
Di sebuah ruangan kosong berwarna putih, duduk seorang pemuda dengan mata merah dan rambut hitam. Pandangannya menatap lurus sesuatu yang kosong di depan. Hanya kehampaan tanpa ada warna lain selain putih di sini. Tidak ada suara apapun yang dapat masuk ke gendang telinganya karena tak ada suara apapun yang dapat masuk ke tempat ini.
Ia terus duduk termenung memikirkan semua hal yang sudah dirinya lakukan. Semua hal yang sebelumnya tidak ia ketahui kini baru diketahui olehnya. Karena itu pula, ia terhanyut dalam pikirannya dibandingkan keadaannya sekarang.
Hal yang ia ketahui hingga harus mengalami sakit kepala cukup lama karena ingatan ingatan itu.
"Felix bereinkarnasi sendiri karena keberuntungannya. Aku bereinkarnasi karena kemampuanku, namun menjadi dua, diriku dan Rafa... Karena kedatangan jiwa Oliver yang akan ikut bereinkarnasi denganku, secara spontan aku malah memisahkan diri dan akhirnya aku dan Rafa menjadi jiwa yang terpisah.
Kite–Osmond yang mengatakan kami dapat mati jika mati di waktu bersamaan tidak salah, tapi kurang tepat untuk situasi sekarang. Aku yakin, sekarang jiwa yang menggunakan tubuh Rafa adalah Oliver. Tapi di samping itu, Rafa masih berada di dalam tubuhnya, namun tidak atau belum bisa mengambil kendali atas dirinya sendiri.
Sedangkan di sisi lain, aku sekarang sudah mati dan tidak bisa kembali ke tubuhku. Bahkan aku tidak bisa bangkit dari kematian seperti sebelumnya. Namun... Jika aku benar benar sudah mati, seharusnya aku tidak berada di kehampaan seperti ini.
Atau mungkin, ada sesuatu yang harus kulakukan terlebih dahulu sebelum menyeberang ke alam lain," gumam pemuda itu.
Dia tak lain adalah Leon yang jiwanya masih tertahan di tempat yang ia sendiri tidak tahu. Dirinya terus berspekulasi tentang segala kemungkinan dan penyebab.
"Lalu Ray... Dia bereinkarnasi karenaku. Aku saat itu merasa bersalah karena dia mati untuk melindungiku. Ditambah, dia memiliki kemampuan yang sangat bagus dan efektif untuk melawan serangan Osmond, jadi aku berusaha membuatnya bereinkarnasi.
Selain dia... Ada 2 orang lainnya yang juga bereinkarnasi karenaku. Tapi aku tidak tahu siapa mereka sekarang, yang pasti mereka tetap memiliki kemampuan yang sama seperti sebelumnya.
Tunggu sebentar... Aku sepertinya melupakan sesuatu. Sesuatu yang penting...," Leon memegangi kepalanya yang terasa pening. Ia benar benar butuh ingatannya yang satu ini. Ada satu orang lagi yang ia ingat mengirimkannya untuk bereinkarnasi.
"Sebenarnya berapa orang yang bereinkarnasi karena kekuatanku?!" gumam Leon dengan geram. Bukan hanya 4 orang itu saja yang mulai diingatnya. Ada beberapa orang lagi yang ia ingat bereinkarnasi karena kekuatannya.
Saat dulu sebelum menjadi Leon dan masih bersatu dengan jiwa Rafa, ia pernah memiliki firasat buruk tentang Osmond yang akan kembali entah kapan. Karena itu lah, saat sempat menggunakan kekuatannya untuk ini, Leon mulai mengubah takdir seseorang. Bukan untuk menghidupkannya kembali, melainkan membuatnya terlahir kembali di kehidupan lain.
"Jika aku jumlahkan, ada 10 orang termasuk diriku. Siapapun yang aku reinkarnasikan, mereka memiliki wajah yang sama dengan saat mereka di masa lalu. Tapi tunggu–salah satu wajah itu... Sepertinya aku pernah ingat. Tapi siapa ya?"
Di saat Leon berkutat dengan ingatannya, tanpa disadari Leon, ada seseorang yang berjalan menghampirinya dari kejauhan.
__ADS_1
Seorang pria dengan senyumannya yang lebar dan nampak bersahabat. Langkahnya begitu mantap ketika semakin mendekat pada Leon.
"Bagaimana Niel? Apa kau sudah mengingat semuanya?"
Leon mendongak saat melihat sepasang kaki berdiri di hadapannya, ditambah dengan suara yang rasanya pernah ia dengar. Keningnya seketika berkerut sebelum akhirnya ia dongakkan kepala ke atas. Wajah yang familier baginya, walau wajah itu kini sedikit berubah.
Namun hal pertama yang ia pikirkan, orang yang berdiri di hadapannya adalah korban pertama saat ia hilang ingatan, "Teddy?!"
Leon sampai terdiam ketika mengetahui orang itu. Orang yang ia bunuh saat berada di dunia manusia dalam keadaan hilang ingatan, sekaligus salah satu orang yang ia ubah takdirnya.
"Oh? Ternyata kau menyebut namaku yang itu. Kupikir kau akan menyebut namaku yang dulu. Yah... Tak apa," ucap Teddy dengan senyum. Padahal ia sedang bertemu dengan pembunuhnya, namun ia seakan tidak takut ataupun marah.
