
Tidak langsung bersuara, Rafa memperhatikan apa yang dilakukan Leon. Anak itu menyentuh lengan kiri Kevin yang terpotong sebelumnya. Lalu secara perlahan, daging mulai tumbuh keluar dari tangan itu hingga merobek perban yang melilit di tangan Kevin.
Rafa membuka mulutnya dengan tak percaya. Ia terus menyaksikan itu hingga tangan Kevin benar benar kembali seolah tidak pernah terjadi apapun padanya.
Leon tersenyum tipis saat berhasil melakukannya. Awalnya ia tidak percaya diri bisa mengembalikan tangan yang sudah terpotong. Tapi setelah berhasil, ia merasa senang dan ada kepuasan tersendiri. Dengan begini, Kevin tidak akan kesulitan kedepannya.
"Leon.."
Leon terdiam membeku di tempat. Itu adalah suara Rafa. Ia membalikkan tubuhnya menghadap ke sofa tempat Rafa berada. Pemuda itu berdiri di sana dengan tatapan tak percaya. Ia tidak menyadari bila Rafa terbangun.
"Leon... Apa yang baru saja kau lakukan? Bagaimana bisa... Apa aku sedang bermimpi? Leon, bagaimana kau bisa melakukan hal seperti itu?" ucap Rafa. Walaupun melihatnya dengan mata kepala sendiri, tapi ia tidak bisa mempercayai itu. Hal yang terjadi adalah hal mustahil yang tidak mungkin bisa dilakukan. "Sebenarnya siapa kau? Bagaimana mungkin kau melakukan itu?"
Leon melihat ke arah lain. Ia seolah tidak bisa menatap Rafa. Apa yang diucapkan Kevin sebelumnya benar. Ia membuat mereka berada dalam bahaya. Dekat dengan mereka hanya akan menyeret keduanya dalam bahaya.
"Maaf.. Karenaku kau jadi seperti ini," ucap Leon dengan suara pelan.
"Tidak, kenapa kau menyalahkan dirimu?" tanya Rafa dengan bingung. Setelah mengatakan itu, ia menyadari sesuatu. Lengan kirinya tidak terasa sakit lagi. Tubuhnya yang lain juga sudah tidak terasa sakit.
"Leon.. kau membuat tanganku sembuh?"
Leon mengangguk pelan, "Itu adalah permintaan maaf dariku pada kalian. Setelah ini, aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku tidak akan menyeret kalian dalam masalahku."
"Eh? Hah? Apa maksudmu?" Rafa semakin dibuat bingung oleh ucapan Leon. Kata katanya tidak bisa dimengerti.
"Serangan di rumahmu.. Itu karena ku. Dia mencariku sampai membuat kalian terluka. Aku tidak bisa terus bersamamu atau Kevin. Karena jika bersama kalian, maka kalian akan kembali terluka seperti ini. Orang lain yang seperti itu akan kembali datang mencariku lagi. Sebelum mereka menemukanku, lebih baik aku menjauh dari kalian agar kalian tidak terlibat," Leon menunduk.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini pasti hanya salah paham saja," Rafa mencoba menenangkan pikiran Leon yang kini berniat untuk pergi. Ia berusaha untuk mencegahnya.
Leon mengepalkan tangannya, "Ini bukan salah paham!"
Rafa sedikit terkejut hingga tidak bisa mengatakan apapun saat Leon berbicara dengan nada menyentak. Baru pertama kali nadanya seperti ini.
Leon menatap Rafa dengan serius, "Aku tidak sedang salah paham dengan kejadian itu. Aku tahu kalian sudah diserang walaupun kau tidak melihatku menyaksikan kejadian itu. Tapi aku tahu, orang yang menyerang kalian bukanlah manusia. Dia adalah panglima iblis.
Karena tahu aku ada di rumahmu, dia langsung menyerang dan ingin membawaku. Dia memiliki misi untuk membawaku ke dunia iblis untuk memberiku hukuman. Kau harus tahu, bukan hanya dia yang mencariku. Tapi masih ada orang lainnya yang juga sama kuatnya dengan orang itu sedang mencariku.
Jika aku masih bersama kalian, maka aku hanya akan membawa kalian ke dalam bahaya." Leon terdiam sejenak dan memperhatikan ekspresi Rafa yang terlihat kurang baik.
