Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Last


__ADS_3

"Terimakasih karena sudah mau meminjamkan aku tubuhmu," ucap Oliver setelah berhadapan langsung dengan Rafa di alam bawah sadarnya.


Tempat yang sangat luas dengan tumbuhnya rumput pendek. Ada beberapa pohon di sini dan langit seperti sore hari, pemandangan ini berbeda sekali bila dibandingkan dengan alam bawah sadar milik Michael.


"Apa kau baik baik saja?" tanya Rafa. Ia melihat sebelumnya Osmond mati oleh Kay. Dia memang musuh, tapi biar bagaimanapun Osmond tetaplah kakak Oliver. Apalagi selama Oliver meminjam tubuhnya, ia melihat potongan potongan masa lalu Oliver.


Dari yang ia lihat, Osmond sangat baik pada adiknya dan sangat menjaganya. Apalagi bila ada iblis atau manusia yang mencoba menyakiti Oliver hanya karena takut dengannya, Osmond melindungi dengan sekuat tenaga. Tak peduli seberapa kuat lawannya secara kekuatan ataupun finansial, Osmond tidak pernah gentar ataupun ragu.


"Aku baik baik saja," Oliver tersenyum. "Terimakasih sudah mengkhawatirkanku."


"Apa kau tidak membenci orang orang yang sudah menyakitimu? Diantara orang yang ikut perang Os dulu, mungkin beberapa diantara mereka ada orang yang sering mencoba menyakitimu. Tapi kenapa kau masih peduli sampai berjuang untuk memenangkan perang?


Seharusnya kau tidak ikut saja. Di sana banyak orang orang yang tidak menyukaimu dan takut oleh kekuatanmu. Jika kau biarkan, mungkin mereka akan mati dengan sendirinya oleh Osmond. Tapi kau malah mencoba menghentikan Osmond dan melawannya," ucap Rafa dengan heran.


"Karena dunia iblis adalah tempatku hidup. Osmond... Saat itu dia menyerang bukan karena ingin melindungiku, tapi mengambil alih dunia. Aku tidak ingin ada banyak korban akibat dari keinginan kakakku yang berambisi itu," jawab Oliver seadanya.


Rafa terdiam sejenak, "Dia ingin kau terus hidup. Apa kau tidak bisa hidup kembali?"


Oliver menggelengkan kepalanya, "Tidak ada alasan untukku tetap hidup. Aku sudah kehilangan satu satunya keluargaku. Jadi untuk apa aku masih harus hidup? Aku sendiri sudah mati ribuan tahun lalu," Oliver tersenyum kecut.


"...Jika aku pergi sekarang, mungkin aku bisa bertemu dengan Osmond di alam selanjutnya," lanjut Oliver. "Sekali lagi terimakasih karena sudah menerimaku, Niel."


"Namaku Rafa," celetuk Rafa.


Oliver tersenyum tipis, "Kau mirip dengan Niel."


Setelah mengatakan itu, tubuh Oliver perlahan menjadi transparan dan menghilang dari hadapan Rafa.


*


*


Hari demi hari berlalu sejak kekacauan yang ditimbulkan Osmond sebelumnya. Semua iblis mulai menata tempat mereka yang sudah berantakan.


Dengan matinya 5 Raja iblis, tidak ada yang bisa membimbing dan memimpin mereka untuk bangkit kembali dari bencana. Di tiap tiap Raja iblis pun belum memiliki anak atau istri, kecuali Kay yang sebagai anak dari Silvia dan Stev.


Benar..., ayah kandung dari Kay adalah Raja Stev. Dulu dia berhubungan dengan Silvia hingga lahirlah Kay. Namun karena suatu hal dan banyak hal, mereka saling bersaing untuk menjadi Ratu/Raja terbaik. Mereka juga tidak lagi saling mencintai seperti saat masih muda. Mungkin adanya penolakan dari keluarga mereka berkontribusi menjadi penyebab keduanya saling bermusuhan.


Dengan adanya Kay, ia memimpin penduduk kerajaan dari Ibunya untuk bisa bangkit kembali. Ia sendiri baru tahu Silvia telah tiada dan menjadi mayat hidup. Namun nyatanya itu tidak membuat perasaannya goyah.


Dengan dibantu Paman Kyle, Kay meyakinkan para penduduk bahwa dirinya adalah anak dari Silvia. Ia tidak mau menjadi Raja, namun ia hanya ingin memimpin perbaikan kerajaannya agar kesulitan penduduk berkurang.


Walaupun ia tidak begitu peduli dengan Ibunya, namun bukan berarti ia harus menutup mata terhadap kesulitan rakyat Ibunya.


Disisi lain, kerajaan lain yang telah kehilangan pemimpin mereka dibantu oleh Felix dan Ray untuk menjadi pemimpin dalam perbaikan kerajaan Leon. Berbeda dengan Kay yang menggunakan cara baik baik, mereka menggunakan cara sedikit keras agar para iblis menurut.


Lalu untuk satu kerajaan yang sebelumnya dipimpin Ralt, semua penduduknya telah mati. Entah menjadi mayat hidup, mati karena monster yang mengamuk, ataupun dimangsa mayat hidup. Beberapa orang yang selamat dari tragedi itu mengungsi dan pindah ke kerajaan Leon.


