
Bruukk
Tubuh Silvia berhasil dijatuhkan oleh Kite. Sedangkan Ray, ia melemparkan api untuk membakar mayat Silvia. Namun tak lama, api yang seharusnya menjadikan mayat itu debu malah menghilang, "Sepertinya dia kebal dengan api," gumam Kite.
Tubuh Silvia tiba tiba menghilang dan muncul di belakang Ray. Dengan gerakan cepat, Kite membalikkan tubuhnya dan mengayunkan pedang ke arah wanita itu.
Cruuat
Lengan kanan yang digunakan untuk memegang tombak seketika terpotong karena tebasan yang dilakukan Kite. Wanita itu pun melompat mundur seolah menjaga jarak.
"Aku bisa melakukannya sendiri. Kau coba serang saja dari jauh," ucap Kite dengan ketus. Setelah mengatakannya, ia melesat ke tempat Silvia berada.
Ray berekspresi kesal, "Cih, aku juga bisa bertarung jarak dekat."
Walau kesal, namun Ray melakukan apa yang dikatakan pemuda itu. Ia melakukan serangan jauh bola api yang tepat mengenai Silvia. Hal ini membuat pergerakannya sedikit terhambat karena terbakar api. Namun tidak begitu lama, wanita itu kembali berdiri dengan api yang telah padam. Bahkan lengan yang sebelumnya terpotong melesat padanya dan terpasang kembali dengan baik.
"Sekarang tidak mempan lagi!" kesal Ray.
Grroooaaa
Ray tersentak ketika mendengar suara monster dan mengalihkan pandangannya ke arah suara. Dilihatnya 5 ekor beruang dengan duri di punggung merobohkan pohon dengan ganas. Selain kelima monster itu, ia juga melihat Felix yang mulai melawan mereka.
"Dari pada di sini, lebih baik aku membantunya saja," Ray melesat cepat ke tempat Felix berada. Ia ikut andil dalam menghadapi monster yang muncul dari dalam hutan.
Kemunculan monster ini bukan tanpa sebab. Ini diakibatkan kemampuan Silvia yang dapat mengendalikan monster. Ia membuat 3 elang dan 5 ekor beruang landak yang berada dekat tempat itu menyerang.
Leon sendiri tidak berada pada keadaan santai. Ia bertarung melawan Stev yang seperti tiada batas dalam hal energi atau stamina. Bahkan pergerakan pria itu lebih cepat dan kuat dibandingkan saat masih hidup.
"Saat hidup kau menyulitkanku. Bahkan ketika mati pun, kau masih mau menyulitkanku," gumam Leon dengan mata berkilat tajam.
Dalam sekali tendangan, Leon berhasil membuat Stev terlempar jauh hingga menabrak satu pohon sampai tumbang.
Bruukkk
Tidak memberikan waktu untuk Stev bersantai, Leon langsung melesat pergi ke tempat Stev dan menginjak tubuhnya hingga membuat tanah di bawah tubuh itu cekung.
Krakk
Suara tulang retak terdengar begitu jelas. Namun Stev tidak menunjukkan ekspresi kesakitan sama sekali. Ini membuat Leon menggeram kesal. Tidak berhenti di sana saja, Leon menarik paksa tubuh Stev untuk berdiri yang kemudian dilemparkan ke udara.
Leon memperkuat pijakan kakinya dan melompat menyusul tubuh Stev. Dengan pedang yang terayun kuat, ia memotong motong tubuh pria itu. Kedua lengan, kaki, leher, perut. Mereka semua terpotong di udara dengan cepatnya.
Bruukk
Bruukk
Bruukk
Tubuh Stev jatuh ke tanah tidak dalam keadaan utuh.
Leon melukis senyum tipis. Walaupun kesal karena Stev tidak juga mati, disisi lain ia juga merasa senang karena bisa menghabisinya sehancur mungkin.
Kraakk
Leon menginjak injak bagian lengan Stev hingga benar benar hancur. Bahkan sedikit darah tercecer karenanya, "Beginilah seharusnya! Kau memang pantas menjadi mayat hidup!"
Lengan kanannya menusukkan pedang pada kepala Stev. Ia memotong kepalanya hingga bagian tubuh yang tidak seharusnya terlihat menampakkan diri.
