nevan sudah memotong, "Sebenarnya kami ingin pergi mencari makanan. Sejak semalam Rafa belum makan, jadi dia lapar. Kami bermaksud untuk mengatakannya padamu agar membolehkan kami pergi mencari makanan di sekitar sini."
Melvin keheranan ketika mendengar penjelasan anaknya. Sedangkan Radolf tertegun dan segera menatap Rafa dengan raut bersalah, "Maaf... Ayah malah tidak ingat kau belum makan semalam. Seharusnya Ayah menanyakannya. Ayah benar benar lupa."
Melvin mendengus mendengar ucapan Radolf. Nadanya pun berubah sinis, "Ternyata kau memang tidak bertanggung jawab. Kau bahkan melupakan hal seperti itu," tatapannya lantas tertuju pada Nevan, "Kau sudah makan?"
"Ayah baru bertanya?" Nevan malah mendengus, "Sejak pagi kita terus berjalan, semua orang pasti lapar karena belum makan sejak pagi."
Dan benar saja, belum lama Nevan berkata demikian, perutnya berbunyi, begitupun perut Rafa dan disusul dengan suara perut Radolf lalu Melvin. Sepertinya banyak orang terlalu sibuk dengan masalah luar hingga melupakan sarapan.
Leon menggeleng dan menghela napas. Ia juga bahkan tidak ingat dengan itu. Perjalanan ini tidak begitu melelahkan baginya karena kekuatannya melebihi orang orang di sini. Jadi ia tidak begitu lapar. Namun dirinya lupa kehadiran yang lain tidak sama sepertinya atau rekan rekannya.
"Kalau begitu, aku akan pergi untuk mencari makanan bersama Kite. Kalian semua di sini dan beristirahat sebisa kalian sebelum kita pergi ke pohon besar itu," Leon menunjuk sebuah pohon yang begitu besar dengan lirikan mata. Bahkan dari sini bisa terlihat batang yang seperti raksasa itu. "Masih jauh dari sini, tapi kita akan menggunakan kemampuan Need.
Selagi kalian diam di sini, aku juga akan mengajak Need untuk bisa meningkatkan kemampuannya sehingga bisa membawa kita ke sana."
"O-oke, kami akan di sini," Nevan mengangguk angguk dengan raut canggung. Dalam hati ia bernapas lega karena bisa menghentikan ucapan Rafa.
Rafa sendiri melirik saudaranya dengan raut kesal. Tapi ia juga memang sedang lapar. Jadi tak ada komentar lain dari mulutnya, "Hati hati saat mencari makanan."
Hanya itu yang bisa Rafa katakan untuk saat ini. Ia mencoba memperingatkan Leon walau dengan ucapan sederhana.
Leon mengangguk, "Panggilkan Need."
"HOII NEED!! KEMARILAH, LEON MEMANGGILMU! CEPATLAH DATANG, JANGAN BUAT DIA MENUNGGU LAMA!" teriak Nevan sekencang kencangnya.
Sontak hal ini membuat Rafa, Radolf, Melvin dan Leon menutup telinganya dengan kedua tangan. Mereka terkejut saat Nevan malah berteriak sekencang ini di dekat mereka.
Nevan berhenti saat melihat kedatangan Need yang berlari kecil. Ia pun mengalihkan pandangan pada kerumunan kecilnya lagi. Tatapan heran terpampang jelas dalam raut wajahnya, "Kenapa kalian menutup telinga?"
Leon yang pertama menurunkan tangannya dari telinga dan disusul oleh Rafa, Radolf dan Melvin.
Rafa berekspresi kesal, "Kau berteriak sekencang itu! Kau ingin membuat orang lain tuli ya?!"
Nevan mengerjap dan dengan polos berkata, "Aku hanya sedikit berteriak, itu tidak berisik."
__ADS_1
"Tidak berisik matamu!"
Leon juga rasanya ingin sekali merutukinya sekarang ini. Tapi ia mengurungkan niatnya saat Need sudah berada di depan dengan raut senang, "Kau butuh sesuatu?"
"Ikut aku, cari makanan dan berlatih'lah untuk mengembangkan kemampuanmu," Leon berbalik dan berjalan pergi.
Tanpa banyak bertanya, Need langsung mengikuti Leon dari belakang. Tapi sebelum itu, matanya melirik Nevan dengan tatapan memincing, "Suaramu berisik!"
Melvin tanpa memberikan sinyal langsung menarik telinga anaknya hingga pemuda itu merintih kesakitan, "Sudah Ayah katakan jangan berteriak seperti itu! Selalu saja seperti ini..."
"Ayah! Lepaskan! Telingaku bisa lepas jika seperti ini terus!" rintih Nevan.
Melvin melepaskan telinga itu dengan kasar. Akibatnya, salah satu telinga Nevan memerah dengan warna yang terlihat jelas.
Radolf menatap Nevan dengan iba, "Kasihan Nev. Jangan menarik telinganya sekeras itu."
Melvin mendengus, "Kau menasehatiku? Sebelum melakukannya, berkacalah pada diri sendiri!"
Dengan langkah berat, Melvin pergi dari sana sambil bersuara, "Kalian berdua tahan dulu dan beristirahatlah."
Nevan menatap punggung Ayahnya yang semakin jauh. Radolf pun juga menatap ke arah yang sama dengannya.
Rafa mengangguk angguk, begitupun dengan Nevan. Setelahnya, Radolf pun pergi dari sana setelah berucap, "Jangan pergi kemana mana. Dengarkan ucapan Leon tadi."
Melihat Radolf pergi jauh, membuat Nevan membuka suara dengan volume kecil, "Aku heran kenapa Paman mengatakan nama Leon begitu saja? Bukankah katanya dia panglima dari Leon? Apa hubungan mereka sangat dekat sampai dia bisa mengatakan namanya langsung?"