Untuk kerajaan Flor, para penduduknya bertindak individu. Mereka menjadi tertutup dari kerajaan lain dan sibuk memperbaiki apa yang sebelumnya telah rusak.


Lalu kerajaan Stev, beberapa komandan pasukan yang masih tersisa memimpin jalannya perbaikan kerajaan dan semua daerah kekuasaan Raja Stev sebelumnya. Tidak ada pertentangan sama sekali dari para penduduk, karena mereka mempercayai komandan pasukan Stev ini.


Lalu untuk para manusia yang dikirimkan Ken ke dunia iblis, hanya tersisa beberapa orang saja yang bertahan. Mereka adalah blizt dan sedang beristirahat di istana Leon di suatu ruangan yang masih layak dan aman untuk ditempati. Mereka bersama dengan Nevan, Melvin dan rombongan bawahannya.


Teror yang terjadi sampai semingguan lebih itu cukup membuat luka yang membekas di hati dan pikiran Nevan. Ia tertekan, terbebani dengan semua itu. Apalagi saat mengingat ketika berkali kali hampir mati.


Namun saat tahu Rafa masih hidup membuatnya sangat senang. Beberapa hari lalu, setelah perang selesai, Oliver yang berada di dalam tubuh Rafa bertemu dengannya tanpa sengaja dan mengatakan akan mengembalikan Rafa.


Setelah itu, Oliver pingsan sampai saat ini. Berhari hari berlalu namun Rafa belum juga sadar. Ia senang, namun juga cemas bila apa yang dikatakan Oliver hanya bohong, karena sampai sat ini Rafa belum juga tersadar dari pingsannya.


"Erghhh..."


Nevan tersadar dari lamunannya. Ia melihat ke depan, tepatnya di atas tempat tidur dimana tubuh Rafa dibaringkan, "Rafa?!"


Rafa mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata. Kepalanya terasa pening hingga ia mengurungkan niatnya untuk duduk.


"Kau Rafa kan? Benar benar Rafa?" ucap Nevan dengan penuh harap.


"Nev...," Rafa mengerutkan kening sambil menatap saudaranya yang kini wajahnya tepat di sampingnya, "Apa yang terjadi? Kenapa aku berada di sini?" ucapnya dengan suara serak seperti bangun tidur.


"Ah, syukurlah kau benar benar Rafa... Kau memanggilku dengan Nev saja sudah membuktikan jika kau Rafa. Kupikir aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi, kupikir Oliver hanya berbohong."


Rafa berekspresi bingung saat saudaranya kini malah memeluknya. Ia mencoba mengingat beberapa hal yang mungkin sempat dilupakan, "Ah... Kejadian itu.. Aku mengingat semuanya. Maaf sudah membuatmu khawatir."


Nevan menggelengkan kepala, "Tidak.. Kau tidak perlu meminta maaf. Karena yang seharusnya meminta maaf adalah aku. Aku tidak bisa melindungimu saat itu."


Rafa menepuk nepuk punggung Nevan. Sepertinya saudaranya sudah menjalani hal hal yang berat selama ia tidak ada. Bahkan hari hari yang berat itu memang sudah terjadi sejak mereka datang ke dunia iblis, "Tidak apa... Jangan dipikirkan. Sekarang dimana yang lainnya? Paman... Ayah.. Need... Dan Leon. Dimana mereka?"


Nevan melepaskan pelukannya. Ia sedikit menyeka air di sudut matanya yang untung saja bisa ia tahan sehingga tidak tumpah, "Need... Sudah tiada."


Rafa terkejut dengan sangat, "Apa? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?!"


"Kejadiannya tidak dijelaskan dengan detail oleh Paman, tapi pada intinya dia meninggal karena Michael."


Rafa terdiam ketika nama 'Michael' disebut. Saat awal ia sempat mempercayainya hingga sempat terjadi cekcok mulut dengan saudaranya. Tapi seseorang yang ia perjuangkan untuk itu malah ternyata pembohong. Dia membunuhnya dan bahkan membunuh orang lain pula. Ia jadi merasa bersalah. Seharusnya ia tidak membiarkan Michael mempengaruhinya.


"Lalu Leon.."


Rafa memotong tanpa sempat mendengar apa yang diucapkan Nevan, "Lalu aku juga sebelumnya sempat melihat Kevin dan Kak Ash. Dimana mereka berdua?"


"Kak Ash... Maksudmu kakak Katly? Dia baik baik saja, hanya mengalami luka luka kecil. Tapi temanmu itu... Dia mendapatkan luka yang parah sampai salah satu tulang kakinya patah. Organ dalamnya juga mungkin mengalami cedera hingga dia sempat tidak sadarkan diri beberapa hari."


Rafa tertegun mendengarnya. Dengan perlahan, ia mulai mendudukkan posisinya karena kepalanya tidak lagi pusing, "Lalu bagaimana sekarang?"


"Dia sudah sadar, hanya saja dia mungkin membutuhkan waktu untuk menerimanya. Apalagi dia juga tidak ingat apapun apa yang sudah dia lakukan. Tapi aku mendengar dari kak Ash, temanmu itu melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia bertarung dengan sungguh sungguh dan gerakannya sangat cepat sampai mengimbangi lawan."