Otak yang seharusnya berada dalam kepala tercecer keluar dengan keadaan hancur. Jika orang lain yang melihat ini, dia pasti akan jijik atau bahkan mual. Namun tidak bagi Leon. Ia sudah terbiasa melihatnya. Bahkan ia pernah memakannya sekali.
Mungkin bagi orang lain, memakan sesuatu seperti itu sangat menjijikkan. Bahkan tidak pernah terpikirkan untuk seseorang memakan otak orang lain. Leon pun sama pada awalnya. Tapi ia terpaksa melakukannya demi bertahan hidup di tengah tengah perang antara dua kerajaan saat dulu. Habisnya makanan, membuatnya bertahan hidup dengan memangsa iblis lain.
Kehidupan itu terjadi selama beberapa minggu bahkan sebelum kematian semua penduduk desa. Ia tidak bisa pergi dari tempat diantara perang itu dan bahkan sering dianggap sebagai musuh dari prajurit lawan antara kedua kelompok itu kemanapun dirinya pergi.
Walau beberapa minggu memang tidak bisa dianggap lama untuk hidup iblis, tapi kehidupan seperti itu sangat melekat padanya. Ia tidak bisa menghilangkan kebiasaan memangsa iblis lain walau sudah bisa mendapatkan makanan yang layak.
__ADS_1
Leon tidak seperti penduduk lain yang rela menahan lapar begitu lama sampai beberapa dari mereka mati kelaparan. Keinginan hidup yang dimilikinya sangat besar sampai membuatnya berani memangsa iblis lain yang merupakan prajurit perang sekarat.
Tapi pada akhirnya, semua penduduk di desanya mati karena serangan dari salah satu prajurit kerajaan. Hanya dirinya yang selamat.
Leon kembali menginjak bagian tubuh Stev yang lain seperti menginjak semut. Ia benar benar menghancurkan semua bagian tubuhnya tanpa ampun. Potongan tubuh pun berceceran di sekitarnya. Tidak menyisakan satu daging pun yang utuh, ia memotong dan menghancurkannya tanpa belas kasih.
Apa yang dilakukan Leon membuat mayat Stev tidak lagi bergerak. Jangankan bergerak, memulihkan semua bagian tubuhnya yang telah hancur saja tidak bisa.
Untunglah ia menendang tubuh Stev sangat jauh tadi sehingga tidak ada orang lain yang melihat perilakunya.
Saat memikirkan itu, ia jadi teringat kata kata Felix jika ada Silvia di tempat ini. Dengan segera, ia melesat ke tempat Kite berada.
Psshhh
Tapi saat sampai, pertarungan Kite telah berakhir. Mayat dari Silvia melepuh sebelum akhirnya berubah menjadi kerangka tulang yang berjatuhan ke tanah.
Leon tahu yang sudah melakukan ini adalah tangan kanannya, Radolf. Hanya dia yang memiliki kemampuan asam sampai bisa melelehkan tubuh. Pria itu juga berada di dekat Kite.
Ini bisa dianggap telah selesai, namun karena melihat tulang dari mayat Silvia belum benar benar hancur, Leon langsung mendekat dan menghancurkannya hingga remuk.
Karena iblis yang telah memanggil monster sudah tiada, monster yang menyerang di sana tidak berada dalam kendali. Walau demikian, mereka tetap menyerang siapapun yang ada di hadapannya. Hal ini membuat semua orang yang sedang bertarung dengan para monster itu belum selesai kecuali Felix dan Ray.
Need menangkis beberapa bulu yang melesat ke arahnya. Keberadaan monster elang itu memang sulit dilawan dari jarak dekat. Posisinya yang selalu terbang di atas, membuat siapapun tidak bisa menyerang atau mendekat.
Need dan Nix yang sedang berhadapan dengan monster itu pun hanya bisa menangkis bulu bulu yang melesat padanya. Sedangkan Nevan dan Freed mencoba untuk memanahnya.
Panah yang meleset ataupun tubuh yang sulit ditembus membuat keduanya kesulitan hingga hanya bisa menumbangkan satu ekor saja.
