Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 77 -Ayah Dan Anak


__ADS_3

Seekor monster berukuran besar terbaring tak bernyawa dengan darah di sekujur tubuhnya. Namun karena keadaan yang gelap, sulit dilihat secara jelas bagaimana keadaan monster itu.Tidak jauh dari mayat monster, dua orang pemuda nampak duduk sambil mengatur napasnya.


Rafa membuka suara dengan napas terengah, "Aku tidak menyangka bisa mengalahkan makhluk sebesar itu... Hah... Hah.. Kupikir aku akan mati."


Nevan pun duduk di sampingnya dengan napas sedikit tersenggal. Ia setiap hari berlatih fisik, jadi hal seperti ini bukan masalah yang besar baginya. Namun membunuh makhluk sebesar ini memang cukup menguras tenaga, "Ternyata kau cukup hebat. Padahal.. Kau baru saja belajar untuk bertarung sekitar 2 bulanan saja."


Rafa tersentak ketika mendengar ucapan saudaranya. Ia tiba tiba teringat sesuatu, "Aku lupa memberitahukan pada kak Ash jika aku akan pergi. Astaga... Dia pasti akan sangat marah.."


Gumaman dari Rafa bisa didengar dengan jelas oleh Nevan. Ia malah tersenyum jahil, "Bersiap saja, kau akan habis saat kembali nanti. Kak Ash pasti akan marah besar."


Rafa langsung melirik Nevan, walaupun tidak bisa melihat jelas wajahnya. Ia mendengus pelan, " Bukankah kau tidak tahu siapa kak Ash? Bagaimana bisa kau menyimpulkan dia akan begitu marah, padahal kau sendiri tidak tahu siapa dia?"


"Kau pernah mengatakan jika dia adalah kakak Katly. Sebelumnya kupikir siapa kak Ash yang kau sebut, tapi setelah mengatakan nama Katly, aku jadi tahu siapa dia," Nevan tersenyum meledek. Ia menarik napas panjang dan berucap,


"Sebenarnya aku berkali kali bertemu dengannya dulu, tapi dia itu sangat menyeramkan ketika marah. Aku tanpa sengaja pernah menumpahkan minuman ke pakaiannya. Walaupun aku sudah minta maaf berkali kali, dia tidak mengatakan apapun. Wajahnya dingin ketika menatapku. Walaupun dia tidak mengomel, tapi dia yang hanya diam membuatnya terlihat lebih menyeramkan."


Rafa menelan ludah ketika mendengar penjelasan Nevan. Entah mengapa cerita itu terdengar sangat menyeramkan di telinganya.


Sraakk Srakk


Keduanya terperanjat kaget ketika mendengar suara semak semak dan bergegas untuk berdiri. Mereka bersiap dengan senjata masing masing. Kedua saudara itu sedikit khawatir jika yang datang adalah monster seperti tadi. Padahal mereka merasa sudah aman untuk sesaat. Hingga hampir lupa jika tempat mereka berada saat ini adalah bahaya.


"Ini semua karenamu, jika saja kau tidak mengatakan untuk pergi ke arah kanan, maka kita tidak akan tersesat seperti ini..!"


"Hah? Salahkan saja dirimu sendiri karena mengikuti ucapanku. Kenapa kau harus melampiaskannya padaku?"


"Aku mencoba untuk percaya padamu, tapi ternyata seperti ini hasilnya. Aku menyesal karena mencoba mempercayainya."


"Orang sakit diam saja. Lagi pula, salah siapa sampai keadaan menjadi seperti ini? Berterimakasih 'lah karena aku mau menolongmu."


"Kau tidak berniat menolong, kau malah semakin melukaiku! Caramu membalut luka membuat tubuhku sakit!"


"Jika aku katakan itu sengaja kulakukan, bagaimana?"


"K-kau..! Jadi kau sengaja?!"

__ADS_1


"Yah.. Itu hanya hukuman kecil untukmu. Lihat saja hukuman lainnya nanti."


"Memang apa yang kulakukan hingga kau melakukan ini padaku?!"


"Kau tidak sadar, huh? Kau sudah membuat masalah yang begitu besar, hingga aku merasa tidak bisa memaafkanmu. Bahkan membuatmu mati dengan satu tebasan saja tidak akan cukup. Kau.. Belum lama sadar.. Jadi kau.. Tidak tahu apapun."


"Maksudmu.. Tentang aku yang melanggar aturan dunia iblis?"


"Tidak, lebih buruk dari itu. Bahkan aku sendiri tidak mau mempercayainya. Jujur saja, aku menjadi lebih membencimu sekarang. Aku ingin menghabisimu. Tapi kematian terlalu indah untukmu," ia meremas lengan yang merangkul lehernya saat ia sedang membantu seseorang untuk berjalan.


Tentu saja apa yang ia lakukan malah membuat lawan bicaranya mendesah kesakitan. Padahal tubuhnya mengalami banyak luka, termasuk di bagian tangan yang diremas itu, "Kau menyakiti lenganku!"


"Biarkan saja."


"K-kau..," baik Rafa maupun Nevan sama sama terkejut ketika melihat kedatangan dua orang–tidak, iblis. Walau samar, tapi mereka bisa melihat tanduk yang ada di kepala kedua makhluk yang datang itu.


Namun yang membuat mereka sangat terkejut bukanlah itu, melainkan masing masing suara yang mereka kenal.


"Kau.. Tukang sapu jalan itu..!"