Rafa menggeleng tak percaya, "Bagaimana bisa dia melakukan itu? Dia tidak mungkin bisa bertarung melawan iblis. Apalagi saat itu pernah ada kejadian buruk yang menimpanya karena iblis. Dia tidak berani untuk betemu ras mereka lagi."


Nevan mengangguk, "Saat kau bercerita tentang orang asing yang masuk ke rumahmu kala itu kan? Memang benar dia takut dengan iblis. Bahkan saat Paman mencoba membawakan makanan untuknya, dia malah ketakutan karena melihat tanduk dan telinga runcing Paman. Pada akhirnya Paman tidak pernah menunjukkan telinga runcing dan tanduknya lagi agar temanmu tidak lagi takut dengannya.


Apalagi saat aku beritahu Kevin itu adalah temanmu, Paman sama sekali tak pernah menunjukkan wujud aslinya lagi. Sepertinya dia benar benar tidak mau membuat temanmu tidak nyaman dan ketakutan.


Ditambah lagi, dia juga tidak kenal dengan semua orang yang ada di sini, kecuali kau dan aku. Jadi dia selalu waspada dan tidak bisa tinggal dengan nyaman."


"Sebaiknya aku menemuinya," ucap Rafa sambil menurunkan kakinya ke bawah tempat tidur.


"Lebih baik kau fokus pada dirimu terlebih dahulu. Kau baru saja sadar, kau pasti lapar dan haus. Walaupun lukamu sudah mulai mengering, namun tetap saja harus istirahat," cegah Nevan.


Baru saja ia mengatakannya, perut Rafa berbunyi dengan keras. Pemuda itu seketika tertawa canggung, "Aku lapar."


Nevan tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya, "Untung saja aku membawakan makanan. Setiap hari aku kemari dan membawa makanan agar kau bisa langsung makan jika sudah bangun."


Rafa menerima piring berisi makanan yang diberikan Nevan, "Sambil aku makan, coba ceritakan semua hal yang aku lewatkan."


Nevan mulai bercerita sejak Rafa yang mati dan kemudian munculnya Oliver di dalam tubuh Rafa. Namun ia belum bercerita tentang kematian Leon karena ia terlalu fokus pada hal hal yang dilakukan Rafa dan kondisi sekitar yang pada saat itu sangat kacau.


Ia juga menceritakan tentang apa yang dikatakan Ash sebelumnya. Alasan Ash bisa sampai di sini. Ia juga bahkan sampai mengatakan keceplosan sudah berbicara pada Ash tentang identitas asli Rafa.


Saat mengatakan itu, Rafa langsung saja terbatuk dan dengan cepat Nevan mengambilkan air putih yang ada di meja kecil samping tempat tidur, "Pelan pelan saat makan. Lalu aku lanjutkan ya.. Kemudian.."


Rafa meminum airnya sambil terus mendengarkan cerita Nevan yang tidak sadar bahwa penyebab Rafa terbatuk adalah karena ucapannya.


"...Karena itulah, kita juga masih berada di sini. Sampai semuanya pulih dengan baik, semua manusia yang ada di dunia iblis tinggal di sini. Semua iblis yang ada di sini juga sudah tahu bila manusia yang tinggal di sini adalah orang orang yang membantu menyelesaikan masalah. Jadi mereka memperlakukan kita dengan baik," Nevan menyelesaikan ceritanya.


"Ngomong ngomong tentang istana Leon, dimana pemiliknya sekarang? Dimana Leon?" tanya Rafa dengan penasaran. Ia menyimpan piring yang sudah kosong di atas meja kecil samping tempat tidur.


Nevan terdiam sejenak sambil mencermati guratan wajah Rafa. Ia takut bila Rafa akan sedih bila ia menceritakannya. Identitas Leon yang sebagai sebagian jiwa Rafa tentu membuatnya merasa ikatan Rafa dan Leon sangat kuat. Jika salah satu diantara mereka mati, satu orang lainnya pasti akan merasakan luka perasaan yang dalam.


"Leon.."


"Aku sudah berusaha membujukmu dengan segala hal yang kubisa. Apa lagi yang kau ingin aku lakukan agar kau mau memaafkanku?"


Suara yang terdengar dari luar menghentikan ucapan Nevan. Kepalanya ia lirikkan ke arah pintu yang tertutup, "Sebentar, aku akan melihatnya."


Nevan beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke pintu. Ia membukanya sebagian untuk melihat siapa yang berada di dekat ruangan ini, "Ray dan Felix 'Kan? Mereka kenapa?" gumamnya.


"Aku kesal dan kecewa. Kalian menyembunyikan identitas asli kalian, bahkan dariku. Jika kau di posisiku, mungkin kau akan merasakan hal yang sama dan akan mengerti apa yang kurasakan," balas Felix dengan raut datar.


"Tapi sekarang kau sudah tahu 'kan? Aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu. Lagi pula, aku sudah mengakuinya sendiri saat itu. Sebelumnya kau baik baik saja mendengar itu. Kenapa sekarang kau berubah dan marah?" balas Ray tak mau kalah.