Wusshh
Blaarr
Namun sebuah lesatan api membakar satu ekor elang hingga membuatnya terbakar dan jatuh ke tanah. Tubuhnya menggeliat di tanah karena kesakitan.
Kwaakk
Sontak semuanya menutup telinga kuat kuat, "Aahhk, telingaku sakit," pekik Nevan.
Suara itu sampai bisa didengar oleh Leon, Kite dan Radolf yang berada cukup jauh dari tempat Nevan berada. Mereka ikut menutup telinga walau suaranya tidak senyaring di tempat Nevan.
Rafa mendecakkan lidahnya. Lengan kanannya mengambil belati tersisa yang ada padanya. Dengan tangan kiri yang masih menutupi telinga, ia menyalurkan energinya di pergelangan tangan kanan dan melemparkan belati sekuat tenaga ke arah elang.
Kwaakk–
Suara nyaring itu tiba tiba terhenti. Belati yang dilemparkan Rafa tepat mengenai mulut elang hingga membungkam suaranya.
Tidak menunggu lama, Ray pun melemparkan bola api ke arah elang yang masih berusaha mengeluarkan belati dari mulutnya.
Blaarrr
Api tepat mengenai elang hingga membuatnya terjatuh ke tanah dengan keadaan terbakar. Monster itu terlihat kesakitan, namun ia tidak bisa mengeluarkan suara apapun karena belati yang menyangkut di mulutnya.
"Hah.. Menyusahkan saja," keluh Ray.
Felix menyarungkan pedangnya kembali. Ia menghela napas. Telinganya jadi berdengung karena mendengarkan suara 'merdu' dari monster terbang itu. Ia melirik Ray dengan senyum, "Kau datang tepat waktu. Tapi sayangnya apimu sama sekali tidak membantu menghabisi mayat hidup."
Ray berekspresi ketus, "Tidak perlu diperjelas, aku sudah tahu. Tapi, aku masih tetap membantu. Jika bukan karenaku, monster tadi masih hidup dan memekik sampai telingamu tuli."
"Tapi dimana yang lain? Kau datang sendiri?"
"Mereka berdua masih di sana. Karena kau tidak juga datang, mereka menyuruhku untuk menyusulmu. Kau berterimakasih 'kan? Yah.., walaupun tidak kau katakan, itu terlihat jelas di wajahmu. Kau merasa senang karena aku akhirnya datang."
Mendengar perkataaan penuh percaya diri dari Ray malah membuat Felix semakin tersenyum lebar.
"Pujilah aku! Aku yang terbaik! Aku yang–"
__ADS_1
Bugh
Felix menjitak kepala Ray dengan keras sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya, "Sebaiknya kau segera diam."
Ray seketika berekspresi kesal. Ia mengelus kepalanya dengan tatapan tak suka, "Kenapa kau melakukan itu?! Aku sudah membantu!"
Felix mengabaikan keluhan dari Ray dan berjalan menuju banyaknya kerumunan berada. Bahkan seseorang yang ia kenal juga sedang mendekat pada tempat kerumunan itu.
Leon sedikit tersentak saat lengannya tiba tiba ditarik. Ia tahu ada seseorang yang mendekat padanya, tapi ia tidak menyangka akan ditarik keras seperti ini sebelum dirinya sampai di tempat kerumunan. Matanya bertemu pandang dengan wajah seorang pemuda yang memiliki tubuh sedikit lebih tinggi darinya.
"Kau baik baik saja?" suara yang penuh rasa khawatir itu membuat Leon tertegun sejenak. Ia menghela napas dan mengangguk, "Tidak ada yang perlu dicemaskan."
Felix menghela napas lega. Ia pun melepaskan lengan Leon dan menepuk nepuk bahunya, "Kau selalu terlibat pertarungan dan membuatku khawatir."
Leon tersenyum tipis dan menanggapi, "Bukankah karena pekerjaan juga kita sering seperti itu?"
Ia dan Felix bukan 'lah seseorang yang asing. Mereka sudah kenal lama dan tergabung dalam kelompok pembunuh bayaran bersama dengan Ray, Ken, dan Kay. Selain bekerja sebagai pembunuh, mereka juga bisa bekerja sebagai pengawal dagang atau semacamnya. Walau hanya beranggotakan 5 iblis, tapi kekuatan yang mereka miliki tidak diragukan oleh banyak orang.