Rafa menatap datar pada Nevan. Sepertinya saudaranya berusaha mengatakan topik lain agar dirinya tidak mengatakan hal apapun tentang Kite atau tindakan Nevan barusan, "Lakukan apa yang mau kau lakukan."
Nevan terdiam saat Rafa pergi menjauh darinya dan mengambil tempat di jarak yang jauh, namun masih dalam kawasan kubah pelindung. Dari raut wajah itu, ia tahu saudaranya pasti marah dengan tindakannya.
Tapi ia terlalu takut untuk mengatakan tentang Kite yang sudah membunuhnya. Ia tidak mau ada pertarungan atau perpecahan diantara kelompok mereka nantinya. Ia hanya ingin tahu alasan kenapa Kite membunuhnya. Jika tujuannya akan membuat bahaya, maka ia juga akan langsung melawannya dan mengatakan kebenaran ini pada semua orang.
*
*
Di tempat lain, Leon sudah mengajak Kite hingga mereka berdua bersama dengan Need telah berada jauh dari kubah pelindung. Leon sudah menitipkan orang orang di dalam kubah sana pada Felix dan kedua temannya yang lain. Jadi ia yakin tidak akan ada masalah.
__ADS_1
"Kalau dipikir pikir, rasanya aku lapar," ucap Need di tengah kesunyian.
Kite menambahkan, "Teman temanmu itu ternyata menyenangkan, Leon. Kupikir mereka semua akan sama sepertimu. Tapi ternyata tidak semuanya. Aku jadi penasaran dengan satu orang temanmu lagi. Katanya dia dibawa pergi oleh mayat hidup, kau tidak khawatir dengannya?"
"Tidak," jawab Leon dengan singkat dan tanpa menoleh.
"Aish.. Ekspresimu ini mirip dengan Kay, tapi dia lebih baik daripada kau."
"Tapi sebenarnya mereka siapa? Kenapa kau mengenal mereka Leon?" tanya Need dengan raut penasaran.
"Wajar jika kau tidak tahu. Sebelum menjadi Raja, aku memang menjadi bagian dari mereka. Kelompok pembunuh bayaran dengan anggota 5 orang, termasuk aku. Nama kelompok kami adalah iblis bintang," balas Leon.
Mata Need berbinar, "Aku tahu kau adalah pembunuh bayaran. Tapi aku tidak tahu kau adalah bagian kelompok itu. Aku tidak pernah tahu seperti apa wajah dari anggota kelompok iblis bintang. Tapi menurut rumor yang beredar, kalian sangat kuat dan ditakuti banyak iblis. Kau memang luar biasa! Apa mereka juga memakan iblis sepertimu?"
Leon menghela napas ketika melihat Need yang begitu antusias, "Tidak, hanya aku. Sudahlah, tidak perlu membahasnya."
Kite memandang Need dengan aneh, "Kenapa kau semangat sekali saat menanyakan itu?"
"Aku paling menyukai Leon ketika dia memakan jantung atau daging iblis lain. Itu sangat mendebarkan. Rasanya luar biasa. Karena itu, aku bertanya apa anggota kelompok iblis bintang yang lain sama sepertinya? Jika iya, coba bayangkan begitu menakjubkannya itu..!!" Nevan menggeleng dan berdecak, "Itu pasti akan sangat indah dan luar biasa!"
Need menjelaskan dengan mata berbinar binar. Rautnya begitu semangat dan senang. Di sisi lain, Kite malah merinding, "Kau tidak normal! Bagaimana bisa itu dikatakan luar biasa? Itu sangat menjijikkan! Memakan daging dari ras nya sendiri? Aku tidak akan pernah melakukan hal semenjijikkan itu! Memangnya kau sendiri pernah melakukannya?"
Need menggeleng, "Aku belum bisa melakukannya. Aku tidak sekuat itu," wajahnya berubah cemberut, "Aku sangat iri pada Leon karena dia bisa melakukannya. Aku juga ingin melakukan hal luar biasa itu dan merasakan sendiri bagaimana semenakjubkannya memakan jantung iblis."
Kite merinding dan menatap Need dengan horor, "Kau jelas jelas sudah gila! Ya ampun... Bisa ketularan gila jika aku dekat dekat denganmu! Itu adalah hal menjijikkan! Jangan menyebutnya menakjubkan atau indah!"
Ekspresi Leon berubah menjadi gelap ketika mendengar ucapan saling balas diantara Kite dan Need yang membahas masalah 'memakan ras sendiri'. Ia menjadi terusik dan sebenarnya merasa tersinggung dengan ucapan Kite walau itu memang benar, "Apa kalian tidak bisa diam, hah?! Berhentilah berbicara!"
Seketika kedua makhluk berisik itu bungkam. Tidak ada yang berani berkata kata setelah Leon mengungkapkan kekesalannya.
Happ
Belum sempat berbicara lagi, mata Leon terbelalak kaget saat pundaknya terasa berat. Ia tidak merasakan kehadiran siapapun sama sekali hingga suara pelan tiba tiba terdengar dari samping telinganya.
"Leon~ kau di sini?"
Nada suara itu begitu lembut, namun juga ceria.
__ADS_1
Leon mematung di tempat. Ia melirik ke belakang. Wajahnya berhadapan dengan pemilik wajah yang sedang merangkulkan tangan di lehernya dari belakang.
Untuk sesaat Leon tertegun. Wajah yang begitu familiar. Dalam tatapan matanya, ia melihat pemuda bermata merah dan rambut putih yang menutupi sebelah dahinya. Hanya dalam sedetik, ia sudah tahu siapa dia, "Ken."