Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 140 -Axelle


__ADS_3

"Iya aku tahu itu. Aku tidak memintamu untuk menghidupkanku lagi. Karena bagaimanapun, kau juga sudah mati. Kau tidak akan bisa menggunakan kekuatanmu yang luar biasa itu jika kau terlanjur mati," ucap Teddy dengan santai.


"Lalu, kenapa kau bisa berada di sini? Bukankah seharusnya kau sudah menyeberang ke alam lain?" tanya Leon dengan ketus.


"Kau pikir ini akibat siapa?" Teddy mendengus dengan kasar. Rautnya juga berubah sedikit tidak bersahabat, "Karena kau menggunakan kekuatan itu agar aku bereinkarnasi dengan tujuan menghabisi Osmond, aku jadi tidak bisa pergi ke alamku dengan tenang. Aku masih tertahan di sini dan terus menyaksikan sepak terjang yang kau lakukan sejak kematianku."


Leon terdiam mendengar jawaban Teddy. Keadaannya yang masih tertahan di sini pun sepertinya karena hal yang sama.


Teddy melanjutkan, "Untung saja, setelah aku mati dan ke tempat ini, ingatan ingatan sebelumnya muncul. Karena itu, aku tidak kebingungan berada di sini. Jika saja aku tidak mendapatkan ingatan kehidupanku sebelumnya, mungkin aku sudah menghabisimu saat kau sampai di sini," ucapnya dengan sadis.


Leon berkedip, "Kau sekarang ingin menghabisiku?"


"Tidak jadi," Teddy menggeleng.


"Jadi maksudmu, kau sudah berniat akan menghabisiku di sini sebelumnya?"


"Tidak, bukan itu maksudku–ah sudahlah, jangan dipikirkan!" Teddy menjadi kelabakan mendengar tuduhan dari Leon. Ditanyai tiba tiba seperti ini membuatnya terkejut dan sulit menjelaskan.


"...Yang pasti, kita sekarang masih berada di sini karena masalah Osmond yang belum selesai. Lalu... Sejujurnya aku menemuimu karena ada seseorang yang memiliki urusan denganmu... Sebaiknya kau bersiap dan berhati hati dengannya."


Leon mengerutkan kening. Rasa penasaran langsung menyeruak ke dalam tubuhnya. Namun rasa penasaran itu tidak lama kemudian terjawabkan.


"Sepertinya kalian sudah selesai berbicara ya... Karena itu, setelah ini aku akan menyelesaikan urusanku."


Teddy menelan ludah. Wajahnya seketika tegang dan refleks tubuhnya langsung berdiri. Ia membelakangi Leon dan melihat seorang pria dengan tubuh tinggi berjalan mendekat. Rambutnya berwarna emas dengan warna mata kiri merah dan kanan berwarna biru. Hidungnya mancung dengan kulit berwarna putih bersih. Matanya terlihat tajam seolah akan mencincang habis siapapun yang ditemuinya.

__ADS_1


Leon mengerutkan kening dan berdiri. Ia ikut memperhatikan orang yang baru saja datang dan melihat seorang pria. Padahal pria itu hanya datang dengan cara biasa, namun aura yang dikeluarkannya begitu menekan. Bahkan untuk Leon sekalipun.


Namun sepertinya Teddy tidak merasakan tekanan itu. Nyatanya dia masih bisa berdiri tegak walaupun raut wajahnya sangat tegang seolah malaikat maut berada di depannya.


Walaupun hanya berupa jiwa, Leon tetap merasakan tekanan kuat. Bahkan tekanan itu sepertinya memang dikhususkan untuk menyerang jiwa, bukan tubuh nyata, "Siapa orang itu? Apa dia manusia?" batinnya. Ia berpikir demikian karena pria itu tidak memiliki tanduk. Namun bisa saja dia menyembunyikannya dan tidak menunjukan itu.


Pria itu berhenti mendekat saat berada di hadapan Leon dengan Teddy yang berada di pinggir pemuda itu. Ia mendengus dengan tatapan tajam. Matanya terus terarah pada Leon, "Jadi kau yang melakukan semua kekacauan ini. Aku sudah sangat ingin bertemu dengan makhluk yang sudah membuat keributan besar di tempat kekuasaanku."


Leon mengerutkan kening, namun hanya diam. Ia tidak bisa menggerakkan satu bagian tubuhnya sama sekali. Bahkan berbicara pun rasanya sulit.


"Sebelum kau berada di sini, aku sudah berbicara dengan temanmu sebelumnya. Ternyata kemampuanmu itu memang berbeda dibandingkan makhluk lain. Kau sudah melampaui apa yang seharusnya tidak dilakukan dan melakukan hal tabu," ucap pria itu.


Leon masih tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh pria itu. Bahkan ia tidak tahu identitas dari orang di depannya.


"Sepertinya kau sudah tahu sekuat apa aku," setelah pria itu mengatakan ini, tiba tiba tekanan yang ada di tubuh Leon perlahan menghilang bagaikan air yang menguap.