Keduanya meneriakkan kata berbeda, namun suara yang mereka keluarkan berhasil menarik perhatian kedua makhluk yang berdebat itu.


Kedua iblis yang sudah terbiasa melihat dalam kegelapan itu bisa melihat dua orang pemuda di depannya dengan jelas. Sontak mereka terkejut bukan main, apalagi saat merasa jika yang dihadapan mereka adalah manusia.


Salah satu diantara mereka adalah tangan kanan Leon, yang sebelumnya tidak sadarkan diri selama pertarungan berlangsung ketika malam menjelang pagi hari. Dia adalah Radolf. Ekspresi wajahnya begitu terkejut ketika mendengar seruan manusia yang memanggil 'ayah'. Ia memperhatikan dengan seksama kedua manusia di depannya.


Tidak hanya Radolf, tapi Need yang membantu menopang tubuh pria itu pun nampak mengernyit ketika mendengar salah satu seruan. Suara itu begitu mirip dengan milik manusia yang begitu menyebalkan.


Ketika memperhatikan dengan seksama, akhirnya Need yakin jika yang dilihatnya memang orang yang sama. Ia pun mendengus. Entah bagaimana manusia itu bisa sampai ke dunia iblis ini, "Hmph, berhenti memanggilku seperti itu! Aku bukanlah tukang sapu jalan!"


Nevan menatap Need dengan polos, "Ternyata itu benar kau.. Tapi kau memang bekerja sebagai penyapu jalan. Jadi bukankah wajar aku memanggilmu begitu?"


"Tck, aku sudah berhenti. Lagi pula, itu hanya pekerjaan 'sementara' ku di dunia manusia. Itu pun tidak berlangsung lama. Tapi kau terus saja membuang sampah ke jalan, kau menambah pekerjaanku, bocah. Kau tidak diajarkan cara membuat sampah ke tempatnya ya?" Need mendengus dengan raut kesal.


"Maaf saja, tapi di tempat itu memang tidak ada tempat sampah. Aku malas membawa sampah, jadi buang saja di tempatmu. Lagi pula, itu memang pekerjaanmu 'kan?" balas Nevan tidak mau kalah.

__ADS_1


"Terserah kau saja, lagi pula aku sudah tidak melakukan pekerjaan itu lagi. Mau kau membuang tempat sampah di jalan itu pun, aku tidak peduli."


Ketika Need berdebat dengan Nevan, maka kedua orang yang saat ini bersama mereka pun sibuk dengan urusan pribadinya.


"Ini benar benar kau, Rafa? Rafa? Ini benar benar kau 'kan?" Radolf seakan tidak percaya jika yang ada di hadapannya saat ini adalah anaknya. Ia sampai membuka mulutnya lebar.


Rafa mengangguk angguk. Walau sudah lama tidak bertemu, tapi dia masih ingat suara ayahnya dengan baik. Ia seolah bisa melihat jelas wajah ayahnya walau dalam keadaan gelap. Karena itu pun, matanya tiba tiba memanas.


Kerinduan yang selama ini tertumpuk di dalam dadanya seperti terlampiaskan dengan melihat wajah ayahnya. Tatapannya menjadi semakin lunak dan kakinya spontan langsung berjalan mendekati pria yang sedang dipapah oleh Need.


Tanpa mengucapkan kata apapun lagi, ia langsung memeluk pria itu, begitupun dengan Radolf. Tangannya bahkan melepaskan bantuan dari Need dan mulai menepuk nepuk punggung pemuda yang merupakan anak kesayangannya.


Need sendiri bahkan tidak menyadari jika ia telah melepaskan lengan yang sebelumnya merangkul lehernya.


Radolf ikut menangis haru ketika bisa bertemu dengan Rafa. Beberapa tahun yang terlewat memang tidak begitu berarti bagi iblis, karena iblis memiliki masa umur yang panjang, tapi beberapa tahun itu seperti sudah ribuan tahun ketika tidak bertemu anaknya.


"Bagaimana keadaanmu, Rafa?"


"...."


"Rafa? Kau baik baik saja?"


"...."


"Rafa?"


"Rafa, nak?" Radolf merasa heran ketika tidak mendengar balasan dari pemuda di pelukannya ini. Ia sampai melepaskan pelukannya dan menatap wajah dari anak yang sudah tumbuh besar ini.


Namun tanpa ia duga, sebuah pukulan mendarat di pipinya hingga membuat tubuhnya sedikit oleng. Ia hampir saja terjatuh andai tidak langsung memposisikan diri. Matanya berkedip beberapa kali karena tidak menyangka dengan serangan itu.


Kepalanya yang sempat tertunduk mulai menengadah dan menatap wajah dari anak kesayangannya. Ia seakan tidak percaya jika Rafa baru saja memukul wajahnya, "Rafa? A-apa itu?" ia sampai terbata.


Walaupun kepala Rafa tertuduk sekarang, namun ia bisa mendengar isakan tangis dari pemuda itu.


"Hiks.. Kau kemana saja, ayah?! Kenapa kau tidak juga pulang? Kenapa kau tidak menemuiku? Apa kau sudah melupakanku? Apa kau membuangku? Kau sudah tidak.. Hiks.. Menginginkanku?"

__ADS_1


Nevan dan Need yang tadi mendengar suara pukulan langsung mengarahkan pandangan pada asal suara. Jelas ekspresi mereka begitu terkejut ketika mendengar suara pukulan yang tiba tiba.


__ADS_2