Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 93 -Iblis Dan Blizt


__ADS_3

Leon menghentikan langkahnya setelah dirasa cukup jauh. Hal ini membuat Need ikut berhenti di belakang Leon. Kepalanya terus menunduk karena tidak mau menatap pemuda itu.


Leon membuka suara dengan nada dinginnya. Ia berbalik menatap Need, "Pengkhianatan adalah kejahatan tidak terampuni bagiku."


Kepala Need semakin ditekuk. Tubuhnya menegang. Ia merasa harus berhati hati saat mengambil napas. Ia tahu jika Leon sangat membenci pengkhianatan. Ia sudah menusuknya hingga membuat Leon meregang nyawa. Walaupun bukan kehendaknya untuk membunuh Leon, namun ia tetap tidak bisa menyangkal jika dirinya yang sudah membunuh pemuda itu. Jadi tidak ada pembelaan apapun yang bisa dia ucapkan.


Leon mengeluarkan sebuah belati dari balik pakaiannya dan berjalan mendekati Need, "Jangan buat suara."


Need menelan ludah ketika Leon sudah berada tepat di depannya. Apalagi, ia melihat belati dipegang oleh Leon. Ia merasa takut, namun ia tak melakukan apapun.


Tanpa disadari Need sama sekali, 3 buah luka gores tercipta di tangannya. Ia meringis, namun tanpa mengeluarkan suara seperti yang diperintahkan Leon. Dirinya merasa jika hari ini adalah kematiannya. Leon tidak akan mengampuninya dan akan mengambil nyawanya.


*


*


Di tempat lain, pertarungan sedang terjadi. Walau hari sudah malam dan seharusnya waktu untuk istirahat, namun manusia manusia ini tidak bisa melakukan itu. Mereka melawan mayat hidup yang entah bagaimana bisa berada di sini.


Salah satu dari kerumunan orang tersebut tidak lain adalah Melvin, Ayah dari Nevan. Sejak 2 hari yang lalu, ia telah tiba di dunia iblis. Walau memberikan waktu satu minggu bagi anak dan keponakannya untuk kembali, nyatanya kurang dari seminggu itu dirinya langsung menyusul.


Ia membawa banyak orang yang merupakan blizt. Tidak mengherankan dirinya bisa membawa mereka, sebab sebenarnya ia adalah salah satu petinggi dari ras blizt. Ia membuat perundingan diantara para petinggi untuk melakukan penyerangan ke markas musuh, yaitu dunia iblis.


Ia menggunakan berbagai alasan agar semua petinggi lain setuju dengan usulannya, walau pada akhirnya mereka ke dunia iblis adalah untuk menghabisi iblis secara diam diam, bukan melakukan perang besar besaran. Ini yang diinginkan Melvin. Karena ia sendiri tidak yakin jika harus memulai perang lebih dulu dengan iblis.


Ia beralasan untuk mengurangi jumlah iblis yang masuk ke dunia manusia, namun sebenarnya ia kemari untuk menemukan anak dan keponakannya. Ia sangat khawatir dengan mereka, hingga akhirnya memutuskan menitipkan anak perempuannya pada ibu mertuanya dan datang kemari.


Melvin menangkis sebuah serangan dan langsung menendang dua orang mayat sekaligus hingga keduanya terpental jauh ke belakang. Keringat bercucuran di keningnya.


Ini adalah kesekian kalinya mereka bertemu mayat hidup dan harus bertarung melawan mereka. Jumlah kelompok kecil yang dibawanya pun sudah berkurang sebagian walau baru 2 hari lalu di sini.


"Ketua, awas!" Salah seorang pria berseru pada Melvin.


Karena seruan itu pun, Melvin segera memukul mayat hidup yang hendak menerkam di belakangnya hingga mayat terjatuh ke tanah, "Mereka tidak ada habisnya."


"Apa yang harus kita lakukan, ketua?!" teriak salah seorang pria berpakaian hitam. Napasnya tersenggal senggal dan keringat bercucuran membasahi keningnya. Ia hampir mencapai batasnya sekarang.