Pria itu tidak menjawab dan Teddy pun berinisiatif untuk menjawabnya, "Dia adalah Raja dunia bawah, bernama Tuan Axelle."


Leon menatap pria itu dari atas ke bawah tanpa menggerakkan kepalanya. Aura tadi sudah membuktikan jika pria itu lebih kuat darinya. Namun ia perlu melihat penampilannya. Tidak ada yang aneh, kecuali matanya yang sama seperti Michael.


"Kau yakin dia bukan salah satu dari bawahan Osmond yang lain? Matanya sama dengan Michael," ucap Leon dengan pelan.


Pria yang diperkenalkan Teddy sebagai Axelle itu mengangkat sebelah alisnya dengan raut tak suka, "Kau menyamakanku dengan pengkhianat itu?"


Sesaat Leon merasakan tekanan di tubuhnya setelah Axelle menyelesaikan ucapan. Wajahnya sampai berkerut menahan sakit yang seolah menyayat dan menekan dirinya.

__ADS_1


"Michael adalah pengkhianat yang tidak akan pernah dimaafkan. Lalu sekarang kau menyamakanku dengannya?" Axelle mendengus.


"Kau harus menjaga ucapanmu! Dia adalah Raja dunia bawah, tempat selanjutnya setelah kematian! Jika dia ingin, mungkin dia sudah menghilangkan jiwamu sekarang," bisik Teddy.


Leon terdiam mendengar ucapan Teddy. Axelle tidak menghilangkan jiwanya mungkin karena dia masih memiliki urusan dengannya, "Kalau begitu, apa yang kau inginkan?"


Teddy tersentak, "Gunakan 'Tuan', gunakan kata 'Tuan'. Hormati dia. Jika dia mau, dia bisa memanggil pasukannya yang ada di dunia bawah untuk menyerangmu!" bisiknya dengan hati hati.


"Kau tidak mungkin menemuiku hanya untuk bertegur sapa. Teddy sudah mengatakan jika kau memiliki urusan denganku. Katakan saja sekarang," ucap Leon tanpa nada.


Teddy menyenggol lengan Leon, "Sssttt... Gunakan 'Tuan' gunakan itu! Kau tidak mendengar ucapanku ya? Jika dia mau, mungkin dia sudah menghabisimu dengan satu serangan mematikan!"


Leon menatap Teddy dengan jengkel. Sejak tadi pria itu selalu saja mengganggu suasana dan terus mengatakan kata 'jika ingin' 'jika mau'.


"Tidak apa, mungkin memang beginilah sopan santun dari seorang Raja iblis," Axelle menatap Leon dengan rendah seolah Leon makhluk paling rendah yang ia lihat.


Leon hanya diam tanpa terpancing ucapan Axelle. Menurutnya, lebih penting adalah urusan yang ingin dikatakan Axelle, "Apa urusanmu?"


Axelle mengepalkan tangan. Rasanya kesal juga jika tidak mendapat tanggapan dari lawan bicaranya, "Baiklah, kita ke intinya saja. Kau sudah mengubah takdir banyak orang yang seharusnya sudah mati dan menghidupkannya kembali.


Ditambah, saat perang yang terjadi di dunia iblis itu, kau juga mengubah takdir banyak makhluk dan membuat mereka bereinkarnasi tanpa kehendak dari 'kami'. Karena ulahmu, dunia bawah mengalami masalah dengan jiwa jiwa yang datang dan jiwa yang akan dikirimkan untuk reinkarnasi."


Leon mengerutkan kening, "Lalu apa yang kau ingin aku lakukan? Membantu menyelesaikan persoalan di dunia bawah? Membunuh orang orang yang sudah kureinkarnasikan? Atau kau... Ingin jiwaku hancur sebagai balasan dari perbuatanku?"


"Kau ingin mati begitu saja setelah membuat masalah?" Axelle mendengus dan tersenyum. Namun itu adalah senyum meremehkan, "Tidak semudah itu. Jika kau harus menghabisi orang orang yang kini masih hidup, kau takkan bisa melakukannya tanpa perantara. Sekarang kau bukan lagi makhluk hidup, kau adalah jiwa tanpa tubuh. Menghabisi tubuh seseorang yang hidup takkan bisa kau lakukan."

__ADS_1


"Oh? Apa karena ini juga kau tidak langsung menghabisi jiwa jiwa yang kuubah takdirnya?" ucap Leon dengan berani tanpa gentar. "Karena dari yang kulihat, kau sepertinya bukan makhluk hidup. Kau hanya berupa jiwa. Dunia bawah, tempat dimana jiwa yang sudah mati berkumpul. Raja yang menguasai tempat itu pun pasti hanya jiwa. Karena itulah, kau tidak bisa menghabisi makhluk yang masih hidup dan membutuhkan bantuan dari sesuatu yang hidup jika ingin membunuhnya."


"Niel?!" Teddy tersentak mendengar ucapan Leon yang sepertinya bisa saja memancing amarah Raja dunia bawah.


__ADS_2