
Bruumm
Suara motor mulai terdengar memasuki halaman rumah. Anak dan ayah yang berada di dalam rumah itu seketika keluar. Mereka menyambut kedatangan seorang pemuda yang sudah mereka tunggu.
"Kau pulang terlalu malam," ucap Melvin dengan kening berkerut.
Rafa seolah tidak mendengar ucapannya dan langsung turun setelah mencabut kunci motor.
"Rafa..?" Nevan tertegun ketika melihat keadaannya. Kedua tangannya berlumuran cairan merah. Wajahnya pucat dan ada luka di pipinya, "Apa latihan hari ini terlalu sulit?"
Rafa tidak mengatakan apapun, namun ia langsung mengambil sebuah kristal berwarna biru muda yang ada di sakunya. Ia menyodorkannya pada Nevan dan Melvin.
"I-ini..," mata Melvin membesar dengan raut terkejut. Ia mengambil kristal itu dari tangan Rafa dan memperhatikannya, "Aku bisa merasakan energi di dalamnya. Bukankah ini adalah kristal dari iblis? Kenapa kau bisa memiliki ini, Rafa?" ia terdiam sejenak saat memperhatikan keadaan pemuda itu dengan lebih baik, "Kau bertemu dengan iblis dan berhasil membunuhnya?"
Tebakannya begitu tepat hingga Rafa sendiri tak perlu mengatakan apapun atau menjelaskan sesuatu.
Nevan tertegun ketika mendengar ucapan ayahnya, "Bagaimana caramu membunuh iblis? Senjata biasa tidak akan terlalu berguna."
Rafa mengeluarkan sebuah belati dari saku dan menyodorkannya pada Nevan. Senjata yang penuh dengan darah itu berhasil mengejutkan saudaranya itu.
***
Seorang pemuda berdiri di dalam sebuah ruangan gelap. Ia sedang bersembunyi agar para penjaga tidak menemukannya. Ia menghela nafas pelan.
*POV Leon
Dia terlalu menarik perhatian. Seharusnya dia tidak membunuh para penjaga. Karena ulahnya, penjagaan semakin diperketat. Aku jadi sulit untuk bergerak dengan leluasa. Dia membuatku kesal.
Aku harus menemukan Radolf tanpa diketahui Stev. Tapi keadaan menjadi seperti ini.
__ADS_1
"Leon, jika kau mendengar suaranya, datanglah ke aula yang berada di ruangan tengah istana ini. Aku sudah membawa seseorang yang sedang kau cari. Selain itu.., aku juga membawa orang yang sudah mengacau di istanaku. Datanglah kemari jika kau ingin mereka selamat."
Aku terkesiap ketika mendengar suara yang terdengar sampai hampir seluruh istana. Suara itu menggema begitu keras. Pemiliknya adalah Stev. Aku tahu betul dan ingat suaranya sejak penyerangan yang dia lakukan padaku.
Namun mendengar ucapannya itu, membuatku langsung berpikir jika itu adalah jebakan. Tapi kenapa dia bisa tahu bila aku berada di sini? Apa Need sudah tertangkap olehnya, lalu dia dipaksa untuk mengatakan semua itu padanya dengan menggunakan kekuatan pengendali iblis?
Tapi aku tidak boleh terkecoh oleh kata katanya. Dia mungkin hanya ingin menggertak agar aku keluar.
Pertama tama, aku harus mengamati aula dari kejauhan. Saat aku berpikir untuk pergi dari tempat ini, aku mendengar suara dari luar. Aku mendekatkan telinga dan mendengarkan pembicaraan mereka seksama.
"Kenapa panglima Need bisa berada di sini ya?"
"Entahlah, seharusnya dia masih berada di dunia manusia."
"Tapi mendengar pengumuman Yang Mulia, sepertinya Raja Leon sudah berada di dunia iblis dan berada di istana ini. Mungkin karena itu, panglima sudah ada di sini."
"Aku mendengar dari temanku jika panglima 'lah yang sudah mengacau di sini. Bahkan kudengar, dia dicurigai sebagai pengkhianat."
"Kudengar sepertinya ada kerja sama antara panglima dengan Raja Leon. Karena itu juga 'lah panglima berada di aula sekarang. Mungkin dia akan segera mendapatkan hukuman penggal dan kita mendapat panglima baru."
"Bagaimana jika panglima mendengarnya? Kau akan habis nanti."
"Hahaha, itu tidak mungkin. Sekarang 'kan panglima dicurigai sebagai pengkhianat dan berada di aula."
Saat mendengar semua itu, aku segera keluar dari dalam ruangan ini. Tanpa menunggu reaksi dari mereka yang berada di dekat pintu, aku langsung menghantamkan pukulan pada ketiganya sampai tubuh mereka terlempar menghantam tembok dan pingsan.
Informasi itu saja sudah cukup untukku. Aku menarik ketiganya masuk ke dalam ruangan agar tidak ada penjaga lain yang melihatnya. Aku juga mengganti pakaianku dengan pakaian yang mereka kenakan serta mengubah wajahku menjadi salah satu diantara mereka.
Untuk sekarang aku harus menyamar menjadi penjaga dan mengamati Stev dari jauh. Beruntung mereka datang di waktu yang tepat. Karena mereka, aku bisa melakukan rencanaku.
