Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 81 -Kendala


__ADS_3

Rafa akhirnya kembali buka suara setelah sempat terdiam. Pandangannya terarah pada Radolf, "Aku akan mengobati luka ayah juga."


Pria iblis itu terkesiap ketika melihat Rafa langsung duduk di depannya. Ia menjadi tidak enak, "Tidak perlu, ayah masih bisa mengatasinya. Luka ini akan perlahan sembuh. Dibandingkan mengkhawatirkan ayah, sebaiknya kau menyembuhkan lukamu sendiri."


Rafa menggeleng, "Aku hanya mendapat luka kecil dan ini tidak sakit."


Tanpa berbicara lagi, Rafa langsung menggenggam tangan ayahnya dan mengalirkan kekuatan yang terasa mengalir deras dalam dirinya.


Radolf tersentak dan berujar dengan tenang, "Tidak perlu mengkhawatirkan ayah.."


Rafa tidak menjawab perkataan ayahnya dan hanya fokus menyembuhkan.


Radolf dapat melihat cahaya kehijauan yang menyinari luka lukanya. Bahkan luka yang cukup dalam di salah satu bahunya pun ikut bercahaya. Ia tertegun ketika menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana lukanya yang perlahan sembuh. Cahaya itu seakan memberi kehangatan yang menenangkan dan rasa sakit yang dideritanya pun berkurang.


Kekuatan menyembuhkan yang diperlihatkan Rafa bahkan lebih cepat dibandingkan regenerasi dari tubuhnya yang seorang panglima iblis. Ia sampai tidak bisa berkata kata.


Rafa menghembuskan napas ketika telah selesai. Ia menatap Radolf dan memperhatikan bahu yang sebelumnya terkoyak kini tidak memperlihatkan bekas luka apapun. Kepalanya mengangguk puas, "Sekarang aku tidak perlu khawatir."


Tatapan Rafa kini terarah pada iblis lain yang ada di sini. Ia tidak tahu siapa dia, tapi iblis itu seperti telah mengenalnya, jika dilihat dari tatapan yang diberikan, "Aku juga akan mengobatimu."


Need tersentak mendengar ucapan Rafa. Ia segera mendengus sambil memalingkan wajahnya, "Tidak perlu. Aku tidak selemah itu sampai harus mendapat pengobatan darimu."


"Baiklah," Rafa tidak mau memaksa iblis yang baru saja ia temui ini. Lagi pula, ia sendiri masih sedikit takut dengan makhluk bernama iblis ini. Ia pernah hampir mati karena iblis. Karena makhluk itu pula, pertemanannya dengan Kevin hampir berakhir. Karena iblis pun, ia... Sampai membunuh.


Walau bukan membunuh manusia, tapi Rafa tidak terbiasa dalam membunuh sesuatu seperti 'itu'. Iblis memang berbeda dengan manusia. Tapi penampilan mereka begitu mirip manusia, hingga membuatnya merasa tidak kuat jika harus membunuhnya.


Tapi keadaaan membuatnya terpaksa melakukan hal itu.


"Rafa.. Maafkan ayah.."


Rafa berkedip. Ia menatap wajah ayahnya dengan seksama. Terdapat raut kesedihan dan penyesalan dalam tatapan mata pria itu.


"Maaf karena sudah meninggalkanmu. Maaf tidak memberikan penjelasan apapun padamu. Maaf... Maafkan ayah.."


Rafa menghembuskan napas dengan seulas senyum yang mulai terbentuk di wajahnya. Tapi tak berapa lama, ia mengubah raut wajahnya menjadi menyesal, "Maafkan aku juga karena sudah memukul ayah tadi.."


Radolf menggeleng. Ia langsung memeluk Rafa tanpa peringatan hingga membuat pemuda itu terkejut. Ia mengusap punggung anaknya, "Tidak apa, itu salah ayah.. Kau tidak salah.. Ayah tidak akan meninggalkanmu lagi dengan cara seperti itu."


Rafa berkedip, sebelum akhirnya kembali tersenyum. Ia balas memeluk ayahnya dengan penuh kerinduan, "Selamat datang kembali, ayah.."

__ADS_1


Nevan hanya diam di tempat sambil menyaksikan bagaimana kedua ayah dan anak yang saling berbaikan dan memaafkan. Ia ikut senang ketika melihatnya. Ia sampai tidak mau mengganggu reuni mereka dan merusaknya. Namun beda hal nya dengan orang lainnya.


"Ekhem..," Need berdehem dengan cukup keras.


