Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 105 -Hidup Lagi


__ADS_3

Semakin memperhatikan pertarungan Stev, Felix jadi tersadar siapa yang sedang dilawan mayat hidup itu. Ekspresinya berubah terkejut, "Leon?!"


Pada saat yang sama, Leon berhasil menjatuhkan Stev dan menusuk tubuh itu berkali kali bahkan sampai membelah perutnya dan mengeluarkan isi di dalamnya.


Felix terdiam ketika melihatnya. Namun wajahnya masih menunjukkan rasa keterkejutan, "Entah bagaimana dia ada di sini. Tapi aku senang... Dia baik baik saja."


Saat melihat pertarungan dari satu orang lainnya, Felix menyipitkan mata. Ia seperti mengenal pemuda itu, namun entah dimana ia pernah bertemu dengannya.


Ketika memikirkan itu, ia baru teringat dengan Melvin. Segera dirinya bergegas ke tempat pria itu berada. Namun saat sampai, ia melihat banyak kerumunan dari orang yang tiba tiba datang tadi. Mereka mengelilingi satu orang.


Diantara orang orang itu, Felix tahu ada beberapa orang manusia, "Apa kalian adalah anggota kelompok lain yang datang kemari?"


Nix langsung menatap Felix ketika mendengarnya. Ekspresinya terlihat waspada, "Siapa kau?"


"Bukan musuh. Kalian dari kelompok lain?"


Hanya dari kata itu saja, Nix menjadi lebih tenang. Ia mengangguk, "Iya.."


Saat melihat satu per satu orang diantara kerumunan, Felix menemukan dua wajah yang dikenalnya, "Ah.. Kalian di sini juga rupanya. Kudengar kau menjadi sandera, tapi ternyata kau sudah berkeliaran bebas seperti ini, Radolf."


Orang yang merasa terpanggil namanya segera menoleh dan menatap pemuda dengan anting biru. Matanya menyipit dengan tatapan heran, "Apa aku mengenalmu?"


Felix berkedip dan berdehem, "Lupakan saja," ia menatap Melvin yang sedang terbaring tidak sadarkan diri dan melihat seorang manusia melakukan sesuatu pada pria itu.


Matanya seketika menyipit. Dengan mata kepanya sendiri, ia melihat bagaimana luka yang ada pada tubuh Melvin mulai menutup. Entah harus percaya atau tidak, tapi hal itu terjadi tepat di depannya! Bahkan luka yang parah sekalipun dapat disembuhkan oleh manusia itu.


Felix membatin, "Orang yang kutahu memiliki kemampuan penyembuhan sehebat itu hanya Leon. Tapi manusia ini memiliki kemampuan yang sama. Walau Melvin dalam keadaan sekarat, ternyata ada juga yang bisa memulihkan keadaannya dengan cepat selain Leon."


Boomm


Rafa dan yang lain tersentak ketika mendengar ledakan tiba tiba. Ketika yang lain menoleh ke asal suara, Rafa masih fokus pada penyembuhan pamannya.


Felix sendiri tidak terkejut. Ia sudah merasakan kehadiran seseorang sesaat sebelumnya. Dan kehadiran itu tidak'lah asing, "Akhirnya dia datang."


Silvia yang dilawan Kite tiba tiba terbakar ketika bola api yang entah datang dari mana menghantam tubuhnya. Pergerakan dirinya melambat sebelum akhirnya tubuh itu terjatuh tanpa bisa bergerak.


Kite menatap mayat yang sudah terbakar itu dan berkedip. Padahal ia belum selesai dengannya, tapi mayat itu sudah tidak bisa bergerak lagi, "Baiklah, tugasku selesai."

__ADS_1


Kejadian sama pun terjadi pada mayat Stev. Mayat itu terbakar setelah mendapat hantaman bola api dari atas. Leon yang menyaksikannya seketika berwajah gelap. Tangannya terkepal dengan kuat.


Bersamaan dengan munculnya pelaku pelemparan bola api, Leon segera melesat ke tempatnya berada dan melakukan tendangan kuat hingga membuat tubuh pelaku yang tak siap langsung terpental menabrak beberapa pohon hingga tumbang.


Apa yang dilakukan Leon seketika menjadi pusat perhatian dari semuanya. Terlebih Kite yang berada paling dekat dengan Leon sebelumnya. Ia tidak habis pikir dengan tindakan pemuda berwajah dingin itu.


Pelaku yang melemparkan bola api tak lain adalah Ray. Ia merasakan nyeri yang hebat di bagian punggungnya ketika tubuhnya berakhir menghantam batu besar setelah menghantam beberapa pohon hingga tumbang, "A-apa ini?! Uhuk..," ia terbatuk darah. Ekspresinya berubah menjadi marah. Dengan segera, kepalanya mendongak ke atas untuk melihat siapa yang sudah menendangnya.


Tapi belum sempat memaki, ia sadar dengan siapa berhadapan, "L-Leon?"


Dengan wajah yang dingin, Leon berucap, "Kenapa kau melemparkan api itu? Aku belum selesai dengannya."


Ray melambaikan tangannya ke depan dan berwajah pucat, "A-aku tidak tahu maksudmu. T-tapi berhenti memberiku tatapan seperti itu! Kau seperti ingin mengulitiku hidup hidup!"


Leon sebenarnya sedikit terkejut dengan pelaku yang sudah membakar Stev, tapi ia mengabaikannya dan lebih ingin melampiaskan kekesalannya, "Sekarang kau akan membayarnya."


