Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 24 -Teddy


__ADS_3

Pria dengan tanda lahir di pelipis kiri itu memperhatikan Kevin dari atas sampai bawah. Pakaian pemuda itu kotor dengan darah. Entah apa yang sudah terjadi, namun setahunya pemilik rumah ini tinggal sendiri.


"Dengan siapa?" tanya Kevin sopan. Ia memang waspada sekarang. Namun ia harus tetap sopan pada orang yang lebih tua. Harus ia akui, wajah dari pria itu cukup garang, bahkan terkesan seperti preman. Tapi ia tidak bisa langsung menyimpulkan seperti itu.


"Namaku Teddy."


Kevin hampir dibuat tertawa setelah mendengar nama itu. Wajah pria itu garang, namun namanya seperti boneka. Walau ingin tertawa, ia harus menahannya.


"Seingatku di rumah ini hanya tinggal satu orang saja. Dan orang itu bukanlah kau. Selain itu, pakaianmu berlumuran darah. Apa yang sudah kau lakukan pada pemiliki rumah ini? Dimana dia?" Ucap Teddy dengan ekspresi mengancam.


Kevin lupa tentang penampilannya sekarang. Ia seharusnya mengganti pakaian. Jika seperti ini, pasti membuat pria itu salah paham.


"Ah, ini.. bukan apa apa. Pemilik rumah ini adalah temanku. Dia masih di sekolah sekarang," jawab Kevin seadanya.


Teddy tidak puas dengan jawaban Kevin. Ia langsung menerobos masuk tanpa menghiraukan pemuda itu. Ia ingin melihatnya sendiri.


"Anda tidak bisa masuk sembarangan! Selain itu, siapa anda?!" Ucap Kevin sambil mengejar pria itu. Ia takut bila orang ini bersekongkol dengan yang menyerangnya.


Teddy telah sampai di ruang tamu. Ia bisa melihat betapa berantakannya meja ini. Bahkan ada bercak darah di lantai yang terlihat begitu jelas. Ia berpikir bila orang yang membukakan pintu untuknya adalah pembunuh. Ia membalikkan badan dan menatap Kevin yang mengikutinya.


"Kenapa ada bercak darah di sini? Dimana pemilik rumah ini? Kau melukainya? Kau membunuhnya? Dimana kau menyembunyikan jasad nya?!" Ucap Teddy sambil berekspresi dingin.


Entah bagaimana Kevin harus berekspresi. Belum juga satu menit berlalu sejak ia membukakan pintu untuknya, namun dia sudah keterlaluan seperti ini. Sebenarnya siapa dia?!


"Jangan menuduh macam macam! Selain itu, Anda tidak seharusnya masuk begitu saja sebelum mendapatkan izin. Dan aku sudah mengatakan bila pemilik rumah masih berada di sekolah. Sekarang masih siang, dia belum pulang," ucap Kevin dengan sedikit kesal.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memastikannya sendiri. Aku akan menunggu sampai dia tiba."


Teddy langsung duduk di sofa tanpa permisi sama sekali. Ia bertindak seenaknya hingga membuat Kevin tersulut emosi. Sebenarnya siapa pria itu? Untuk apa dia mencari Rafa?


Ia memang emosi, namun ia tidak boleh melampiaskannya. Bisa saja dia adalah orang yang dikenal Rafa. Namun.., ia kini berpikir kenapa pria itu tidak terkejut dengan bercak darah di rumah ini? Bahkan dia tidak gentar atau takut sedikitpun. Seolah ini adalah pemandangan yang biasa untuknya.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku permisi. Aku akan mengganti pakaian terlebih dahulu. Aku akan ingatkan, jangan melakukan hal aneh di rumah ini," ucap Kevin dengan datar. Ia pun segera pergi meninggalkan pria itu sendiri di ruang tamu.


Ia memang merasa sedikit khawatir bila Teddy akan melakukan sesuatu yang mengancam, namun ia harus berpikir positif. Jika pria itu ingin bertemu dengan Rafa, seharusnya dia akan diam saja di sana dan menunggu.


Pada akhirnya, apa yang ia khawatirkan tidak terjadi. Nyatanya pria itu masih diam di tempat sambil bermain ponsel. Bahkan ketika ia membersihkan kekacauan di rumah ini, dia hanya diam tanpa memperhatikannya.


"Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan?" batin Kevin. Ia yang sudah selesai dengan semuanya langsung duduk berhadapan dengan Teddy. Ia bermain ponsel sambil sesekali melirik ke arahnya. Dengan diam diam pun, ia memotret pria itu dan mengirimkan fotonya pada Rafa.


Temannya itu tidak juga membalas. Mungkin dia masih sibuk di sekolah. Tapi sekarang sudah hampir waktunya pulang. Dia pasti akan tiba di rumah setengah jam lagi.


"Hei, namamu siapa?"


Kevin tertegun saat pria itu tiba tiba mengajaknya berbicara. Padahal sejak tadi dia hanya diam tanpa mempedulikannya, "Kevin."


"Kau sangat kuat."


