Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 144 -Kenapa?


__ADS_3

Osmond terduduk di bawah pohon besar. Kini benda benda bulat yang ada di atas pohon telah lenyap dan hanya tersisa beberapa saja. Pandangan matanya mulai buram ketika darah di kening menutupi sebagian mata.


Ia menatap ke depan, melihat lawan yang memberikan tatapan mengiba. Ia tahu walaupun wajah itu adalah Rafa, namun sebenarnya dia adalah Oliver, adiknya.


Sebelum ini ia pernah mengajukan permintaan agar Oliver dapat bereinkarnasi kembali saat ia mengambil alih tubuh Oliver. Jiwa Oliver yang saat itu sangat lemah, membuatnya tidak bisa melawan saat diambil alih.


Namun ia sendiri sebelumnya tidak tahu bila Oliver akan bereinkarnasi bersama Rafa yang merupakan sebagian jiwa dari Niel, sahabat adiknya. Ia mengetahui itu setelah Michael mengatakannya.


Dengan kesulitan, Osmond melihat ke tempat lain yang letaknya tidak begitu jauh darinya. Ia melihat ke arah kanan untuk melihat keberadaan Michael.


Tubuh anak kecil itu hanya berdiri diam tanpa menggerakkan tangan ataupun kakinya. Dia mungkin sedang memikirkan sesuatu hingga hanya berdiri diam memunggungi Osmond. Dalam pandangan orang lain mungkin memang hanya seperti itu saja.


Tapi dalam pandangan Osmond, ada hal lain. Jiwa Michael tidak sepenuhnya berada di tubuh itu. Sesuatu yang bisa dikatakan sinyal jiwa darinya pun terasa sedikit aneh, tidak seperti biasanya. Ia terus mengamatinya untuk memperhatikan gerak gerik macam apa yang dilakukan Michael. Bahkan walaupun lawan masih berdiri di depannya, Osmond seakan tak peduli.


Oliver memandang Osmond dengan raut kecewa, sedih, khawatir dan kesal. Semua perasaan itu menjadi satu membuatnya bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


"Maaf aku membuat tubuhmu terluka, Rafa," batin Oliver.


"Yang terpenting kau berhasil membuatnya tidak bisa bergerak lagi," ucap Rafa dari dalam pikiran Oliver. "Aku juga bisa menyembuhkan diriku nanti."


"Uhuk...," Osmond terbatuk darah, namun pandangannya masih belum lepas dari Michael. Ia seolah percaya jika Oliver takkan menyerangnya lagi hingga ia bisa lengah seperti ini.


Oliver mengepalkan tangannya dengan mata menatap lurus pada Osmond, "Kenapa kau melakukan semua ini?"


Osmond hanya diam. Namun tak lama, akhirnya menjawab, "Sudah kukatakan, aku ingin menguasai dunia."


"Kalau begitu, kenapa kau hanya diam sekarang? Jika kau benar benar ingin menguasai dunia, kau seharusnya berjuang sampai akhir. Tapi sekarang kau malah duduk duduk seperti ini," ucap Oliver.


"Kau tidak lihat? Aku sudah terluka parah. Apa aku masih harus bertarung dan melanjutkannya?"


"Kalau begitu, kau harusnya membunuhku. Bukankah jika aku masih hidup, kau tidak akan bisa menguasai dunia ini?"

__ADS_1


"Bila dibandingkan, keadaanmu lebih baik dibandingkan diriku. Aku tidak akan bisa seimbang melawanmu," balas Osmond tanpa mengalihkan tatapannya dari Michael.


Oliver berekspresi sinis, "Sejak kapan kau peduli tentang seimbang atau tidaknya kekuatan musuh? Di perang sebelumnya kau bahkan melawanku dan beberapa orang lainnya sekaligus. Itu sudah termasuk tidak seimbang. Tapi kau masih melawan."


"Itu karena aku masih memiliki banyak kekuatan yang belum kutunjukkan," dalih Osmond.


"Seranganmu kali ini tidak sekuat sebelumnya ketika perang Os terjadi. Bahkan kini aku lebih mudah menyerangmu dibandingkan saat itu. Apa kau melemah? Atau kau sengaja melakukannya?"


Wajah Osmond semakin memucat. Ia meringis sakit kala Oliver menginjak kakinya yang terluka. Pandangannya langsung saja teralihkan menatap pemuda itu. Ia syok, kesal dan marah.


"Kau mengkhawatirkan pelayanmu? Aku juga lihat dia sepertinya hanya diam saja," ucap Oliver dengan kaki yang semakin kuat menginjak kaki saudaranya.


"Errghh.." Osmond menatap Oliver dengan tajam. Ia sepertinya terusik dengan apa yang dilakukan pemuda itu padanya. "App yang kau inginkan?!"