"Aku baru mengingat apa saja yang terjadi di kehidupan sebelumnya, tepat setelah kematianku itu. Tapi aku tak menyangka, kau menggunakan kekuatanmu, mengubah takdirku dan membuatku bereinkarnasi ternyata untuk kau bunuh ya..," senyum masih belum lepas dari wajah Teddy. Namun untuk senyuman kali ini, membuat perasaan Leon tidak enak.
Leon menatap Teddy dengan canggung. Ia sendiri tidak tahu jika Teddy adalah orang yang ia hidupkan kembali di kehidupan lain. Padahal dulu ia sengaja mengubah takdirnya disaat Teddy telah mati, agar suatu saat ketika Osmond muncul kembali, Teddy bisa memberikan banyak bantuan.
Tapi sebelum itu terjadi, ia malah membunuhnya di kehidupan sekarang.
Leon menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Y-yah aku tidak tahu apapun. Saat itu kau seperti ingin membunuhku, aku tidak bisa diam saja. Jadi itu salahmu."
Teddy kembali mendengus. Seharusnya Leon meminta maaf, namun nyatanya pemuda itu malah menyalahkannya, "Kau masih saja sulit mengatakan kata 'maaf' pada orang lain. Sekarang kau bahkan malah menyalahkanku."
Leon hanya diam dan mendengarkan keluh kesah Teddy yang kesal padanya. Mereka memang bukan hanya teman yang kenal setahun dua tahun. Mereka adalah teman sejak kecil, ketika Leon saat di kehidupan sebelumnya bernama Niel.
Setelah Teddy menghentikan argumennya, Leon kemudian mencoba berbicara lagi, "Padahal kau sangat kuat di kehidupan sebelumnya. Kenapa saat melawanku kala itu, kau tidak sekuat yang kuketahui? Apa kau sengaja kalah?"
"Tentu saja tidak! Saat itu kekuatanku tidak seperti saat aku di kehidupan sebelumnya. Kau hanya membuatku bereinkarnasi saja," ucap Teddy dengan singkat.
"Apa semua orang yang bereinkarnasi menggunakan kekuatanku juga mengalami hal yang sama? Mereka tidak memiliki kekuatan seperti saat sebelumnya?" gumam Leon.
__ADS_1
Tentu gumaman itu dapat didengar jelas oleh Teddy karena keadaan hening di sini, "Tidak, kemungkinan banyak diantara orang orang itu yang masih memiliki kekuatannya. Hanya saja, keadaan mereka mungkin ada yang sudah mati, lalu ada pula yang masih hidup. Seperti temanmu itu yang sekarang bernama Ray."
Leon tersentak, "Bagaimana kau tahu tentang Ray?"
Teddy tersenyum bangga, "Tentu saja tahu. Aku memantaumu dari sini sejak aku mati. Jika aku bisa memilih, lebih baik aku memantau anak anakku saja."
Leon melebarkan matanya karena terkejut. Namun Teddy belum selesai berbicara.
"Di salah satu kejadian, aku juga sempat melihatmu memakan iblis lain. Huekk... Rasanya aku ingin muntah, tapi aku hanya jiwa, jadi hanya bisa mual mual."
Wajah Leon menjadi gelap ketika mendengar setiap ucapan Teddy. Apalagi saat Teddy bercerita dari awal apa saja yang Teddy lihat sejak kematiannya. Selama ini, privasinya sudah dibobol oleh seseorang tanpa ia tahu.
"Kau menyebalkan," Leon membuang mukanya ke arah lain. Jujur ia marah, kesal, tapi ia tidak bisa melampiaskannya. Karena bagaimanapun, Teddy mati karenanya.
"Aish.. Kau ini... Jangan marah begitu, kau jadi terlihat jelek jika begini," bujuk Teddy.
Leon hanya mendengus tanpa menjawab.
"Aku 'kan hanya mengatakan semua yang kutahu, jadi kau jangan marah. Aku hanya mendeskripsikan semua hal yang kulihat sebelumnya. Tapi jujur saja, saat aku mengingat ketika pertemuan pertama itu, kau sangat menggemaskan. Apa di kehidupan sebelumnya saat kau kecil kau memang seimut itu? Aku sampai tidak tega ingin menikammu," Teddy menggelengkan kepala dengan raut kagum.
"Pada akhirnya kau tetap ingin membunuhku 'kan saat itu?" celetuk Leon.
Teddy berdehem, "Mari lupakan masa lalu dan memulai lembaran baru."
Leon menyelis singkat pada pria itu.
"Yah.. Di kehidupan sebelumnya aku sempat suka denganmu karena kau mirip dengan anak perempuan yang imut. Tapi tidak jadi saat aku tahu kau laki laki," singkat Teddy.
Leon bergidik ngeri, "Pantas saja saat dia kecil, dia selalu mencoba menarik perhatianku. Ternyata ini sebabnya," batinnya.
__ADS_1
Saat melihat Leon menatapnya aneh, membuat Teddy canggung dan malu, "Itu dulu, oke? Hanya masa lalu. Saat aku belum tahu kau laki laki, ingat! Lagi pula, sekarang aku sudah memiliki anak. Aku sudah senang dengan kehidupanku sekarang."
"Kehidupan? Kau sekarang sudah mati. Walaupun aku menggunakan kekuatanku untuk mengubah takdir dan membuatmu hidup kembali, itu tidak akan bisa. Karena mengubah takdir seseorang yang sudah mati hanya bisa dilakukan sekali pada orang yang sama," ucap Leon dengan serius.