
"Kak Ash, apa kau tahu cara untuk pergi ke dunia iblis?"
Ash tertegun ketika mendengar pertanyaan Rafa. Malam ini, mereka berada di ruang bawah tanah rumahnya. Tempat yang tidak diketahui oleh Katly dan merupakan tempat latihan.
"Kenapa kau tiba tiba menanyakannya?"
Rafa sedikit menundukkan wajahnya, "Em.. Aku hanya penasaran. Jika iblis bisa pergi ke dunia manusia melalui celah dimensi, maka apakah manusia bisa masuk ke dunia iblis melalui celah itu juga?
Selama ini.. Mereka bisa pergi ke dunia manusia pun karena celah yang tanpa sengaja terbuka secara acak. Lalu bagaimana dengan manusia yang pergi ke dunia iblis? Apa mereka juga bisa melakukan itu?"
Ash terdiam sejenak, lalu menjawab, "Jika bisa, apa yang ingin kau lakukan? Celah dimensi yang tanpa sengaja terbuka muncul tidak bisa diprediksi letak maupun jumlahnya."
"Tapi.. Bukankah akhir akhir ini banyak iblis yang masuk ke dunia manusia? Bukankah berarti banyak celah yang terbuka? Artinya banyak kesempatan untuk bisa masuk ke sana 'kan?"
"Walaupun begitu, menemukannya akan sulit. Bisa saja letaknya berada sangat jauh. Mencarinya tanpa informasi, hanya membuang buang waktu."
Rafa mengangkat kepalanya dengan pandangan tepat menatap Ash, "Kalau begitu.., apa kak Ash tahu cara untuk membuka celah dimensi?"
Kini Ash dapat melihat tatapan penuh harapan dari Rafa. Entah apa yang diinginkan pemuda itu. Ia jadi penasaran, "Jika aku tahu, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku... Mn.. Ingin bertemu dengan ayahku. Dia tidak pernah menjemputku sejak 6 tahun lalu. Aku ingin bertemu dengannya dan mengetahui bagaimana kondisinya."
Ash terkesiap ketika mendengar ucapan Rafa. Membuka celah dimensi untuk bertemu dengan.. Ayahnya?
Rafa baru teringat bila Ash adalah pemburu iblis walaupun dirinya menjadi dokter. Jika Ash tahu identitasnya, mungkin Ash akan memusuhinya bahkan melenyapkannya. Bukannya ia tidak percaya dengan Ash. Hanya saja, itu adalah kemungkinan yang masuk akal. Jika iblis sudah ada di hadapannya, tentu saja dilawan 'kan? Karena itulah dia menjadi pemburu iblis. "Ah, tidak. Lupakan apa yang kukatakan."
"Dia menyembunyikan sesuatu dariku dan tidak mau mengatakannya. Tapi aku yakin dia ingin pergi ke dunia iblis. Namun untuk bertemu ayahnya? Kenapa? Kenapa ayahnya berada di dunia iblis? Apa ayahnya juga adalah seorang blizt? Apa ayahnya menyerang dunia iblis dan belum kembali setelah beberapa tahun?" batin Ash. Ia memiliki banyak pertanyaan di kepalanya, tapi ia tidak bisa mengungkapkan itu semua dan memaksa Rafa untuk bercerita.
"Kalau begitu, latihan sampai di sini saja. Kau sudah mengalami banyak kemajuan."
Rafa tersenyum tipis ketika mendengar pujian dari Ash. Sepertinya pujian itu berlebihan baginya. Karena selama latihan hari ini, ia tidak bisa menyentuh dan mengalahkan Ash. Kekuatannya sekarang masih belum cukup. Tapi bagaimana jika..
"Kak Ash.. Apa kakak tahu tentang sejarah 'pengaruh mutlak'?"
Ash yang baru saja menuangkan air ke dalam gelas kosong langsung menatap Rafa ketika mendengar pertanyaan itu, "Dari mana kau tahu nama itu? Aku tidak pernah mengatakannya."
__ADS_1
Ekspresi Rafa kini menjadi lusuh. Ia bingung bagaimana harus menjawab. Wajar jika Ash mencurigainya, ia tiba tiba menanyakan hal yang tidak pernah dikatakan dia padanya.
"Apa... Ada seseorang yang kau kenal dan merupakan pemburu? Kau tahu 'pengaruh mutlak' darinya?" tebak Ash.
Bahkan tanpa dikatakan Rafa, Ash bisa menebaknya dengan tepat, "B-begitulah. Aku pun baru tahu bila dia adalah blizt setelah dia mengungkapkannya padaku belum lama ini."
"Lalu apa yang ingin kau ketahui dari 'pengaruh mutlak'? Kau menanyakan itu padaku karena ada sesuatu yang membuatmu penasaran 'kan?"
Rafa mengangguk pelan, "Ada. Apa kak Ash tahu seperti apa kekuatan yang dimiliki 'pengaruh mutlak'? Makhluk berdarah campuran blizt dan iblis."
