
"Aku tidak tahu jika dia mendengarkan kami sejak tadi," batin Felix. Pandangan matanya terarah pada Ken, "Dia memang sangat peka. Padahal dia ada di sini sejak tadi, tapi dia bisa tahu jika ada seseorang yang tidak tidur. Apa itu bisa disebut sebagai kemampuan?" batinnya.
"Apa dia mencoba memprovokasi secara terang terangan?" batin Kay sambil melirik Ken.
Melvin menarik napas sejenak dan menatap satu persatu 4 iblis secara seksama, "Apa kalian serius akan menjadikan kami sebagai umpan?"
"Kenapa? Kau tidak suka? Kau tidak terima?"
Felix dan Kay tersentak ketika mendengar ucapan penuh provokasi dari Ray. Mereka menatapnya dengan dalam.
"Sejak awal, kalian akan mati jika kami tidak datang. Saat kami berencana untuk menjadikan kalian umpan, bukankah itu bisa dianggap membayar balas budi? Kami sudah membuat kalian hidup untuk beberapa waktu lebih lama," lanjut Ray dengan raut sinis.
Ray berdiri dan berjalan mendekati Melvin. Hal ini membuat pria itu waspada. Seharusnya Melvin tidak percaya iblis secepat ini.
Dengan raut datar, Ray berucap, "Kenapa terkejut? Manusia membunuh iblis, tapi saat diperlakukan tidak baik oleh kami, kalian ingin protes? Tidak terima? Apa kalian pikir, dunia ini adalah milik kalian, bahkan termasuk dunia iblis kami?"
Ken bersandar pada kursi. Ia menatap Melvin dari sini walau tubuh pria itu sedikit terhalang oleh Ray, "Jadi apa keputusanmu, ketua? Kau akan melawan kami, membawa bawahanmu pergi dari sini dan bertahan hidup di luar sana sambil mencari anak dan keponakanmu itu?"
Ken melipat tangannya di belakang kepala dan bersandar dengan tangan, "Tapi kau harus pikirkan ini, ketua. Setelah mendengar tujuan asli yang kau katakan itu, apa semua bawahanmu akan langsung menurutimu lagi? Apa mereka hanya akan mengabaikan tujuan aslimu? Mungkin sebagian dari mereka iya, tapi bisa saja sebagian dari mereka tidak akan menurutimu lagi. Karena kita tidak tahu seperti apa isi pikiran orang lain."
Melvin dibuat diam ketika mendengar ucapan Ken. Apa yang dia ucapkan ada benarnya. Di depan, mungkin semua bawahannya terlihat masih mendukungnya. Tapi bagaimana jika sebagian dari mereka sebenarnya memberontak?
"Bekerja sama dengan kami menjadi umpan pun tidak begitu buruk," ucap Ray dengan acuh.
Melvin menaikkan sebelah alisnya, "Kerja sama? Bukankah yang kalian lakukan adalah memanfaatkan kami?"
Ray berjalan kembali menuju tempat duduknya sambil berucap, "Tidak, ini adalah kerja sama. Kalian akan bertugas menjadi umpan untuk menarik banyak mayat hidup di satu tempat. Lalu pada saat itu, aku akan membakar mereka semua. Tapi tidak dengan kalian."
Melvin mengerutkan kening. Ia memperhatikan pemuda ber-ikat kepala yang kini sudah duduk, "Maksudmu?"
"Aku memang benci dengan manusia. Tapi aku akan berbaik hati kali ini. Saat aku melemparkan api dan membakar mayat hidup yang mengerumuni kalian para manusia, Fel akan melindungi kalian dengan kubah pelindung agar tidak ikut terbakar.
Hanya saja, sampai mayat hidup itu terkumpul banyak, kalian harus bertahan sendiri di tengah tengah mereka semua."
Melvin terdiam sejenak dan berucap serius, "Kau mengatakan ini adalah kerja sama. Lalu jika kami jadi umpan, apa yang akan kami dapatkan?"
