
"Leon..!" raut wajah Ray berubah panik saat tidak ada udara yang keluar dari hidung Leon. Kepalanya menoleh ke kanan dan melihat bahwa para manusia berkerumun di sana untuk melihat keadaan Rafa, termasuk Radolf. Kepalanya pun ia tolehkan ke arah lain.
"Ken?!" sontak penampakan yang berada tak jauh dari tempatnya sekarang membuat Ray terkejut. Ia melihat kepala yang terpisah dari tubuhnya. Bukan orang biasa, namun itu adalah iblis dan yang paling penting, itu adalah temannya.
Ia segera pergi mendekati mayat itu. Raut paniknya semakin menjadi tatkala temannya tidak bergerak, "Seharusnya dia hidup kembali. Tapi kenapa dia tidak menyambungkan dirinya lagi?"
Rahangnya seketika mengeras, "Apa Ken kembali ke tempatnya lagi? Apa ini karena Leon tidak lagi bernapas?"
Perasaannya berubah menjadi campur aduk. Disaat seperti ini, kenapa kedua temannya malah meninggal? Kenapa di saat seperti ini ia malah kehilangan dua orang temannya?
Ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Sejak menjalani kehidupan baru, ia tidak pernah terpikirkan akan kehilangan seseorang lagi. Karena dalam hati ia percaya, orang orang di sekitarnya sekarang tidak akan mati. Mereka akan bertahan hidup dengan baik.
Karena itu, kejadian hari ini begitu mengguncang perasaannya.
Disaat ia duduk diam dengan pandangan kosong, sebuah teriakan membuatnya tersadar.
"Rafa?! Rafa kau baik baik saja?!" teriakan itu berasal dari Nevan.
Awalnya Ray hanya diam di tempat tanpa mempedulikan apa yang terjadi pada Rafa dan orang orang di sekitarnya. Namun teriakan dari Nevan yang terus terusan membuatnya terusik.
Dengan tubuh yang terasa berat, Ray berdiri dan dengan langkah gontai berjalan mendekati tempat kerumunan itu berada. Ia sedih kehilangan dua orang temannya. Tapi matanya seakan sudah kehabisan air mata bahkan hanya untuk meneteskan satu tetes saja.
"Kalian... Siapa?"
Disisi lain, Nevan, Melvin dan Radolf terkejut oleh kata yang baru saja dikeluarkan dari mulut Rafa.
Pemuda yang awalnya sudah tertusuk tepat di jantung itu kembali hidup. Napas dan detakan jantung yang teratur serta perubahan warna kulit yang lebih berwarna dibanding tadi yang pucat. Itu menjadi bukti jika Rafa kembali hidup. Namun yang membuat mereka terkejut adalah respon dari Rafa.
"Apa maksudmu? Aku adalah Nevan, saudaramu. Tidak mungkin kau lupa," ucap Nevan dengan ekspresi khawatir.
"Aku adalah Pamanmu, Rafa."
"Aku.. Ayahmu."
Rafa berekspresi bingung. Ia seolah kehilangan semua ingatannya tentang semua hal, "Nevan? Paman? Rafa? Ayah? Siapa? Aku tidak kenal."
"Jangan bercanda disaat seperti ini Rafa," ucap Melvin. Rautnya berubah cemas setelah sebelumnya bahagia.
Rafa menggelengkan kepala, "Aku benar benar tidak tahu. Siapa kalian sebenarnya?"
Nevan menatap Paman dan Ayahnya bergantian. Tatapan khawatir tak bisa ia sembunyikan, "Bagaimana ini?"
__ADS_1
Rafa memperhatikan ketiganya dengan bingung. Namun kepalanya terus mengingat ingat apa yang terakhir kali terjadi, "Eergh.."
Ia memegangi kepalanya dengan kuat. Sontak apa yang dilakukannya membuat ketiganya terkejut dan bertambah khawatir, "K-kau kenapa? Apa kepalamu sakit? Pusing?" tanya Nevan.