"Aku berpikir jika yang menyembunyikan identitas itu hanya kau. Tapi nyatanya Kay juga melakukan hal yang sama. Dia menyembunyikan identitas aslinya. Apa sebenarnya kalian itu tidak percaya denganku?"


Ray menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bukan seperti itu. Hanya saja, aku sulit mengatakannya. Kau dan semuanya sudah kuanggap seperti keluargaku. Bila kau dan yang lain mengetahui identitasku, aku takut kalian tidak menerimanya dan hubungan yang kita bangun selama ini hancur."

__ADS_1


"Kini kau yang malah menghancurkannya. Dengan tidak berkata jujur seperti ini, hubungan yang dijalin sejak awal bahkan rasanya seperti kebohongan," balas Felix dengan mata dingin.


Ray terbelalak mendengar ucapan Felix yang semakin tajam. Namun disisi lain, ia seperti merasakan perasaan kecewa yang amat jelas di mata Felix.


Nevan berjalan keluar dan mendekati kedua iblis yang kini menyembunyikan tanduk dan telinga runcing mereka. Setahunya, sejak perang berakhir kedua iblis ini memang jarang berkomunikasi satu sama lain, seolah ada sesuatu masalah yang terjadi dan Felix seringkali menghindar untuk berbicara dengan Ray.


"Sebaiknya kalian berbaikan. Entah apa yang terjadi diantara kalian, tapi yang kutahu kalian sudah berteman sejak lama. Kalian juga sudah melewati masa kritis peperangan saat itu bersama sama. Apa hanya karena satu masalah ini saja langsung menghancurkan ikatan kalian? Sedangkal itukah pertemanan yang kalian jalin?"


Ray semakin tersentak ketika mendengar ucapan Nevan yang rasanya menusuk tapi juga benar.


Felix sendiri langsung diam. Ia memandang lantai yang sedikit berdebu karena jarang dibersihkan, "Aku memang kekanak kanakan. Setiap orang mungkin memiliki masalah pribadi yang tidak bisa diceritakan. Sedalam apapun pertemanan kita, tetap saja ada beberapa hal yang menjadi rahasia pribadi dan itu tidak diceritakan."


Ray menatap Nevan dengan takjub. Diam diam ia mengacungkan jempolnya pada manusia itu. Pandangannya pun kembali terarah pada Felix, "Kalau begitu, apa... Sekarang kau mau memaafkanku? Jujur saja, aku sangat menyesal. Aku benar benar minta maaf.."


Felix mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu, untuk merayakan diterimanya permintaa maaf ini, ayo kita minum sebotol anggur! Aku yang akan mentraktir!" Ray merangkul bahu Felix dengan wajah penuh senyuman.


"Ini masih siang. Lagi pula, memangnya ada yang menjual? Semua toko tutup karena perbaikan," balas Felix.


"Tenang saja, aku bisa mendapatkannya. Pokoknya kau ikut saja!" girang Ray sambil menarik Felix yang ia rangkul.


Mereka pun pergi meninggalkan Nevan sendiri di sana. Ia hendak kembali ke ruang Rafa, namun tanpa sengaja berpapasan dengan Ash yang baru saja keluar dari dalam kamar sebelah, tempat dimana Kevin berada.


"Kak Ash? Kau dari kamar Kevin?" ucap Nevan dengan heran.


"Aku baru saja memeriksa kakinya. Memangnya kau tidak pernah melihatku ke kamar ini?" ucap Ash tanpa nada.


"U-um.. B-bukan begitu.."


"Bagaimana dengan Rafa? Apa dia masih belum sadarkan diri?"


"Dia baru saja sadar. Kak Ash bisa menemuinya. Aku akan menjenguk Kevin terlebih dahulu karena Rafa mengkhawatirkannya," balas Nevan.


Tanpa mengucapkan apapun Ash langsung masuk ke kamar Rafa dan menutup pintu. Nevan yang menyaksikannya berekspresi kesal, "Dia selalu saja begitu. Memang menyebalkan, tapi juga menakutkan. Entah kenapa Rafa mau menjadi muridnya."


*


*


"Kau baik baik saja?"


Rafa terkejut ketika melihat kehadiran Ash. Ia menjadi canggung karena Nevan sudah menceritakan semua tentang identitasnya pada gurunya itu, "K-kak Ash... Itu... Um.. Nevan dimana?"


"Dia ada di tempat Kevin," jawab Ash dengan singkat.


Rafa mengangguk angguk, namun pandangannya kini menunduk.


"Aku sudah mendengar semuanya. Tentang Ibumu yang adalah blizt dan Ayahmu iblis."


Rafa masih diam. Ia menunggu apa yang akan dikatakan Ash selanjutnya.


"Lalu Nevan bercerita, blizt sebenarnya juga adalah anak hasil hubungan antara manusia dan iblis. Berarti kita sama saja."


"...?!" Rafa langsung mengangkat kepalanya dan terkejut saat Ash malah mengusap kepalanya dengan tiba tiba.


"Tidak apa. Aku tidak marah. Bahkan bila identitasmu sepenuhnya iblis, aku tidak akan marah. Tapi jangan memendam semua masalah sendiri. Kau memiliki aku sebagai pengajarmu. Sesekali, ceritakan masalahmu. Aku akan mendengarkan," ucap Ash dengan nada lebih lembut dibanding sebelumnya.


