
"Ken."
Pemuda bermata merah dengan rambut putih itu mengangguk cepat, "Kau ternyata di sini! Aku merasakan kehadiranmu sebelumnya, jadi aku kemari."
Ia memperlihatkan deretan giginya yang putih dengan mata terpejam membentuk lengkungan. Jelas dari ekspresinya dia sedang senang.
"Kau berat," ucap Leon.
Sontak saja ucapannya membuat Ken melepaskan Leon. Ia berpindah ke hadapannya dengan pipi menggelembung, "Aku tidak berat. Aku sangat ringan."
Leon menepuk nepuk kepala Ken dan mengusapnya. Hal ini membuat Ken tersenyum kembali dan terkekeh. Ia sangat suka ketika kepalanya dielus seperti ini oleh Leon.
"Aku mendengar kau dibawa oleh mayat hidup, apa yang terjadi?" Leon melepaskan tangannya dari Ken dan memandanginya. Pemuda dengan rambut putih itu terlihat seperti berumur 15 tahun. Tubuhnya sedikit lebih pendek dari Leon.
Ken segera mengangguk, "Itu benar! Aku tadi dibawa oleh mayat hidup! Dia sangat kuat dan bahkan bisa berbicara! Huft... Selain itu, dia juga memiliki banyak kemampuan. Melawannya begitu sulit dan memakan waktu. Pada saat itu aku melawannya setelah jauh dari tempat Kay."
"Lalu setelah itu, kau berhasil memusnahkannya?"
Ken mengangguk antusias, "Tentu saja! Aku tidak akan kalah dari mayat hidup, bahkan jika mereka dapat berbicara, menggunakan senjata ataupun memiliki kemampuan."
Leon mengernyit dan keheranan. Kite dan Need yang berada sedikit jauh dari Leon juga menunjukkan ekspresi serupa.
"Dia bisa menggunakan kemampuannya?" sahut Kite.
Kini Ken yang mengernyit. Kepalanya ia lirikkan ke belakang. Wajah yang terasa sedikit familiar, namun ia lupa.
"Apa benar dia bisa menggunakan kemampuan?" ucap Leon.
Ken kembali menatap Leon dan mengangguk, "Tidak mungkin aku berbohong."
"Kemampuan apa saja yang dia miliki?" sahut Kite yang juga ikut penasaran. Ia khawatir jika ternyata mayat hidup lain bisa berevolusi seperti itu.
Ken tak menyahut hingga Leon menanyakan hal yang sama. Namun pemuda berambut putih itu langsung menjawab tanpa membuat Leon menunggu lama, "Banyak, dia bisa menggunakan gravitasi, kemampuan tidak terlihat, teleportasi, bergerak cepat dan yang paling berbahaya adalah mengendalikan darah. Jika seseorang memiliki luka bahkan jika itu kecil, maka dia bisa menarik darahnya keluar. Dengan begitu, orang incarannya bisa langsung mati tanpa harus mengincar titik vitalnya."
Mata Leon terbelakak. Jelas itu sangat mengejutkan. Mengendalikan darah? Bukankah artinya, jika seseorang memiliki darah, dia bisa langsung menghabisinya hanya dengan sedikit luka gores? Tapi semua iblis pasti memilikinya, bahkan monster sekalipun!
__ADS_1
Ini sangat gila! Iblis yang ia tahu memiliki paling banyak kemampuan adalah Stev, dengan 3 kemampuan miliknya. Namun disaat ia melawan mayat hidupnya, Stev tidak mengeluarkan kemampuannya sama sekali dan hanya menggunakan senjatanya.
Jika saja Leon tidak bersama Need, ia mungkin tidak akan tahu jumlah kemampuan Stev yang ada 3.
"Bagaimana itu mungkin?! 5 kemampuan sekaligus?! Bahkan dia adalah mayat hidup. Kau tidak salah menghitung?!" Need tentu sangat syok mendengar penjelasan Ken. "Siapa dia?!"
Ken lagi lagi tak menjawab ucapan orang lain selain Leon. Ia terdiam dan saat Leon yang mengulang pertanyaan Need, ia menjawab dengan cepat, "Leon pasti sudah tahu dia siapa. Kau kenal dengannya."
Kening Leon seketika berkerut, "Jangan melakukan teka teki. Siapa dia?"
"Raja iblis Ralt."
Bak disambar petir, Need rasanya ingin pingsan mendengar nama itu, "B-bagaimana mungkin?! Kau pasti salah lihat! Dia tidak mungkin menjadi mayat hidup!"
Ken kini menimpali ucapan pemuda itu, "Aku melihatnya sendiri dengan mataku ini. Aku juga sudah melawannya."
Ada nada tak suka dari ucapan Ken barusan. Dia sepertinya merasa Need sudah meremehkannya.
Leon juga merasa tidak percaya dengan ucapan yang dilontarkan Ken tadi. Tapi ia tahu, Ken tidak akan berbohong padanya. Sebelum keadaan menjadi seperti ini, Need sudah menjelaskan semua yang dia ketahui saat ia menyiksanya semalam. Dimulai tentang dalang dari semua kekacauan di dunia iblis, bagaimana dalang itu melakukannya, tujuan, hingga Need yang merupakan 'boneka' ciptaan Ralt.
