Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 84 -Kite


__ADS_3

Nevan terus mengedarkan pandangannya ke sekitar. Namun tak menemukan apa yang ia cari. Napasnya memburu dengan cepat setelah berlarian sekian lama. Tidak bisa disembunyikan ekspresi panik dan khawatir yang tergambarkan di wajahnya, "Sebenarnya dimana mereka?"


Pemandangan di sekitarnya adalah sebuah perkotaan. Namun bukan gedung gedung menjulang tinggi serta kendaraan yang ia lihat. Melainkan rumah rumah biasa yang terbuat dari kayu dengan satu sampai tiga tingkatan.


Dalam penglihatannya, iblis 'lah yang berlalu lalang. Karena mereka semua memiliki tanduk, serta telinga runcing. Awalnya Nevan mencoba sembunyi, namun sebelum itu dilakukan, ia mengetahui sesuatu. Semua iblis di sini tidak melihatnya. Ia seperti tidak terlihat di mata mereka.


Nevan menegak ludahnya sendiri sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia yakin semua iblis ini tidak melihatnya, jadi ia tidak mencoba bersembunyi. Walaupun merasa lega, namun situasi ini pun aneh. Ia mengumpulkan keberanian dan berjalan mendekati salah satu iblis yang sedang berdiri di depan gerobak sayuran.


"P-permisi.."


Tidak ada respon dari iblis itu. Dia hanya terus berteriak menjajakan dagangannya, seolah Nevan hanya angin lalu baginya.


Nevan kini mencoba menyentuh iblis itu, namun tangannya hanya menembus. Ia tersentak kaget dan memperhatikan tangannya sendiri, "K-kenapa? Apa yang terjadi?"


Kini Nevan mencoba menyentuh gerobak sayur yang ada di hadapannya. Namun hal sama terjadi. Ia hanya menembusnya, tanpa bisa menyentuh apapun. Ia berkedip dan semakin risau, "Siapapun! Dengarkan aku!"


Nevan mencoba berteriak sekencangnya, namun tidak ada satu pun dari suaranya yang masuk ke dalam gendang telinga iblis ini.


Nevan berjalan menjauh dari iblis yang sedang berjualan tadi dan mulai mencoba menyentuh apapun yang ada di sekitarnya. Namun hal yang sama terus terulang. Ia tidak bisa menyentuhnya. Bahkan iblis yang melewatinya terus menembus, seolah ia hanya angin lalu.


Nevan menelan ludahnya dan bergumam, "Tidak mungkin aku sudah mati, 'kan? Bagaimana aku bisa mati tiba tiba tanpa tahu penyebabnya?"


Nevan menggeleng dan tertawa. Ia tidak percaya jika dirinya akan mati seperti ini. Bahkan entah bagaimana dirinya malah bergentayangan di dunia iblis.


"Apa kau sekarang sudah gila?"


Nevan berkedip beberapa kali. Ia melihat ke sebuah kedai makanan. Di sana terdapat sepasang kursi dengan meja bulat kecil yang berada di depan teras. Seorang pemuda nampak menyesap sebuah teh seorang diri.


Nevan menggeleng. Tidak mungkin ia yang sedang dibicarakan. Karena setahunya, semua iblis di sini tidak dapat melihatnya.


"Aku bicara padamu."


Nevan kembali menatap pemuda itu saat merasa yakin jika suara itu berasal darinya. Ia perlahan mendekat dan setelah tepat berada di depannya, ia pun mencoba menyentuh bahunya.


"...?!"


Mengejutkannya, Nevan bisa menyentuh bahunya. Bahkan ini terasa begitu nyata. Ia bisa merasakan kain dan tubuh pemuda ini.


"Apa kau berpikir jika aku adalah roh gentayangan?"


Nevan tersentak saat pemuda itu menaruh teh nya dan berbicara sambil menatapnya. Ia spontan melepaskan lengannya dari bahu itu dan melihat sekeliling. Tidak ada iblis yang sedang berhadapan dengan pemuda ini selain dirinya.

__ADS_1


"Aku berbicara padamu. Bukan pada mereka."


Nevan kembali menatap ke depan dengan raut syok. Pemuda itu benar benar melihat ke arahnya dengan ekspresi datar. Ia pun menunjuk dirinya sendiri, "Kau bicara padaku?"


Pemuda itu menghela napas dan mengangguk. Dia menepuk pelan meja kecil di depannya, mengisyaratkan agar lawan bicaranya ini duduk.


Nevan pun mengikuti apa yang diisyaratkan. Ia tertegun sejenak, karena kursi yang ia pakai ternyata tidak menembus tubuhnya. Ia segera memandang pemuda itu dengan raut heran, "Bagaimana bisa kau melihatku? Padahal yang lain tidak bisa melihatku sama sekali di sini."


Pemuda itu menyeruput teh di cangkir sebelum membuka suara, "Jawabannya mudah. Karena aku bukan bagian dari mereka."


Nevan memiringkan kepalanya dan belum mengerti, "Maksudmu 'mereka'?"


"Iblis iblis ini sudah mati. Bisa dikatakan ini adalah dunia roh dimana para roh iblis yang masih belum tenang tinggal. Sebaiknya kau tidak terlalu berinteraksi dengan mereka, atau kau akan sulit untuk kembali."


Nevan terkejut mendengar penuturan dari pemuda di depannya. Ia jadi merasa tertekan. Ia paling tidak suka dengan hal berbau mistis seperti ini, "Lalu bagaimana denganmu? Apa kau juga hantu?" ucapnya dengan spontan.


"Tidak, aku hanya tidak sengaja masuk kemari karena aku tidak memperhatikan."