Rafa tertegun dan menatap wajah Ash. Ia tidak menyangka bila reaksi Ash akan seperti ini, "Kak Ash..."


Ash berhenti mengusap kepala Rafa. Ia kemudian menepuk nepuknya hingga beberapa kali kepala Rafa terantuk antuk ke bawah akibat tepukannya.


"Masih sakit?"


"Hanya sedikit. Jika aku sudah memiliki tenaga lebih, aku bisa menyembuhkannya."


Ash mengangguk dan menjauhkan tangannya dari kepala Rafa, "Istirahat dan makanlah dengan baik. Keadaan temanmu sekarang sudah lebih baik. Jadi jangan memaksakan diri untuk menjenguknya."


Setelah mengatakan itu, Ash berlalu pergi keluar dari dalam ruangan meninggalkan Rafa yang masih merasa lega.


"Kupikir kak Ash akan mengatakan sesuatu hal seperti marah marah atau sejenisnya. Tapi syukurlah dia tidak seperti itu...," gumam Rafa.


*


*


Keadaan saat ini memang sedang susah. Apalagi makanan yang jumlahnya kini minim akibat kerusakan yang terjadi di lahan pertanian dan tidak terawatnya kebun karena pemiliknya yang tewas. Namun semua iblis bergotong royong menanami tanah kembali.


Lalu untuk kekurangan makanan, mereka menangkap monster untuk dijadikan makanan pengganti. Biasanya daging monster cukup keras, namun dengan pengolahan yang tepat, mereka dapat menjadikan teksturnya lebih lunak.


"Suasana di sini ternyata sangat damai. Saat pertama kemari, awalnya aku berpikir jika di tempat ini sangat menyeramkan. Ternyata tidak seburuk itu. Bahkan iblis di sini tidak semua jahat. Mereka saling membantu membangun tempat yang rusak," batin Rafa sambil memperhatikan sekeliling.


"Hei! Kau yang di sana! Jangan hanya diam, cepat bantu kemari!" teriak salah satu iblis pada Rafa.


Rafa melirik ke samping dan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kau. Ayo kemari, bantu aku mengangkat kayu kayu ini," ucapnya lagi.


Rafa berkedip dan langsung jalan ke tempat iblis itu berada.


"Kau bawakan ini saja ke sana," sambil menunjuk kayu yang tertumpuk di belakang tubuhnya, iblis itu menunjuk ke arah depan yang agak jauh.


"Tapi.."


"Cepat! Mereka membutuhkannya secepat mungkin. Ayo dibawa."


Rafa mengangguk lambat. Iblis itu berlalu dari hadapan Rafa sambil membawa beberapa kayu yang diangkat di bahunya.


Pada akhirnya Rafa ikut membantu. Bahkan ia terkadang disuruh melakukan itu ini itu ini. Sepertinya sekarang ia kapok untuk kembali berjalan jalan di luar seorang diri.


Pagi berganti menjadi sore. Nyatanya walau langit berganti menjadi cukup gelap, semua pekerjaan ini belum dihentikan. Para iblis seolah memiliki banyak tenaga untuk mengerjakannya sampai malam nanti.


"Sebaiknya kau istirahat saja. Sejak pagi kau membantu di sini," ucap pria yang sebelumnya meminta bantuan Rafa.


"Ah, tidak apa," ucap Rafa dengan senyum yang dipaksakan.


"Aku tahu kau manusia. Tapi ternyata kau lebih kuat melebihi apa yang kupikirkan sebelumnya. Kau pasti salah satu manusia yang tinggal di istana. Dari yang kudengar, kalian sudah membantu selama perang itu. Bahkan kalian banyak menghabisi mayat mayat hidup. Lalu kudengar juga, kalian mengalami luka luka. Apa sekarang kau sudah sembuh?"


Rafa tertegun dan mengangguk pelan, "Saya baik baik saja, terimakasih sudah bertanya."


"Maaf aku mengujimu dan membuatmu ikut dengan pekerjaan ini. Tapi yang lain tidak tahu kau manusia, jadi mereka menyuruhmu itu dan ini."


Rafa menggaruk tengkuknya dengan canggung, "Ah begitu."


"Ini untukmu," iblis itu menyodorkan sebuah keranjang anyaman yang ditutupi oleh kain, "Tidak banyak, tapi semoga kau suka. Bukalah saat sampai nanti."


"Tidak perlu, saya baik baik saja," tolak Rafa.


"Jangan menolak, terima saja," paksa iblis itu.


Dengan berat hati, Rafa mengambil keranjang anyaman yang disodorkan, "Terimakasih."


Rafa pun kembali ke istana yang sebagian telah roboh dan dalam pembangunan perbaikan.


Selama perjalanan, Rafa masih mendengar pukulan palu dan suara suara pembangunan di sekitar. Banyak iblis berlalu lalang.


Sesekali Rafa memperhatikan ke kiri dan kanannya, "Ternyata mereka juga bisa bekerjasama seperti ini dan saling membantu," batinnya.