Pada awalnya mereka bisa membakar para mayat dengan kekuatan api yang dimiliki 2 orang diantara rekan mereka. Namun salah satunya mati menjadi santapan mayat hidup sehari yang lalu. Kemudian kejadian sama pun terulang kembali tadi. Ini membuat mereka kesulitan, karena tidak ada lagi yang memiliki kemampuan untuk memunculkan api.


"Tolong...!"


Saat sedang berpikir, sebuah teriakan membuat Melvin bergegas ke sumber suara. Ia menebas satu persatu mayat yang dilaluinya hingga tiba di tempat suara berasal, "Bertahanlah!"


Ketika melihat bawahannya hampir djadikan santapan banyak mayat hidup, ia langsung bergegas menjauhkan mereka. Namun ia sedikit terlambat. Walau berhasil menyelamatkannya, namun dia dalam keadaan memprihatinkan. Salah satu kakinya telah habis dimakan. Ini akan membuatnya kesulitan di saat situasi seperti sekarang.


Melvin terus berada di sekitar bawahannya itu untuk melindunginya. Walau raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun saat ini, sebenarnya ia sangat gelisah. Keadaan seakan tidak memihak pada kelompoknya yang kini hanya tersisa 5 orang, termasuk dirinya.


"Ketua..! T-tolong..!"


"Ketua.."


"Tolong..!"


"T-tolong.."

__ADS_1


"Ketua..!"


"Ketua tolong aku..!"


Tiba tiba teriakan para bawahan Melvin terdengar saling bersahut sahutan. Mereka dalam keadaan sangat terdesak dan membutuhkan pertolongan.


Namun Melvin tidak bisa meninggalkan tempatnya berada. Karena jika ia sampai melakukannya, maka rekannya yang sekarang ini tak sadarkan diri bisa saja langsung mati. Ia ingin pergi menolong yang lain, namun apa daya. Dirinya tak bisa melakukan hal itu.


Saat keadaan semakin tidak memungkinkan, sebuah lesatan api membakar sebagian mayat. Tidak hanya satu, namun lesatan itu semakin banyak dan mengarah pada mayat yang mengepung bawahan Melvin.


"Bantuan datang..!" Salah seorang pria berseru dengan gembira. Ia hampir saja mendapat serangan dari titik buta, namun untung saja lesatan api itu muncul di waktu yang tepat.


Melvin pun menghentikan serangannya ketika mayat di hadapannya telah terbakar. Walau sempat bergerak, namun itu hanya sesaat sebelum akhirnya mayat itu jatuh.


Kobaran api membara, hingga penampakan di sekitarnya pun terlihat jelas. Melvin melihat ke arah kedatangan api dan berteriak pada semua bawahannya, "Menyingkir dari sini..!"


Semuanya dengan patuh menuruti ucapan Melvin dan berusaha mencari tempat aman agar tidak terkena serangan. Melvin pun ikut pergi sambil membawa bawahannya yang pingsan.


Dari pinggir kerumunan mayat yang terbakar, Melvin membaringkan rekannya di tanah. Semua rekannya yang lain pun nampak berada di sisinya. Segera, ia menyuruh salah satu diantara mereka untuk menutup luka dari pria yang pingsan itu. Sedangkan dirinya melihat ke arah lesatan api dan berusaha melihat siapa yang sudah membantu mereka.


Pandangannya terhalang api yang berkobar, namun penampakan itu semakin jelas ketika sosok tersebut berjalan semakin dekat. Itu bukan hanya satu atau dua orang saja, melainkan ada 4 orang sekaligus. Namun yang membuatnya terkejut bukanlah itu. Melainkan karena mereka bukan dari kelompok lain yang juga ke dunia iblis. Melainkan, mereka adalah iblis.


*


*


Need berdiri dengan luka di sekujur tubuhnya. Darah masih menetes ke tanah. Bahkan sudut bibirnya kini mengeluarkan darah. Walau sangat sakit, ia tetap tidak mengeluarkan suara apapun seperti apa yang diperintahkan Leon.


Leon masih menatap Need dengan dingin. Tatapan kesal yang biasa ia perlihatkan pada pemuda itu seolah tidak pernah dilakukannya. Ia sebenarnya marah, kesal, dan kecewa atas apa yang sudah Need lakukan sebelumnya. Namun ia tahu jika Need saat itu sedang dikendalikan. Karenanya, ia tidak membunuhnya. Ia hanya memberikan hukuman 'ringan' untuk menegaskannya.


