
Need terkesiap ketika sebuah serangan dari monster hampir mengenainya. Ia segera melompat mundur untuk menjaga jarak. Ia terlalu terkejut dengan perubahan Rafa hingga hampir melupakan apa yang ada di hadapannya, "Jika ingin menyerang, berhati hatilah! Jangan gegabah!" teriaknya.
Ia segera melesat ke arah beruang itu untuk memberikan serangan. Ia tidak perlu memikirkan kondisi Rafa, karena sepertinya pemuda itu baik baik saja.
Radolf pun dapat melihat jika Rafa tidak kesulitan sama sekali. Ia sempat cemas karena yang ia tahu, Rafa tidak pernah bertarung. Apalagi melawan monster yang kekuatannya jauh melampaui manusia. Tapi melihatnya sekarang, membuatnya sedikit tenang karena dari yang dilihat, anaknya tidak mengalami kesulitan.
Nevan tertegun menyaksikan bagaimana gesit dan cepatnya gerakan Rafa hingga sulit dirinya lihat. Apa setelah melawan seekor monster sebelumnya, bisa membuat Rafa berkembang sejauh ini? Nevan merasa itu tidak mungkin. Namun yang jelas, pergerakan Rafa memang sangat berbeda.
Melihat Rafa yang bertarung, membuat Nevan menjadi enggan untuk pergi. Ia tidak bisa pergi sendiri, sedangkan yang lain bertarung habis habisan melawan monster. Belati yang ada di tangannya seketika membentuk sebuah busur.
Nevan tahu kemampuannya sendiri. Ia lebih tahu kesanggupannya dalam menghadapi musuh. Ia hanya akan menyulitkan yang lain jika ikut menyerang dari jarak dekat, jadi ia hanya akan memberikan bantuan dengan serangan jarak jauh. Setidaknya itu akan mengurangi kesulitan bagi yang lain.
Rafa, Radolf dan Need sebagai penyerang jarak dekat dan merupakan kekuatan tempur utama. Sedangkan Nevan menjadi kekuatan pendukung bagi ketiganya hingga mereka bisa mengalahkan monster dengan sedikit lebih mudah. Mereka terlihat saling melengkapi, walaupun baru pertama kali bekerjasama.
Monster beruang yang nampak tidak ada habisnya itu mulai menjadi semakin sedikit hingga tersisa 2 ekor yang langsung dihabisi Rafa dan Need. Mayat mayat bertebaran di sepanjang mata memandang ke depan. Darah mengotori hutan rimbun ini. Jika saja tempat ini terang, maka pemandangan ini akan terlihat mengerikan.
Banyak pepohonan yang rusak hingga membuat penglihatan Nevan maupun Rafa cukup jelas. Keadaan yang tidak bisa membuat mereka melihat memang bukan sepenuhnya karena langit yang gelap, tapi juga karena pepohonan yang menutupi langit.
Tapi bahkan tanpa penglihatan yang baik pun, mereka dapat menghabisi banyak monster. Meskipun Nevan sering melayangkan panah ke arah yang salah.
Rafa dan Nevan langsung merebahkan dirinya diatas rerumputan pendek. Napas mereka sedikit tidak beraturan dan terlalu memburu cepat. Namun itu pun terjadi pada Radolf. Pria yang sudah memiliki satu anak itu juga terlihat duduk di atas rerumputan dengan napas memburu. Ia belum sembuh dengan benar, namun sudah bertarung seperti ini. Beruntung dirinya hanya mengalami beberapa luka.
__ADS_1
Need berdiri dengan tegak, namun masih berusaha mengatur napas. Jika saja ia dalam keadaan normal, maka ia bisa mengatasi semua monster itu walaupun sendirian.
Need melirik Rafa secara diam diam. Raut wajah manusia itu terlihat seperti biasa, seolah orang yang dirinya lihat bertarung tadi bukanlah Rafa. Ia menggeleng pelan, itu bukanlah urusannya. Jadi ia tidak perlu memikirkan hal ini. Pandangannya teralihkan dan menatap Nevan.
Pemuda dengan identitasnya sebagai blizt itu nampak kelelahan. Ia tahu pemuda itu terlalu memaksakan diri hingga melakukan serangan melampaui batasan yang bisa dia lakukan. Tapi sepertinya itu tidak memberikan dampak serius, hanya saja, pemuda itu memang mendapatkan beberapa luka cakaran di tubuhnya.
Need kembali menatap Rafa. Walaupun banyak dibasahi darah, nyatanya manusia itu tidak mengalami luka. Hanya ada sekitar 2 goresan di tubuhnya. Padahal dari yang diketahui, Rafa menyerang secara langsung, sedangkan Nevan sebagai penyerang jarak jauh.
Need kembali menggeleng. Padahal ia sudah berbicara dalam hati agar tidak memikirkan Rafa, namun tetap saja ia memikirkannya.
