
Cukup lama Stev dan Silvia memandangi langit dan menghentikan pertarungan. Keadaan langit saat ini benar benar telah menarik pandangan mereka dan mengalihkan fokus. Mereka yang awalnya hanya terfokus pada kristal hitam pekat itu mulai mencemaskan keadaan langit yang begitu gelap.
Bahkan kegelapannya hingga membuat pemandangan sekitar sedikit tertutupi. Sangat sulit melihat di keadaan ini. Kegelapan sekarang pun bisa dikatakan mengalahkan kegelapan malam yang biasanya. Gemuruh dan petir di langit menjadi pencahaya bagi sekitar. Namun di sisi lain, petir pun membawa rasa khawatir bagi banyak iblis.
Tanah mulai bergetar hebat hingga membuat Stev serta Silvia tersentak kaget. Tubuh mereka goyah dan akhirnya terjatuh tanpa bisa ditopang. Saat ini terjadi, tubuh mereka justru sudah kelelahan hingga merasa tidak kuat lagi untuk berdiri.
Setelah diperhatikan dengan baik, Stev baru menyadari betapa kacaunya istana ini sekarang. Ia sudah memperkirakan bila hal ini akan terjadi bila Raja saling bertarung. Namun.. Pertarungan itu bahkan membuat puing puing bangunan yang begitu berat sampai terdorong sangat jauh. Mayat yang sebelumnya bergelimpangan di aula kini rusak dan berada sangat jauh dari lokasi aula seharusnya berada.
Silvia sendiri mencengkram dadanya. Ia merasa begitu sesak karena serangan racun yang dialamatkan Stev padanya. Ia juga bisa merasakan ada beberapa organ dalamnya yang mengalami masalah. Tak lama dari itu, ia langsung memuntahkan seteguk darah.
Kristal itu berada di tangan Stev. Ia ingin merebutnya dari pria itu, namun rasanya tidak bisa. Kakinya sudah tidak kuat untuk berdiri. Apalagi dengan keadaan tanah yang bergetar ini. Mustahil baginya merebut itu.
Stev perlahan berdiri dengan sekuat tenaga. Walaupun tanah bergetar sekalipun, ia tidak akan melepaskan kristal hitam di tangannya. Ia memandang Silvia dengan sinis, "Menyerah saja, kau sudah kalah. Pemenang dari ini adalah aku."
"Uhuk.. Sampai kapanpun.., aku tidak akan mengakuimu sebagai penguasa.. Dunia ini..," balas Silvia dengan tatapan tajam.
Saat perang dingin terjadi diantara mereka, di tempat pohon kehancuran tumbuh, benda benda bulat berwarna merah yang muncul di semua batang pohon mulai retak satu persatu. Dari dalam, keluar kupu kupu berwarna putih seukuran telapak tangan. Tidak hanya satu, ada ratusan, bahkan ribuan dalam satu benda itu.
Kupu kupu putih itu mulai berkumpul di atas pohon sebelum akhirnya terbang menyebar. Mereka seolah bercahaya dan nampak indah di langit yang kini begitu gelap.
Para iblis terpukau ketika melihat kupu kupu itu. Walau ukurannya sedikit lebih besar dibanding kupu kupu pada umumnya, namun mereka tetap terlihat indah. Bahkan banyak dari para iblis yang terus memperhatikannya tanpa berkedip. Sejak kemunculan kupu kupu itu, tanah yang semula bergetar dengan hebat berhenti.
Ini adalah kejadian pertama kalinya di dunia iblis. Sebelumnya mereka belum pernah mengalami kejadian Ini. Tapi melihat keindahan sayap kupu kupu yang terbang itu, membuat siapapun merasa terpikat.
Salah satu iblis mengulurkan tangannya hingga kupu kupu yang terbang di dekatnya langsung hinggap. Matanya seketika berbinar ketika melihat keindahan kupu kupu dari dekat.
Ia pun berteriak senang, "Hei, kalian semua! Lihatlah, mereka sangat indah! Aku mendapatkan satu!"
Melihat tidak ada yang aneh pada iblis itu, iblis lain yang berada di sana mulai mengulurkan tangannya hingga para kupu kupu itu hinggap di tangan ataupun kepalanya.
__ADS_1
Mereka seolah bersenang senang bersama para kupu kupu tanpa merasa waspada sama sekali. Lalu disaat mereka menikmati keindahannya, sesuatu seperti tentakel keluar dari kupu kupu yang hinggap. Dua buah tentakel dalam satu kupu kupu langsung menusuk jantung para iblis. Namun ada pula kupu kupu yang menusukkan tentakelnya pada kepala hingga iblis itu mati seketika.
Tidak ada yang sempat bereaksi. Tubuh para iblis ambruk satu persatu ke tanah. Bahkan iblis yang terkejut dengan kejadian itu segera ikut tertusuk dan mati saat itu juga.
Para kupu kupu masih hinggap di tubuh mayat yang bergelimpangan dalam satu desa. Tentakel pun masih menancap pada tubuh iblis sebelum akhirnya mereka melepaskannya dan terbang menjauh dengan sayap berwarna merah.
Tidak ada keributan yang berarti. Satu desa segera hilang hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Para kupu kupu itu meninggalkan desa dengan sayap yang kembali berwarna putih seperti tak pernah ternodai. Gerakan sayap mereka begitu anggun, dan seolah tidak berbahaya sama sekali.
Para mayat iblis yang mati karena kupu kupu itu segera berubah. Tubuh mereka tak teraliri darah dan daging. Mereka menjadi seperti tulang belulang yang terselimuti kulit.