Leon menghembuskan napas pelan, "Sudah. Tidak perlu memaksakan."


Disaat ucapannya selesai, tubuh Need ambruk ke tanah. Dia terengah dan sedikit mengerang kesakitan, walau tidak keras.


Leon masih berdiri di tempatnya sambil memandangi Need. Menurutnya, ini sudah cukup. Ia tidak perlu memberikan hukuman yang lebih dari ini. Melihatnya yang masih menurut untuk tidak mengeluarkan suara pun sudah menjadi salah satu bukti jika Need masih menurutinya.


"K-kenapa?" Need menelan darah yang hampir dimuntahkannya dan masih mencoba mengatur napas, "Kenapa tidak... Membunuhku?"


Leon menghela napas sambil menggeleng, "Kau ingin kematian? Untuk menghilangkan rasa penyesalanmu?"


Need tidak menjawab. Ini membuat Leon menganggap jika ucapannya benar. Ia pun melanjutkan, "Aku tahu kau berada dalam pengaruh seseorang. Kau tidak mau melakukan itu. Tapi aku harus tetap memberimu hukuman seperti ini.


Itu salah satu alasan kenapa aku tidak membunuhmu. Alasan kedua, agar kau tidak merasa bersalah terus menerus. Aku sudah membalas apa yang kau lakukan dengan ini. Jadi jangan terus menyesal."


Need perlahan mengangkat kepalanya dengan mata berkaca kaca, "K-kau.."


Tanpa diduga, Need langsung memeluk kaki Leon hingga membuat pemuda itu terkejut. Ia tidak menduga akan perlakuan ini.


"Kau.. Kau terlalu baik.. Aku.. Tidak tahu harus bagaimana..," Need sedikit terisak. Penyesalan yang selama berhari hari ini ia pendam tanpa bisa dikatakan pada siapapun, membuatnya sangat kesulitan. Ia sudah menahannya selama ini dan tidak bisa lagi untuk menahannya.


Leon terdiam dan tangannya terulur mengelus kepala Need. Ia memang jauh lebih muda dibandingkan Need, namun pemuda di depannya seperti anak kecil sekarang, "Aku tidak pantas dikatakan baik. Kau tahu sendiri bagaimana perlakuanku pada orang lain."


Need menggeleng dengan masih memeluk kaki Leon, "Kau.. Baik di mataku."

__ADS_1


Mendengar ucapan itu membuat Leon terdiam. Ia tidak bisa membalasnya dan hanya menggumam, "Mn"


Beberapa menit Need masih dalam kondisi sama. Hingga akhirnya Leon berucap, "Kita harus segera kembali. Mereka menunggu."


Need segera melepaskan pelukannya. Matanya masih sembah, namun ia langsung menyekanya. Kepalanya mengangguk sebagai tanda setuju. Walaupun tubuhnya terasa sakit dan setiap luka di tubuhnya masih mengeluarkan darah, ia tetap berdiri. Mendapat pengampunan dari Leon, membuatnya bahagia, bahkan rasa sakit itu seperti tidak terasa lagi.


"Diam di situ."


Need berkedip ketika mendengar perintah Leon. Ia pun hanya diam sambil memperhatikan pemuda itu.


Leon mengarahkan telapak tangan kanannya pada Need dan secara cepat, luka luka di tubuh itu menghilang tanpa meninggalkan bekas.


Need berkedip ketika rasa sakitnya menghilang. Ia menatap kedua tangan, kaki dan bagian tubuhnya yang lain. Semua bekas sabetan belati menghilang. Ia kembali menatap Leon dan baru ingat jika Leon memiliki kemampuan dalam menyembuhkan.


Seperti tahu apa yang dipikirkan Need, Leon berucap, "Kemampuanku bukanlah menyembuhkan. Tapi mengubah takdir. Aku baru mengetahuinya."


Need mengerutkan kening dengan bingung. Namun ia tidak menanyakan apapun dan langsung mengikuti langkah Leon yang berjalan menuju tempat rekan rekannya berada.


