Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 62 -Leon Mati


__ADS_3

Kini semua berhenti menyerang. Mereka mengatur nafasnya setelah pertarungan sengit yang berlangsung hingga beberapa jam itu.


Yang mengalami luka paling parah adalah Leon. Dia sudah benar benar mencapai batas. Ia bahkan sudah tidak bisa menyembuhkan luka luka di tubuhnya. Wajahnya pucat dan ia sudah tidak memiliki tenaga lagi.


Selain itu, racun yang baru saja diberikan Stev membuatnya kesulitan bergerak. Karena racun itu pula, tubuhnya menjadi terasa kebas. Indra perabanya menurun dan penglihatannya pun menjadi buram, "Sial..," gumamnya.


Flor tertawa sambil terengah, "Habislah kau sekarang."


Leon melirik Flor dengan kening berkerut. Walau tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, namun ia merasa jika dia sudah mengejeknya, "Huh," ia perlahan berdiri dengan bantuan pedang miliknya. Ia tidak bisa berdiri dengan benar, namun raut angkuh tidak hilang dari wajahnya.


"Sekuat apapun kau, aku akan terus mendesakmu dan mengalahkanmu hari ini juga," ucap Silvia dengan kelelahan. Walau begini, ia masih kuat bertarung beberapa kali lagi.


Flor, Stev dan Silvia kembali mengambil posisi. Ketiganya mengelilingi Leon di jarak beberapa meter darinya. Saat mereka akan bersiap untuk menghabisinya dalam sekali serangan lagi, sesuatu melesat cepat ke arah Leon.


Jleebb


Leon membelalakkan matanya ketika sesuatu terasa menyentuh jantungnya. Tidak hanya menyentuh, namun sampai meremasnya, "Uhuk.." Ia seketika memuntahkan banyak darah dari mulutnya hingga darah itu mengenai pakaian seseorang yang tepat berada di depannya.


Walaupun pandangan Leon semakin buram, namun ia bisa melihat wajah iblis yang kini tepat di depannya. Ia tidak menyangka bila iblis kepercayaannya melakukan ini, "Ne.. ed.."


Kegelapan mulai menutupi cahaya yang masuk ke matanya. Pandangannya menghitam hingga nafasnya benar benar berhenti. Jantungnya diremas hingga pecah seperti balon yang meletus. Pada saat itu juga, tubuh Leon ambruk dan bersandar pada tubuh iblis yang membunuhnya.


Tubuh Need bergetar saat melakukan semua itu. Ia sadar membunuh Leon. Tapi ia tidak bisa mengendalikan seluruh tubuhnya. Bahkan ia tidak bisa mengatakan sesuatu yang ingin ia ucapkan. Ia hanya memiliki kesadaran, namun tidak dengan kendali tubuh. Ini semua karena Ralt sudah mengendalikannya.


"Apa yang dia lakukan? Bukankah sebelumnya dia mengaku sudah bekerja sama dengan Leon? Tapi kenapa dia membunuhnya?" batin Stev dengan kening berkerut. Ia tidak menyangka jika Need bisa bergerak secepat itu, bahkan gerakannya tidak bisa dilihat olehnya. Yang lebih mengejutkannya, Need malah membunuh Leon tanpa ia kendalikan sama sekali.

__ADS_1


"Dia sangat cepat! Aku tidak bisa melihat gerakannya," batin Silvia sambil menegak ludah. Ia mencengkram tombaknya dengan kuat dan bersiap untuk pertarungan selanjutnya.


"Aku tidak bisa merasakan aura kehidupannya lagi. Apa dia sudah mati?" batin Flor.


Tangan Need bergerak mengambil sesuatu di dalam tubuh Leon tanpa kehendaknya dan mengeluarkannya. Ia mendorong tubuh Leon yang bersandar padanya hingga tubuh tak bernyawa itu jatuh ke lantai.


Di tangannya terdapat sebuah kristal kecil seukuran ibu jari berbentuk persegi. Warnanya hitam pekat dan mengeluarkan aura yang membuat Raja iblis tertekan. Namun tidak dengan Need yang memegangnya. Tapi ia bisa merasakan betapa mengerikannya aura itu hingga membuatnya sedikit takut.


"Itu dia.. Kekuatan kuno tersembunyi..," gumam Silvia.


"Aku harus mendapatkannya," batin Stev. "Need, berikan itu padaku. Dengan begitu, aku akan melepaskan tuduhan pengkhianatan yang kau lakukan. Kau juga akan bebas seperti sebelumnya."


Tanpa disuruh oleh Stev pun, Need langsung berpindah tempat ke depan pria itu. Ia menyodorkannya dengan mudah, seperti baru memberikan permen pada anak kecil.


Ia segera mengambilnya dan tersenyum, "Memang begini 'lah seharusnya."


