Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 92 -Need Dan Leon II


__ADS_3

"Kau... L-Leon?" ucap Nevan dengan terbata. Ia tidak mau mempercayai ini. Yang ia tahu, Leon seharusnya telah mati seperti yang dikatakan Need. Namun melihat pemuda yang begitu mirip dengan Leon, membuatnya langsung berpikir jika Leon belum mati.


Yang ia tahu Leon memang anak kecil berusia sekitar 10 tahun, tapi setelah tahu Leon adalah iblis, maka bisa jadi itu hanya penyamaran saja. Mungkin Leon yang sebenarnya sudah berumur puluhan atau ratusan tahun. Karena itu, setelah melihat seseorang yang berumur sekitar 18 tahun itu, membuatnya langsung berpikir jika itu adalah Leon.


"Leon.. Kau Leon 'kan?" ucap Nevan kembali.


Pemuda bernama Leon itu langsung melihat ke arah suara ketika mendengar namanya dipanggil. Ekspresinya tidak terlihat terkejut, namun matanya memperlihatkan rasa keterkejutan walau hanya sekilas.


Kite melihat Leon dan Nevan bergantian. Ia membandingkan keduanya ketika melihat reaksi satu sama lain, "Kalian saling kenal?"


Nevan langsung berlari mendekati Leon dan berdiri di depannya. Ia meneliti tiap inci wajah itu dan benar benar yakin, "Kau pasti benar benar Leon. Iya 'kan?"


Leon terdiam ketika melihat reaksi yang diperlihatkan manusia di depannya. Ia tidak memberikan jawaban apapun hingga membuat subjek di depannya semakin mendesak.


"Kau pasti Leon! Aku tahu. Sudah kuduga apa yang kupikirkan benar. Saat bertemu iblis wanita di dunia manusia, kau seharusnya sudah mati, tapi nyatanya kau hidup kembali. Saat mendengar kematianmu di sini, aku tidak benar benar berpikir kau telah tiada. Aku berpikir kejadian sebelumnya di dunia manusia pun mungkin terulang kembali di sini," ucap Nevan dengan senyum merekah.


"Kenapa kau di sini?"


Bukannya ucapan sambutan, suka cita ataupun bahagia seperti yang dipikirkan Nevan tentang reaksi Leon. Melainkan ucapan datar dengan raut wajah dingin yang dilihatnya. Ia sampai membeku tidak percaya.


"K-kenapa? Kenapa kau mengatakan itu?! Seharusnya kau mengatakan 'lama tidak bertemu', 'kau baik baik saja?', 'senang bertemu lagi denganmu' atau semacamnya. Bukan kata kata seperti ini, oh ya ampun..," Nevan menggelengkan kepala dengan raut kesal.


"...Selain itu, berekspresilah dengan senang saat melihatku, jangan seperti ini."


"Kenapa kau di sini? Apa yang kau lakukan?" bukannya meladeni ucapan Nevan, Leon masih mengajukan pertanyaan yang sama.


Belum sempat mengomentari ucapan Leon, Leon kembali melanjutkan ucapannya, "Pergilah. Di sini berbahaya."


Nevan mendengus, "Jika saja bisa, aku dan Rafa pasti sudah kembali."


"Rafa?" Leon mengerutkan kening. Ia pun menatap ke arah belakang Nevan dan melihat seorang pemuda terbaring dengan berselimut daun pisang.


Kite juga ikut melihat ke arah pandangan Leon. Ia tertegun ketika melihat pemuda itu, lalu beralih menatap Leon. Melihat reaksi Leon, membuatnya yakin jika pemuda itu mengenal manusia yang saat ini tertidur. Ia pun menatap Rafa kembali.


Nevan menatap Leon dan mendengus, "Kau pikir aku sendiri kemari? Tentu saja tidak. Aku bersama dengan Rafa dan ingin mencarimu. Tapi kudengar, kau sudah tiada. Lalu kini kau muncul di depanku. Aku senang bahwa kau baik baik saja. Rafa juga pasti akan sangat senang ketika melihatmu."


