
Di ruang makan, Nevan bersama ayahnya duduk tanpa ada makanan apapun di atas meja.
"Kenapa ayah berbohong pada Rafa? Bukankah ayah tahu cara untuk pergi ke dunia iblis?" ucap Nevan dengan heran. Rafa tidak berada di rumah sejak pagi hingga malam. Hanya saat sore saja dia berada di sini tadi, karena dia mengatakan akan pergi berlatih di suatu tempat. Ia sendiri tidak mencegahnya, sebab sudah tahu siapa yang mengajarkannya.
Ash, kakak dari Katly. Ia juga pernah bertemu dengannya dulu. Hanya saja, ia tidak menyangka bila dia bisa bertarung seperti yang diucapkan Rafa.
"Karena ayahnya berada di sana, Rafa
pasti ingin pergi. Bukankah kau juga sudah pernah bertarung dengan iblis? Seharusnya kau tahu bagaimana kuatnya mereka. Lalu jika dia pergi ke sana, apa yang akan terjadi? Di sana bukan hanya ada 2-3 iblis saja. Tapi di sana adalah sarang iblis. Kau mau mengantarkannya kepada kematian?" balas Melvin dengan raut datar.
Nevan tertegun. Itu memang benar, namun ia tidak suka bila mereka harus menyembunyikan sesuatu lagi dari Rafa. Ini memang demi kebaikannya, tapi bagaimana bila dia tahu?
"Itu memang benar. Aku juga tidak ingin bila dia sampai pergi ke sana. Tapi tidak bisakah jika ayah memberitahunya saja bila ayah tahu cara untuk ke sana? Walaupun nantinya Rafa akan memaksa ayah untuk mengatakannya, setidaknya kita tidak perlu membohonginya seperti ini."
"Rafa akan berusaha terus menerus sampai ayah mengatakannya. Ayah tidak bisa melihatnya memohon terus terusan pada ayah. Apa jika kau berada di posisi ayah nanti dan Rafa memohon hal yang sama terus menerus, apa kau bisa tetap bungkam?"
"Tapi.." Nevan merenung sejenak, "Aku tidak enak jika harus menyembunyikan sesuatu darinya lagi. Terutama tentang cara untuk pergi ke dunia iblis. Dia pasti sangat ingin ke sana. Walau aku sendiri tahu, tempat itu.. Pasti berbahaya."
"Kalau begitu, cukup diam saja. Tidak perlu mengatakan apapun pada Rafa."
Nevan menjadi bungkam. Apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Tidak ada yang salah dari ucapannya. Lebih baik ia menurut untuk saat ini.
Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang masuk ke dalam rumah. Karena pintu yang sedikit terbuka, membuat ia masuk ke dalam begitu saja dan mendengarkan pembicaraan anak dan ayah itu secara diam diam.
"Sebenarnya apa itu dunia iblis? Kenapa Ayah Rafa bisa berada di sana?" gumamnya dengan pelan. "Tapi sepertinya mereka ingin menyembunyikannya dari Rafa," batin Kevin yang sejak tadi mencuri dengar.
Padahal niat awalnya datang ke rumah Rafa adalah untuk ikut menginap malam ini dan sekaligus meminta maaf padanya. Tapi tak disangka, ia malah mendengar pembicaraan seperti ini. Rafa mungkin akan senang bila mendengarnya dan itu bisa membuatnya berbaikan.
"Aku harus segera memberitahunya," batin Kevin. Ia membalikkan tubuh dan berjalan pergi. Dengan hati hati ia melangkahkan kaki. Bergerak diam diam lebih sulit bila dibanding langsung menyerbu.
Ceklekk
Braakk
__ADS_1
"Ah, sial," Kevin dengan segera langsung berlari. Ia terlalu keras menutup pintu. Hal itu pasti didengar oleh mereka.
"Suara apa itu?" ucap Melvin dengan waspada.
"Sepertinya aku tidak menutup pintu tadi, mungkin angin baru saja menutupnya," balas Nevan dengan lempeng.
Melvin mengerutkan keningnya. Ia beranjak dan pergi mengecek pintu. Ia membuka, lalu melihat ke sekeliling halaman. Ia khawatir bila Rafa baru saja mendengar pembicaraan mereka. Tapi ia baru teringat bila Rafa menggunakan motor saat pergi, seharusnya mereka akan mendengar suara motornya terlebih dahulu, "Mungkin memang angin."
Ia kembali masuk ke dalam dan menghilangkan kekhawatirannya.
***
Rafa mengendarai motor di sepanjang jalanan yang sedikit sepi. Ia biasa lewat sini karena jalan ini lebih dekat bila pulang ke rumahnya.
Lampu jalanan sedikit redup dan ditempatkan pada jarak berjauhan. Pepohonan tumbuh di kanan dan kiri jalan, namun tidak menghalangi para pengendara yang lewat.
Di jarak belasan meter darinya, ia samar samar melihat tubuh seseorang berdiri di tengah jalan. Ia pun membunyikan klakson berlali kali. Tapi tidak ada tanggapan dari tubuh di depannya, "Ck, apa apaan dia ini?" gerutu Rafa.
