
"BRENGS*K, APA MAKSUDMU?! KAU 'LAH YANG BERADA DI PIHAK MUSUH!" Nevan tak terima dirinya disebut sebagai bagian dari pihak musuh. Padahal jelas jelas menurutnya, Kite lah yang demikian.
"Jika aku memang berniat untuk melenyapkanmu, seharusnya aku kembali mencoba membunuhmu karena kau hidup kembali 'kan?"
Ucapan Kite itu berhasil membuat Nevan terdiam sesaat. Namun seakan tak mau kalah, ia menimpali ucapannya, "KAU PASTI BELUM MENDAPATKAN WAKTU YANG TEPAT UNTUK MEMBUNUHKU 'KAN? JIKA ADA, SUDAH SEJAK BEBERAPA WAKTU LALU KAU MEMBUNUHKU!"
"Dengan keadaaanmu yang hilang ingatan saat kejadian kau mati, seharusnya aku memanfaatkan itu dan mengajakmu pergi diam diam, lalu membunuhmu. Bukankah itu juga bisa dilakukan? Kenapa aku tidak melakukannya?"
"KAU HANYA BERALASAN! JELAS KAU TIDAK MELAKUKANNYA KARENA TAKUT DICURIGAI YANG LAIN BAHWA KAU MELAKUKAN SESUATU PADAKU!"
"Kau salah," Kita menggeleng dan melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan Nevan. Ia pun berjalan ke bagian tengah agar semua pandangan bisa tertuju padanya.
"Kenyataan bahwa aku sudah membunuhnya, itu adalah benar. Tapi alasanku melakukan itu, adalah untuk melihat siapa 'dia' sebenarnya. Dia yang kumaksud adalah Rafa."
Nevan menatap Kite dengan geram, "APA MAKSUDMU HAH?! KENAPA KAU MEMBAWA NAMA RAFA?!"
Kite tidak menanggapi dan melanjutkan ucapannya, "Aku bisa melihat jiwa seseorang. Karena itu, jika aku mengenal seseorang dan tahu bagaimana jiwa miliknya, aku bisa mengenalnya walaupun penampilannya sudah berubah. Termasuk jika dia bereinkarnasi sekalipun."
Kepala Felix tiba tiba saja berdenyut mendengar itu. Ia menatap Kite dengan mata memincing tajam. Ucapan itu terasa mengusiknya. Sejak awal ia memang tidak suka dengan kehadirannya. Ia merasa was was ketika melihat Kite.
Bukan ratusan tahun lalu ia bertemu dengannya. Namun lebih jauh dari itu.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Untuk sekarang, Ray harus ikut denganku. Jika tidak, Leon mungkin akan mati," ucap Kite.
Saat nama Leon disebutkan, seketika membuat Kay, Ray, Felix dan Radolf menatapnya dengan semakin serius. Ini adalah sesuatu yang sensitive bagi mereka.
"Apa yang terjadi dengan Leon?" sahut Ray.
Kite menatap pemuda dengan ikat kepala itu, "Kau akan mengetahuinya saat melihat sendiri. Bagaimana? Kau mau ikut?"
Ray sedikit ragu. Setelah mendengar ucapan Nevan sebelumnya, ia menjadi semakin was was pada Kite. Ia tidak tahu apakah dia ada di pihak musuh atau tidak. Namun jika ia tidak pergi, mungkin ucapannya bahwa Leon akan mati adalah benar.
Felix pun sampai menatap Ray. Ia menunggu jawaban darinya. Lalu setelah mempertimbangkan semua hal dengan hati hati, Ray setuju, "Aku ikut."
"KAU INGIN LARI?! KAU INGIN MENGHINDARIKU?!" pekik Nevan dengan tak terima.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan akan menjelaskannya nanti," ucapan datar Kite sama sekali tidak membuat Nevan langsung menurut begitu saja. Ia kembali menimpali dan berusaha mencegah Kite pergi.
*
*
"Uhuk..," Leon terbatuk darah. Punggungnya baru saja menghantam sebuah batang pohon besar. Ia sedikit meringis. Tulangnya terasa retak di bagian punggung. Namun ia segera menyembuhkannya dan kembali dalam pertarungan.
Walaupun dengan bantuan Ken pertarungan menjadi sangat terbantu, tapi mereka tetap saja kewalahan. Mereka berkali kali terbanting, namun harus kembali bangkit.
Tapi Leon tidak masalah dengan itu sama sekali. Ia masih saja menikmati pertarungan ini di tengah panasnya arena hidup dan mati.
Mereka menjadi lawan yang cukup sepadan untuk Ralt. Keduanya tidak bisa mati. Leon akan bangkit lagi dari kematian setelah beberapa jam. Atau setelah puluhan menit berlalu. -Walaupun hal ini belum diketahui Ken. Ditambah, dia memiliki kemampuan yang dapat menyembuhkan segala lukanya.
Sedangkan Ken, ia juga bisa kembali bangkit dari kematian hanya dengan beberapa menit berlalu. Tentunya Ralt yang seperti memiliki tubuh abadi yang tidak bisa mati pun menjadi lawan seimbang.
Perkembangan dari pertarungan mereka, Leon berhasil membuat Ralt kehilangan satu kemampuannya. Yaitu kemampuan teleportasi. Kemampuan ini lumayan menyulitkan mereka, jadi Leon mencoba untuk menghilangkannya dengan kemampuan memutus takdir.
