Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 130 -Oliver II


__ADS_3

Setelah mendengar semua penjelasannya, Oliver terdiam dengan wajah terkejut. Ia tidak menyangka jika sekarang sudah ribuan tahun berlalu. Namun selama itu, ternyata Osmond masih hidup dengan menggunakan tubuhnya.


Ada rasa marah, menyesal, tapi juga sedih dalam tatapannya. Entah apa yang ia pikirkan, tidak ada yang tahu.


"Aku harus bertanggung jawab karena tidak berhasil menghabisinya. Bahkan dia membuat kekacauan dengan menggunakan tubuhku," ucap Oliver.


"Lalu apa yang harus dilakukan selanjutnya?" ucap Ray dengan wajah tidak bersemangat. Wajahnya begitu mendung bagaikan tempat yang akan diterpa hujan deras.


"Kenapa dia melakukan semua ini? Apa dia mau menghancurkan dunia?" sergah Radolf dengan mata sayu.


"Lebih baik kita diam saja jika tidak mau kehilangan siapapun lagi," Felix yang sebelumnya hanya diam meratap kini membuka suara. Wajahnya datar dengan mata menggelap. "Percuma berhasil mengalahkannya jika orang orang disekitar kita mati."


Oliver menatap satu persatu orang di sekitarnya. Tidak ada semangat apapun yang terpancar. Bahkan perasaan mereka seperti langit yang mendung. Tidak ada yang akan berjalan baik jika semua orang ini kehilangan semangat.


"Ya, mungkin apa yang kau katakan itu benar. Melawan hanya akan membuat orang yang berharga mati dan mungkin lebih baik diam sambil menjaga diri sendiri dan orang di samping kita," ucap Oliver dengan raut datar.


Felix seketika menatap Oliver yang duduk beberapa meter darinya, namun saling berhadapan, "Kalau begitu–"


"Kalau begitu, apa bedanya dengan keadaan sekarang? Bingung, hambar, tak mampu, berada di ambang kematian yang entah kapan akan terjadi. Apa kalian ingin mati tanpa melakukan apapun? Mungkin saat kalian tidak melawan, mereka membunuh iblis lain. Tapi nanti, kalian akan mendapat bagian.


Apa kalian lebih ingin mati tanpa melakukan apapun? Jika iya, maka lebih baik kalian diam saja di sini dan mencari tempat aman sampai hari kematian kalian tiba," lanjut Oliver.


Oliver menatap satu persatu orang di sekitarnya dengan tajam, "Lakukanlah jika kalian mau mati dengan menyedihkan. Lagi pula, makhluk yang lemah tidak dibutuhkan untuk melawan iblis semacam Osmond. Karena itu, mungkin kalian memang tidak pantas untuk bisa melawannya. Kalian lemah, penakut, pengecut, dan sangat menyedihkan."


Felix mengepalkan tangannya ketika mendengar ucapan Oliver, "Kau tidak pantas mengatakan hal seperti itu–"


"Lalu jika aku saja tidak pantas mengatakannya, apalagi kalian? Ck," Oliver mendecakkan lidah dengan senyum sinis, "Terima saja. Kalian semua... Menyedihkan."


*


*


Osmond dan Michael kini berada di depan sebuah pohon besar yang menjulang tinggi. Bahkan saking tingginya, pohon itu bagaikan menembus langit kelabu.

__ADS_1


Ukuran pohon yang begitu besar bahkan sangat tidak masuk akal bagi siapapun yang melihatnya. Di sekeliling pohon sangat gersang hingga tanah mengalami retak. Namun pohon itu dapat tumbuh.


"Tanganmu?" Osmond melirik kedua lengan Michael yang berubah menjadi tulang belulang.


"Ini karena kemampuan pria itu. Kekuatannya cukup menyeramkan," Michael berbicara tanpa nada. Tidak ada raut kesakitan dalam ekspresinya.


"Sebaiknya kau segera sembuhkan lenganmu. Sekarang adalah puncak dari rencanaku. Sayang sekali aku tidak bisa menangkap Ken dan mengikut sertakan dunia manusia dalam kekacauan ini. Tapi tidak apa, ini sudah cukup, karena ada perwakilan dari mereka," ucap Osmond dengan wajah serius.


"Aku masih tidak paham kenapa kau sampai melakukan hal bodoh ini. Apa dia sepenting itu bagimu?"


Osmond melirik Michael dengan wajah sinis, "Kau tidak akan pernah mengerti sama sekali tentang perasaan."


Michael diam dan Osmond pun melanjutkan, "Lagi pula, kau senang 'kan? Sebentar lagi... Kau bisa mendapatkannya."


Michael yang awalnya berwajah datar tiba tiba berubah. Senyumnya mengembang, namun terlihat menyeramkan. Ditambah dengan matanya yang melotot tajam, sempat membuat Osmond bergidik.


"Baiklah, ini memang tidak ada hubungannya denganku," ucap Michael dengan santai.


"Aku tidak menyangka akan ada iblis yang berkontribusi dalam hal ini. Aku tidak menyangka sama sekali. Tapi apa yang dia lakukan sangat menguntungkanku. Dia membuat pohon ini dan memudahkanku untuk menciptakan mayat hidup tanpa dia ketahui," ucap Osmond sambil menatap sekilas pohon besar yang ada di belakangnya.


