
Sebuah lambang dari spidol terlukis di atas kain putih besar yang tergelar di lantai. Tergambar dua buah lingkaran yang saling bertumpuk, lalu di tengah terdapat gambar bintang dengan api yang terletak tepat di tengah pula.
Melvin menghembuskan napas. Ia sudah mencegah, namun melihat mereka yang terus keras kepala akhirnya membuatnya menyerah, "Ini adalah gambar sebagai perantara kalian pergi ke dunia iblis. Maksimal masuk ke dalam lambang ini hanya dua orang. Jadi kalian bisa sampai di sana bersama."
"Lalu, apa yang harus kami lakukan paman?" Rafa terus menatap gambar di depannya dan fokus mendengar ucapan Melvin.
"Kalian hanya perlu berdiri di tengah lambang ini. Aku akan membacakan mantranya dan mengirim kalian ke sana. Lalu...," Melvin mengambil sebuah kertas yang ada di meja dan mulai menuliskan banyak kata di atasnya.
Nevan maupun Rafa hanya diam sambil memperhatikan apa yang dilakukan pria itu. Sebelum Nevan sempat bertanya, ayahnya sudah selesai menulis dan langsung menyerahkan hasil tulisan kertas padanya. Ia mengerutkan kening ketika membaca kata kata aneh itu, "Ini apa?"
Pertanyaan dari Nevan membuat Rafa menatap kertas di tangan saudaranya. Keningnya pun berkerut ketika membaca tulisan yang berisi kata kata asing dan jujur saja sangat aneh.
"Kalian harus menggambar lambang yang sama seperti ini. Lalu kalian atau salah satu dari kalian harus membaca kata kata di dalam kertas itu untuk kembali ke dunia ini. Untuk menggambar lambangnya, tidak harus menggunakan spidol. Kalian bisa menggambarnya di tanah dengan ukuran besar. Yang penting gambar terlihat dengan jelas.
Kalian harus kembali tidak lebih dari seminggu. Waktu di dunia manusia ataupun dunia iblis tetap sama, namun kalian tidak boleh terlalu lama. Tempat itu berbahaya. Jika kalian tidak mau menyetujuinya, maka kalian tidak boleh pergi ke sana. Apa kalian mengerti? Tidak boleh lebih dari seminggu."
Rafa dan Nevan mengangguk, "Baiklah."
"Karena sekarang ada ayah di sini, maka kalian tidak perlu membacanya. Kalian hanya perlu berdiri di tengah lambang itu. Lalu kalian juga harus mengalirkan kekuatan pada lambang itu saat akan kembali ke dunia ini nanti. Namun untuk sekarang, aku saja sudah cukup."
Nevan dan Rafa saling berpandangan ketika mendengar ucapan Melvin. Mereka mengangguk sebelum akhirnya pergi ke tengah lambang itu. Nevan menyakukan kertas di tangannya. Ia memantapkan diri. Meski iblis adalah makhluk yang menyeramkan, namun ia harus menolong Rafa. Ia tidak boleh membiarkannya sendiri di tempat seperti itu.
Sebelum Melvin mengucapkan mantranya, ia mendekati mereka berdua dan menyerahkan dua buah kalung dengan liontin giok lonjong berwarna merah. Tali rantai kalung itu berwarna keperakan. Hiasan sederhana nampak menghiasi sekitar bulatan dari liontin.
Rafa dan Nevan menerimanya. Mereka menatap Melvin lekat, seolah mengajukan pertanyaan.
Melvin yang mengerti arti dari tatapan itu pun menjawab, "Itu adalah kalung yang sudah diberikan secara turun temurun. Total kalung yang kumiliki adalah 3 buah. Kalung ini bisa menjadi alat komunikasi. Selain itu, mungkin ini bisa menjadi pelindung untuk kalian. Jadi pakailah."
"Baiklah, akan kami terima," balas Nevan sambil memakai kalung itu.
Rafa pun melakukan hal yang sama. Ia tersenyum menatap Melvin. Walaupun pamannya sangat cemas pada mereka, namun nyatanya mereka berhasil membujuk pria itu agar mengizinkan pergi ke dunia iblis.
__ADS_1
"Terimakasih paman.. Aku tahu paman cemas, tapi kau tetap memperbolehkanku pergi. Terimakasih.. Karena mengabulkan keinginanku. Dan aku minta maaf karena sudah sangat memaksa," ucap Rafa dengan senyum kecut.
Melvin tersenyum lembut sambil menatap Rafa, "Aku mengabulkannya karena kalian berjanji akan kembali ke rumah. Karena itu, jangan mengingkarinya."
Rafa tidak membalas. Namun ia hanya tersenyum. Sebisa mungkin ia akan bertahan hidup di sana. Ia juga akan mencoba cara untuk menggunakan pengaruh mutlak agar para iblis yang berada di sana tidak menyerangnya.
Pamannya tidak tahu tentang cara menggunakannya. Jadi ia harus mencari tahu sendiri.
Melvin berlutut di depan gambar. Telapak tangan kanannya menyentuh ujung gambar, sedangkan mulutnya mulai mengucapkan beberapa kata. Gambar seketika bercahaya kebiru biruan.