Rafa tidak menjawab dan masih terus memegangi kepalanya. Disaat yang sama, Ray sampai di tempat mereka berada. Wajahnya lesu dan sedih. Tapi melihat Rafa duduk, membuatnya terkejut. Tidak ada yang membantu pemuda itu untuk duduk, padahal sebelumnya ia yakin Rafa seharusnya sudah mati. Lalu bagaimana bisa seperti ini?
"Aku... Aku ingat... Terakhir kali, seharusnya aku berada di tempat persembunyian. Tapi dia datang dan mengambil alih tubuhku," gumam Rafa.
Gumaman pelan Rafa dapat terdengar jelas oleh semua orang, karena tempat ini sekarang sangat sepi. Suara sekecil apapun bisa terdengar.
"Apa maksudmu, Rafa?" ucap Nevan dengan kebingungan.
Rafa menatap satu persatu wajah di sekitarnya. Melihat Nevan, membuatnya merasa asing. Tatapannya beralih pada Melvin. Ia juga asing dengan wajah itu. Lalu Radolf, ia tidak pernah melihatnya. Kepalanya sedikit mengadah ke atas, karena satu oramg lagi dalam posisi berdiri.
Di saat melihat Ray, ia tidak asing. Wajah yang dikenalnya dan selalu dilihat olehnya, "Rinky? Kau... Kenapa ada di sini?"
Ray tertegun ketika Rafa memanggil nama 'Rinky'. Padahal namanya adalah Ray, dan seharusnya Rafa sudah tahu itu. Tapi apakah ini kebetulan? Menurut ucapan Kite–Osmond sebelumnya, Rinky adalah seorang iblis yang ahli dalam mengendalikan api hitam. Lalu ia adalah reinkarnasinya.
"Namaku Ray."
Rafa menatap Ray dengan bingung, "Em... Maaf.. Kupikir kau Rinky, karena wajahmu mirip dengannya."
Nevan memandang Rafa penuh selidik, "Kau... Bukan Rafa?"
"Aku tidak tahu siapa Rafa. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini. Tapi aku... Memang bukan Rafa. Namaku adalah Oliver."
Tidak ada yang tidak terkejut mendengar nama itu. Kenapa Rafa mengaku sebagai Oliver sekarang? Apakah otaknya bermasalah?
"Jangan bercanda, Rafa!" Radolf berbicara dengan sedikit membentak. Ia tidak percaya jika anaknya bukanlah anaknya sekarang.
"Iya, jangan bercanda. Kau Oliver? Tidak mungkin," Nevan menggeleng tak percaya.
"Kenapa mereka terus menyebutku Rafa?" batin Rafa.
"Kau adalah Rafa, bukan Oliver," tambah Melvin.
"Aku adalah Oliver. Dan Rafa? Aku tidak mengenalnya," Rafa menggeleng.
Ray mengerutkan kening, "Baiklah, anggap namamu Oliver. Apa yang kau ingat saat terakhir kali?"
Kini Rafa menatap Ray, "Seharusnya aku berada di gua tempat persembunyianku. Tapi tiba tiba jiwa Osmond muncul di hadapanku. Dia masuk ke dalam tubuhku, lalu mengendalikannya. Setelah itu, aku tidak ingat. Tapi jiwa kami sempat bertarung. Itu yang terkahir kali kuingat."
__ADS_1
Ray terdiam sejenak, "Kapan itu terjadi?"
"Aku tidak tahu pasti kapan. Tapi kejadiannya sekitar seminggu setelah perang berakhir. Pada saat itu aku juga terluka parah, karena itu pula Osmond bisa mengambil alih tubuhku dengan mudah."
"Aku bisa simpulkan," Ray terdiam sejenak saat semua orang menatapnya. "Rafa bukanlah Rafa. Jiwanya sekarang adalah Oliver. Cerita tentang jiwa Osmond yang berada di dalam tubuh Rafa tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, yang ada di tubuhnya bukan dia, melainkan Oliver. Lalu Osmond yang mengaku sebagai Oliver adalah Osmond sesungguhnya."