Pandangan Nevan terarah pada saudaranya, "Hanya saja, sekarang Rafa sedang beristirahat. Kau tidak bisa mengganggunya. Dia terlalu memaksakan diri dan demam. Sudah lama dia tidak beristirahat dengan baik. Jadi untuk sekarang, jangan membangunkannya dulu."


"Ekhem, boleh kukatakan sesuatu? Ini tentang jiwa itu."


Baik Nevan maupun Leon, keduanya langsung menatap Kite ketika mendengar suara itu.

__ADS_1


Kite menatap Leon, lalu melirik Nevan sebentar. Gerakan matanya seolah menandakan apakah ia bisa mengatakannya di depan Nevan atau tidak. Hanya dengan menyebut kata 'jiwa' itu pasti Leon paham maksud ucapannya.


Leon menganggukkan kepalanya pelan dan membolehkan.


"Sebagian jiwamu adalah orang itu. Dia 'lah yang memilikinya. Kupikir kau tidak akan menemukan sebagian jiwamu yang lain, tapi ternyata sebagian jiwamu adalah seseorang yang kau kenal,"


Leon menatap kemana arah mata Kite. Ia berkedip ketika yang dilihat rekannya ternyata adalah Rafa. Ia melirik Kite dengan datar, "Kau yakin?"


Kite mengangguk dengan pasti, "Kau tahu sendiri bagaimana kemampuanku. Aku tidak akan salah."


"Tapi bagaimana bisa? Dia manusia, aku iblis. Kami tinggal di dunia berbeda dan lahir di tahun yang berbeda. Itu tidak mungkin," Leon menggeleng tak percaya.


"Tapi itulah faktanya. Kau dengannya merupakan satu jiwa. Hanya saja, kalian berubah menjadi dua jiwa yang berbeda. Jika dia sedang sakit sekarang, kau mungkin merasakan sebagian sakit darinya."


Leon menurunkan pandangannya ketika mendengar ucapan Kite. Sekarang ini dia memang merasa sedikit tidak enak badan. Tapi, ia tidak pusing. Perasaan tidak enak badan ini seolah bagaikan ilusi saja.


"Ehm..," Nevan menatap Kite, "Aku tidak mengerti. Apa maksud kalian–Tunggu! Saat itu kau mengatakan bersama dengan iblis yang cantik dan kuat. Lalu... Kau mengatakan dia dingin, tapi pemalu. Apa maksudmu adalah Leon?!"


Entah kenapa yang terlintas dalam pikirannya kini malah menanyakan sosok yang dimaksud Kite sebelumnya.


Kite berkedip ketika mendengar pertanyaan dari Nevan. Ia melirik Leon, namun pemuda itu sepertinya tidak memperhatikan ucapan Nevan. Ia menghela napas lega. Jika Leon mendengar ia mengatakan 'cantik' atau 'pemalu' tentang sosoknya, maka Leon pasti akan sangat marah, "B-begitulah dia.."


Nevan menutup mulutnya dengan tangan. Padahal ia awalnya berpikir jika iblis yang dikatakan Kite adalah wanita cantik seperti seorang kesatria. Bayangan itu hilang seketika dalam pikirannya. Tatapannya rumit ketika melihat Kite.


Kakinya melangkah mendekati sosok tersebut. Apa yang dilakukan Leon membuat Nevan langsung memperhatikan Leon tanpa melakukan apapun.


Leon berjongkok di samping Radolf. Tatapannya sedikit melembut ketika menatap pria itu. Entah bagaimana tangan kanannya bisa bersama dengan Nevan, namun ia merasa lega karena pria itu tidak berada dalam penjara lagi. Sebelumnya ia gagal untuk menyelamatkannya dan dirinya berakhir bertarung dengan Raja iblis lain. Ia menyayangkan hal itu.


Tangan Leon terulur, hendak menyentuhnya, tapi tangannya berhenti di udara ketika melihat pria di depannya tiba tiba memalingkan wajah ke arah lain dengan ekspresi yang begitu nyenyak.


