
Flor yang awalnya sedikit gentar, kini menjadi percaya diri lagi setelah melihat keadaan Leon, "Hah! Ternyata kau akan mati secepat ini. Itulah akibatnya jika kau terlalu sombong!"
Leon berlutut di lantai sambil memuntahkan darah hitam. Rasanya begitu menyakitkan. Pernapasannya seperti tertahan. Perutnya seperti diaduk dan dipelintir. Keringat membasahi keningnya dan tengkuknya terasa dingin. Ini sangat tidak nyaman.
"Dalam beberapa menit lagi kau pasti akan mati," ujar Stev dengan wajah sombong. Ia merasa sudah menang karena membuat Leon seperti ini. Yang harus ia lakukan setelahnya adalah merebut kekuatan milik Leon sebelum Raja lain mendahuluinya. Karena mereka bekerja sama hanya untuk menghabisi Leon. Jika dia sudah mati, maka kerja sama berakhir.
Saat ia mendapatkan kekuatan itu, ia akan memimpin seluruh dunia iblis. Jika para Raja menolak perintah dan menentangnya, maka ia akan menghabisinya. Tidak peduli jika mereka sudah membantu dalam membunuh Leon. Karena baginya, mereka hanyalah alat dan merupakan penghalang.
Silvia menghilangkan kedua elang miliknya. Mereka sudah terluka terlalu parah dan pertempuran sudah berakhir. Tidak perlu mempertahankannya terlalu lama.
"Ha.. Haha.. Hahahahaha.."
Ketiganya menjadi waspada saat mendengar tawa mengerikan dari Leon. Tubuh mereka seketika merinding ketika mendengarnya. Namun bukan berarti mereka takut padanya.
Leon perlahan berdiri. Wajahnya begitu pucat karena kehilangan banyak darah. Tapi seringai terlukis di bibirnya dengan mata melebar namun tajam, "Kalian sungguh bekerja keras memaksaku mengeluarkan seluruh kekuatanku. Kalau kalian sebersikeras itu, maka akan kutunjukkan. Kekuatan yang sebenarnya."
Tubuh Leon sedikit bercahaya hingga membuat para Raja iblis terkejut dengan apa yang ia lakukan. Tidak hanya itu, luka di seluruh tubuhnya seketika menghilang tanpa bekas. Wajahnya yang pucat pun menghilang.
Stev sendiri dapat merasakan bila racun yang bercampur di dalam tubuh Leon menghilang begitu saja. Ia dibuat semakin terkejut oleh hal itu. Bagaimana dia bisa melakukannya?! Itu bukanlah racun lemah, tapi kemampuan racun terkuat miliknya. Tidak mungkin Leon dapat menghilangkannya begitu saja.
"Jika bukan karena mereka, aku pun tidak akan menyadari kemampuanku yang sebenarnya," batin Leon. "Aku baru terpikirkan sesuatu. Selama bertarung melawan mereka sekarang dan sebelumnya, aku sudah kehilangan banyak darah.
Tapi aku bisa menyembuhkan kondisi itu. Kemampuan penyembuh memang bisa menutup luka, tapi tidak dengan menambahkan darah yang sudah keluar.
Karena itu, kekuatanku yang sebenarnya pasti bukan penyembuhan. Melainkan..., manipulasi waktu. Aku menyembuhkan diri dengan mengembalikan waktu ke saat aku belum terluka, itulah penyebab kenapa aku bisa sembuh. Tapi aku tidak tahu batas waktu ini. Berapa waktu lalu yang bisa kukembalikan?" batin Leon.
"Kau.. Bagaimana bisa kau menghilangkan racun dariku?" ujar Stev dengan perasaan was was.
__ADS_1
Leon melirik Stev dengan dingin, "Karena aku lebih kuat darimu."
Kata kata meyakinkan, percaya diri dan kesombongan, bukanlah tanpa sebab Leon selalu berbicara seperti ini. Jika ia mengatakan sesuatu seperti ini, maka lawan akan merasakan tekanan darinya dan berpikir jika ia bisa mengalahkan mereka dengan mudah.
Ia ingin membuat lawannya berpikir jika mereka tidak akan bisa menang dan akhirnya menyerah. Jujur saja, ia sudah kehilangan banyak kekuatannya. Ia tidak bisa melawan mereka terlalu lama. Menggunakan kemampuannya terus menerus seperti ini membuat kekuatannya terkuras banyak.
Cahaya yang menerangi tubuh Leon kini menghilang bersamaan dengan keadaannya yang kembali dengan normal tanpa luka.
"Omong kosong! Kau pasti sudah tidak bisa melawan kami 'kan? Kau hanya mencoba memanas manasi kami dan membuat kami menyerah. Iya 'kan? Kau tidak mungkin sekuat itu," balas Silvia dengan tatapan marah.