Saat sampai, baik Need maupun Leon tiba tiba mengerutkan kening. Seharusnya jumlah orang di sini adalah 4. Namun apa yang mereka lihat tidak seperti itu. Ada 7 orang tambahan diantara mereka. Dari yang bisa dirasakan atau bahkan hanya dilihat, mereka jelas tahu jika mereka bukanlah iblis, melainkan manusia.


Ketujuh manusia itu berdiri saling berhadapan dengan Nevan dan Kite. Mereka sedang membicarakan sesuatu.


Kite yang lebih dulu menyadari kehadiran Leon langsung berbalik. Ia menatap Leon dan tersenyum, "Kalian sudah selesai?"


Melihat reaksi yang ditunjukkan Kite, membuat Leon bingung. Namun tatapannya tetap dingin. Ia menatap satu persatu manusia itu.


Mendengar ucapan Kite, tentunya langsung menarik perhatian ketujuh manusia asing beserta Nevan.


Sebelum Leon mengatakan sesuatu, Need tiba tiba maju lebih dekat. Ekspresinya nampak masam dan waspada, "Kalian.. Apa yang blizt ingin lakukan di dunia kami?"


Leon tentu tidak terkejut mendengar ucapan Need. Ia sendiri sudah tahu jika manusia di depan sana bukan'lah manusia biasa.


Nevan menggigit bibirnya. Ia tahu hubungan iblis dan blizt memanglah tidak baik. Akan sangat berbahaya jika mereka dipertemukan seperti ini, "T-tenanglah... Ini bukan seperti yang terlihat. Kau bisa percaya. Sebagian dari mereka adalah orang yang kukenal."


Need berhenti berjalan. Ia menatap Nevan dengan tajam, "Apa kau yang membawa mereka kemari?"


"...Selama ini.. Sudah lama tidak ada manusia yang masuk ke dunia iblis. Kenapa tiba tiba banyak manusia yang masuk kemari? Hanya sedikit blizt yang tahu cara untuk pergi ke dunia iblis dan hanya sedikit yang berani untuk menyerang lebih dulu ke dunia iblis. Selain itu, mereka tidak akan bisa mendapatkan kristal kehidupan jika berhasil membunuh iblis di sini."


Nevan menggeleng cepat, "Tidak. Aku juga tidak tahu jika ada blizt lain yang kemari, sungguh. Aku tidak tahu apapun."


Kite menambahkan, "Dia benar. Tanpa sengaja mereka tiba di sini dan tersesat. Menariknya, mereka ternyata sudah bertemu dengan mayat hidup dan itu membuat 3 orang mati."


Need masih menatap Nevan dengan tajam walaupun sudah mendengar penjelasan dari Kite.


Leon pun berjalan mendekat. Ia berdiri di depan ketujuh manusia di depannya.


Mengetahui sedang ditatap, salah satu blizt langsung angkat suara, "Itu benar. Kami tanpa sengaja bertemu mereka di sini. Awalnya kami memang ingin menyerang iblis secara diam diam, tapi ternyata ada masalah lain.


Karena mayat hidup, kami tidak bisa menghabisi satu pun iblis. Tidak ada iblis hidup yang kami temui sampai saat ini dan sekarang adalah pertama kalinya."


Blizt yang lain begitu terkejut ketika mendengar penuturan dari pria berkumis tipis itu. Salah satu temannya bahkan langsung menyenggol lengannya, "K-kau.. Kau yang benar saja?!"


Pria berkumis tipis itu tetap menatap Leon. Walaupun iblis di depannya terlihat begitu muda, namun ia bisa merasakan aura yang begitu mencekam darinya. Tatapan mata dan raut yang dingin itu pun membuatnya terlihat mengintimidasi.

__ADS_1


"Apa yang kukatakan benar. Aku tidak menambah atau mengurangi apapun. Karena mayat hidup itu, kami tidak bisa melakukan rencana yang sudah disusun sebelumnya. Sekarang kami akan membuat rencana baru.


Diantara blizt yang datang kemari, ada 2 orang yang memiliki kemampuan untuk mengirim kami kembali ke dunia manusia. Kami akan mencarinya dan menyuruhnya memulangkan semua orang dan membatalkan rencana. Kami tidak ada lagi niatan untuk menyerang iblis."


__ADS_2