Nevan terdiam ketika melihat reaksi pemuda itu yang terlihat masih bisa tenang. Bahkan meminum teh?!


Nevan menjadi semakin penasaran, "Kau siapa? Bagaimana kau bisa ada di sini?"


"Namaku Nevan. Aku tidak sengaja berada di sini, bagaimana denganmu?"


"Namaku Kite. Seperti yang kukatakan, aku tidak sengaja masuk kemari karena tidak memperhatikan. Kau.. Tidak mau menyerangku?"


Nevan tersentak mendengar ucapan Kite. Ia memperhatikan pemuda itu dengan baik. Memang terdapat tanduk dan telinga runcing pada orang di depannya ini. Tapi dia tidak mencoba menyerangnya, lalu untuk apa dirinya harus menyerang iblis yang tidak melakukan apapun padanya?


Saat memikirkannya, tiba tiba terlintas pertanyaan di dalam kepala Nevan. Ia berekspresi serius, "Apa maksud 'menyerang' yang kau maksud?"


"Kau adalah blizt, sedangkan aku iblis. Blizt adalah pemburu iblis, lalu sekarang ini iblis ada di hadapanmu. Kau tidak mau menyerangku?"


Nevan memperhatikan dengan serius, "Bagaimana kau tahu jika aku adalah blizt?"


Kite berkedip, ia pun berdehem, "Kau tidak memperlihatkan tanduk ataupun telinga runcingmu. Padahal ini adalah dunia iblis. Jika pun ada manusia yang tanpa sengaja masuk ke celah dimensi, seharusnya dia tidak akan berekspresi setenang dirimu dan akan terus ketakutan.


Tapi itu kemungkinan kecil jika ada manusia biasa yang bisa masuk, karena celah dimensi tidak akan bisa dilihat oleh orang biasa. Jadi dari kesimpulan itu, kau adalah blizt."


Nevan mengatupkan mulutnya. Berarti itu baru saja tebakan dan dirinya mengungkapkan identitas aslinya, "A-apa kau mau memangsaku?"


"Jika kau mempersilahkannya, maka akan kunikmati dengan baik."

__ADS_1


Nevan seketika menegang dan menggeleng cepat, "Apa maksudmu?! Kau benar benar ingin memangsaku? Kau mau bertarung, huh?"


Kite tidak menyangka dengan reaksi Nevan yang seketika menegang itu. Ia tertawa pelan dan menggeleng menyaksikan kepolosan manusia itu, "Jika aku ingin, aku tidak perlu mengatakannya padamu terlebih dahulu dan aku akan langsung memakanmu."


Walaupun Kite sudah mengatakan itu, namun Nevan masih memberi tatapan waspada pada Kite. Seharusnya ia tidak sesantai dan selega itu saat bertemu Kite. Walau Kite berada pada posisi sama dengannya sekarang, tapi Kite tetaplah iblis.


Melihat bahwa manusia di depannya merasa waspada, membuat Kite kembali berucap. "Aku serius, aku tidak akan memakanmu. Lagi pula, aku tidak begitu menyukai jantung dan daging manusia."


Nevan sedikit menarik napas dan memandang Kite secara keseluruhan, "Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau begitu santai, padahal kita berada di tempat aneh seperti ini?"


"Karena aku pasti akan segera keluar dari sini. Jadi aku hanya tinggal menunggu waktunya saja, mungkin sebentar lagi."


Mendengar ucapan Kite, membuat Nevan tersentak kaget dan merespon cepat, "Kau tahu cara pergi dari sini? Bagaimana caranya?!"


"Kau akan sadar dan keluar dari sini jika ada orang di dunia nyata membangunkanmu atau mengalahkan tubuhmu yang dirasuki roh iblis."


Nevan terkejut, sedangkan Kite kembali menyesap teh nya dengan tenang.


"M-memangnya kau yakin akan ada orang lain yang membangunkanmu? Kau bersama seseorang?"


"Mn.. Bisa dikatakan begitu. Dia adalah iblis yang cukup menarik. Kau mungkin akan senang bertemu dengannya."


Nevan mengerutkan kening ketika mendengar ucapan itu, "Maksudmu? Siapa? Siapa iblis itu?"


Kite mengusap usap dagunya sambil tersenyum, "Dia memiliki paras yang cantik. Namun tidak hanya itu, dia juga kuat. Sikapnya dingin, tapi dia sebenarnya pemalu dan baik. Dia sangat bisa diandalkan."


Nevan langsung terpikirkan sosok yang dijelaskan. Dalam pandangannya, itu seperti kesatria wanita yang kuat dan seorang pemimpin yang tegas.


"Tapi.. Hah.. Dari yang kulihat, dia setengah."


Nevan berkedip beberapa kali karena tidak mengerti dengan ucapan lanjutan dari Kite, "Maksudmu?"


Saat Kite baru saja menarik napas untuk menjelaskan, tubuhnya tiba tiba menjadi transparan. Hal ini disadari olehnya sendiri dan membuatnya tersenyum, "Baru saja dibicarakan. Ternyata aku bisa kembali secepat ini."


"H-hei.. Kau baik baik saja?" Nevan menjadi cemas ketika melihat tubuh Kite mulai menghilang.


Namun sebelum hilang sepenuhnya, Kite tersenyum sambil menatap Nevan, "Kita pasti akan bertemu lagi. Karena aku melihat, kita berada di jalan yang sama."


"Tunggu–"


Nevan terlambat menggapai pemuda itu, Kite telah menghilang entah kemana. Ia melihat sekitar. Sekarang ia tidak memiliki teman untuk mengobrol lagi. Selain itu, dirinya berada diantara roh roh gentayangan ini. Ia tidak bisa untuk tidak khawatir saat sendirian berada di tempat seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2