"Kalian?" Ray berkedip. Ia melihat ke arah Felix seolah meminta saran darinya.
__ADS_1
Felix tersentak ketika ditatap tiba tiba. Ia menggeleng. Padahal ia mengira jika Ray sudah mempertimbangkan semuanya dengan baik. Ternyata ia salah. Ray tetaplah Ray.
Pandangannya pun kini terarah pada Melvin. Melihat ekspresi serius dari pria itu membuatnya terdiam sejenak, "Jika kalian mau menjadi umpan, maka kalian akan kubiarkan hidup."
Melvin mengerutkan kening. Itu sama sekali bukanlah jawaban yang ingin didengarnya, "Membiarkan kami hidup? Bukankah itu artinya kalian akan membunuh kami jika menolak menjadi umpan? Ini bukanlah kerja sama, tapi pemaksaan."
Felix melipat tangannya di dada dengan ekspresi senyum, "Lalu kenapa? Bukankah sama saja kerja sama? Kami sudah menolong kalian sekali, lalu kini giliran kalian yang mematuhi permintaan kecil ini."
"Dia tidak memiliki ide dan berusaha membuat lawan bicara menerima ucapannya," batin Kay.
"Bagaimana jika begini... Jika kalian mau menjadi umpan, kami akan membuat kalian kembali ke dunia manusia," tambah Ken.
Melvin langsung menatap tempat dimana seseorang baru saja berbicara. Ia sampai dibuat tertegun oleh ucapan itu. Ekspresinya menjadi semakin serius, "Aku sudah mencoba untuk membawa semua rekanku kembali ke dunia manusia. Tapi tidak bisa. Kalian yakin bisa melakukannya? Apa yang akan kalian lakukan?"
Felix menatap Ken dengan serius, "Bukankah itu terlalu besar untuk mereka?"
"Yah.. Itu jika mereka mau menjadi umpan. Lagi pula, ini bisa dilakukan jika mereka masih hidup. Menjadi umpan dan melawan mayat hidup di tengah tengah makhluk itu, apakah bisa bertahan hidup atau akan mati?" balas Ken dengan santai.
"Apa itu benar? Kau bisa membawa kami kembali ke dunia manusia?" sergah Melvin.
Ken mengangguk dengan pasti. Ia menunjuk rekan rekannya dengan menggunakan tatapan, "Mereka semua.. Juga tahu caranya. Aku tidak berbohong. Terserah kau mau percaya atau tidak. Itu adalah keputusanmu."
Felix sedikit terkejut, namun segera menetralkan ekspresinya, "Kau yakin? Melawan mayat hidup sendiri?"
Melvin mengangguk.
Kay, "Padahal membawa bawahanmu bisa meningkatkan kemungkinan untukmu bertahan hidup asalkan kau tidak mempedulikan mereka saat di sana."
Melvin menatap pemuda berwajah dingin dengan mata biru laut, "Aku tidak mau mereka terlibat. Sudah cukup aku saja yang melakukannya. Tapi janjikan aku satu hal. Saat berhasil memusnahkan banyak mayat hidup, kirimkan rekan rekanku kembali ke dunia manusia dengan selamat."
"Itu bisa dilakukan," ucap Felix dengan cepat.
Melvin menghela napas dan mengangguk, "Aku akan melakukannya."
"Baiklah! Nanti pagi kita akan langsung melakukannya," Ken berekspresi semangat seolah ini adalah sesuatu yang ditunggu.
Felix menatap Kay dan Ray, ia mendapat anggukan dari keduanya. Ia pun ikut mengangguk, "Bertahan hidup 'lah selama mungkin agar banyak mayat hidup yang datang. Aku dan Ray akan bersama denganmu, tapi kami akan mengawasi dari jauh.