"Kalian baik baik saja?" tanya Radolf setelah berhasil mengatur napas dengan baik. Ia menatap Rafa dan Nevan bergantian.
Rafa memejamkan mata dan kembali membukanya setelah beberapa saat, "Iya, aku baik."
Rafa segera mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melihat Nevan yang terbaring tak jauh di sampingnya. Sekarang ia bisa melihat lebih jelas bagaimana keadaan saudaranya itu, "Apa kau baik baik saja dengan itu?"
Nevan melirik Rafa sambil mengubah posisi kepalanya. Ia mendecakan lidah, "Kau lihat sendiri, aku tidak merasa 'baik baik saja' sekarang."
Rafa menggeser tubuhnya hingga berada tepat di samping Nevan, "Aku akan mencoba menyembuhkannya," ucapnya tanpa nada.
Nevan tersentak saat Rafa malah memegang luka yang ada di bahunya tanpa peringatan. Ia seketika meringis kesakitan karena Rafa terlalu menekannya, "Sshhh.. Sakit sakit.."
__ADS_1
Rafa terkesiap. Ia menatap wajah Nevan yang terlihat begitu kesakitan. Ia menjadi sedikit canggung dan segera menjauhkan tangannya dari Nevan, "M-maaf.. Aku tidak sengaja."
Nevan tidak membalas. Ia hanya mendesir kesakitan atas luka itu. Lukanya memang sedalam itu sampai ia bisa merasakannya sesakit ini. Dagingnya saja sampai terlihat dan darah masih keluar.
Rafa meringis ketika melihat luka itu dengan baik. Entah bagaimana Nevan bisa menahannya. Ia harus mencoba menyembuhkan Nevan dengan kemampuan mengubah takdir yang dimiliki 'pengaruh mutlak'. Mungkin itu bisa berhasil dan mengobati luka saudaranya.
Rafa memejamkan mata perlahan dan menyentuh sedikit luka yang ada di bahu Nevan. Ia begitu fokus memikirkan cara untuk bisa menggunakan kekuatan yang diceritakan Ash padanya.
Cahaya kehijauan keluar dari luka Nevan. Bukan hanya di bagian bahu, tapi di seluruh luka yang ada di tubuhnya. Perlahan namun pasti, luka luka itu mulai berhenti mengeluarkan cairan merah dan berangsur asur membaik sebelum akhirnya menutup sempurna. Hasilnya, luka yang sebelumnya dimiliki Nevan seolah tidak pernah dia dapatkan. Kulitnya menjadi begitu mulus tanpa adanya satu goresan pun.
Nevan tersentak. Bahkan sejak cahaya itu muncul, ia sudah sangat terkejut. Namun ia semakin terkejut ketika lukanya tidak lagi terasa sakit. Nevan tertegun sejenak sebelum akhirnya memandang Rafa yang masih menutup mata, "R-rafa.. Rafa.. Apa yang kau lakukan? Apa yang baru saja kau lakukan ini?" nada suaranya terdengar gugup dan seakan meminta jawaban.
Rafa membuka matanya kembali. Ia berkedip saat melihat ekspresi Nevan yang tampak syok. Ia pun menatap luka yang ada di bahu saudaranya dan tertegun. Bahunya begitu mulus tanpa ada setitik goresan pun. Hanya tersisa bekas darah saja di sana.
"Rafa.. Rafa.. Saudaraku.. A-apa yang sudah kau lakukan ini? Kau.. Kau..," Nevan tak bisa berkata kata. Ia bahkan langsung mengubah posisinya menjadi duduk tanpa mengalihkan pandangannya dari Rafa sama sekali.
Rafa sendiri merasa tidak percaya dengan yang dirinya lakukan. Tapi ia berusaha tenang dan menanyakan keadaan saudaranya, "Kau baik baik saja? Apa masih ada sakit?"
"Berkatmu aku tidak merasakan sakit apapun! Bahkan rasanya jantungku hilang entah kemana karenamu," ucap Nevan sambil menggelengkan kepala. Sungguh, ia benar benar tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat ini. Padahal beberapa detik yang lalu ia merasakan sakit yang tak tertahankan hingga ingin menangis, namun detik ini, semua luka itu menghilang bagaikan sulap.
Radolf yang mendengar penuturan dari Nevan segera beranjak dari duduknya dan mendekati kedua pemuda itu. Ia bisa melihat kondisi Nevan yang tanpa luka. Ia dibuat terkejut, takjub dan tidak percaya. Ia memang tidak menyaksikan apa yang sudah dilakukan anaknya pada pemuda itu, tapi sepertinya apa yang dilakukan Rafa berhasil menyembuhkan semua luka dari Nevan.
__ADS_1
Need yang menyaksikan itu dari jarak beberapa langkah dari kedua pemuda itu juga sempat tertegun. Ia tidak bisa mengatakan apapun atas apa yang terjadi. Bahkan ia tidak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi itu memang nyata. Ia tidak salah lihat. Pandangannya seketika beralih menatap Rafa dengan dalam.