Leon berhasil, tapi harus kehilangan sebagian besar energi yang dimiliki. Namun itu tidak masalah baginya. Dapat mengurangi kekuatan Ralt dengan mengurangi kemampuannya, ia rasa itu cukup setimpal.
"Lebih cepat jika kita menghabisi orang yang mengendalikannya. Tapi siapa?!" lanjut Ken. "Bisa jadi orang itu bahkan tidak ada di sini dan menyaksikan semua ini dari kejauhan."
"Kalian... Hebat... Sangat kuat... Tapi kalian tidak akan.... Bisa menghentikanku.."
Mendengar suara serak dan terpatah patah itu malah membuat Ken semakin geram. Ia menendang perut musuh dengan telak dan membuatnya terlempar ke semak semak, "Huh! Kau meremehkanku?!"
Ken melesat ke tempat jatuhnya mayat itu. Ia berencana untuk mencincangnya lagi untuk ke 5 kalinya.
Tapi di saat itu pula, Leon merasakan kehadiran beberapa orang yang mendekat. Ia melihat ke arah suara sementara Ken fokus dengan cincangan dagingnya.
"Ray?" Leon sampai tertegun ketika melihat salah satu orang diantara mereka. Keningnya berkerut. Ia tidak tahu kenapa Ray malah menyusul kemari. Bahkan bersama dengan Need dan Kite.
Baru saja akan membuka suara, Ray langsung berbicara cepat setelah sampai di hadapan Leon, "Bantu aku lepaskan segel ini."
"Kenapa?" Leon tidak mengerti kenapa Ray tiba tiba saja meminta hal seperti itu di situasi seperti sekarang. Segel yang dimaksud pemuda itu adalah segel yang ia buat untuk Ray agar kemampuan yang dia miliki ditekan. Pemuda itu yang memintanya sendiri karena terkadang dia sering tak bisa mengendalikannya. Tapi sekarang, dia tiba tiba ingin membukanya?
__ADS_1
"Aku akan menggunakannya untuk menghabisi mayat hidup itu. Dia sudah menjelaskan bahwa mayat hidup itu tidak bisa dihabisi kecuali jika aku menggunakan api hitamku. Karena itu, buka segel ini."
Mata Leon melirik ke arah Kite ketika mendengar penjelasan Ray yang terkadang matanya tertuju pada pemuda itu. Ia menduga Kite yang sudah mengatakannya. Namun bagaimana dia bisa tahu jika Ray memiliki api hitam? Ia akan menanyakannya nanti.
"Aku akan menyegelnya lagi jika kau tidak bisa mengendalikannya," balas Leon. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh dada Ray.
Ada sedikit perubahan pada tatapan Ray. Namun itu hanya sesaat, "Dimana mayat itu?"
Leon menunjuk semak semak di jarak beberapa meter darinya. Tanpa menunggu lama, Ray langsung mengarahkan telapak tangannya pada arah yang ditunjuk.
Seketika itu pula, api berwarna hitam terkumpul di telapak tangannya hingga ukurannya sebesar setengah manusia. Ia melesatkannya ke tempat tujuan setelah siap.
Wuushhh
Api hitam segera membakar semak yang menjadi tempat target. Hanya dalam beberapa tarikan napas, semak itu seketika menjadi abu. Orang yang berada di baliknya pun demikian.
Dalam sekilas, terlihat potongan daging yang terbakar hebat oleh api hitam. Tidak ada yang tersisa sama sekali. Bahkan abu nya pun dalam sekejap menghilang.
"Aaakhhh..!!"
Seseorang keluar diantara tempat api hitam berada. Ujung pakaiannya terbakar api hitam pula. Wajahnya sampai memucat. Sambil berlarian dan mencoba memadamkan api dengan tanah, ia terlihat panik.
Namun apa yang ia lakukan tidak membuat api hitam itu padam sama sekali. Api itu memang tidak merembet di pakaiannya. Tapi setiap bagian pakaiannya terbakar dan menjadi abu, maka api itu akan semakin naik, "Sialan!!"
Ken dengan cepat merobek baju di bagian tangan kanannya dan membuang bagian yang terbakar ke tanah. Walaupun api itu sudah membakar sisa pakaian yang dirobek itu hingga menjadi abu, tapi api sama sekali tidak padam dan masih berkobar di atas permukaan tanah.
Ken menghela napas lega. Tapi ada rasa kesal dalam tatapannya, "Jika saja aku terbakar, aku bisa benar benar mati," gumamnya.
"Kau baik baik saja?!" Ray terkejut ketika melihat Ken yang keluar dari dalam semak yang sebelumnya ia bakar. Temannya terlihat sangat kesal.
"Jika aku tidak segera merobek pakaianku, aku sudah menjadi abu. Kenapa kau melemparnya saat aku masih di sana?!" Ken menatap Ray dengan tajam. Ia sangat kesal karena tahu penyebab dari api hitam itu adalah Ray.
"Kau tahu aku memiliki api itu?" Ray tertegun.
Ken menepuk wajahnya, "Tentu saja tahu. Kau pernah hampir membunuh Fel saat dia tidur dengan api hitam itu. Kau pikir berkat siapa Fel tidak jadi mati?" ketusnya. "Lagi pula, aku tahu setelah kejadian itu."
__ADS_1