
Pada akhirnya Radolf, Need, Rafa dan Nevan pergi keluar dari hutan hingga pohon besar yang sebelumnya disebutkan Need kini dapat mereka lihat tanpa terhalang pepohonan. Mereka pun bisa melihat lebih jelas dibandingkan sebelumnya setelah keluar hutan.
Nevan yang tidak mau meninggalkan Rafa sendiri dalam bahaya pada akhirnya ikut walau 'agak' terpaksa. Ia tidak mau jika saudaranya terkena masalah dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Nevan membuka suara dengan mata yang menatap jauh pada pohon besar, "Memang sangat besar. Bahkan terlalu besar untuk ukuran pohon biasanya. Aku tidak yakin jika pohon sekokoh itu bisa dihancurkan."
Rafa yang sudah melihat sendiri pohon itu pun nampak tertegun. Ia tidak mengira jika ukurannya sampai sebesar itu. Bahkan dari yang terlihat, pohon itu seperti dekat dengan awan hitam di atas langit, "Tapi tidak ada salahnya mencoba. Dibandingkan harus diam saja."
"Aku tahu ini adalah pilihan yang bodoh. Mengikuti perkataan anak itu.. Pasti bercanda. Dia hanyalah anak kemarin sore, bahkan anak itu terlalu gegabah, menganggap enteng masalah dan berpikir bisa menyelesaikannya dengan mudah. Ini pasti bercanda.. Aku.. Mengikuti rencana anak itu?!" Need terus membatin pada dirinya sendiri.
Ia tidak menyangka bila dirinya berakhir mengikuti ucapan Rafa. Bahkan bila membatalkan hal itu sekarang, sepertinya ia hanya akan mendapat ledekan dari anak itu.
Rafa dan Nevan berjalan di belakang, sedangkan Need dan Radolf berjalan di depan untuk berjaga jaga.
Radolf membuka suara dengan volume yang cukup kecil, "Maaf.. Sudah merepotkanmu."
Need sedikit terkejut ketika mendengar ucapan itu. Namun ia tidak berekspresi dan tetap melihat ke depan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Karenaku juga, Leon..," Radolf tidak bisa melanjutkan ucapannya dan mendesah tidak berdaya.
Yang paling merasa berslah di sini adalah Need. Karena terlepas dari apa yang menjadi penyebab kekacauan itu, dirinya 'lah yang membunuh Leon. Ia yang menghancurkan jantung Leon dan membunuhnya, walau tanpa ia kehendaki. Tangannya seketika terkepal kuat dengan mulut yang terkatup rapat.
Ia bernapas pelan pelan dan mencoba untuk menenangkan diri sendiri. Setelah itu, ia mulai melepas kepalannya dan berbicara, "Sebenarnya.. Ada hal yang harus kukatakan. Leon.. Tiada karena.."
Radolf memperhatikan raut wajah Need baik baik dan menunggu kelanjutan ucapan pemuda itu. Namun iblis yang ditatapnya tidak juga memberikan respon. Ia pun angkat bicara, "Karena..?"
Need menggeleng, "Tidak ada, lupakan."
"Sepertinya apa yang ingin kau katakan penting."
"Lebih penting apa yang akan kita lakukan sekarang. Jangan membebani pikiranmu dengan ucapanku barusan," Need merasa enggan untuk menceritakan hal sebenarnya tentang bagaimana Leon bisa mati. Jadi ia tidak melanjutkan ucapannya dan berusaha mengalihkan topik.
"Bagaimana jika tidak ada iblis yang mau membantu? Apa kita akan melakukannya sendiri?" ucap Need tanpa menatap iblis di sampingnya.
Radolf terdiam sejenak dengan mata yang mengarah ke depan, "Jika tidak bisa menghancurkannya, sepertinya kita harus mencari iblis yang melakukan kekacauan. Tapi, apa benar yang melakukannya adalah Raja Ralt? Raja iblis paling pemalas? Kau yakin tidak salah mengira?"
Need mengangguk, "Itu memang benar. Dia 'lah yang menyebabkan ini semua. Termasuk membuat buku tua yang menyangkut pautkan Leon bila dia adalah iblis yang memiliki kekuatan kuno dari Raja terkuat terdahulu. Dia yang membuat pohon tumbuh. Dia yang menyebabkan kupu kupu itu datang. Semua ini adalah karenanya."
Radolf terdiam mendengar penuturan dari Need. Yang ia tahu, Raja Ralt adalah Raja iblis paling pemalas. Dia tidak tertarik dengan kekuatan, tapi suka memperebutkan wilayah lain. Mungkin memang tidak bisa melihat orang dari luarnya saja.