"Kejujuranmu," Oliver menyingkirkan kakinya dan tidak lagi menginjak Osmond.


Osmond perlahan berdiri kembali walaupun rasa sakit menjalar dengan leluasa ketika dirinya berdiri, "Kejujuran? Kau hanya ingin mendengar apa yang ingin kau dengar. Bukan kejujuran."


Oliver terdiam mendengar penuturan Osmond.


"Lalu sekarang, kau sudah mendengarkan jawabannya...... Bunuh aku, seperti perang sebelumnya saat kau ingin membunuhku. Sekarang aku tidak akan lari seperti sebelumnya," lanjut Osmond.


Osmond merentangkan tangan dengan lebar seolah siap menerima serangan apapun.


Oliver terdiam ketika melihat musuhnya melakukan hal itu. Senjata bahkan sudah tidak ada di genggaman tangan lawan. Apa ini hanya jebakan? Siasat? Atau memang dia sudah menyerah? Tapi kenapa semudah itu?


"Apa kau benar benar akan mengakhiri ini?" ucap Rafa.


Oliver sama sekali tak menjawab ucapan Rafa. Ia hanya mengangkat pedangnya dengan pandangan lurus ke depan. Perasaan ragu, kalut, dan bingung dialami olehnya.


Di satu sisi pikirannya mengatakan agar membunuh Osmond agar kejadian perang ini tidak pernah terjadi lagi. Namun di lain sisi, perasaannya mengatakan agar ia jangan membunuh Osmond, alasan yang dia katakan sebelumnya adalah bohong.

__ADS_1


Oliver perlahan lahan menurunkan pedangnya dengan disertai helaan napas, "Aku sungguh berkhianat pada orang orang yang bertarung bersamaku melawanmu."


Osmond mengerutkan kening, "Kenapa kau menurunkan pedangmu lagi?"


"Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya tidak perlu ada pertumpahan darah sebanyak ini. Seharusnya antara kau dan aku... Tidak berakhir seperti ini. Aku memang tak berdaya karena tidak bisa membunuhmu. Tapi jika aku melakukannya, aku merasa lebih tak berdaya. Lalu sekarang apa yang harus kulakukan?


Apa dengan mengakhirimu, kejadian seperti perang Os dan perang sekarang tidak akan pernah terjadi lagi? Apa dengan tidak adanya kau, semua akan tenang dan damai? Apa orang yang sudah mati karenamu akan tenang?


Dilain sisi, jika aku membiarkanmu, apa kejadian ini akan terulang? Apa orang yang telah mati karenamu tidak akan tenang? Apa dunia akan kacau lagi?"


Osmond menurunkan kedua tangannya perlahan. Ekspresi wajahnya sulit diartikan. Ia bisa melihat kerisauan, kebingungan dan kalut dari wajah Oliver yang berada di tubuh Rafa.


"Kini tidak ada lagi sesuatu yang harus kuwujudkan. Apa yang menjadi tujuanku sudah tercapai. Karena itu, tidak ada lagi alasan untukku tetap di sini. Hanya saja, maaf... Aku tidak bisa mengembalikan tubuhmu. Walaupun aku keluar dari dalam tubuhmu, tubuhmu akan langsung mati dan tidak bisa kau miliki lagi.


Karena sejak perang Os itu, tubuhmu memang sudah tidak baik. Kau akan mati bila tetap menggunakan tubuh ini."


Oliver mengerutkan kening mendengar ucapan Osmond, "Pada akhirnya aku mati karena kau mengambil alih tubuhku dan memaksa jiwaku keluar. Aku tetap saja mati."


Osmond tiba tiba menerbitkan senyum di bibirnya. Senyum yang terlihat agak berbeda dibanding biasanya. Tatapannya pun berubah.


Entah kenapa Oliver malah merasakan sesak di dadanya ketika melihat itu. Ia juga tidak mengerti maksud dari senyuman itu. Namun tatapannya begitu tulus, sama seperti ketika Osmond bersama dengannya sebagai kakak yang baik.


Tanpa sadar Oliver malah berucap, "Kakak..."


Osmond tertegun, sedangkan Oliver baru menyadari apa yang diucapkannya.


"Ekhem," Osmond berdehem agar kecanggungan itu mereda.


"Aku–" belum sempat Osmond mengatakan sesuatu, sebuah pedang tiba tiba menembus dada kirinya.


Matanya seketika terbelalak. Namun ia sudah menduga serangan ini sebelumnya. Langsung saja tubuh Osmond terkulai lemas dan berlutut di tanah.

__ADS_1


Oliver terkejut. Ia melihat ke belakang dan menyadari kedatangan Kay. Iblis yang sebelumnya bertarung di garis belakang bersama pasukannya itu tiba tiba saja berada di dekat sini dan melemparkan pedang yang tepat mengenai Osmond.


__ADS_2