Setelah itu, ia mulai melanjutkan, "Kau pun harus tahu satu hal. Aku bukanlah manusia, aku adalah iblis. Kita berbeda. Kau tidak perlu menolong iblis sepertiku. Karena aku sama saja dengan iblis yang baru saja menyerangmu," makin dilihat, ekspresi Rafa semakin tidak baik. Walau begitu, ia masih melanjutkan ucapannya.
Leon berjalan mendekati pintu tanpa menatap wajah Rafa lagi. Namun Rafa menahan lengannya seolah tidak akan membiarkannya pergi.
"Walaupun begitu... Apa kau memang ingin pergi? Apa kau menginginkannya?" ucap Rafa. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi setelah mendengar ucapan Leon tadi. Tapi ia merasa tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja.
"Aku tidak ingin pergi. Tapi aku harus pergi. Jika tidak, kalian akan ikut terseret. Aku juga akan kembali ke dunia iblis dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Karena itulah, kita tidak akan pernah bertemu lagi," ucap Leon tanpa menatap Rafa.
"Kau akan pergi ke tempat dimana orang orang mengerikan seperti itu berada?!" Rafa terkejut, "Bagaimana kau bisa melakukannya? Bagaimana kau bisa bertahan di tempat seperti itu?! Kevin saja bahkan terluka hingga seperti ini! Lalu bagaimana denganmu?
Jika kau datang ke tempat seperti itu kau pasti akan terluka parah. Yang paling buruk kau... bisa mati."
"Aku bukan anak kecil, Rafa."
__ADS_1
Rafa merinding saat melihat tatapan dingin yang ditunjukkan Leon padanya. Tatapan itu hampir mirip dengan pria asing itu. Namun tatapan Leon lebih dalam, gelap dan mengerikan. Tanpa sadar ia langsung melepaskan tangan Leon. Untuk pertama kalinya ia melihat Leon sebagai makhluk menyeramkan yang bisa membunuhnya kapan saja.
"Jika kau tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi, maka jangan mendekatiku ataupun mencariku. Aku adalah iblis. Aku bisa saja memangsa dan membunuhmu, Rafa. Aku harap kau menuruti apa yang kukatakan. Ini semua untuk kebaikanmu sendiri," Leon berjalan pergi ke pintu keluar.
Kini Rafa tidak menahan Leon sama sekali dan hanya menyaksikan dia pergi. Ia masih terkejut dan takut melihat tatapan itu.
Setelah menutup pintu, Leon pergi ke arah lorong yang gelap dan sepi. Ia menemui seseorang di sana, "Seharusnya kau menemukanku lebih cepat saat aku mencari rumah sakit ini."
"Maafkan aku," ucap Need menunduk dan menyesal.
"Aku sudah siap sekarang. Akan kubuat perhitungan pada Flynn, iblis yang menyerang mereka."
Need mengangkat kepalanya. Ia terdiam membeku. Tatapan Leon begitu dingin. Ia dibuat merinding ketika melihatnya. Namun ada perasaan senang yang mengalir di tubuhnya. Ia begitu merindukan tatapan itu dan hal ini membuatnya bersemangat, "Kau sudah membuat kesalahan karena sudah menantangnya, Flynn," batinnya.
"Kalau begitu, kita akan pergi sekarang," ucap Need. Dalam sekejap mata, mereka langsung menghilang.
***
[ Ditemukan pria tewas di sekitar halaman kosong yang ada di jalan X. Dari KTP milik korban, korban bernama Teddy. Diperkirakan korban tewas kemarin. Diduga ini adalah kasus pembunuhan. Polisi sedang menyelidiki tempat kejadian dan belum ditemukan bukti pembunuhan yang dilakukan. Berikut adalah identitas korban.]
Seorang gadis yang bersiap untuk sekolah menjatuhkan tas yang dipegangnya. Melihat identitas dan foto korban yang ditunjukkan di berita, itu benar benar ayahnya.
Tanpa sadar, air mata Katly langsung jatuh membasahi pipinya. "A-ayah.." tubuh dan suaranya bergetar. Kakinya terasa lemas hingga akhirnya ia terduduk di lantai.
Ia menutup mulutnya karena tidak percaya. Padahal kemarin pagi ayahnya baru saja mengatakan akan pulang terlambat karena pekerjaan yang menumpuk. Tapi apa ini?! Kenapa yang ia dengar adalah berita kematiannya?!
__ADS_1