Perasaannya menjadi sedikit lega karena mengetahui bila iblis seperti manusia. Ada yang jahat dan ada pula yang baik. Namun saat pertama kali bertemu, ia mengalami sesuatu yang buruk dan membuat pikirannya tentang iblis sempat negatif. Namun semua itu sirna setelah tahu bahwa Leon dan Ayahnya ternyata iblis. Apalagi ia juga sudah bertemu banyak iblis selama di sini. Ia sudah melihat beragam jenis karakter mereka.


Setelah lama berjalan hingga langit menjadi gelap, akhirnya Rafa telah sampai. Keadaannya kembali ke istana memang sudah sangat sore, jadi dengan cepat langit berubah menjadi gelap.


Namun keadaan di sekitar istana kini aneh. Biasanya sampai malam sekitar dekat sore ini masih ada iblis yang berkeliaran memperbaiki istana. Namun sekarang, tidak terlihat satu pun iblis.


Rafa mengerutkan kening. Keadaan yang aneh ini membuatnya khawatir. Dengan sedikit berlari membawa keranjang anyaman, ia semakin masuk ke dalam halaman taman yang gelap dan pergi ke pintu masuk utama istana.


Keadaan di dalam pun tidak kalah jauh gelap dengan di luar. Bahkan di sini lebih gelap karena di dalam ruangan dengan tanpa adanya pencahayaan sama sekali.


Ruangan paling depan setelah memasuki istana ini seperti ruang aula yang megah dan luas. Dengan karpet merah yang berdebu dan ukiran ukiran yang rusak karena kekacuan sebelumnya.


"Kenapa di sini gelap?" gumam Rafa. Ia berjalan dengan perlahan karena takut menyenggol benda apapun yang mungkin berada di sini. Sebelumnya sempat ada pecahan lampu kristal yang seharusnya digantung di atas, jadi ia takut bila menginjaknya tanpa sengaja.


Ketika Rafa semakin masuk ke dalam, sebuah cahaya kecil terlihat. Ia memperhatikannya dengan waspada, "Siapa di sana?"

__ADS_1


Semakin lama, cahaya itu semakin mendekat.


"Selamat ulang tahun, Rafa!"


Tiba tiba di seluruh sudut tempat ini bersinar cahaya hingga tempat yang seharusnya gelap berubah menjadi terang.


Rafa terkejut dan sontak melihat ke sekitarnya yang tiba tiba saja memancarkan cahaya. Ia melihat banyak orang yang datang dari segala sisi tempat dengan membawa lampu lilin.


Saat melihat ke depan lagi, Nevan, Kevin, Melvin, Radolf, Nix dan Freed sudah berada di depannya dengan Nevan yang membawa sebuah kue ulangtahun dengan menggunakan meja dorong. Kue yang terbalut dengan krim putih bercampur biru, hijau dan merah itu nampak besar. Bahkan memiliki 3 tingkatan.


Rafa terbelalak melihat kue yang dibawa Nevan, "A-apa ini?"


"Selamat ulang tahun," Nevan tersenyum senang, "Sudah kukatakan, aku akan memberikan kejutan untukmu setelah masalah itu selesai 'kan?"


"Tapi..." Rafa melihat sekitar. Banyak iblis dan manusia yang ikut berkontribusi. Bahkan Ash membawa lampu lilin. "Um... Ini..."


"Aku sudah ikut membantu, jadi berikan aku bagian kue itu," ucap Ray yang sedang memegang lampu lilin.


"Semua akan mendapat bagian, tenang saja~" balas Nevan. "Ayo sekarang tiup saja lilin ini lebih dulu!"


Rafa memperhatikan kue besar di depannya dan menatap satu persatu orang yang mengelilinginya. Ia tidak menyangka bila kejutan Nevan akan seperti ini. Bahkan dia sampai melibatkan banyak orang.


"Tunggu apa lagi? Cepatlah, aku ingin memakan kue itu," ucp Ray dengan jengkel.


Rafa meniup beberapa lilin yang berada di tingkatan paling bawah hingga mati, "Aku tidak bisa mencapai satu lilin itu," pandangannya terarah pada sebuah lilin yang berada di posisi paling atas.


"Kau ini...," Ray mengibaskn lengannya dan dalam sekejap lilin itu mati.


Nevan sepertinya kesal. Ia sampai mendecakkan lidahnya karena lilin terakhir dimatikan oleh Ray, bukan Rafa.


"Selamat ulang tahun."


"Semoga panjang umur."


"Selamat ulang tahun."


Semua orang yang berada di sana mengucapkan selamat satu persatu. Acara yang meriah untuk keadaan yang masih belum stabil seperti ini.


"Sekarang bukalah keranjang itu," ucap Felix sambil menunjuk keranjang yang dibawa Rafa.


Tanpa menunggu lama, Rafa membuka kain yang menutupi isi dari keranjang itu. Banyak kue kering yang tersimpan di dalamnya. Ada pula sebuah kartu ucapan selamat disertai dengan ucapan maaf.


Ternyata iblis yang membuatnya ikut membantu membangun dan membawa bahan bahan bangunan memang sudah direncanakan. Dia disuruh oleh Felix untuk melakukan itu dan membuatnya tertahan sampai sore.


Setelah Rafa perhatikan lagi, memang bukan hanya seperti ini saja kejutan yang direncanakan saudaranya. Di tempat yang tak jauh darinya terdapat meja panjang yang berisi aneka makanan di atasnya. Ada beberapa bungkusan pula yang ditutupi seadanya. Ditambah dengan sedikit hiasan kain kain di ruangan ini sebagai hiasan.