Tidak ada satu pun iblis yang terlewat dari kematian ini. Jadi, tidak ada iblis di tempat lain yang tahu akan kejadian yang berlangsung selama beberapa menit tadi. Entah desa ini berakhir karena takdir atau karena sial.
Langit yang seharusnya cerah masih saja gelap dan tertutup awan. Kilatan di langit sudah berhenti, namun itu tidak membuat kegelisahan benar benar menghilang.
Kini masalah mulai menerpa. Para kupu kupu pembunuh ini menyebar ke berbagai tempat di dunia iblis dengan jumlah tak terhitung. Apalagi benda bulat aneh tempat kupu kupu keluar masih banyak tergantung di pohon.
Yang terkena dampak paling awal tentunya yang memiliki tempat tinggal di dekat hutan dimana para monster berada dan tempat yang berada cukup dekat dengan tanah gersang dimana pohon kehancuran tumbuh. Tempat tempat itu bahkan lenyap hanya dalam waktu setengah hari ketika hari seharusnya telah siang.
***
Di dunia manusia, sekolah tempat Rafa kini berada. Kevin yang datang telat ke sekolah mendapat hukuman untuk membersihkan toilet. Ia sampai tidak bertemu dengan Rafa sejak pagi, padahal ada sesuatu yang harus ia katakan pada pemuda itu.
Setelah selesai dengan hukuman saat tengah hari, Kevin masuk ke dalam kelas dan mencari keberadaan Rafa. Namun nihil. Ia tidak menemukan orang yang dicari. Ia bukanlah orang yang dekat dengan teman satu kelas yang lain, sehingga ia ragu untuk menanyakan keberadaan Rafa. Terlebih, kebanyakan orang di kelas tidak menyukainya.
Ia pun pergi ke kantin. Namun tidak menemukannya. Semua tempat telah ia telusuri, kecuali taman belakang sekolah. Rafa memang hanya di situasi tertentu berada di sana, tapi tidak menutup kemungkinan jika temannya sedang di taman itu.
Dan ternyata itu benar. Rafa duduk sendirian di bawah pohon. Tidak ada siapapun di sini, kecuali dirinya. Murid murid jarang kemari karena takut dengan rumor keangkerannya. Namun sebenarnya itu semua hanyalah rumor. Nyatanya tidak ada kejadian aneh apapun di sini, walau tempatnya memang sedikit menyeramkan dengan beberapa pohon rindang di sekitar.
__ADS_1
"Rafa.."
Rafa tersentak saat menyadari suara dari Kevin. Ia yang awalnya duduk sambil melamun kini seketika berdiri.
Kevin berjalan mendekat dan saat berada di depan Rafa, ia segera membuka mulut. Namun tak sempat berbicara, Rafa memotong ucapannya, "Apa yang kau lakukan di sini?"
Kevin tertegun sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Untuk bertemu denganmu."
Rafa berekspresi datar ketika mendengar jawaban dari pemuda itu, "Apa lagi yang kau inginkan dariku?"
"Apa kau marah padaku karena ucapanku sebelumnya?"
Rafa terdiam karena tidak bisa menjawab ucapan Kevin. Sebenarnya ia tidak tahu apakah dirinya marah atau tidak pada temannya itu, namun entah mengapa ia ingin menjauh dari Kevin dan ada rasa kesal yang tertahan dalam dirinya.
Melihat tidak ada tanggapan dari Rafa, membuat Kevin kembali membuka suara, "Aku mengaku salah. Tidak seharusnya aku berbicara begitu kasar pada anak itu. Aku hanya terlalu terbawa emosi. Aku terlalu syok. Aku merasa frustasi karena tiba tiba menjadi cacat satu tangan.
Bahkan saat orang tuaku datang, bukannya itu membuatku lebih baik, namun hal itu malah memperburuk keadaanku. Kata kata mereka begitu menusuk hingga membuatku tidak ingin hidup lagi.
Perkataan ayah yang tidak menginginkanku hidup dan dia yang tidak mau mengakuiku yang telah kehilangan satu tangan, itulah yang paling menyakitkan. Bahkan ketika aku sakit, di depanku mereka masih berselisih."
Rafa tahu betul bagaimana sifat dari orang tuanya yang selalu mementingkan pekerjaan dan mengabaikan Kevin. Bahkan kedua orang tua temannya itu selalu berselisih hingga membuat Kevin tertekan. Tapi ia tidak menyangka bila orang tuanya akan mengatakan ucapan kejam seperti itu saat Kevin tertimpa musibah.
"Emosiku benar benar naik turun. Kuharap kau mau mengerti dan mau memaafkanku. Aku tidak berniat menyalahkan penyebab masalah adalah anak itu. Tapi keadaan saat itu.. Ya.. Kau tahu sendiri," lanjut Kevin dengan raut harap.
Rafa menjadi merasa bersalah ketika mendengar semua itu. Yang membuat orang tua Kevin datang adalah dirinya dan hal itu malah membuat tekanan bagi temannya, "Aku juga minta maaf karena tidak mau mengerti keadaanmu. Aku tahu kejadian itu pasti sangat mengejutkanmu. Jika aku berada di posisimu, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama.
Tapi aku terlalu egois dan memikirkan diriku sendiri. Aku minta maaf."
Senyum Kevin merekah ketika mendengar ucapan Rafa. Ia mengulurkan tangan, "Jadi berbaikan?"
__ADS_1
Rafa menatap tangan Kevin yang terulur. Ia pun tersenyum tipis dan menjabat tangannya sambil mengangguk pelan.