Leon menyeringai dan tiba tiba muncul di samping Silvia, "Kau pikir begitu?"
"...!" Silvia melihat ke samping. Namun terlambat, Leon sudah menendang tubuhnya hingga ia terpental ke dinding dan menghancurkannya.
Leon menapak di lantai tempat sebelumnya Silvia berada. Matanya mulai menyipit, "Ah maaf, tidak seharusnya aku kasar seperti itu pada wanita. Tapi dia yang sudah memulainya. Jadi ya.. Bagaimana?"
Hatinya kini mulai meragu jika mereka dapat memusnahkan Leon. Dia muncul tiba tiba di samping Silvia, walau wanita itu sudah bersikap waspada. Bahkan dia sempat memberikan serangan padanya.
Ralt maju beberapa langkah ke depan ketika melihat raut keraguan dari Raja iblis lain. Ia mendengus, "Apa hanya sebatas itu saja keinginan kalian? Sebatas itu saja ambisi yang kalian miliki? Maka, kalian tidak layak menjadi Raja iblis. Kalian takut 'kan? Maka tidak perlu melanjutkannya, biar aku saja. Jangan memaksakan diri. Aku tahu, tidak semua iblis dapat mengatasi rasa khawatir akan iblis yang lebih tinggi darinya. Jadi aku paham bagaimana perasaan kalian."
Flor menaikkan kedua alisnya saat mendengar ucapan dari Ralt. Ia menggeram marah dan mengepalkan kedua tangannya, "Apa maksudmu?! Aku tidak takut dengan apapun! Apalagi dengan Raja iblis seperti dia!" ia menunjuk ke arah Leon berada, seolah sedang menantangnya.
"Begitukah? Tapi yang kulihat, kau sedang ketakutan padanya sekarang," balas Ralt sambil melirik Flor dengan tatapan remeh.
"Aku bukanlah penakut!" geram Flor. Ia pun langsung menatap Leon dengan tatapan penuh kemarahan.
Stev pun membuang perasaan ragunya dan kembali menatap Leon dengan tajam. Walau sudah menunjukkan hal seperti itu, tapi ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan kekuatan kuno yang berada di dalan tubuh Leon.
__ADS_1
Flor awalnya berjalan perlahan mendekati Leon. Namun lama kelamaan, langkahnya semakin cepat. Saat berada tepat di depan Leon, ia langsung mengayunkan pedang miliknya pada pemuda itu. Tapi Leon dengan cepat memiringkan kepalanya dan menendang Flor.
Saat berpikir tendangan itu mengenainya, Leon dibuat terkejut saat genangan darah muncul dan melindungi Flor dari tendangannya. Darah itu seolah menjadi perisai.
Memanfaatkan kesempatan, Flor dengan segera mengayunkan kembali pedangnya. Bukan hanya sekali, ia terus mengayunkannya ke kanan dan kiri berkali kali hingga membuat Leon terus termundur.
Stev tidak mau kalah. Ia memunculkan tebing es tepat di bawah kaki Leon berpijak.
Leon terkejut dan tubuhnya pun tidak seimbang saat permukaan lantai meninggi. Akhirnya ia jatuh ke bawah. Di saat yang bersamaan, seekor serigala berukuran 3 meter berkepala dua berlari dari arah samping dan langsung mengayunkan cakar ke arahnya hingga ia terlempar ke arah lain.
Bruukk
Tubuh Leon langsung terbanting ke lantai dengan keras hingga membuat retakan di lantai. Walaupun sudah menyilangkan tangannya, namun Leon tetap saja mengalami luka.
"Itu adalah balasan karena sudah menyerangku tadi," ucap Silvia dengan dingin. Ia mengusap tepi bibirnya yang mengeluarkan darah.
Tanpa membiarkan Leon beristirahat, ketiganya langsung menyerang Leon dengan membab* buta. Gunungan es, jarum darah, monster, pedang, tombak, gravitasi, semua kekuatan itu menyerangnya dengan ganas. Tidak ada jeda bahkan hanya untuk menarik nafas.
Need membeku di tempat. Ia tidak bisa melakukan apapun ketika pertempuran itu semakin sengit dan buas. Jika ia terlibat, maka ia hanya akan menyusahkan Leon. Tapi hanya melihat dan mengamati seperti ini, membuatnya merasa tidak berguna.
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Karena kau, akan berguna di sini."
Need terkejut. Ia langsung melompat mundur sambil menatap arah suara itu, "Kau.."
Ralt berdiri di dekat Need tanpa melakukan apapun. Bahkan ketika yang lain sedang berjuang sekuat tenaga, ia hanya membantu dengan kemampuan gravitasinya dari jarak jauh, "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Karena aku, adalah penciptamu."
Need menelan ludahnya. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak saat melihat seringai dari bibir itu.
__ADS_1