__ADS_1
Aku keluar dan berjalan cepat menuju aula yang dimaksud. Karena aku tidak tahu tata letak tempat ini, aku harus mengikuti beberapa penjaga lain yang juga pergi ke sana.
Mereka terus mengobrol dengan santainya di saat menuju aula. Mereka bahkan memberikan banyak celah untuk diserang, sangat ceroboh. Padahal beberapa penjaga lain sedang tegang dengan keadaan ini, tapi mereka sangat santai.
Yah, tapi itu adalah hal yang baik untukku. Dengan begini, mereka bahkan tidak tahu jika penyusup berada diantara mereka.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami semua sampai di aula. Tempat yang begitu luas. Pilar pilar kokoh yang berdiri dengan langit langit yang berada jauh dari atas lantai.
Banyak penjaga yang dikumpulkan di tempat ini. Stev pasti sudah mengirimkan pesan melalui telepati pada setiap penjaganya agar mereka berkumpul di sini. Pantas saja banyak penjaga yang pergi ke arah ini.
Memang aku sudah menduga jebakan yang dia siapkan, tapi.. Apa apan ini? Kenapa penjaga yang dia miliki sangat banyak? Bahkan penjaga yang kumiliki di istana tidak setengah dari ini!
Entah kenapa aku merasa kesal hanya karena masalah sepele ini. Sepertinya terlalu banyak waktu yang kuhabiskan di dunia manusia, membuatku terlalu lunak.
Aku berbaris di sebelah kiri dari ruangan ini. Tempatku berada paling depan dan di belakangku masih banyak penjaga lain. Di kanan, kiriku, mereka semua berbaris dengan rapi. Lalu ada pula tempat kosong di depanku yang diperuntukkan untuk jalan menuju tengah aula. Di seberang jalan ini, ada barisan penjaga lainnya.
Selesai melihat sekitar, aku pun mulai melihat ke tengah aula dimana sebagian besar iblis melihat ke sana. Di sana terdapat beberapa anak tangga dengan di puncaknya adalah sebuah permukaan lantai yang lebih tinggi dibanding lantai lain dan berbentuk persegi cukup besar. Di atas berdiri Stev. Tidak hanya ada iblis itu, aku juga melihat Need dengan keadaan berdiri dan tangan terikat ke belakang.
Aku terkejut saat melihat keadaan Radolf. Dia berbaring di sana dengan tubuh penuh luka. Kedua tangannya diborgol kuat dengan besi. Tanpa sadar, aku mengepalkan lenganku. Bagaimana bisa keadaannya sampai seperti itu? Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama aku berada di dunia manusia?
"Mungkin beberapa dari kalian sudah mendengar... Jika dia," Stev menunjuk pada Need yang hanya bisa menundukkan kepalanya. "Panglima yang selama ini sudah memimpin kalian, kini dicurigai sebagai pengkhianat."
Para penjaga mulai berbisik dengan pelan. Mendengar pernyataan Stev tentu membuat beberapa dari mereka terkejut karena baru mengetahuinya.
"Dia sudah membocorkan beberapa informasi dari kerajaan kita selama beberapa tahun ini. Tidak hanya kerajaan kita saja, dia bahkan membocorkan informasi tiga kerajaan besar lain, bahkan membantu kerajaan dari musuh kita sekarang, kerajaan dari Raja Leon!" ucap Stev dengan tegas dan penekanan pada kalimat terakhirnya.
Bisikan dari para penjaga semakin terdengar dengan jelas. Mereka tidak menyangka bila Need mau membantu dan memberikan informasi pada kerajaan yang bahkan belum begitu lama dipimpin olehku. Selain itu, kenapa dia mau membantuku? Padahal aku bukanlah iblis bangsawan atau keturunan dari Raja iblis. Aku adalah iblis yang merebut takhta dan kedudukan yang dimiliki Raja lain. Aku hanyalah iblis biasa yang menjadi Raja karena menghabisi Raja serta seluruh keturunan dari Raja sebelumku. Mereka pasti berpikir demikian. Tidak ada untungnya membantuku, apalagi aku tidak memiliki pengalaman dalam memimpin.
Sebenarnya aku pun berpikir demikian. Mungkin dia bisa mendapatkan kekuatan di belakangnya karena sudah berpihak padaku, Raja iblis yang banyak ditakuti iblis lain. Tapi hanya itu. Dan mungkin karena mengidolakanku. Tapi apa hanya karena itu dia sampai berpihak padaku? Bahkan dia mengajukan menjadi mata mata milikku beberapa hari setelah aku menjadi Raja. Aku mempercayainya hampir sepenuhnya. Tapi aku tidak sebodoh itu sampai benar benar percaya dengannya.
__ADS_1
POV End~
Leon yang terlalu waspada dengan Need tidak tahu bila tujuannya menjadi mata matanya memang hanya karena itu, hanya karena dia mengidolakannya dan ingin dekat dengannya. Itulah tujuan awal Need hingga dia mengetahui suatu informasi yang bisa menghancurkan dunia iblis. Satu informasi yang membuat tujuannya menjadi mata mata Leon bertambah.