Saat ia akan menghindar, punggung orang itu tiba tiba berada tepat di arah yang sama dengan Rafa. Ia terkejut dengan kehadirannya dan langsung mengerem secara mendadak.
Rafa turun dari motornya dan mendekati pria itu. Dia pasti sengaja melakukan ini.
Orang di depannya mulai berbalik dan menatapnya. Ia menyeringai dengan wajah menyeramkan.
Rafa tersentak saat orang itu langsung muncul tepat di depan sambil mengayunkan lengannya. Ia menyilangkan tangan ke depan untuk melindungi diri.
Bugh
Rafa terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia meringis sakit. Pukulannya tidak main main hingga tangannya sampai ngilu. Ia menatap pria itu. Kenapa dia menyerangnya tiba tiba?!
"Kupikir tidak akan ada yang muncul di tempat ini karena aku tidak melihat satu manusia pun. Ternyata aku salah, khihihi..," gumam pria itu dengan seringai di wajah.
Rafa merinding ketika mendengar suara tawanya. Ia menatap pria itu dengan mata menyipit. Sebuah tanduk kecil yang sedikit tertutupi oleh rambut terlihat olehnya. Ia semakin terkejut. Awalnya ia mengira bila orang itu adalah orang gila yang berkeliaran, ternyata ia salah. Orang itu bukanlah manusia.
__ADS_1
Dengan segera, Rafa mengambil belati di saku jaketnya. Ia sekarang selalu membawanya untuk berjaga jaga.
Pria itu memanjangkan kukunya dan menjilatnya sambil menatap Rafa. Kedua matanya melebar dengan antusias.
"Dia memang iblis?" batin Rafa yang seketika menelan ludah. Ia masih merasa sedikit takut dengan mkahluk itu. Namun untuk apa ia berlatih selama ini jika ia lari sekarang?
Rafa menetralkan wajahnya dan menatap pria itu dengan tajam. Sekarang bukanlah waktunya untuk takut. Sekarang adalah waktunya untuk mempraktekan apa yang ia pelajari.
Pria itu mendekat ke arahnya sambil mengayunkan tangan yang berkuku panjang. Rafa tidak menghindar, ia menepisnya dengan belati dan sepersekian detiknya, ia menendang perut bagian kanan pria itu sekuat tenaga.
Pria itu terdorong ke samping. Namun bukannya kesakitan, ekspresinya malah semakin senang, "Bagus, bagus.. Ternyata manusia bisa melawan. Apa kau adalah blizt?"
Rafa tidak menjawab. Ia langsung menerjang ke arah lawan sambil mengayunkan belati miliknya. Tetapi pria itu dengan sekejap menahan pergelangan tangannya dan membanting tubuhnya dengan mudah.
Bruukk
Rafa meringis. Ketika kaki pria itu akan dihantamkan pada tubuhnya, ia dengan segera berguling ke samping hingga pijakannya hanya mengenai aspal.
Melihat keadaan aspal itu, Rafa menjadi kaku. Jika ia terkena serangan itu, mungkin tulang tulangnya akan remuk. Aspal saja sudah dibuat retak oleh pijakannya.
Rafa segera berdiri. Ia tidak boleh mengalihkan perhatiannya dari lawan. Namun sesaat setelah berdiri, pria itu langsung menendang perutnya hingga tubuhnya terlempar beberapa langkah. Ia bagaikan kaleng minuman yang ditendang dengan mudah oleh seseorang.
Rafa terbatuk ketika merasakan sakit di perutnya. Tanpa kapok, ia kembali berdiri. Ia memfokuskan pendengarannya agar tidak seperti tadi.
Desiran angin yang berbeda dapat ia dengar dan rasakan. Ia menahan sebuah tendangan dengan tangan kirinya dan segera tubuhnya ia turunkan ke bawah sambil mengayunkan belati di tangannya.
Sraatt
Pria itu meringis sakit ketika belati Rafa menyayat perutnya. Tanpa menjaga jarak, ia langsung menendang tubuh Rafa. Tidak seperti tadi, Rafa mencengkram kaki pria itu hingga membuat lawan terkejut.
Tidak hanya mencengkramnya, Rafa segera mendorong kaki itu hingga tubuh lawan menjadi tidak seimbang. Ia memanfaatkan kesempatan yang ada dengan segera berdiri dan menendang tubuhnya sekuat tenaga hingga pria itu terjatuh.
Rafa mengatur nafasnya. Ia sampai lupa bernafas ketika melakukan semua itu karena terlalu tegang. Namun melihat lawannya terjatuh seperti ini, seolah ada gejolak aneh di dalam dirinya. Perasaan senang saat akhirnya berhasil menang setelah banyaknya kekalahan.
__ADS_1
"Kau lengah!" Pria itu menyergap kaki Rafa dan menariknya hingga tubuh itu terjatuh. Beruntung Rafa segera memposisikan tangannya sebagai tumpuan. Jika tidak, maka kepalanya yang akan menghantam aspal terlebih dahulu.
Pria itu berdiri dan menginjak perut Rafa hingga pemuda itu menggeram kesakitan, "Kau boleh juga bisa melawan."