Nevan terkejut. Ia menggeleng tak percaya. Ia tidak mau mempercayai kesimpulan itu, tapi apa yang dikatakan Ray masuk akal, "L-lalu Rafa... Dia kemana? Dia dimana? Apa Rafa.. Sudah..." Nevan tidak mau melanjutkan kata katanya. Ia terdiam dan pandangannya turun ke bawah.
Radolf mengeraskan rahangnya. Tatapan menyesal tak bisa disembunyikan sama sekali. Melvin pun demikian. Mereka sama sama menyesal karena tidak bisa melindungi satu orang saja. Apalagi orang itu adalah seseorang yang penting bagi mereka.
Rafa yang mendengar kesimpulan Ray malah tersentak. Ia meraba raba tubuhnya dan wajahnya. Memang terasa sangat berbeda dibandingkan yang ia ingat.
"Matamu..," Ray diam dan memperhatikan mata Rafa yang tidak biasa. Itu adalah mata yang sebelumnya diperlihatkan Osmond. Tapi kini, Rafa pun memilikinya.
Rafa menyentuh matanya, namun ia tidak bisa melihatnya. Ia hanya memandang Ray dengan heran, "Kenapa?"
"Warna mata Oliver. Kau benar benar dia."
Rafa berkedip, "Karena aku memang Oliver."
Nevan, Melvin dan Radolf sama sekali tak bisa terima dengan Rafa yang adalah Oliver. Mereka ingin Rafa kembali. Tapi nasi sudah jadi bubur. Walaupun mereka berteriak sampai kehilangan suara, Rafa tidak akan kembali. Karena Rafa sudah mati.
"Leon.. Bagaimana dengan Leon?" ucap Radolf sambil menatap Ray.
"Dia... Sudah meninggal."
Rasanya Radolf seperti mendapat hantaman keras di dadanya. Rafa, anaknya telah tiada. Lalu kini? Leon.., ikut tiada. Dalam satu waktu ia kehilangan dua orang berharga. Ia tidak memiliki apapun lagi. Tidak ada alasan hidup untuknya. Karena penyemangatnya hidup kini sudah tiada. Bagaimana ia bisa menjalani hari hari berikutnya?
"Berarti... Rafa juga benar benar sudah tiada. Mereka berdua takkan kembali. Mati di waktu yang sama.... Mereka sudah tiada," Nevan bergumam dengan pandangan kosong.
"Seharusnya sejak awal aku tidak memperbolehkannya kemari," gumam Melvin.
Ketiganya menyesali semuanya dan hanya bisa diam seperti orang bisu.
Rafa yang kini adalah Oliver pun tidak ikut berbicara. Ray juga hanya diam. Namun diam nya itu sama dengan ketiga orang lainnya. Ia menyesal karena tidak bisa melindungi Leon.
Lalu saat memikirkan itu, ia tiba tiba teringat saat segelnya lepas. Ketika ia cerita pada Leon, Leon mengatakan saat itu dia mati. Sehingga segel di tubuhnya lepas. Tapi pada saat itu, Leon nyatanya masih bisa berada di sampingnya.
"Apa... Apa Leon bisa hidup kembali seperti sebelumnya? Dia mengatakan.. Pernah mengalami kematian, lalu kembali hidup," bagaikan mendapat secercah harapan, mata Ray berkilauan.
Radolf menunduk dengan tatapan kosong, "Dia tidak akan bisa hidup kembali. Karena sekarang, Rafa pun sudah tidak ada. Leon dan Rafa meninggal di saat bersamaan, berarti mereka tidak akan kembali."
__ADS_1
"A-apa maksudmu?!"
Radolf tidak menjawab. Ia tidak memiliki tenaga untuk memberikan penjelasan. Hatinya lelah, fisiknya pun demikian.