
Sebelum tubuh Rafa terjatuh ke tanah, Melvin dengan sigap langsung menangkapnya dan membaringkan tubuh itu di tanah dengan kepala yang ada di pahanya.
"Rafa... Rafa... Apa kau mendengar suara Paman? Rafa.. Jangan tutup matamu, Rafa...," ucap Melvin dengan khawatir.
Radolf dan Nevan melesat dan menyerang Michael, sedangkan tubuh Rafa berada dalam lindungan Melvin.
Suara pertarungan segera terdengar tidak lama dari itu. Erangan marah dari Nevan pun terdengar jelas di sela sela suara pertarungan yang terjadi. Mendengarnya sudah menjelaskan betapa marahnya Nevan saat ini.
"Sial*n, brengs*k, bajing*n!! Kemari kau!" kata kata umpatan terluncur begitu saja dari mulut manusia muda itu. Padahal dia jarang mengumpat tentang sesuatu. Namun jika seseorang yang berharga baginya diusik, ia tidak bisa menahannya lagi.
Kata umpatan menjadi lagu penggiring dari kekacauan yang ditimbulkan.
"Rafa..," tatapan tajam Radolf seolah bisa memotong siapapun hanya dengan matanya. Padahal belum lama ini ia bertemu putranya, tapi kejadian tidak diinginkan malah terjadi. Kemungkinan untuk Rafa hidup saat ini hanya sedikit. Ia sendiri melihat dimana luka tusukan itu dilakukan.
Mengingatnya malah membuat Radolf semakin memperkuat serangannya. Sabit yang memiliki pegangan panjang itu senantiasa diayunkan hingga membuat tempat yang bukan targetnya ikut terkena imbas.
"Leon... Leon... Leon?!" Ray berekspresi khawatir. Ia bisa merasakan tubuh pemuda itu menjadi dingin. Matanya pun menutup dengan wajah yang tenang. "Tidak, tidak mungkin."
Boomm
Ray menutup wajahnya dengan punggung tangan kala debu menerjang tempatnya. Saat debu sudah berkurang, ia melihat ke arah kanan. Dilihatnya pertarungan antara Ken dengan Osmond yang sedang berlangsung.
Wajahnya sangat khawatir, linglung dan bingung. Namun Ray segera membuat keputusan dan langsung mengangkat tubuh Leon untuk dipindahkan ke tempat aman.
Braaakkk
Booomm
Kreeett
Pohon berjatuhan di sekitar tempat Ken bertarung. Matanya menggelap dengan mincingan mata yang tajam, berbeda sekali dengan keadaan biasanya, "Osmond... Jadi benar kau adalah dia? Bagaimana bisa? Tubuh itu adalah Oliver. Apa kau menyamar menjadi dia?"
"Kau masih belum percaya?" Osmond tersenyum miring seolah menikmati ekspresi Ken saat ini. Matanya yang berwarna hitam kembali berubah menjadi kuning keemasan dengan adanya bentuk daun di pupil matanya. Ini adalah mata yang ia tunjukkan sebelumnya.
Ken yang sebelumnya suka melihat mata itu, kini malah muak dan kesal. Mata itu tidak memberinya rasa ketenangan ataupun santai seperti sebelumnya, tapi membuat perasaannya membara, "Apa kau mengambil alih tubuh Oliver? Bodohnya aku karena tak bisa mengenalimu."
Ken mengayunkan tangan kirinya dengan incaran leher. Namun dengan cepat Osmond menangkisnya, lalu memberikan tendangan.
__ADS_1
Braakk
Tendangan itu sukses ditahan Ken menggunakan pedang kayunya. Dorongan dari tendangan itu membuat lengan Ken sedikit bergetar, tapi tidak ada kerusakan pada pedangnya sama sekali.
Osmond, "Lalu kenapa? Ini bukan urusanmu. Lagi pula, siapa kau? Kenapa kau tahu sebanyak itu tentang Oliver?"
Tanpa mengurangi kewaspadaan dan serangannya, Ken membalas, "Kau tidak pantas mengetahuinya, dasar penipu."
Osmond tertawa datar, "Lebih baik penipu, bukan penguntit sepertimu. Kau bahkan sampai mengetahui dengan detail identitas Oliver."
Ken meradang. Ia memukul tanah dengan kuat hingga mengakibatkan tanah di depannya mengeluarkan ledakan.
Sontak saja, Osmond yang terkena ledakan bawah tanah pun langsung terpental. Namun ia dengan cepat memposisikan diri agar kakinya berpijak lebih dulu.
"Oh, berarti jika aku penguntit, maka kau adalah pengkhianat. Benar 'kan?" ucap Ken dengan datar. Ia mencengkram pedang di tangannya dengan kuat tanpa melepaskan pandangannya dari Osmond.
Pria dengan dua buah pedang di tangannya itu mengerutkan kening dengan samar. Ia masih diam dalam posisinya dan sedang mencari celah untuk menyerang.
"Kau mengkhianati saudaramu sendiri dan menjadi seperti ini. Apa kau sebegitu irinya dengan Oliver?" ucap Ken dengan tatapan datar.
Osmond terdiam sesaat dan setelahnya mendengus tawa mendengar ucapan Ken, "Iri? Tidak sama sekali. Karena menurutku, aku lebih kuat darinya."
Ken tersentak dan tak sempat bereaksi. Kedua pedang itu dengan mulusnya langsung memenggal kepala Ken.
Brukk Brukk Brukk
Kepala itu terguling di tanah dengan mata membuka terkejut. Gerakan yang tidak diprediksi olehnya sama sekali.
