Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 72 -Kemungkinan


__ADS_3

Kevin tersentak oleh ucapannya sendiri. Ia pun terdiam ketika melihat tatapan Rafa yang penuh akan rasa penasaran, "Ya.. Um... Sebenarnya saat malam itu, sekilas aku melihat wajah Leon berada di dekatku. Penglihatanku agak buram, tapi aku yakin itu adalah dia. Namun tidak lama, aku kembali tertidur.


Aku awalnya berpikir jika itu adalah mimpi. Karena dia tidak mungkin datang saat malam hari. Lagi pula, saat sore, dia juga sudah datang menjengukku. Jadi aku tidak berpikir jika apa yang kulihat benar benar nyata."


Rafa terdiam mendengar penjelasan Kevin, "Leon datang sore? Aku.. Tidak tahu. Dia tidak menemuiku."


Kevin tertegun. Jika seperti itu, bukankah artinya Rafa tidak tahu apa yang ia katakan pada Leon saat sore itu? Jika Rafa pun tidak tahu kedatangan Leon, berarti anak itu tidak menceritakan apapun pada Rafa?


Ia jadi merasa semakin bersalah. Walaupun ia sudah mengatakan kata kata jahat pada Leon, namun anak itu tetap mau mengobatinya. Jika saja ia tidak diobati, maka sudah dipastikan jika keadaan keluarganya memburuk, masa depannya bisa saja rusak karena ia cacat satu tangan. Walaupun ingin meminta maaf sekarang pun, mungkin sudah terlambat.


"Apa kau tahu dimana Leon sekarang?" tanya Kevin dengan ekspresi murung.


Rafa menggeleng, "Aku pun tidak tahu dia ada dimana. Dia tidak mengatakan kemana dia akan pergi."


Kevin semakin menekuk wajahnya. Ia benar benar terlembat untuk meminta maaf dan berterimakasih pada Leon. Ia menyesal karena sudah mengatakan semua ucapan jahat itu. Apalagi dalam kehidupan sehari hari, ia masih mengutuk dan menyalahkan Leon tanpa tahu apa apa.


Kevin, "Kalau begitu, apa sebelumnya kau yang sudah mengatakan pada Leon ruanganku berada saat itu?"


Kening Rafa berkerut tatkala mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Kevin, "Tidak, aku tidak mengatakan apapun padanya. Lagi pula, bagaimana caraku melakukan–" ia tersentak ketika mengingat sesuatu.


Paman Teddy ditemukan meninggal setelah sebelumnya akan menemui Leon. Di sisi lain, Leon bisa ke rumah sakit tanpa diberitahukan letak rumah sakit ataupun nama ruangan tempat Kevin dirawat. Sedangkan, ia juga baru mengetahui fakta jika Leon adalah iblis dari pengakuan Leon sendiri. Ia tidak pernah memikirkan ini.


Rafa berwajah pucat ketika terbesit penyebab kematian dari paman Teddy. Ia tidak ingin membayangkan jika Leon benar benar membunuh paman Teddy. Tapi dari yang ia tahu, paman Teddy adalah seorang pemburu. Bukan pemburu hewan, namun pemburu iblis. Sedangkan, Leon sendiri adalah iblis itu.


Bisa diperkirakan jika mereka bertarung. Entah Teddy yang memulai itu terlebih dahulu, ataupun Leon. Namun siapapun yang memulainya, tidak menghilangkan fakta jika Teddy mati karena pertarungan itu.

__ADS_1


Lalu Leon bisa pergi ke rumah sakit dan tahu nama dari ruangan Kevin adalah karena mendapat informasi dari Teddy.


Rafa semakin pucat ketika memikirkannya. Bagaimana bisa Leon.. Membunuh? Tapi dari penjelasan Ash padanya tentang iblis, iblis bisa merubah penampilan walau hanya iblis tertentu. Jika melihat fakta Leon adalah iblis, maka bisa saja dia merubah penampilannya menjadi anak kecil. Bisa saja, Leon sebenarnya adalah iblis yang sudah berumur tua dan sudah terbiasa membunuh.


Apa ucapan Leon selama ini bohong? Apakah pengakuannya tentang hilang ingatan itu hanyalah kebohongan untuk menutupi jati dirinya? Ia sudah tidak tahu lagi, mana yang benar dan mana yang salah. Ia tidak pernah memikirkan hal lainnya selama ini. Hanya ada pikiran untuk berlatih dan menjadi kuat. Tak pernah sekalipun ia meragukan Leon hanya karena identitasnya.


Tapi ketika memikirkan penyebab kematian Teddy ini, ia jadi mulai meragukan Leon. Mungkin karena identitasnya 'lah yang menjadi penyebab ketidak percayaan dirinya pada Leon.


"..Fa.."


"..Fa.."


"..Rafa!"


Rafa terkesiap ketika mendengar suara keras. Ia langsung menoleh dan menatap Kevin. Ekspresi temannya terlihat sedikit kesal.


"A–maaf.. Aku tadi memikirkan sesuatu," balas Rafa sambil menenangkan diri.


"Kalian tidak mendengar bel sudah berbunyi sejak tadi?! Cepat masuk!"


