Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 48 -Antara Rafa Dan Nevan


__ADS_3

Nevan kembali melanjutkan ucapannya, "Lalu setelah pulang dari pasar malam, aku disuruh untuk pulang oleh ayah tanpa mengatakan alasannya. Pada saat sampai di sana, Alice ternyata terluka dan dirawat di rumah sakit."


"Alice dirawat? Dia sakit apa?" Rafa terkejut hingga tidak bisa untuk tidak berbicara.


Nevan terdiam sejenak. Saat melihat Rafa yang penasaran, ia kembali bersuara, "Dia tidak sakit. Dia terluka karena hampir menjadi mangsa iblis seperti mayat tanpa jantung di televisi."


Rafa tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia tidak tahu tentang kejadian ini. Bahkan pamannya pun tidak cerita bila Alice berada di rumah sakit, "Kenapa kau tidak mengatakan bila Alice dirawat saat itu? Kenapa kau tidak menghubungiku?"


"Saat itu.. Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena mungkin kau akan khawatir padanya."


Rafa mendecakkan lidahnya, "Bagaimana bisa kau, bahkan paman tidak mengatakan itu padaku? Kalian adalah keluargaku 'kan? Bukankah aku berhak tahu? Apa.. Mungkin hanya aku yang berpikir bila kita semua benar benar keluarga?"


Nevan tekesiap mendengar ucapan Rafa. Ia tidak berfikir bila Rafa akan sampai mengatakan itu, "Tidak..! Tidak seperti itu! Jangan marah, aku dan ayah melakukannya agar kau tidak khawatir pada Alice. Lagi pula, saat itu Alice masih sangat ketakutan. Dia trauma bertemu dengan iblis. Jadi aku dan ayah harus menjaganya terus menerus secara bergantian. Kau jangan marah ya?"


Rafa mendengus. Ia merasa kesal ketika mendengar pengakuan Nevan, "Lalu sekarang bagaimana keadaannya?"


"3 hari setelah dirawat, dia sudah boleh pulang. Setelah 2 bulan ini, rasa takutnya perlahan memudar."


Rafa mengangguk. Walaupun kesal, ia masih ingin mendengar penjelasan lain dari saudaranya itu. "Lalu?"


"Saat di rumah dan Alice sudah tertidur, aku menceritakan pada ayah kejadian yang terjadi pada Leon. Aku curiga bila dia adalah iblis. Aku tidak bisa menyimpulkannya begitu saja. Tapi ternyata tanggapan ayah sama seperti yang kupikirkan. Leon adalah iblis.


Saat pertama kali berpikir dia iblis, aku tetap membiarkannya bersamamu karena aku yakin dia tidak akan melukaimu. Tapi saat ponselmu tidak bisa dihubungi terus menerus, aku jadi cemas bila Leon melakukan hal yang sama seperti iblis lainnya.


Setelah izin untuk tidak sekolah selama beberapa hari, aku pergi ke sini. Ayah juga menitipkan pesan agar kau menjaga dirimu dengan baik dan tidak mudah membawa orang asing ke dalam rumah seperti yang kau lakukan pada Leon."


Rafa menghela nafas. Ternyata Nevan menyembunyikan banyak hal selama ini darinya. Tapi ia sendiri tidak bisa menyangkal bila ia menyembunyikan beberapa hal darinya juga. "Sebenarnya... Aku sudah tahu Leon adalah iblis saat itu."


"KAU?! MENGERTAHUINYA?! KAPAN?! KENAPA KAU TIDAK MENGATAKANNYA PADAKU?!" pekik Nevan.

__ADS_1


Rafa sedikit menutup telinganya. Suara Nevan sangat keras hingga menggema di rumah ini, "Berisik."


Nevan menutup mulutnya dengan tangan, "Maaf, aku terlalu terkejut. Lalu bagaimana? Kapan kau mengetahuinya?"


Rafa mulai menceritakan kejadian yang menimpanya dan Kevin. Semua kejadian tanpa terkecuali. Bahkan cerita Kevin yang mengatakan bila dia bertemu dengan orang asing lain selain Flynn yang menyerang mereka. Ia menceritakan sampai dengan kepergian Leon.