Radolf pun melirik ke belakang ketika tidak ada yang berbicara sama sekali, "Kau.. Eum.. Aku belum menanyakan namamu."
Merasa ditatap oleh Radolf, membuat Nevan langsung tersentak. Ia menjadi sedikit gugup karena tiba tiba ditanya, "A-aku Nevan, saudara Rafa."
__ADS_1
Radolf mengerutkan kening dan kembali menatap ke depan. Ia berpikir sejenak. Rasanya ia tidak memiliki adik ataupun kakak di dunia manusia. Ia juga tidak memiliki saudara di sana. Tidak ada manusia yang ia angkat sebagai keluarga, kecuali..
Ia tersentak dan berhenti berjalan. Hal ini membuat Rafa maupun Nevan ikut berhenti dan memperhatikannya.
Radolf berbalik dengan raut terkejut yang tak bisa disembunyikan, "Kau.. Anak Melvin? Kau benar Nevan kan? Anak Melvin?"
Nevan berkedip. Ia perlahan mengangguk, "Iya, itu aku."
Radolf mendecakkan lidah dan menggeleng. Ia mendesah dan menatap Nevan, "Maaf aku baru saja mengingatmu. Tapi terimakasih karena sudah mau menjadi saudara Rafa. Saat kau pulang nanti, titipkan ucapan terimakasihku pada ayahmu karena dia sudah merawat Rafa. Aku benar benar merasa tidak enak padanya."
"Baiklah, aku akan mengatakannya nanti," balas Nevan.
Radolf mengangguk dan tersenyum masam, "Tapi apa tidak apa jika kau juga ikut kemari? Tempat ini sangat berbahaya. Ayahmu pasti cemas sekarang."
Nevan menggeleng. Ia tahu jika ayahnya pasti akan mengkhawatirkannya. Namun ia tahu, ayahnya percaya padanya, karena itu, ayahnya membiarkannya dan Rafa masuk ke dunia iblis. Jadi seharusnya itu tidak masalah, "Ayah memberikan kami waktu cukup untuk berada di sini. Jadi tidak perlu khawatir. Aku juga bisa menjaga diri."
Rafa menyenggol lengan Nevan dan tersenyum miring, "Kau tidak boleh menyusahkanku ya?"
Nevan melirik Rafa dan mendengus, "Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kau tidak boleh menyusahkanku dan bertindak gegabah lagi."
Rafa membalas dengan senyum saja tanpa mengatakan apapun. Sedangkan, Radolf nampak tersenyum samar.
Need tiba tiba berhenti ketika merasa tidak ada siapapun yang mengikutinya. Ia berbalik dan menatap ketiga orang itu dan mendengus, lalu sedikit berteriak, "Hei..!! Kalian akan tertinggal jika terus berbisik di sana! Kalian ingin menghancurkan pohon itu atau ingin reunian, hah?!"
"Jika ingin sampai cepat di sana, sebaiknya kita berlari. Jangan hanya berjalan seperti ini," ketus Need.
"Aku merasa kau menjadi lebih cerewet dari biasanya. Apa kau sudah salah makan?" Radolf tersenyum sinis ketika telah berada di hadapan Need.
Need tidak menjawab dan langsung berbalik. Ia segera melanjutkan jalannya dengan langkah yang lebih cepat, "Sebaiknya kalian tidak berhenti atau kita akan membutuhkan waktu sampai 1 bulan untuk ke sana dengan cara berlari."
Nevan tersentak, begitupun dengan Rafa. Mereka merasa sudah salah dengar.
"A-apa benar seperti itu?" nada suara Nevan sedikit bergetar ketika mengatakannya. Jelas ia tidak menyangka dengan ucapan Need barusan. 1 bulan bukanlah waktu yang sebentar.
"Jangan mempercayainya. Kita hanya membutuhkan waktu sekitar 3 hari dengan berjalan," balas Radolf.
Need mendengus, "Kita tidak tahu hal itu. Tidak mungkin hanya membutuhkan waktu 3 hari. Walaupun seingatku di sini adalah perbatasan antara kerajaan Stev dan Ralt, tapi membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk sampai ke sana. Menurutku, tempat tumbuhnya pohon besar itu adalah tempat gersang milik kerajaan Ralt."
"Tapi menurutku tidak akan selama itu."
"Kita lihat saja nanti siapa yang benar."
"Baiklah."
__ADS_1
Rafa hanya diam dan bersikap waspada. Sejak keluar dari hutan, ia merasakan hawa yang sangat tidak enak. Udara yang ia hirup terasa tidak nyaman dan mengganggu pikirannya. Ia jadi memiliki firasat buruk tentang ini.