Kevin dan Rafa tersentak saat mendengar suara yang terdengar berat. Keduanya menoleh ke samping dan melihat seorang pria berseragam coklat dengan perawakan sedikit gemuk, namun tinggi.


"A–em.. M-maaf pak..!" Rafa segera pergi ke kelas, begitupun dengan Kevin. Pria itu adalah guru paling galak di sekolah. Dia adalah guru kesiswaan dan biasanya memang suka mengecek sampai ke belakang sekolah agar tidak ada murid yang kabur dari kelas.


"Huh, dasar anak anak ini..! Sudah biasa jika itu adalah Kevin, tapi anak yang satunya, aku tidak pernah melihat anak itu telat masuk kelas seperti ini. Jangan jangan karena pengaruh bocah berandalan itu, anak tadi sampai ikut ikutan seperti dia. Hah.. Astaga, apa akan ada calon murid berandalan baru?" gerutu guru itu sambil menghela nafas.

__ADS_1


***


Di tempat lain, Ash mengambil cuti untuk hari ini. Ia sedikit tidak enak badan dan memutuskan mengambil libur, sekaligus bersantai. Ia melihat lihat buku di ruangan kerja ayahnya.


Biasanya, ayahnya akan duduk di kursi hitam dekat jendela sambil membaca sesuatu. Setiap ia akan mengintip bacaan buku di ruangan ini, maka ayahnya akan langsung mengomel dan mengusirnya. Namun kini, tidak akan ada lagi yang mengusir atau melarangnya masuk. Pemilik tempat ini sudah tidak ada.


Ash menyentuh setiap buku tanpa mengambil atau melihat tulisan dari sampulnya. Ia hanya meraba raba dan kemudian menatap kursi hitam yang berada dibalik meja kerja. Ia tersenyum tipis. Rasanya seperti sudah sangat lama ayahnya pergi. Ia jadi ingin mendengar suara ayahnya yang mengusirnya dari ruangan ini. Namun kini tidak akan ada suara itu lagi.


Ash mulai mengalihkan matanya pada rak rak buku yang berjejer rapi di sini. Jika menatap terus pada kursi itu, rasanya akan ada kesedihan yang mengalir dalam dirinya. Ia tidak mau terlalu larut di dalam perasaan itu.


Ia mulai mengambil satu dan berkedip ketika melihat sampulnya. Ia pun langsung melemparnya ke lantai dengan cukup keras. Wajahnya memerah. Ia tidak menyangka buku pertama yang diambilnya memiliki sampul begitu berani. Ada gambar wanita yang memakai pakaian tidak pantas untuk difoto.


Ia melihat buku lainnya. Ketika melihat sampul, ia menyimpannya kembali ke rak. Sampul itu tidak jauh berbeda dari yang dirinya lihat tadi. Satu persatu mulai ia lihat hingga hitungan buku ke 40.


Rasanya ia ingin mengutuk ayahnya sendiri ketika melihat semua buku itu. Ia tahu ayahnya sudah tidak memiliki istri dan menjadi duda cukup lama. Tapi tak disangka ternyata buku buku di sini memiliki sampul yang begitu... Ah, ia tidak bisa menjelaskannya dengan kata kata. Wajahnya sedikit merah sebelum akhirnya kembali normal.


Tidak hanya buku majalah tentang pakaian wanita yang tidak pantas untuk difoto, namun ada pula novel serta komik yang memiliki banyak adegan tidak senonoh. Ia menggeleng tak percaya. Pantas saja ayahnya selalu melaramgnya masuk ke ruangan ini. Jika ia tahu isinya adalah buku seperti ini, ia tidak akan mau untuk masuk.


Matanya lantas menoleh pada sebuah buku yang tersimpan di atas meja. Ia tidak menyadari kehadiran buku ini tadi, karena terlalu fokus dengan buku buku yang berada di rak. Ia pun mulai mengambilnya. Sampul dari buku ini sangat biasa. Menggambarkan pemandangan alam hijau seperti di sebuah hutan, tidak seperti buku lainnya.


Ia mulai membuka isinya. Ini adalah sebuah buku novel yang cukup tebal dan di dalamnya terdapat sebuah kertas agak tebal yang terselip. Ia melihat halaman dari kertas itu dan yang ia lihat adalah sebuah foto. Bukan foto wanita seperti di buku buku lain, namun ini benar benar foto yang sudah lama.


Ia melihatnya dengan seksama. Terdapat dua orang laki laki di dalam foto ini. Yang salah satunya merupakan ayahnya ketika muda. Sedangkan yang satunya, ia tidak tahu. Namun wajahnya cukup mirip dengan Rafa. Tapi, itu tidak mungkin Rafa, karena foto ayahnya di sini adalah ketika masih muda. Sedangkan Rafa, dia pasti belum lahir saat itu.


Tapi laki laki itu memang cukup mirip dengan Rafa. Ia mengambil foto itu.

__ADS_1


Sraakk


Sebuah kertas terjatuh. Ash melirik kertas yang terjatuh di lantai dan segera mengambilnya. Keningnya seketika berkerut ketika membaca sedikit tulisan di dalam kertas.


__ADS_2