Tubuh Ken ikut terjatuh ke tanah disertai darah yang mengalir membasahi rerumputan kecil di atasnya. Osmond menurunkan pedang setelah berhasil membunuh satu iblis. Pedang yang kini teraliri oleh darah itu kini sangat kotor ternodai warna merah.
Pedang milik Ken yang terbuat dari kayu ikut lenyap bersamaan dengan kematiannya.
Tidak ada raut bersalah dari tatapan Osmond saat ini. Ia hanya memandangi datar tubuh kaku dan dingin yang sudah dibunuhnya, "Aku tidak tahu siapa kau. Tapi lebih baik kau mati saja seperti ini."
Osmond mengibaskan pedangnya hingga darah di pedang terciprat ke tanah. Ia tidak mau membuang waktu dengan melawan Ken, jadi dirinya langsung menghilang begitu berhasil membunuh pengganggu. Tujuannya sudah terpenuhi. Membunuh Leon dan Rafa secara bersamaan.
Radolf dan Nevan yang juga bertarung kini kesulitan menghadapi Michael. Sudah puluhan menit berlalu, namun tak ada satu pun serangan mereka yang mengenai Michael. Malahan, mereka 'lah yang terkena serangan musuh habis habisan.
__ADS_1
Nevan terduduk di tanah dengan napas tidak beraturan. Darah yang keluar dari tubuhnya tercecer ke tanah. Ia tidak sanggup lagi untuk berdiri. Ia merasa lelah. Walau begitu, kata umpatan sepertinya tak bisa ia hentikan.
Staminanya jelas kalah dibandingkan Radolf dan Michael. Ia hanya manusia biasa dan umurnya baru saja belasan tahun, tidak seperti kedua iblis itu.
"Ck, sialan! Ayo berdiri!" bentak Nevan pada dirinya sendiri. "Kau lemah! Tidak berguna, cepat berdiri, sialan!"
Nevan berhasil berdiri dengan kedua kakinya. Namun ia sama sekali tak bisa menggerakkan tangannya dengan baik. Kakinya saja gemetar. Bukan karena takut, namun karena tubuhnya sudah tidak kuat.
Sabit yang dipegang Radolf kini diselimuti oleh kabut berwarna merah. Saat ia berhasil membenturkan senjatanya dengan milik lawan, seketika itu pula senjata milik Michael meleleh.
Michael segera melompat mundur tanpa memberikan ekspresi raut yang berbeda. Namun sebenarnya ia cukup terkejut karena senjatanya meleleh. Ia pun tak punya pilihan selain membuangnya ke tanah dan bertarung dengan tangan kosong.
Lengannya yang kecil dan tubuhnya yang tidak berotot akan membuat orang lain berpikir jika pertarungan yang dilakukan Radolf dengannya tidak seimbang sama sekali dan terkesan seperti kekerasan pada anak.
Namun orang orang yang sedang berada di sini tahu betul. Michael bukanlah anak iblis biasa hingga mereka bisa meremehkannya.
Radolf mengayunkan senjatanya dengan lebih akurat. Ia memprediksi segala pergerakan cepat yang dilakukan Michael dengan baik. Tapi walau sudah memprediksinya, gerakan tubuhnya tidak bisa mengikuti gerakan secepat anak itu hingga akhirnya ia terus menerima serangan pukulan serta tendangan tanpa bisa memberikan luka pada Michael.
Kini Radolf rasanya tak memiliki pilihan lain untuk melawan Michael. Ia menghilangkan senjata miliknya dan membuat kabut merah mengelilingi tubuhnya.
Saat pukulan telak mengenai tubuh Radolf, lengan Michael seketika melepuh karena bersentuhan dengan kabut merah di sekeliling pria itu.
Tidak menunggu waktu lagi, Radolf mengayunkan lengannya pada Michael dan serangan itu dihindari.
Setelah tahu tubuh Radolf dikelilingi kabut merah, Michael menjadi semakin waspada akan serangan yang datang.
Radolf yang awalnya menjadi pihak yang dipojokkan kini berganti menjadi Michael. Anak itu tidak memiliki pilihan lain selain menghindari tiap serangan dari Radolf. Jika ia terkena sedikit saja serangan, maka tubuhnya bisa meleleh. Bahkan tangannya saja sudah berubah menjadi tulang belulang akibat sifat kabut Radolf yang korosif.
Namun Michael beruntung. Ia memiliki gerakan tubuh yang lebih cepat bila dibandingkan Radolf. Karena itu, ia tidak mengalami nasib terlalu buruk. Namun jika ia harus terus menghindar seperti ini, maka pertarungan tidak akan pernah selesai.
"Rafa, Rafa... Rafa!"
Suara keras dari Nevan membuyarkan konsentrasi Radolf. Ia yang hampir saja menendang Michael kini melihat ke belakang.
Michael tidak membuang kesempatan. Ia memukul dada lawan sekeras mungkin hingga Radolf terdorong ke belakang. Setelahnya, ia segera pergi dengan keadaan dua tangan yang terluka parah.
Radolf seolah tak merasakan pukulan itu. Ia lebih fokus terhadap keadaan Rafa sekarang. Dan saat tahu Michael melarikan diri, ia tidak mengejarnya dan malah menghilangkan kabut merah yang ada di sekeliling tubuhnya, "Ada apa dengan Rafa?!"
__ADS_1
Radolf berlari mendekati tempat anaknya terbaring. Ekspresi cemas tak bisa ia sembunyikan sama sekali.
Nevan menengadahkan kepalanya ke atas. Setelah tidak mampu ikut bertarung lagi, ia hanya bisa pergi ke tempat Rafa dan melihat keadaannya. Namun yang ia dapati malah..., "Rafa tidak bernapas."