Nevan menganga tak percaya. Bahkan Rafa sudah terlibat dengan makhluk itu!


"Kau tadi mengatakan Leon sudah bertemu dengan keluarganya. Kau juga mengatakan bila kunci pintu sudah tua, karena itu kau menggantinya. Jadi itu semua bohong? Kau membohongiku?" Nevan menggelengkan kepala dengan raut masam.


"Aku memang tidak bermaksud untuk menceritakannya, tapi mendengar ceritamu, aku jadi ingin mengungkapkan apa yang tidak kuceritakan ini padamu. Akan curang bila hanya kau yang mengatakan kebenarannya," balas Rafa dengan raut datar.


"Haish... Kau ini... Jika aku tidak menceritakannya, mungkin kau tidak akan pernah mengatakan kebenaran itu padaku. Tapi apa yang kau ucapkan itu bisa kukatakan menakjubkan. Leon sampai bisa menumbuhkan tangan temanmu yang terpotong itu?


Jika dugaan ayahku benar, dia bukan iblis biasa. Dia memiliki kemampuan spesial yang mungkin saja berhubungan dengan penyembuhan. Karena walaupun iblis bisa menyembuhkan lukanya lebih cepat dari manusia, tapi mereka tidak akan bisa melakukannya secepat itu, kecuali iblis tingkat atas.


Namun iblis tingkat atas hanya bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Mereka juga bisa menumbuhkan bagian tubuh mereka yang hilang, walau itu akan membutuhkan waktu beberapa hari bagi mereka. Meski begitu, tidak ada iblis manapun yang bisa menghidupkan seseorang, termasuk dirinya sendiri. Bahkan iblis tingkat atas tidak akan bisa hidup kembali jika mati.


Mendengar penjelasan Nevan, membuat Rafa menjadi berharap, "Apakah artinya Leon akan baik baik saja menghadapi iblis lain?"


"Entahlah.. Aku tidak tahu. Tergantung bagaimana kekuatannya dan siapa yang dilawan. Jika mendengar ceritamu tentang orang asing itu, dia pasti iblis berkemampuan spesial. Bisa atau tidaknya dia menghadapi iblis seperti itu..., aku tidak tahu.


Melihat dari reaksi Leon saat berhadapan dengan iblis bernama Misya saja, seperinya dia tidak memiliki kemampuan bertarung. Bagaimanapun itu mustahil. Dia adalah iblis tingkat atas. Dia seharusnya memiliki kemampuan bertarung. Jadi..., cerita tentang dia yang hilang ingatan, itu mungkin saja terjadi.


Walau dia bisa menggunakan kekuatannya untuk hidup sekalipun, dia pasti tidak akan menyia nyiakan kekuatannya dan membiarkan Misya memakan jantungnya. Sudah pasti dia memang hilang ingatan."


Rafa berekspresi serius, "Pertanyaannya, kenapa Leon bisa berada di dunia manusia? Aku sudah mendengar dari kak Ash jika iblis sulit masuk ke dunia manusia karena ada penghalang yang kuat. Blizt pun akan selalu memperkuat penghalangnya selama 1 tahun sekali. Iblis akan sulit untuk masuk.


Jika ada yang berhasil masuk ke dunia manusia, maka blizt akan langsung mencari dan membunuh iblis. Dengan melacak aura iblis, blizt bisa mengetahui keberadaannya. Tapi Leon tidak mengeluarkan aura iblis, jadi dia tidak terdeteksi–"

__ADS_1


"T-tunggu! Kau mengetahui tentang blizt? Lalu kau juga tahu tentang pelindung itu? Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Lalu siapa kak Ash itu? Kau belum menceritakan apapun padaku tentang bagian ini," protes Nevan. Ia menggerutu dan memperlihatkan wajah kesalnya.