Kevin mengerutkan keningnya. Entah apa yang dimaksud pria itu. Padahal baru mengajaknya berbicara, tapi sudah mengatakan hal tidak jelas seperti ini.


Kevin menatap Teddy. Pria itu sepertinya benar benar penasaran dengannya, "Tidak, aku sering bertarung dengan perampok ataupun murid sekolah. Dari hal itu aku memiliki banyak pengalaman."


"Bagaimana bila kau menjadi pemburu saja? Bukan pemburu hewan, tapi makhluk yang lebih kuat dari manusia atau hewan buas sekalipun. Kau bisa mendapatkan banyak uang dari itu. Yah, walaupun kau tidak sama sepertiku dan hanya manusia biasa, tapi kau lumayan. Bagaimana? Apa kau tertarik? Penawaran seperti ini tidak akan datang di lain waktu," ucap Teddy.


Kevin mengangkat sebelah alisnya. Apa pria itu sedang menghayal? Apa yang dia bicarakan? Pemburu? Tidak sama dan hanya manusia biasa?


"Tidak, aku tidak tertarik dengan uang. Orang tuaku memilikinya," balas Kevin.


"Lalu apa yang kau inginkan?"


"Aku hanya ingin hidup dengan damai dan bisa melindungi diriku sendiri tanpa bantuan orang lain," balas Kevin tanpa menatap Teddy.


Teddy menghela nafas pelan. Ia berhenti mengajak Kevin berbicara, karena sepertinya pemuda itu tidak tertarik dengan apapun yang ia bicarakan selanjutnya.

__ADS_1


"Leon tidak juga kembali. Sebenarnya apa yang sudah terjadi saat aku pingsan? Apa dia dibawa orang itu? Aku jadi memikirkannya. Jika saja paman ini segera pergi, aku bisa mencarinya lagi," batin Kevin dengan ekspresi datar. Ia menyembunyikan kegelisahannya dengan baik di depan Teddy.


"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan di sini, paman?" tanya Kevin.


Teddy menatap Kevin. Pemuda itu pasti bingung dengan kedatangannya kemari seperti ini. Mungkin ia harus memberitahu keperluannya agar dia tidak menatapnya dengan waspada terus menerus, "Aku harus bertemu dengan Rafa. Aku ingin mencoba mengajaknya lagi seperti tawaran yang kuberikan padamu tadi.


Aku sudah pernah mengajaknya beberapa kali. Tapi dia menolak. Padahal dia memiliki kekuatan yang besar. Akan sangat disayangkan bila kekuatan itu tidak dilatih."


Kevin berekspresi datar, "Pasti semua orang akan menolak jika ditawari hal seperti itu. Bagaimanapun, itu terdengar seperti penipuan. Untuk apa berburu sesuatu yang tidak dijelaskan dengan baik seperti itu?" batinnya.


Krieett


"Aku pulang."


"Dia pulang dengan cepat," gumam Kevin. Dilihatnya seorang pemuda bermanik mata ungu berjalan memasuki rumah dengan ekspresi lelah.


"Rafa, kemarilah. Ada tamu untukmu," ucap Kevin sambil melambaikan tangannya.


Rafa melirik lambaian tangan Kevin. Ia pun segera mendekat dan melihat siapa tamu yang dimaksud. Ekspresinya berubah menjadi terkejut, "Paman kemari lagi?!"


"Aish, kata katamu terdengar seperti aku ini sudah mengganggumu," balas Teddy.


Kevin menatap Teddy dengan tajam. Dalam pengekspresiannya, ia seolah mengatakan bila apa yang ia ucapkan adalah benar. Ia tidak membunuh Rafa sama sekali. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, namun sangat tergambarkan jelas dalam ekspresinya.


"Aku tidak bermaksud seperti itu," Rafa meletakkan tas nya di sofa dan duduk di samping Kevin. Saat itulah ia menyadari sesuatu. Pandangannya melihat ke depan. Tidak ada meja di sana, "Kev, dimana mejaku?" sambil melirik Kevin.


Kevin menelan ludahnya, "Akan aku jelaskan nanti."


"Tanpa basa basi lagi, aku ingin menawarkanmu hal yang sama. Kuharap kau mempertimbangkannya dengan baik. Karena dari yang kulihat, kau memiliki kekuatan yang kuat, entah seperti apa itu. Namun tidak diragukan lagi. Sebulan lalu aku memberikan tawaran untuk kesekian kalinya padamu. Namun kau terus saja menolak.


Padahal ini adalah kesempatan bagus untukmu. Selain bisa melatih kekuatanmu itu, kau juga bisa mendapatkan banyak uang. Kau pasti membutuhkan banyak uang karena kau hanya tinggal sendiri di sini." Jelas Teddy dengan panjang lebar.

__ADS_1


"Dan..., untuk yang kesekian kalinya, aku menolaknya paman. Maaf, aku tidak mau melakukan hal seperti berburu. Aku juga tidak pandai bertarung, jadi aku tidaklah kuat. Kau pasti salah orang," ucap Rafa dengan tenang.


__ADS_2