"Aku tidak tahu harus bagaimana...," ucap Rafa dengan senyum. "Terimakasih semuanya..."


Felix dan Ray tentunya tak akan melakukan hal ini tanpa alasan. Rafa adalah manusia yang berharga untuk Leon dan yang lebih penting, manusia itu adalah sebagian dari jiwa Leon. Walaupun karakternya tidak seperti Leon, tapi ada sesuatu yang membuat mereka merasa bertemu dengan Leon apabila melihat Rafa.


Acara makan makan pun terjadi. Semua bersenang senang dan makan sepuasnya. Kebanyakan makanan di sini adalah daging, karena sayur sayuran dan buah buahan memang sedang minim.


"Aku kau tidak apa apa, Kevin?" tanya Rafa dengan khawatir. Ia bukan mengkhawatirkan kaki pemuda itu ataupun kesehatan tubuhnya karena ia sudah menyembuhkannya, melainkan mentalnya saat berada diantara iblis iblis yang sedang menyembunyikan tanduk dan telinga runcingnya ini.


"Tidak apa," Kevin tersenyum simpul. Ia berusaha untuk tidak takut dan meyakinkan diri bahwa di sini ia tidak akan diserang oleh apapun. Demi bisa ikut serta memberi kejutan untuk Rafa, ia memberanikan diri keluar dari ruangan yang selama ini ia tempati ditemani pula oleh Ash, dokter yang pernah menghentikannya untuk bunuh diri.


Rafa mengangguk, "Tapi... Sejak beberapa hari ini, tidak, sejak aku sadar aku tidak melihat Leon. Bahkan dia tidak ada di sini. Sebenarnya dia kemana?" kepalanya terus melihat ke sekitar untuk mencari keberadaan dari orang yang ia cari.


Seketika itu pula, keadaan yang awalnya ramai tiba tiba hening saat sebuah nama disebutkan Rafa. Suaranya memang biasa saja, tapi pendengaran para iblis yang ada di sini seolah peka mendengar nama itu.


"Rafa... Maaf...," Nevan menundukkan kepala, "Maaf aku belum mengatakannya padamu. Tapi... Tapi Leon sudah meninggal. Maaf tidak mengatakannya lebih awal padamu."


Mata Rafa terbelalak mendengar ucapan Nevan, "A-apa? Kau pasti bercanda!"


"Tidak, aku serius."


"Siapa bilang?"


Semua orang yang mengenali suara itu sontak menatap ke arah suara berasal. Mereka melihat seorang pemuda dengan rambut hitam dan mata merah berjalan mendekati tempat Rafa berada. Secara refleks orang orang yang berada di sekitarnya memberikan jalan.


"L-Leon?" Radolf yang berada di dekat meja makanan terkejut ketika melihat satu kehadiran yang dikatakan telah mati.


Orang yang disebutkan namanya itu tersenyum, "Axelle mencoba menipuku. Tapi aku berhasil kembali hidup berkat dia."


Mata Rafa melebar melihat kehadiran orang itu. Ia baru saja bertemu belahan jiwanya lagi setelah lama tidak bertemu, "LEON!"


Tubuhnya refleks mendekati pemuda itu dan langsung memeluknya, "Kau ini dari mana saja?!"


Leon tersenyum dan menepuk nepuk punggung Rafa, "Selamat ulang tahun. Aku datang di waktu yang sangat tepat sekali."


"Leon...," Felix dan Ray, tidak ada yang menduga kedatangan spesial ini. Mereka terkejut dan senang. Sayang sekali Kay tidak berada di sini untuk melihatnya.


*


*


Di tempat lain...


Di sebuah pulau tak berpenghuni. Tempat dimana binatang binatang kecil yang jarang atau tidak pernah ada di dunia manusia maupun dunia iblis hidup. Tempat dimana selalu dikelilingi kabut putih tebal dan ditumbuhi banyak rumput serta tanaman. Tempat yang indah, namun pula mengerikan karena banyak korban yang mati di tempat ini.


Dengan sebuah pohon besar yang nampak asri dan indah dengan dedaunannya yang hijau lebat, sebuah lubang terdapat di bagian bawah tengahnya, terlihat mirip seperti pintu besar namun ini tanpa pintu.


Dua makhluk transparan duduk berhadapan di atas akar pohon yang mencuat keluar dari tanah.


"Kenapa kau tidak langsung saja mengatakan bahwa dia bisa hidup kembali karena sudah membantumu menangkap Michael? Kau malah membuatnya berpikiran tentang menjadi penjaga dunia bawah. Kau ingin dia mati huh?" ucap salah satu wujud transparan dengan nada jengkel.


"Hehe, aku hanya ingin tahu bagaimana jawabannya saja. Lagi pula, aku memang membutuhkan penjaga dunia bawah yang baru. Siapa tahu dia berminat," balas wujud transparan lain.


Mereka adalah Ken dan Axelle. Mereka memang berhubungan baik karena Ken adalah pohon antar dunia yang sudah ada sejak lama. Axelle juga bisa mengunjungi Ken yang berada di dunia makhluk hidup karena hanya di tempat ini lah ia boleh ke dunia makhluk hidup berada.


