
Need membungkuk sesaat setelah memasuki sebuah ruangan yang begitu besar, "Salam untuk Yang Mulia Ralt, terimakasih karena sudah mengizinkan saya masuk," ia pun berdiri dengan tegak. Sebuah kursi singgasana berdiri dengan megah di jarak beberapa meter darinya. Di atas kursi itu, duduk seorang Raja iblis dengan mata yang berkilat hijau.
Need menelan ludahnya. Aura yang dikeluarkan Ralt benar benar kuat, bahkan membuatnya sesak nafas. Dia sengaja mengeluarkan auranya seperti ini untuk menekannya, "Saya dikirim kemari untuk mengantarkan pesan perjanjian perdamaian," dikeluarkannya sebuah gulungan kertas.
"Berikan padaku," ujar Ralt. Ia menekan auranya dan membuat Need bisa bernafas lega. Pemuda itu maju ke hadapannya dan berlutut sambil menyodorkan gulungan surat itu. Dia mengambil dan membacanya. Tidak ada hal yang merugikannya di sini.
Ralt berekspresi malas, "Di sini memang tidak ada satu pun hal yang memberikan kerugian padaku. Jika salah satu diantaraku atau Stev melanggar perjanjian dan mulai menyerang, maka kami diizinkan untuk memusnahkan kerajaan itu. Bahkan surat ini ditulis di atas kertas khusus. Jika melanggar perjanjian, maka jantung Raja akan meledak dan mati. Ini sangat meyakinkan dan dapat dipercaya."
Need menelan ludahnya. Ia merasa sedikit lega saat mendengar Ralt mengatakan itu. Jika seperti ini, bukankah artinya dia akan menerima perjanjian damai? Kerajaan Stev dan Ralt sudah lama berperang. Mereka memperebutkan tanah kekuasaan. Tapi bahkan setelah belasan tahun berlalu, perang tidak juga usai. Tidak ada pemenang diantara keduanya. Perang hanya memberikan kerugian pada kedua kerajaan.
"Walaupun ini bagus, tapi tidak untukku," lanjut Ralt dengan kepala yang bertopang pada tangan.
Need terkejut. Kenapa dia mengatakan itu? Bukankah bagus jika mereka berdamai? Dengan begitu, tidak akan ada kerugian yang dialami olehnya.
Walaupun mendapat penolakan seperti itu, Need masih berlutut di depannya, "Apa alasan anda menolaknya? Yang Mulia bahkan akan memberikan 1/4 tanah kekuasaannya untuk Anda, jika Anda mau melakukan perjanjian damai. Itu sudah tertulis dalam suratnya."
"Ya.. Itu memang benar. Tapi..," nada Ralt perlahan menjadi berat, "Yang kumau bukanlah tanah kekuasaan. Tapi kematian banyak iblis. Dengan perang, maka aku bisa melakukan itu."
Need sontak langsung berdiri ketika mendengar ucapan Ralt. Ia terlalu terkejut hingga memberikan reaksi seperti ini, "A-apa maksud Anda? Bahkan jika perang itu membuat banyak bawahan Anda mati, Anda ingin seperti itu?"
Ralt menggulung kembali surat di tangannya. Ia tidak begitu peduli dengan ketidaksopanan Need yang tiba tiba berdiri di depannya, "Tentu saja aku tidak mau. Jika banyak bawahanku yang mati, maka aku tidak akan bisa melakukan perang. Aku hanya sedang membantu menyingkirkan semakin banyak iblis, dengan menggunakan perang yang kumulai dengan dalih mengambil tanah kekuasaan Raja lain.
Saat aku sudah berhasil menghancurkan semua kerajaan dan Raja iblis lain, maka aku akan membunuh pengikut dan bawahanku dengan tanganku sendiri. Dengan begitu, maka aku bisa mewujudkan keinginanku."
Need berekspresi serius, "Sebenarnya apa yang Anda inginkan dari itu? Anda akan menghabisi seluruh bawahan Anda sendiri? Apa Anda sudah gila?" ia tidak bisa berkata kata lagi ketika mendengar rencana Ralt.
__ADS_1
Ralt menghembuskan nafas kasar. Ia pun melemparkan gulungan kertas pada Need dan ditangkap oleh pemuda itu dengan baik, "Kau memang benar. Aku pasti sudah gila, hah.." Ia kembali menghela nafas dengan panjang.
Need masih memperhatikannya dengan seksama. Ia merasa bingung, tapi juga heran dengan ucapannya.
"Jika aku menghabisi banyak iblis dengan cara biasa seperti ini sangat tidak menyenangkan. Tidak ada hiburan sama sekali dan apa yang aku lakukan akan membutuhkan waktu yang lama. Karena itulah, aku sudah menyiapkan rencana lain jauh jauh hari," Ralt terdiam sejenak untuk menarik nafas.
Ia pun melanjutkan, "..Leon, iblis yang baru saja diangkat menjadi Raja Iblis hampir 2 tahun ini, aku akan menggunakannya. Dan.., aku pun akan menggunakanmu."
Need kini menjadi waspada, "Apa maksud Anda? Saya tidak akan melakukan kerja sama apapun dengan Anda," walaupun Ralt sudah mengatakan banyak kata kata yang mencurigakan, namun ia masih berbicara dengan sopan padanya.