Seperti itulah Leon sebelum mengambil alih kekuasaan Raja lain. Ia pun dapat menjadi Raja berkat bantuan dari rekan rekannya yang membantu menghabisi iblis 'pemberontak' ketika dirinya sendiri menghadapi Raja sebelumnya.
Keberadaan keempat rekannya yang membantu dalam penaklukan satu istana tidak ada yang tahu. Semua yang mengetahuinya pasti telah mati atau jika masih hidup, mereka bungkam karena takut.
Walaupun hubungan mereka menjadi sedikit jauh karena Leon menjadi Raja, tapi komunikasi mereka tidak pernah terputus. Terkadang mereka akan saling mengirimkan pesan dengan burung merpati.
Cukup disayangkan Leon berhenti menjadi pembunuh bayaran dan jauh dari semua temannya. Tapi semua temannya selalu mendukung apapun yang ia putuskan. Karena itulah, di saat Leon mengatakan ingin mengambil kekuasaan suatu kerajaan, mereka mengikutinya.
Memang tindakan gila dengan menyerang satu kerajaan bermodal 5 iblis. Tapi begitulah mereka. Mereka sangat bebas terhadap apapun.
"Kau ini hampir membuat Fel menangis bawang. Sejak kau menjadi Raja, dia selalu menangis di pojokan ketika malam," timpal Ray yang baru saja datang.
"Benarkah?" Leon menggeleng.
"Tidak benar! Jangan percaya ucapan penuh tipu muslihatnya, kau akan terjebak lingkaran setan jika percaya padanya," balas Felix dengan tatapan tajam yang terarah pada pemuda ber-ikat kepala itu.
"Haish.. Aku tidak pernah berbohong. Lihatlah wajah ini. Apa wajah ini terlihat begitu meragukan di matamu?" Ray tersenyum dengan percaya diri.
Leon tersenyum, "Aku percaya kau tidak melakukan hal seperti itu, Fel."
Felix tiba tiba mengubah ekspresinya menjadi serius, "Aku baru ingat. Sudah beberapa tahun kami tinggal jauh dari iblis lain. Saat kami kembali, aku mendengar berita tentangmu. Kau mengalami masalah dengan para Raja iblis. Apa itu benar?"
Senyuman yang sempat diperlihatkan Leon memudar. Ekspresinya berubah. Ia menatap Felix ragu ragu, "Ya... Itu benar. Akan kuceritakan lebih jelasnya nanti. Tapi ngomong ngomong, kemana Ken dan Kay?"
"Mereka berada tidak terlalu jauh dari sini. Tapi jika berjalan kaki akan membutuhkan waktu sejam. Lebih cepat jika berlari," balas Ray.
"Untuk sekarang, kita temui orang orang yang bersamaku dulu. Aku akan mengecek kondisi mereka," ucap Leon.
"Aku ikut!" Ray dengan cepat langsung berjalan di samping Leon.
Felix sendiri memilih untuk berjaga di sekitar jika tiba tiba ada serangan mendadak seperti tadi.
Ray berjalan sangat dekat di samping Leon. Ia bersuara pelan agar suaranya tak didengar orang lain, "Sudah 2 kali segel itu terlepas. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Leon yang mendengar bisikan itu berekspresi serius, "Sepertinya karena aku mati, segel yang kutanamkan padamu ikut terlepas."
Ray tersentak, "M-mati? Tapi sekarang.. Kau.."
"Aku bisa kembali hidup jika mati. Karena itu aku masih bisa di sini. Lalu apa yang terjadi saat itu?"
Ray terdiam sejenak. Matanya menatap langit langit yang berawan hitam, "Aku hampir membakar Fel dan di kejadian lain, aku menghancurkan satu desa."
Leon berkedip, "Apa kau benar benar tidak bisa mengendalikannya bahkan setelah bertahun tahun berlalu?"
"Terkadang aku bisa. Tapi terkadang tidak."
Leon mengangguk dan tidak bicara lebih jauh.
__ADS_1