"Aku lupa mengatakannya. Setelah kejadian penyerangan itu, awalnya aku ingin berlatih cara bertarung pada ayah dari temanku. Namanya adalah paman Teddy. Seperti yang kuceritakan padamu, dia orang yang membawaku ke rumah sakit dan menolongku untuk mencari Leon.


Awalnya aku ingin meminta bantuannya. Tapi setelah aku keluar dari rumah sakit keesokannya dan bersekolah setelah beberapa hari absen, aku mendengar kabar bila dia meninggal. Bahkan kejadiannya sampai masuk ke televisi.


Saat itu Katly, anak dari paman Teddy sekaligus temanku, tidak masuk. Dia masih dalam kondisi berduka. Aku mengetahuinya dari teman teman yang lain. Lalu seminggu setelah kejadian itu, kak Ash datang ke rumah dan menawarkan untuk menjadi pengganti ayahnya.


Aku tidak menolak dan mulai berlatih cara bertarung darinya. Aku juga mendapatkan informasi tentang blizt dan iblis dari kak Ash. Omong omong, dia adalah dokter dan aku bertemu dengannya sebentar saat Kevin dirawat di sana."


Nevan terus membuka mulutnya. Ia tidak percaya dengan perkataan Rafa. Pemuda itu belajar cara bertarung?! Pantas saja luka luka di tubuhnya tercipta!


"Untuk apa kau mau berlatih seperti itu? Sebelumnya kau tidak suka kekerasan dan selalu menghindar dari hal hal seperti itu," balas Nevan.


Rafa mengepalkan tangannya dan mengukir senyum tipis. Walau tersenyum, tapi kilatan marah dari tatapan matanya tidak bisa mencerminkan perasaan bahagia, "Aku tidak ingin kejadian seperti sebelumnya terulang.


Aku ingin bisa melindungi diriku sendiri tanpa menjadi beban untuk orang lain. Saat itu, karenaku, Kevin sampai kehilangan tangannya. Jujur saja, aku masih merasa bersalah walaupun tangannya sudah kembali sekarang," ekspresi Rafa kini menjadi masam. Ada rasa penyesalan dalam dirinya.


"O-oh.. Baiklah.. Tapi jika suatu saat kau menghadapi iblis seperti itu lagi, apa kau bisa? Terlebih bila iblis itu adalah iblis yang sama. Apa kau bisa menghadapinya?"


Pertanyaan Nevan membuat Rafa terdiam. Ia memegang tangan kirinya. Ia tidak pernah berpikir bila suatu saat ia akan bertemu dengannya lagi. Tapi apa yang diucapkan Nevan benar. Bagaimana bila ia menghadapi iblis itu lagi? Saat itu mungkin ia selamat karena keberuntungan, tapi bagaimana selanjutnya? Apakah ia masih memiliki tiket keberuntungan?


Setelah memikirkan jawaban yang tepat, Rafa menatap Nevan dengan teguh, "Aku... Akan mencoba melawannya. Aku tidak akan menghindar."


"Itu hal yang bagus. Tapi kau harus tahu perbedaan berani dan nekat. Jika kau tidak memiliki banyak peluang menang, jangan memaksakan dirimu dan pergi dari sana secepatnya. Jika kau masih memaksa, padahal tidak ada kesempatan untukmu, maka kau hanya akan mati sia sia."


Rafa mengangguk angguk. Ia menatap kedua tangannya, lalu kembali melihat Nevan, "Apa kau juga adalah blizt seperti kak Ash dan paman Teddy? Kau sepertinya tahu banyak tentang iblis, jadi kau pasti blizt. Kau juga sampai bertarung dengan iblis."


Nevan menggaruk belakang lehernya, "Itu... Tidak hanya aku saja, ayah, aku dan Alice adalah blizt. Hanya saja, Alice tidak tahu apapun tentang iblis maupun blizt. Kami tidak ingin melibatkan hal hal seperti ini padanya. Jadi bisa dikatakan, Alice blizt karena keturunan saja."

__ADS_1


"Berarti sama dengan Katly. Blizt secara keturunan saja," gumam Rafa.


__ADS_2