Rafa dan Radolf pun bahkan sampai menghentikan reuni kecil ini dan mulai menatap Need. Iblis yang memiliki wajah seperti pemuda dengan rambut coklat muda itu memperhatikan keduanya dengan serius.


"Maaf mengacaukan pertemuan kalian. Tapi di sini, kita sedang tidak dalam kondisi yang tepat untuk saling berpelukan," ujar Need.


Ia pun melanjutkan, "..Ada sesuatu yang berbahaya sedang mengancam dunia. Monster yang kita lawan hanya sebagian dari monster yang keluar dari hutan. Belum lagi, masih ada banyak kupu kupu terbang yang mematikan berkeliaran di seluruh dunia iblis. Kekacauan ada dimana mana sekarang. Tidak ada waktu untuk saling mencurahkan rasa rindu."


Nevan segera menatap Need ketika mendengar perkataannya. Ia mengerutkan kening dengan ekspresi bingung, "Memangnya apa yang sedang terjadi di sini?"


Need menghembuskan napas ketika melihat ekspresi ketidak tahuan dari dua manusia yang entah sejak kapan berada di dunia iblis. Radolf juga terlihat tidak begitu mengerti dengan keadaan sekarang. Ia memandang Nevan, Rafa dan Radolf secara bergantian, sebelum akhirnya menjelaskan,


"Pertarungan antar Raja sekarang memang sudah berhenti. Namun, situasinya tidak berubah menjadi lebih baik. Malahan keadaan saat ini sangat buruk. Pohon besar tiba tiba tumbuh entah dimana. Tapi ukuran pohon itu begitu besar hingga sampai bisa dilihat dari sini.


Lalu seperti yang kalian lihat, keadaan langit di sini sangat gelap. Bahkan lebih gelap bila dibandingkan langit malam pada umumnya. Tapi sebenarnya, seharusnya sekarang adalah siang hari. Tidak, sore hari. Keadaan ini terjadi setelah pohon besar itu muncul.


Karena di sini banyak pohon lebat yang menghalangi, jadi kalian tidak bisa melihat pohon besar itu," Need terdiam sejenak untuk mengatur napas.


Ia pun melanjutkan, "Bukan pohon besar yang menjadi akar permasalahannya, tapi kupu kupu bersayap indah, namun mematikan yang muncul dan tersebar di banyak tempat.


Hanya dengan satu tusukan dari tentakel itu, bisa membuat iblis mati dengan kondisi mayat kurus dan seperti tulang belulang yang terbungkus kulit tanpa darah. Tidak hanya berfungsi untuk menusuk, tapi tentakel itu bisa digunakan sebagai serangan ataupun tali untuk mengikat tubuh iblis."


Rafa dan Nevan sampai menahan napas ketika mendengar penjelasan panjang dari Need. Iblis berambut coklat muda itu tampak serius, dan tidak terlihat bercanda sama sekali. Ini membuat mereka semakin tegang.


Radolf pun sampai tidak bisa berkata kata. Ia tidak tahu jika keadaan seburuk itu. Ia belum lama sadar dan terbangun saat berada di hutan ini. Jadi dirinya tidak tahu apapun tentang apa yang terjadi selama dirinya tidak sadarkan diri.


Need menatap Nevan dan Rafa, lalu bersuara dengan nada ketus, "Sebenarnya, bagaimana kalian bisa sampai di dunia ini? Kedatangan kalian sangat tidak tepat dan hanya akan mengundang kematian bagi diri kalian sendiri."


Nevan dan Rafa saling menatap satu sama lain, sebelum menatap Need kembali.


Rafa membuka suara untuk menjawab, "Kami bisa sampai di sini berkat paman Melvin. Dia menggunakan suatu lambang dan mantra untuk melakukannya."


Rafa pun menundukkan kepalanya dengan sedikit perasaan tidak enak, "Itu karena aku memaksanya agar mengirimku kemari. Aku ingin bertemu dengan ayah, sekaligus menemui Leon. Tapi... Ternyata Leon..," ia merasa tidak sanggup melanjutkannya. Ia seperti memiliki ikatan kuat dengan anak itu, hingga kabar kematian Leon seakan membuat rasa sesak di dadanya.


Dirinya memang tidak lama mengenal Leon. Namun ia seakan memiliki hubungan yang kuat dengannya dan itu membuatnya tidak rela bila harus kehilangan Leon.


Need menggigit bibir bawahnya ketika kembali teringat dengan saat saat terakhir Leon dan bagaimana jasadnya dimakan oleh monster. Ia juga teringat bagaimana tangan miliknya menembus tubuh Raja iblis itu. Tangannya seketika terkepal dengan kuat hingga melukai telapak tangannya sendiri.