Rafa menegak ludah dan memejamkan mata. Sedangkan, Nevan langsung menyentuh pundak Rafa untuk mengantisipasi mereka terkirim ke tempat berbeda. Hal ini pun membuat Rafa kembali membuka matanya dan melirik ke samping.
Cahaya semakin terang sebelum akhirnya menghilang bersamaan dengan hilangnya kedua pemuda itu.
Tidak lama, gambar yang terlukis di atas kain putih besar itu menghilang seperti terhapus.
Melvin langsung terduduk di lantai dengan napas sedikit terengah. Ia menggeleng pelan, "Aku tidak pandai menggunakan mantra seperti ini sehingga membuat kekuatanku terkuras banyak."
Ekspresi wajahnya nampak buruk, "Semoga mereka baik baik saja. Semoga keputusanku sudah tepat. Aku ingin ikut dengan mereka, tapi masih ada seseorang yang harus kujaga di sini."
***
Sebuah lingkaran cahaya muncul di suatu tempat di dunia iblis. Tempat ini dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun berukuran besar.
Dari dalam lingkaran cahaya yang muncul tiba tiba itu, muncul dua sosok pemuda. Salah satunya menggunakan hoodie berwarna coklat, sedangkan yang satunya menggunakan kaos berwarna putih dengan tulisan singkat warna hitam.
Keduanya tersentak ketika tiba di tempat ini. Mereka hampir tidak bisa melihat keadaan yang ada di sekitar karena langit tertutup oleh begitu rimbunnya dedaunan pohon.
"Kau masih berada di sini 'kan, Rafa?" ucap Nevan sambil meraba raba udara di samping. Ia sempat melepaskan bahu Rafa tadi sesaat setelah sampai di sini.
Rafa buka suara, "Iya, aku masih berada di sini. Tapi... Tempat ini sangat gelap. Aku hampir tidak bisa melihat."
__ADS_1
Nevan mengangguki ucapan saudaranya, "Kau benar, tapi aku yakin jika tempat ini adalah hutan."
Rafa menggumam sebelum akhirnya melirik Nevan, walau tidak bisa melihat jelas wajahnya, "Kenapa kau membantuku membujuk paman? Kau bahkan malah mengikutimu kemari. Sebenarnya aku sangat senang karena kau bersamaku, tapi tempat ini berbahaya. Kau akan ikut terjebak masalah jika mengikutiku kemari. Dan aku tidak ingin itu terjadi."
"Anggap saja ini balasan dariku untuk membayar beberapa hal yang kusembunyikan darimu selama ini," balas Nevan dengan santainya.
Rafa menggeleng. Sepertinya saudaranya itu terlalu santai hingga tidak tahu seberbahaya apa situasinya sekarang. Namun, saat ia akan merutukinya, suara geraman terdengar di telinga keduanya.
Ggggrrrr
Keduanya seketika waspada. Walaupun tidak bisa melihat jelas, namun nyatanya mereka bisa merasakan indra pendengaran dan instingnya menajam.
Arah dari geraman itu adalah belakang. Seketika keduanya pun berbalik. Bayangan hitam berkaki empat dengan tinggi sekitar 2 meter terlihat. Hewan itu sepertinya berbulu lebat, dilihat dari bayangan samar nya.
"Glup.." Rafa menelan ludah. Baru saja ia memikirkan hal buruk, kejadian itu langsung terjadi. Padahal mereka baru saja tiba di tempat ini, namun sudah menemukan sesuatu yang sangat tidak terduga, "Nev.. Sebenarnya.. Apa itu? Kenapa besar sekali?"
Nevan berekspresi serius, "Ini pasti salah satu monster yang ada di dunia iblis. Karena dunia iblis tidak hanya dihuni oleh para iblis, tapi monster juga mendiami dunia ini. Bahkan dari yang kutahu, jumlah dari populasi monster dua kali lipat dari populasi iblis."
Rafa semakin tegang ketika mendengar penjelasan dari Nevan. Ia tidak tahu tentang itu. Namun, ia segera menarik belati yang tersarung di pinggangnya. Ia hanya membawa dua buah belati untuk berjaga jaga dan ternyata ini adalah situasi yang membuatnya harus mengeluarkan senjata ini.
Entah monster seperti apa yang berdiri di depannya, tapi rasanya ia sedikit bersyukur tidak bisa melihatnya dengan jelas. Karena jika ia bisa melihatnya dengan jelas, mungkin ia akan merasa gemetar dan menciut. Ia akan kesulitan bertarung jika seperti itu.
"Sepertinya kau juga membawa senjata ya?" ucap Nevan yang terdengar santai, walau raut wajahnya begitu serius.
"Ya, untuk berjaga jaga," timpal Rafa. Ia menggenggam kuat senjata di tangannya dan memperkuat pijakannya di tanah.
Nevan menggigit ibu jarinya hingga berdarah. Ia mencoretnya pada telapak tangan kiri hingga sebuah gambar bulan sabit yang tertancap belati muncul di telapak tangannya.
Bersamaan dengan itu, sebuah belati tergenggam di kedua tangannya. "Jangan merepotkanku ya."
"Hmph!" Rafa mendengus tanpa membalas ucapan Nevan. Bersamaan dengan itu, keduanya segera melesat cepat ke arah monster berbulu itu dan menyerangnya.
__ADS_1