Nevan sendiri tiba tiba terpikirkan oleh sesuatu. Ia memandang ke depan sambil melamun. Mengingat berita kematian Leon sebelumnya, membuat ia teringat sesuatu. "Dia tidak akan mati."
Kata kata itu terlintas begitu saja di dalam kepalanya dan dikatakan dalam hati tanpa diucapkan. Sebelumnya, ia juga pernah bersama Leon ketika menghadapi seorang iblis wanita.
Leon yang saat itu mengikuti dirinya diam diam tanpa sengaja malah menjadi mangsa dari iblis wanita yang dilawannya. Leon yang seharusnya mati karena jantungnya telah dimakan malah kembali hidup, entah bagaimana.
Hal ini membuat Nevan berpikir jika Leon pun demikian saat ini. Walaupun mati, tapi mungkin Leon bisa hidup kembali seperti saat ketika jantungnya telah dimakan.
Perlahan Nevan memejamkan mata dan menghembuskan napas. Ia sangat berharap jika Leon bisa seperti itu lagi.
"...?!!"
Nevan terkejut saat membuka matanya lagi. Tidak ada Need ataupun Radolf di depannya. Ia melihat ke samping dan tidak melihat Rafa. Ia melihat ke sekeliling, namun tidak menemukan siapapun.
Pikirannya kalang kabut. Ia mulai berseru, "Rafa..?! Paman...?! Tukang sapu–maksudku, Need..!"
Tidak ada jawaban sama sekali dari temannya. Ia juga tidak melihat satupun diantara mereka. Ia dengan cepat berlari, berpikir jika yang lainnya sudah berada jauh di depan. Namun sejauh apapun ia berlari, tidak satu pun diantara mereka yang dia temukan.
Ia menjadi semakin panik, apalagi mengingat tempat ini adalah tempat yang asing baginya. Ditambah banyaknya bahaya yang mengancam di tempat ini, membuatnya menjadi semakin khawatir.
Namun beda hal nya yang terjadi pada Rafa. Ia menepuk nepuk pipi Nevan yang terbaring di tanah. Bahkan Radolf dan Need pun ada di sekitarnya.
Mereka mencoba membangunkan Nevan yang entah kenapa tiba tiba saja tidak sadarkan diri dan terbaring di tanah.
Rafa berekspresi cemas, "Nev..! Nev..! Bangunlah..! Nev..! Kau kenapa? Nev..!"
Radolf juga ikut mengguncangkan pergelangan tangan Nevan dan mencoba menyadarkannya, "Nak.. Bangunlah, Nevan.. Nak.."
Tidak ada reaksi apapun yang diberikan Nevan. Pemuda itu terbaring tidak sadarkan diri. Need hanya memperhatikan, namun langsung tersentak ketika menyadari sesuatu, "Jangan kehilangan fokus. Jika kalian lengah sedikit saja dan melamun, kalian akan berakhir seperti dia."
Rafa melirik Need dengan keheranan, "Apa maksudmu?"
Need berekspresi serius, "Aku baru mengingat sesuatu. Tempat ini adalah tempat perang sering terjadi dahulu. Banyak tubuh mayat yang terkubur tanpa kita tahu di sini. Dari yang kudengar, energi gelap terbentuk karenanya dan konon.. Banyak hantu berkeliaran di sini. Jika kalian lengah, maka tubuh kalian akan diambil alih olehnya, lalu–"
Belum sempat Need menyelesaikan ucapannya, Radolf langsung menahan pergelangan tangan yang hampir saja memukulnya.
Radolf sendiri terkejut karena menahan serangan itu dengan refleks. Ia melihat Nevan yang membuka matanya, namun dengan warna putih seutuhnya. Ia berkedip dan segera mencengkram pergelangan tangan Nevan ke tanah.
Rafa pun nampak mencengkram pergelangan tangan Nevan ke tanah karena melihat apa yang dilakukan ayahnya. Ia mengerutkan kening, "S-sebenarnya.. Apa yang terjadi? Nev.. Nev..," ia mencoba memanggil pemuda itu agar sadar, namun Nevan terus memberontak dan berusaha lepas dari cengkraman.
"Ini yang kumaksud. Pegang dia dengan erat, jangan sampai terlepas. Jika dia terlepas, maka–" belum sempat Need menyelesaikan ucapannya, energi besar menguar keluar dari tubuh Nevan hingga menciptakan angin kejut bagi Rafa, bahkan Radolf. Keduanya sama sama terpental beberapa langkah ke belakang. Begitupun dengan Need.
__ADS_1