__ADS_1


Benar, ia'lah yang membunuh Leon dengan tangannya sendiri. Ia yang sudah merenggut nyawa dari iblis yang paling ia kagumi. Walaupun ia membunuhnya tanpa kendali tubuh sendiri, tapi itu tidak menutup kenyataan jika dirinya yang sudah membunuh Leon.


Radolf terdiam. Ternyata anaknya mengenal 'Tuan' nya. Entah bagaimana Rafa dan Leon bertemu sebelumnya. Tapi yang lebih penting untuk sekarang bukanlah itu. Ia menatap Rafa dan Nevan serius dan penuh ke-khawatiran, "Sebaiknya kalian segera pergi. Kalian tidak boleh terlibat hal seperti ini."


Rafa terkejut. Ia menoleh pada Radolf, "Bagaimana dengan ayah?"


"Ayah akan kembali setelah menyelesaikan masalah di sini. Bagaimanapun, aku turut andil dalam masalah yang menimpa dunia iblis. Ayah tidak bisa pergi dan bersikap seolah tidak tahu," Radolf menggeleng.


Need memandang Radolf dengan sinis, "Baguslah jika kau menyadarinya."


Walaupun ia bersikap demikian, ia sebenarnya lebih merasa paling bertanggung jawab. Ia yang paling merasa bersalah.


Radolf tidak mempermasalahkan sikap Need padanya dan langsung mengambil sebuah ranting yang cukup panjang, namun ramping. Ia mulai menggambar di atas tanah dengan menggunakan ranting itu.


Rafa dan Nevan sampai tertegun ketika melihat lambang yang sama seperti yang dilukiskan Melvin saat itu, "Apa mungkin.. Ayah tahu cara untuk pergi ke dunia manusia dan dunia iblis?"


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Radolf berjalan mendekati kedua pemuda itu, "Tentu saja, bagaimana cara ayah bisa kembali ke dunia iblis jika tidak bisa melakukan hal ini?"


Ia terdiam sejenak dan melanjutkan, "Sebenarnya dulu aku memang tidak sengaja tertarik masuk ke retakan yang membawaku ke dunia manusia. Lalu saat itu aku juga bertemu ibumu di sana. Dia adalah blizt yang sangat kuat dan bahkan dia yang menciptakan mantra perpindahan antar dunia.


Ayah dapat melakukan mantra ini karena diajari oleh ibumu. Banyak sekali hal yang terjadi sebelum kejadian itu. Kami juga sempat menjadi musuh."


Ia bertepuk tangan dua kali hingga membuat kedua pemuda itu kembali terfokus padanya. Sambil menunjuk gambar buatannya sendiri, ia berucap, "Sekarang kalian berdiri di sana. Aku akan memindahkan kalian ke dunia manusia. Sebisa mungkin aku akan memindahkan kalian tidak jauh dari tempat kalian berada sebelumnya."


Rafa menatap khawatir pada Radolf. Mengetahui tatapan itu, membuat Radolf tersenyum dan mengusap kepalanya, "Jangan khawatir. Ayah akan baik baik saja. Berkatmu, semua luka ayah menghilang tanpa bekas."


Nevan mengangguk dan mencoba meyakinkan Rafa. Jika mereka di sini, mungkin mereka hanya akan menjadi beban. Ia pun mengajak Rafa dan pergi ke tengah gambar.


Setelah melihat Nevan dan Rafa berada di tengah lambang, ia segera berlutut di depan gambar dan menyentuhnya sedikit dengan tangan kanan. Mulutnya mulai mengucapkan beberapa kata yang tidak bisa dimengerti bagi kedua pemuda itu ataupun Need.


Gambar seketika bercahaya kebiru biruan dan semakin terang hingga menutupi kedua tubuh manusia di dalamnya.


Cahaya pun memudar bersamaan dengan lambang di tanah yang menghilang. Namun..


Rafa dan Nevan masih berada di tempatnya. Tidak selangkah kaki pun tempat mereka berubah. Hal ini membuat keduanya tersentak, bahkan Need yang menyaksikan hal ini pun ikut terkejut.


"I-ini.."


Ketika mendengar suara pemuda yang bersama Rafa, Radolf langsung terkesiap. Ia mendongak ke atas dan terkejut ketika melihat Rafa dan Nevan yang masih berada di tempat, "K-kenapa kalian masih berada di sini? Aku yakin tidak melakukan kesalahan apapun dalam melakukannya."

__ADS_1


Jelas Radolf pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang. Rafa dan Nevan yang seharusnya berpindah tempat ke dunia manusia kini justru masih berada di sini.


__ADS_2