"Lalu bagaimana kau bisa mengatasi kemampuannya dalam pengendalian darah? Kenapa kau masih hidup? Sebagian pakaianmu berdarah. Kau pasti terluka melawan monster seperti itu," sahut Need setelah lama terdiam. Ia seperti ingin meyakinkan diri sendiri jika Ken salah.
"...Lagi pula, memangnya kau tahu wajah Ralt? Dia jarang keluar dari dalam istananya. Tidak banyak yang tahu wajahnya, kecuali semua iblis yang tinggal di istana, lalu iblis tertentu. Lalu kau? Memangnya kau siapa sampai tahu wajahnya seperti itu?"
Ken melirik Need dengan tatapan sengit, "Aku tidak menanyakan pendapatmu."
Leon menghela napas dengan berat. Ia memijat pelipisnya dengan mata terpejam. Jika Ralt sekarang menjadi mayat hidup, lalu bukankah artinya bukan dia dalang dari kekacauan ini? Lalu siapa? Siapa yang melakukan semua ini? Pasti ada orang lain yang ikut campur.
Kite juga nampak terdiam cukup lama. Namun seperti ada pikiran lain dari dalam dirinya. Pandangan matanya memperlihatkan sedikit sirat kecurigaan terhadap sesuatu. Namun ia tidak mengatakannya dan tetap diam.
"Awas!" Pekik Ken tiba tiba. Tangannya dengan segera menarik lengan Leon hingga tubuhnya yang tak siap akan kejadian tiba tiba ini sedikit berputar ke samping.
Sraatt
Cruatt
__ADS_1
Ken melakukan tendangan ke depan hingga membuat pelaku penyerangan melompat menghindar. Jaraknya tiba tiba sudah berada jauh dari Ken.
Ken menatap tajam pada pelaku yang menyerang diam diam dari belakang Leon. Jika saja dirinya tidak sigap menarik Leon ke samping, mungkin pemuda itu yang sudah terkena serangan sabetan tadi.
Kini tangan Ken mengeluarkan darah. Lukanya cukup dalam hingga luka itu hampir mengenai tulangnya. Tangannya turun setelah melihat pelaku menjauh. Hal ini membuat darahnya yang keluar menuruni tangan dan menetes ke tanah. Tidak ada raut kesakitan dalam wajahnya, hanya raut marah yang ia perlihatkan.
Leon tertegun untuk sesaat. Bahkan Need atau Kite tidak menyadari serangan cepat tadi. Pelaku datang tiba tiba tanpa diduga atau dirasakan kehadirannya.
Kite tidak bisa melepaskan pandangannya dari pelaku yang hampir melukai Leon. Matanya jelas menunjukkan rasa ketidak percayaan. Ia tidak bisa merasakan kehadiran pelaku itu sebelumnya dan baru mengetahuinya setelah pelaku menyerang.
Need pun menatap pelaku tanpa berkedip. Matanya terbelalak melihat wajah sosok itu, "Ralt.."
Wajah yang pucat dengan bibir yang kehilangan warna merah. Bola mata putih tanpa ada pupil. Tubuh yang kurus, namun terlihat masih wajar, tidak seperti mayat hidup lain. Tak ada luka apapun dalam tubuhnya. Namun pakaiannya memiliki bercak darah. Dia adalah Ralt yang kini telah menjadi mayat hidup.
Leon melihat pelaku penyerangan dan tak tahu bagaimana harus bereaksi. Apa yang dikatakan Ken memang benar. Di hadapannya kini ada Ralt dalam kondisi sudah menjadi mayat hidup.
"Padahal aku sudah mencincangnya sampai tidak berbentuk, tapi dia masih bisa hidup seperti ini," gumaman pelan dari Ken itu masih bisa didengar Leon. Ini membuat Leon semakin waspada pada Ralt.
Setahunya, Ralt hanya memiliki kemampuan gravitasi. Entah bagaimana Ken mengatakan dia memiliki 5 kemampuan. Sepertinya Ralt sudah menyembunyikan kemampuannya selama ini.
Leon tidak tahu jika sebagian prasangkanya salah. Ralt tidak hanya memiliki 5 kemampuan saja, namun 10 kemampuan. Hanya saja karena satu dua hal, Ralt kini hanya memiliki setengah dari kemampuan itu.
"Apa dia harus dibakar?" gumam Ken.
Mendengar gumaman dari Ken, membuat Leon berucap, "Sepertinya itu tidak akan berhasil. Aku pernah menghadapi mayat hidup yang dapat menggunakan senjata dan lebih kuat dibanding mayat hidup lain. Membakarnya tidak membuat mereka mati."
Ken sedikit terkejut. Namun ekspresinya kembali tenang, "Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membunuhnya?"
"Kita lawan dan temukan kelemahannya," balas Leon.
Ken mengangguk pelan. Namun saat itu terjadi, tiba tiba tekanan di tubuhnya menjadi begitu berat. Bahkan untuk Leon, Kite dan Need terkena tekanan, ini membuat mereka kesulitan untuk berdiri.
"Jangan sampai kalian terluka sedikit pun, atau kalian akan mati," teriak Ken yang tentunya tertuju pada Kite dan Need.
"Bukankah kau yang sangat mengkhawatirkan? Tanganmu sudah terluka!" balas Need tak kalah kencangnya.
__ADS_1