Tanpa memberikan aba aba, Stev langsung menendang tubuh Need hingga tubuhnya terpental jauh dan menghantam lantai, "Bodoh, aku tidak akan melakukan itu. Jelas jelas kau sudah bekerja sama dengannya. Sejak lama, aku sudah curiga kau membocorkan informasi tentang kerajaanku hingga aku selalu kalah besar saat berperang melawannya."


Stev tersenyum menyeringai sambil menatap kristal di genggamannya. Ia bisa merasakan betapa kuatnya aura di dalam sini. Ini seperti yang dituliskan dalam buku. Ciri cirinya sama. 'Iblis biasa yang menjadi Raja' kata kata yang dituliskan dalam buku itu memang ternyata benar Leon. Tidak sia sia ia melakukan pertarungan seperti ini.


Flor dan Silvia menatap Stev dengan tajam. Incaran mereka pun adalah kekuatan kuno yang tersimpan di dalam kristal itu.


"Akan kuambil itu darimu!" teriak Silvia sambil mengeluarkan serigala berkepala dua dari balik bayangannya. Setelah sempat memasukkan monster itu sebelumnya, sekarang ia mengeluarkannya kembali untuk bertarung melawan Stev.


Flor pun tidak hanya diam. Ia mencengkram pedang di tangannya dan mengarahkan mata pedang pada Stev, "Aku 'lah yang berhak mendapatkannya."

__ADS_1


"Hanya aku yang berhak atas ini," ujar Stev sambil mengarahkan salah satu tangannya ke depan. Seketika itu pula, kedua kaki Silvia dan Flor membeku. Tapi itu tidak lama, mereka segera melepaskan dirinya dan kembali mendekati Stev.


Raja Raja iblis yang sebelumnya bertarung melawan Leon untuk membunuhnya, sekarang malah saling bertarung diantaranya untuk mendapatkan sebuah kristal yang memiliki kekuatan kuno.


Mereka begitu menginginkannya untuk kepentingan masing masing. Seperti Stev yang ingin menggunakan kekuatan itu untuk menguasai dunia iblis. Lalu Flor yang ingin bisa berada di puncak kekuatan. Lalu Silvia, ia ingin semua iblis patuh padanya. Bahkan Raja sekalipun. Walaupun memiliki alasan masing masing, namun hal yang mereka inginkan bisa dikatakan, sama.


Bangunan aula yang sudah runtuh itu semakin kacau. Darah dari para iblis yang menggenang di lantai semakin terciprat kemana mana. Kondisi ini tak terkendali. Tidak ada iblis penjaga yang masih hidup. Mereka semua sudah mati sejak pertarungan dengan Leon baru dimulai.


Kini tidak hanya ruang aula, tapi ruangan lain yang ada di istana pun ikut hancur karena pertarungan mereka yang masih berlanjut. Jika iblis yang berada di ruangan lain tidak keluar sejak tadi, maka sudah dipastikan mereka sudah mati karena atap yang jatuh.


"Sedikit lagi.. Jika salah satunya mati, maka ini akan benar benar dimulai," gumam Ralt dengan senyum tipis di wajahnya. Dari ekspresinya, ia benar benar menantikan kejadian ini. Seolah penderitaan yang terus terjadi padanya akan segera berakhir, ekspresinya benar benar bahagia. Bukan hanya tujuannya akan tercapai, tapi ia juga mendapatkan hiburan bagus seperti ini.


"Kematian Raja iblis membuat pengorbanannya bisa terhitung hingga ratusan ribu jiwa iblis hanya dengan satu kematian. Ini lebih efektif dibandingkan harus berperang dan menghabisi banyak iblis iblis lain," gumam Ralt.


"Kau.."


Ralt melirik iblis yang memegang tangan kanannya dari samping. Tangan yang memegangnya terasa bergetar dengan hebat. Walau begitu, ia masih bersikap acuh tak acuh padanya.


"Kau.. Karenamu.. Aku.. Aku.. Aku membunuhnya. Dia mati karenamu! Kau yang sudah membuatnya mati! Kau yang membunuhnya!" teriak Need dengan cengkraman yang semakin kuat pada Ralt. Kepalanya sedikit tertunduk dan kakinya melemas.


Ralt hanya meliriknya tanpa rasa iba, "Kau yang membunuhnya. Bahkan tanganmu yang berlumuran darahnya sudah membuktikan itu," ia pun mulai menyengir dengan mata berkilat, "Bagaimana rasanya? Bagaimana perasaanmu saat meremas jantungnya? Bukankah itu sensasi yang mengagumkan? Itu pengalaman baru untukmu 'kan? Meremas jantung dari seseorang yang kau kagumi itu."


Tubuh Need semakin bergetar ketika mendengar ucapan Ralt, "Brengs*k," seketika ia melepaskan tangan Ralt dan memunculkan pedang di tangannya. "MATI KAU..!!"


Need menusuk tubuh Ralt tanpa ragu ragu. Ia melampiaskan perasaan marahnya dengan tusukan pedang pada tubuh pemuda itu.

__ADS_1


__ADS_2