Michael tersenyum simpul, "Kau tahu? Bukankah aku baik sudah melakukannya?"


"...Aku sudah menunggu sangat lama untuk saat saat seperti ini. Bahkan kesabaranku hampir saja hilang. Tapi aku mencoba untuk sabar dan menunggu, jadi aku membantumu agar hari ini segera terjadi."


"Ya.. Aku tidak tahu kau bisa sesabar ini," balas Osmond dengan wajah datar. "Karena itu, jangan ada kesalahan."


Di sekeliling mereka sudah ada banyak mayat hidup. Keadaan mereka beragam, namun tak ada satu pun yang terlihat sedap dipandang. Mereka mengerikan dan mengeluarkan bau busuk menyengat.


*


*


Karena Oliver yang terus memanas manasi semua orang di sekitarnya, akhirnya beberapa dari mereka akan ikut menyerang. Hanya para manusia yang tidak ikut. Menurutnya, manusia manusia itu memang tidak akan mampu jika harus melawan kekuatan Osmond. Walaupun diantara mereka ada yang ingin ikut, namun ia malah menolaknya.

__ADS_1


"Akhirnya hari ini datang... Apa yang diramalkan nenek tua itu ternyata benar. Osmond akan kembali dan membuat kekacauan. Tapi akan kupastikan, ini adalah terakhir kalinya dia bisa melakukan ini. Tidak akan kubiarkan dia melakukannya lagi," batin Oliver.


Walaupun ia ingin segera pergi menyerang Osmond beserta anak buahnya, tapi ia harus memperhatikan kondisi iblis lain yang akan ikut dengannya. Mereka dalam keadaan tidak baik secara pikiran. Sedangkan tubuh? Itu juga adalah hal yang ia perhatikan.


Dengan luka luka yang baru saja tercipta, energi yang sudah terkuras, mental yang sudah lelah, ia tidak bisa menggiring mereka ke panggung utama sekarang. Setidaknya, ia akan membiarkan mereka istirahat sampai nanti pagi tiba. Walau ia tahu, langit tidak akan memberikan banyak perubahan, meski hari sudah berganti.


Semua orang tertidur untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri keesokannya. Tinggal Oliver yang tidak tidur dan menjaga.


Hanya saja, Felix tidak bisa tidur. Ia duduk sambil bersandar pada pohon, memandangi Oliver yang berada beberapa meter di depannya, "Apa kau sudah puas membuat mereka ikut bertarung?"


Karena tempat yang hening, suara sekecil apapun dapat terdengar. Termasuk suara dari Felix. Ia memandangi pemuda dengan anting yang tergantung di salah satu telinganya itu, "Aku tidak puas. Jika hanya sejumlah ini, hanya sedikit kemungkinan untuk menang."


"Aku sangat sedih karena kehilangan salah satu orang yang berharga bagiku sekarang, guru."


Oliver berkedip beberapa kali sambil memandangi Felix dengan kening berkerut, "Guru? Maksudmu?"


"Apa guru lupa dengan anak yang sudah kau besarkan sebelumnya? Bahkan sempat ikut bertarung ketika perang melawan Osmond terjadi."


Oliver seketika tersentak. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Felix. Mendengar ucapan tadi tentu membuatnya penasaran. Sejak tadi, ia memang merasa familiar dengan anak itu. Namun ia tidak yakin. Sekarang sudah ribuan tahun berlalu, ia tidak yakin bila iblis di depannya adalah iblis yang sama. Tapi mendengar Felix mengatakan guru dengan sendirinya, membuatnya semakin penasaran.


Setelah jongkok di depan Felix, Oliver mengamati wajah anak dengan satu anting itu. Wajah yang ia kenal jelas sebagai muridnya dan sebagai anak yang sudah ia rawat sejak kecil.


"Lux?! Kau benar benar Lux?!" pekik Oliver.


Refleks Felix segera menyumpal mulut Oliver dengan telapak tangannya. Ia tidak mau jika orang lain mendengarkan apa yang mereka bicarakan saat ini. Ia tidak mau mengganggu istirahat mereka.


Sepertinya Oliver paham. Karena itu, ia tidak memberontak saat mulutnya dibekap.


"Aku benar benar Lux. Dan sekarang aku yakin, jika kau adalah guru, bukan Osmond yang menyamar menjadi dirimu. Tapi jangan berteriak lagi."


Oliver mengangguk paham. Felix pun segera melepaskan tangannya dan menjauhkannya dari mulut gurunya.


"Kenapa saat itu guru malah pergi? Kau bahkan tidak mengatakan dimana kau berada. Aku merasa tidak dianggap olehmu," ucap Felix dengan wajah datar.

__ADS_1


"Maaf.. Aku harus bersembunyi dan memulihkan diri. Kau tahu sendiri, saat itu Osmond dan pelayannya belum benar benar mati. Kau berada di garis depan dan tahu hal itu. Mereka hanya mundur sementara, bukan musnah. Tapi sekarang, akan kumusnahkan mereka berdua."


__ADS_2