***
*POV Need
Setelah hari gelap, aku dan dia berpindah tempat ke dalam istana Raja Stev. Aku tidak tahu dimana Radolf itu berada. Dia adalah tangan kanan Leon, tidak mungkin akan ditempatkan di penjara biasa.
Aku dan Leon menyembunyikan hawa keberadaan kami agar bisa mencari dia dengan leluasa. Dia pasti berada di istana ini. Aku yakin dengan itu. Karenanya, kami pergi kemari untuk membebaskannya.
Jika saja bukan karena kemauan Leon, maka aku tidak akan pernah sudi untuk menolongnya. Aku akan membiarkannya mati, bahkan bila itu karena disiksa oleh Raja Stev.
Dan pasti 'dia' lah yang sudah menyebarkan sejarah tentang kekuatan kuno pada Raja lain beberapa waktu setelah Leon menyembunyikan kesalahan Radolf.
Sejak awal Radolf selalu saja membuatku kesal. Sudah dekat dekat dengan Leon, dia juga membuatnya berada dalam bahaya. Lebih baik dia mati.
"Lebih baik kita berpencar saja."
Ucapan dari Leon membuyarkan lamunanku. Mendengar kata katanya, langsung membuatku terkesiap, "Kau tidak tahu jalan di kerajaan ini. Kau akan tersesat. Sementara, aku tahu tempat tempat di sini. Lebih aman jika kita bersama."
Aku tidak ingin dia pergi. Padahal sudah selama ini aku bisa bersama dengannya 24 jam, tapi bagaimana bisa kami berpisah seperti ini? Aku tidak mau.
"Jika kau tahu seluruh ruangan di tempat ini, bukankah seharusnya kau tahu tempat dimana dia ditahan?"
Pertanyaan dari Leon langsung membuatku tersentak. Aku tidak mengira bila dia akan mengatakan hal itu. Tapi apa yang dia ucapkan tidak ada salahnya, "T-tapi..."
"Kau cari ke arah sana, lalu aku ke arah sini. Jika bertemu dengannya, kau tunggulah di luar dan berikan sinyal seperti ledakan atau semacamnya."
__ADS_1
Rupanya Leon tidak mendengarkan ucapanku dan tetap memilih rencananya. Aku mematutkan wajahku karena kesal. Dia pergi begitu saja ke arah yang berlawanan.
Jika itu yang dia mau, maka aku tidak memiliki pilihan lain. Aku akan mengikuti kemauannya.
Aku pun pergi ke arah lain sambil memperhatikan sekitar. Lebih sulit masuk diam diam dibandingkan menyerang secara terang terangan.
Di sekitar sini sangat hening. Bahkan tidak banyak penjaga yang berada di tempatnya masing masing. Ia memakluminya, karena di area ini memang hanya ada sedikit penjaga.
Lorong yang hanya lurus dan terkadang sedikit membelok dengan beberapa ruangan di samping kanan kirinya, memang tidak begitu mencolok. Ruangan ini memang biasa. Namun bila ada penyusup yang masuk ke area ini, mereka pasti akan lebih mudah ditangkap karena tidak banyak tempat sembunyi.
Namun bagiku yang merupakan panglima, seharusnya mereka takkan menyerangku. Jadi kenapa aku harus sembunyi sembunyi seperti ini? Bukankah lebih baik menunjukkannya secara terang terangan saja? Toh, mereka takkan menangkapku.
Aku mulai berjalan sambil sesekali menilik sekitar. Aku belum menemukan penjaga di area sekitar tempat ini. Namun jika jalan lebih ke dalam, aku pasti akan menemukannya. Karena aku tahu betul tempat ini.
"T-tuan Need? A-ada apa Anda berada di sini?"
Ah, aku menemukan dua orang penjaga. Baru saja aku memikirkan keberadaan mereka, mereka sudah muncul menemuiku lebih dahulu.
"Aku hanya ingin memeriksa sekitar area ini. Karena aku merasakan aura yang aneh dari sini," balasku dengan tampang datar. Aku memang tidak pernah menunjukkan perasaan apapun pada iblis lain, kecuali Leon.
"B-baiklah, tapi bukankah Anda seharusnya masih berada di dunia manusia? Kami dengar, semua panglima dari masing masing Raja mengirimkannya ke sana untuk mencari Raja Leon."
"Iya, kudengar Anda sedang pergi ke dunia manusia. Bagaimana Anda bisa berada di sini?"
Kedua penjaga itu menatapku dengan curiga. Sepertinya mereka berpikir bila aku adalah iblis yang menyamar.
Bahkan diriku yang tidak juga menjawab, membuat mereka semakin curiga. Sebelum mereka mamanggil penjaga lain, aku harus membungkamnya.
Jlebb Jleebb
Aku muncul di belakang mereka dan langsung menusukkan tanganku pada keduanya sekaligus.
"Padahal jika kalian diam dan langsung membiarkanku, kalian akan selamat dan masih menghirup napas di udara ini," ucapku dengan datar.
Tubuh mereka berdua pun segera ambruk ke lantai setelah aku mencabut tanganku dari mereka. Ini menyebalkan. Sepertinya aku tidak bisa menemui penjaga lain dengan cara seperti ini.
__ADS_1
POV End~