Hanya tempat ini yang bisa ia kunjungi yang tidak akan melanggar larangan. Karena tempat ini pun memang sangat spesial, bisa dikunjungi makhluk seperti dirinya. Tapi Axelle sendiri jarang kemari. Ia terlalu sibuk.


Tampang Axelle yang biasanya selalu terlihat tegas, menyeramkan, dingin, datar, berpenampilan pemimpin yang profesional, semua karakternya itu seolah hilang saat bertemu Ken. Ia berekspresi dengan santai dan menanggapi semuanya dengan biasa.


"Tapi aku yakin dia pasti akan kemari lagi. Dia akan mencarimu dan kau bisa berjalan jalan lagi dengan bebas seperti sebelumnya," ucap Axelle dengan santai.


Ken menghela napas. Ia berharap Leon tidak akan melupakannya dan kembali kemari untuk membawanya, "Ngomong ngomong, aku penasaran dengan alasan Osmond membuat perang itu. Aku sudah lama sering mengikuti Oliver dan melihat kesehariannya, aku juga melihat bila Osmond bukanlah iblis yang berambisi terhadap kekuasaan. Tapi kenapa dia ingin menguasai dunia? Apa kau tahu sesuatu?"


Axelle tersenyum simpul, "Kau ingin tahu? Benar benar ingin tahu? Atau hanya ingin tahu saja?"


Ken berekspresi jengkel, "Katakan saja, jangan berbelit!"


"Oke oke baiklah...," Axelle tertawa renyah.


"Dari yang kutahu, dia memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu dan masa depan. Lebih tepatnya, matanya spesial."


Ken terbelalak, namun diam untuk mendengar lanjutan Axelle.


"Mungkin dia melihat masa lalu atau masa depan seseorang atau mungkin beberapa orang tentang Michael. Dari situ dia membuat kesimpulan, jika Michael dapat menyebabkan bencana. Dengan terkabulnya 3 permintaan yang diajukan pada Michael, siapapun akan berakhir kematian dengan Michael yang bertambah kuat.


Dia sepertinya melihat masa depan jika Michael berhasil menjadi semakin kuat, maka dunia iblis bahkan dunia manusia akan mengalami masalah. Entah bagaimana dia sampai berkesimpulan jika Michael berasal dari dunia bawah dan saat itu Michael melakukan pelanggaran dengan masuk ke dunia iblis, tanpa diketahui orang orang dunia bawah. Dia menyimpulkan seperti itu.


Dengan menciptakan masalah yang besar di dunia iblis dan membuat perang yang luas dan besar, dia membuat kekacauan pada jiwa jiwa yang masuk ke dunia bawah. Dia membuat banyak jiwa masuk ke dunia bawah, melebihi yang seharusnya. Apalagi banyak jiwa yang tertahan di dunia dan tidak sampai di dunia bawah.


Pada awal kekacauan yang dia lakukan, aku awalnya menganggap itu biasa saja. Tapi setelah kejadian ini terjadi untuk kedua kalinya yaitu sekarang, akhirnya aku meminta penyelidikan tentang apa yang terjadi. Pada akhirnya terungkap bila Michael melakukan pelanggaran. Dia ikut campur dalam masalah ini. Apalagi dia juga pernah sempat ikut campur dalam perihal reinkarnasi seseorang.


Begitulah yang terjadi. Alasan Osmond melakukan kekacauan ini adalah agar kami mencaritahu apa yang terjadi dan kami bertindak. Dia sampai bersinggungan langsung dengan Michael untuk bisa melakukannya. Bahkan dia 'lah yang sebenarnya paling dekat dalam bahaya karena dia mengajukan permintaan.


Begitulah yang kudengarkan dari alasan Osmond. Dia tidak akan bisa berbohong di hadapanku, karena itu ucapan ini bisa kau percaya. Dia juga bahkan sampai melibatkan adiknya sendiri dalam masalah ini. Namun dia tetap mati tanpa bisa merasakan dunia yang ditolongnya."


Ken terdiam mendengar ucapan Axelle. Berarti langkah yang dilakukan Osmond sangat besar dalam bertindak mencegah adanya kekacauan dunia. Dia rela berperan menjadi tokoh jahat, menjadi musuh adik yang disayanginya, mengambil resiko dekat dengan musuh, mengorbankan nyawanya.


"Ternyata begitu... Memang tidak masuk akal bila hanya Oliver yang memiliki kekuatan besar, sedangkan Osmond hanya iblis biasa. Lalu bagaimana dengan jiwanya sekarang?"


Axelle tersenyum, "Menariknya, dia mengatakan kejujurannya ini pada adiknya di dunia bawah sana. Mereka bertemu dan hubungan mereka menjadi dekat kembali. Semuanya berakhir dengan bahaaaaagiaaaa..."


Ken berekspresi datar, "Aku belum berakhir bahagia. Leon belum membawaku."


LAST



__ADS_1


Terimakasih sekali lagi author ucapkan. Makasih sudah mengikuti perjalanan novel ini dari awal hingga akhir🙏Dengan ini, selesai sudah satu buku. Horeeyyyyy Aseekkkkk


__ADS_2