Dalam sekejap, Leon malah memukuli dan menginjak Ray habis habisan. Bahkan ketika pemuda itu memintanya untuk berhenti, ia tidak melakukannya dan semakin mengganas.


"Sebenarnya apa yang dia lakukan? Kenapa dia malah menyerangnya? Padahal iblis itu sudah membantu," batin Kite dengan keheranan.


Di sisi lain, melihat keadaan semakin tidak baik, Felix berusaha menghentikan apa yang dilakukan Leon. Ia memegang kedua lengannya dari belakang hingga pukulan yang hampir dialamatkan pada Ray terhenti.


Ray sudah menutupi wajahnya dengan kedua pergelangan tangan. Ekspresinya terlihat was was dengan apa yang akan terjadi berikutnya.


"Bernapas pelan pelan.. Tenangkan dirimu.."


Leon melakukan apa yang dikatakan Felix dan akhirnya menjadi lebih tenang. Melihat respon dari Leon pun, Felix melepaskan lengan pemuda itu.


"S-sudah?" Ray melihat dari celah kedua tangannya. Ia pun benar benar menyingkirkan tangan saat melihat Leon yang sudah tenang.


"Kenapa kau melakukan itu? Dia hampir saja mati," ucap Felix dengan nada menegur.


"Dia membuatku kesal karena sudah membakar mayat itu."


Felix berkedip, "Kau ingin mayat seperti itu tetap hidup?"


"Wajah itu.., dia adalah Stev. Salah satu Raja iblis yang sudah bertarung bersama Raja iblis lain untuk membunuhku. Karena itu, walaupun dia menjadi mayat hidup, aku ingin menghabisinya. Tapi dia.."

__ADS_1


Ray mencoba melakukan pembelaan, "A-aku tidak tahu. Ada mayat hidup di sana, jadi aku langsung membakarnya. Mana kutahu kau sangat memusuhi mayat itu. Lagi pula aku menyerangnya dari jauh, jadi aku tidak tahu wajahnya."


"Dia juga sudah membantu dengan baik, untuk kali ini maafkan dia–"


Belum sempat Felix menyelesaikan ucapannya, sebuah seruan terdengar bersamaan dengan suara pertarungan yang sangat jelas.


"MEREKA HIDUP KEMBALI!"


Leon seketika mengalihkan pandangannya pada asal suara. Ia melihat kepulan debu yang menutupi sebagian pandangan. Tapi diantara dedebuan itu, ia melihat Kite yang bertarung dengan dua sosok yang seharusnya telah terbakar.


"Mereka.. Api yang seharusnya membakar mereka sudah hilang! Mereka bahkan bisa bergerak lagi. Kenapa bisa seperti ini?" gumam Felix dengan raut waspada.


Belum sempat keterkejutannya hilang, dari kejauhan, pohon pohon mulai tumbang karena sesuatu. Tidak hanya itu, bayangan besar terlihat di tanah yang membuat semuanya langsung mendongak ke langit untuk melihat penyebab dari bayangan itu.


Ada 3 ekor elang berukuran sebesar manusia dewasa dengan bulu bulu keperakan. Mereka mengepakkan sayap dan terbang terpisah tak tentu arah. Di setiap tempat yang mereka lewati, bulu keperakan berjatuhan ke permukaan. Namun bulu yang seharusnya ringan itu malah seperti lesatan anak panah dengan berat seperti belati.


Sreett


Freed, Nix dan Nevan yang terkena lesatan bulu halus dengan ketajaman seperti pisau itu seketika terkejut. Setelah berhasil melukai mereka, bulu keperakan itu jatuh menancap di tanah. Ketiganya menyentuh luka yang baru saja terbentuk. Raut ketidak percayaan terlukis jelas dalam wajah ketiganya.


"Itu adalah elang putih! Hati hati, jangan sampai terkena bulu mereka," ucap Need memperingatkan. Ia memunculkan pedangnya dan menangkis bulu bulu yang melesat ke arahnya.


Radolf menatap Rafa dan yang lain, "Kalian pergilah ke tempat yang aman, jauh dari monster ini! Dan bawa Melvin bersama kalian!"


Rafa mengangguk. Walau sudah berhasil menyembuhkan Melvin ke keadaan yang baik, namun itu tidak membuat pamannya langsung sadar. Hal ini membuat mereka harus membawanya.


Rafa dengan dibantu Nevan membawa Melvin ke tempat yang memiliki banyak pohon rindang. Sedangkan Nix, Freed dan Need menangkis setiap serangan yang melesat ke arah mereka dan terlihat seperti melindungi dua pemuda yang sedang membawa Melvin.


Menggunakan kemampuannya, Felix membentuk satu kubah pelindung yang mencakup dirinya dengan Leon dan Ray di dalamnya.


"Ini adalah kemampuan dari Ratu Silvia. Tapi dia sudah menjadi mayat hidup. Bagaimana bisa dia melakukan ini?" gumam Felix.


"Silvia juga ada di sini?" ekspresi Leon menjadi semakin buruk ketika mendengarnya. Kemarahan seperti terlihat jelas dalam tatapan pemuda itu.


"Iya. Kemunculan mayat Raja Stev bersama dengan Ratu Silvia."


Mendengarnya membuat Leon langsung melesat ke tempat Kite berada.

__ADS_1


Felix tersentak melihat apa yang dilakukan Leon. Pemuda itu telah keluar dari kubah pelindungnya dan masuk dalam pertarungan melawan mayat.


Ray berdiri dan menatap arah pertarungan. Seketika itu pula, dirinya ikut masuk ke dalam pertarungan yang dilakukan Kite melawan Silvia.


__ADS_2