__ADS_1
Sedangkan Ken dan Kay, mereka akan berada di sini dan menjaga bawahanmu. Setelah memusnahkan banyak mayat hidup, kami akan membawa kalian kembali ke dunia manusia."
"Tidak, hanya mereka. Jika aku.. Apa bisa ikut bersama kalian?"
Pertanyaan Melvin membuat Felix tersentak, "Kau ingin mencari anak dan keponakanmu?"
Melvin mengangguk, "Iya."
"Aku tidak masalah asalkan kau bisa sedikit berguna kedepannya dan tidak menjadi beban," sahut Ken.
"Tapi... Ada pertanyaan untukmu. Jawab dengan jujur. Kelompok yang datang kemari pasti bukan hanya kalian. Seharusnya ada kelompok lain. Berapa jumlah semua manusia yang masuk ke dunia ini?" tanya Kay dengan raut serius.
Melvin terdiam sejenak, "Mereka.. 70 orang termasuk kami, dibagi menjadi 7 kelompok."
"Wah.. Ternyata banyak juga. Hebat.. Berarti kau sudah membunuh sebagian besar dari mereka dalam sekejap ya?"
Ucapan Ken yang berbicara secara gamblang itu membuat Melvin menguatkan kepalan tangannya. Walau ia tidak membunuh mereka, tapi bisa dikatakan ia membunuh banyak blizt secara tak langsung.
"Sudahlah, tidak perlu diungkit. Lagi pula, asalkan dia mau menjadi umpan, itu sudah bisa membuat beberapa orang hidup," sergah Ray.
Pagi kini telah tiba. Walau tidak banyak memperlihatkan cahaya matahari, namun ada sedikit cahaya yang masuk melalui celah celah awan hitam, tidak seperti hari hari sebelumnya.
Seperti yang direncanakan sebelumnya, Melvin menjadi umpan untuk menarik mayat hidup. Lalu Felix dan Ray berdiri di atas pohon, cukup jauh dari tempat Melvin berada. Mereka menyembunyikan hawa keberadaannya dengan baik walau tahu mayat hidup mengetahui keberadaan orang hidup bukan dari hawa keberadaan, tapi energi panas yang dikeluarkan manusia ataupun iblis.
"Ini tidak begitu berguna. Jika memancing mereka hanya dengan satu orang, mayat hidup itu akan lebih banyak muncul di tempat Kay dan Ken. Karena di sana lebih banyak makhluk hidup," ucap Ray sambil melihat jauh ke depan. "Ini bukan seperti yang kurencanakan. Kenapa kau menerima jika dia saja yang menjadi umpan?"
"Karena target sebenarnya untuk memusnahkan mayat hidup memang bukan di sini, tapi tempat Kay dan Ken. Kau pergilah ke sana nan–"
"Apa?! Kapan? Sejak kapan rencananya berubah? Kenapa aku tidak tahu?!" Ray berekspresi kesal.
"Sudahlah, jangan protes. Kita juga akan membereskan mayat hidup di sini. Kita akan datang terlambat ke tempat mereka agar mayat hidup yang berkumpul lebih banyak. Lagi pula, mereka berdua juga sudah menduganya. Kau saja yang tidak memahami situasi."
Ray menggerutu tidak jelas. Ia akui, ia selalu melakukan sesuatu sesuai dengan rencana, jadi tidak pernah memperkirakan rencana lain dari rekan rekannya yang tidak dikatakan.
"Aku selalu saja kalah. Huh, wajah, kemampuan, bahkan otakku tidak sehebat kalian. Aku mengaku aku jelek, tidak seperti kalian!"
Felix berkedip dan menggeleng, "Jika saja kau tidak suka menggoda wanita ataupun menggunakan ikat kepala itu, kau terlihat tampan."
__ADS_1
Namun sayangnya, Ray tidak mendengarkan dan masih menggerutu tidak jelas, bahkan keluar dari hal yang seharusnya diprotes.