Ralt berdiri, seketika itu pula tubuh Need seolah menjadi begitu berat. Tubuhnya seketika terjatuh dan berlutut di hadapan Ralt. Sementara, gulungan yang ia pegang sudah terjatuh ke lantai. Keringat membasahi keningnya. Ia mencoba untuk berdiri, namun ia tidak bisa melawan gravitasi besar yang menahan tubuhnya sama sekali.
Ralt berdiri tepat di depan Need. Ia melirik ke bawah tanpa menundukkan kepala, "Kita memang tidak akan melakukan kerja sama. Tapi kau akan bekerja untukku."
Need tak bisa mengucapkan satu patah kata pun. Aura Ralt sangat menekannya hingga membuatnya tidak bisa mengeluarkan kata kata.
Dimana pun kau berada, apa yang kau lakukan, aku tahu semuanya. Aku bahkan tahu bila sejak Leon menjadi Raja, kau sudah menjadi mata mata untuknya. Dengan ini, aku memegang rahasiamu. Ingat itu baik baik."
Mata Need bergetar ketika mendengar ucapan Ralt. Tubuhnya menjadi kaku ketika tahu jika Ralt mengetahui dirinya menjadi mata mata untuk Leon. Bagaimana dia tahu? Lalu apa maksud ia adalah 'ciptaan' di kehidupan sebelumnya?
Ralt kembali mengitari tubuh Need. Ia berdiri di depannya, "Tujuanku adalah memusnahkan seluruh iblis dan menghancurkan dunia. Aku sudah menciptakan cerita yang cukup menarik untuk mewujudkannya. Bahkan aku sudah menyiapkan Leon sejak dia masih kecil. Aku memasukkan sebagian besar kekuatanku padanya dan menyegel itu di dalam tubuhnya.
Kekuatan besar untuk menguasai dunia yang didambakan oleh banyak iblis kini berada di dalam tubuhnya. Pada akhirnya itu akan membawa pertikaian menuju kekacauan. Mereka akan menciptakan perang yang memakan banyak korban jiwa.
Semakin banyak darah yang tumpah, maka kehancuran akan semakin dekat, tepat di depan mata. Saat itu terjadi, maka hancurlah dunia ini. Kau, aku, semua iblis, mereka akan ikut musnah bersama dengan dunia ini."
__ADS_1
Ralt mulai menurunkan tubuhnya dan berjongkok di depan Need. Ia menyeringai, "Aku pun bisa mengendalikanmu. Karena kau, adalah boneka ciptaanku. Boneka yang paling sempurna dibandingkan boneka ciptaanku yang lain. Kau memiliki pemikiran, perasaan dan keinginan sendiri seperti makhluk hidup. Kau juga memiliki kekuatan yang dapat berkembang, juga kehidupan. Aku sudah memberikan segalanya untuk menciptakanmu. Lalu ini 'lah hasilnya."
Need mengeratkan giginya karena merasa kesal, "Jangan meracau dengan omong kosongmu itu! Aku adalah diriku. Aku bukanlah bonekamu atau bawahanmu. Akan kutentukan kehidupanku sendiri!"
"Ya, ya, beginilah hasilnya. Kau memiliki perasaan dan keinginan sendiri."
Suara Ralt kini memberat, "Tapi... Bukan berarti kau bisa berteriak pada Tuan mu seperti ini."
*POV Need
Tekanan darinya semakin membuat tubuhku kesakitan. Dia menekanku dengan lebih keras hingga tiba tiba telingaku berdengung membuat kepalaku pusing. Aku menutup telinga rapat rapat agar tidak mendengar suara itu.
Ruangan di sekitarku seolah lenyap tak bersisa, berubah menjadi tempat yang begitu hening. Aku merasa kakiku tidak menginjak permukaan dan tubuhku melayang. Aku mencoba membuka mataku dan yang kulihat hanyalah kegelapan. Aku bahkan tidak bisa melihat kedua tanganku sendiri.
Aku menjadi panik dan berpikir sudah kehilangan penglihatanku. Tapi telinga yang berdengung di telingaku semakin terdengar jelas. Aku kembali menutupnya dan memejamkan mata dengan erat.
Suara suara keras mulai terdengar di telinga dan cairan hangat kurasakan di hampir seluruh tubuhku. Dengungan itu tidak terdengar lagi dan berubah menjadi suara keributan. Aku membuka mataku yang terpejam.
Buram, tidak jelas. Aku mengerjap kembali berkali kali agar bisa melihat dengan jelas. Saat aku bisa melihat semua yang terjadi di depanku, aku langsung terkejut. Beberapa tubuh para penjaga di kerajaan Raja Stev bertumpuk di atas dan di samping tubuhku. Cairan merah yang mereka keluarkan membasahiku.
Aku segera menyingkirkan tubuh yang menindih badanku. Wajah mereka pucat dan sedikit dingin. Jelas mereka sudah mati. Tapi.. Apa yang terjadi?
Aku berlutut sambil melihat jauh ke depan sana. Kilatan kilatan putih saling beradu menciptakan dentingan yang keras. Itu adalah pertarungan. Namun, aku tidak bisa melihatnya dengan baik. Yang jelas, pertarungan itu membuat hempasan angin yang besar, walau aku berada cukup jauh dari sana.
Aku lalu melihat sekitar. Bangunan di sekelilingku roboh dan hampir tak berbentuk. Jika aku tidak salah menebak, seharusnya ini adalah ruang aula. Tapi ruangan yang kukenal sangat megah dan luas. Ruangan seperti itu, berubah menjadi reruntuhan seperti ini?! Bagaimana bisa?! Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang sedang bertarung di depan sana?
__ADS_1
POV End~