Leon mengurungkan niatnya dan menurunkan tangannya lagi. Ia berdiri dan tanpa membalikkan tubuhnya, ia berucap datar, "Mau sampai kapan kau berpura pura tertidur?"


"...Need"


Orang yang dimaksud oleh Leon seketika membuka matanya. Kepalanya tertunduk dan tak bisa mengucapkan apapun.


Leon berbalik menatap sosok yang disebutkan. Keberadaan Need hanya beberapa langkah darinya saja. Tatapannya begitu dingin ketika melihat Need.


Walaupun tidak menatap wajah Leon secara langsung, rasa rasanya Need tahu bagaimana tatapan Leon padanya. Ia semakin tidak bisa menatap Leon karenanya. Ia begitu bersalah dan malu untuk menatap Leon. Kejadian terakhir kali yang dilakukannya pada pemuda itu membuatnya sangat menyesal.


Walaupun nyatanya Leon kembali hidup entah bagaimana, tapi ia tetap tidak memiliki muka untuk berpandangan dengan Leon. Ia senang. Sangat senang. Namun mengingat apa yang sudah dilakukannya, membuatnya tak bisa berkata apapun. Mulutnya bungkam, namun kedua tangannya terkepal dengan kuat.

__ADS_1


"Katakan sesuatu."


Sedingin dinginnya ucapan Leon padanya, Need merasa jika ini berbeda. Walau sering mendapat kata kata yang dingin dari pemuda itu, namun ia tidak pernah merasa tertekan seperti ini.


Need menelan ludahnya dan membuka suara dengan ragu ragu, "Aku.. A-aku minta maaf.. Aku.. Tidak bermaksud seperti itu. Saat itu, tubuhku bergerak dengan sendirinya, lalu melakukan itu padamu. Aku... Aku.. Aku benar benar menyesal."


Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara diantara keduanya. Leon pun tidak membalas ucapan Need. Hal ini membuat Need semakin menguatkan kepalan tangannya. Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya. Ia begitu gugup, takut, menyesal, malu. Semua itu bercampur aduk menjadi satu.


Nevan mengerutkan kening ketika mendengar ucapan Need. Ia memperhatikan Leon dan Need bergantian, "Mereka.. Ada apa?"


Kite menaruh tangannya di bahu Nevan sambil memperhatikan kedua atasan dan bawahan itu, "Jangan mengganggu. Ini adalah masalah mereka."


Nevan menoleh dan menatap tangan yang ada di bahunya, "Aku khawatir denganmu."


Kite mengerutkan kening karena tak paham dengan maksud Nevan. Ia memiringkan kepalanya, "Maksudmu?"


"Aku khawatir, apa kau itu pria normal atau bukan. Sebelumnya kau mengatakan Leon 'cantik'. Sedangkan kata 'cantik' biasanya digunakan untuk perempuan," balas Nevan dengan senyum tipis.


Kite spontan menepuk punggung Nevan dengan keras hingga pemuda itu hampir saja terjatuh. Ekspresinya masam dan kesal, "Aku hanya mengatakan 'cantik'! Aish.. Pikiranmu itu terlalu jauh..," ia menggeleng dengan tak percaya.


Nevan sedikit meringis, walau sebenarnya tidak sakit. Ia hanya spontan melakukannya, "Yah.. Aku 'kan hanya bertanya. Mungkin saja ada masalah denganmu."


"Ikut denganku."


"K-kemana..?"


Leon tidak menjawab ucapan Need dan berjalan menjauh darinya. Sebelum menghilang ke dalam kegelapan, matanya melirik ke belakang sekilas, "Kalian tunggu di sini."


Need menelan ludahnya dan segera bangkit, lalu mengikuti kemana Leon akan membawanya.


"Mereka akan kemana?" bingung Nevan.


"Kau tidak perlu tahu. Biarkan mereka menyelesaikan urusannya," balas Kite sambil berjalan mendekati Rafa yang terbaring.


Need pun mengikut di sampingnya. Ia melirik Kite sesaat sebelum akhirnya membuka suara, "Apa maksud ucapanmu pada Leon tadi, berhubungan dengan yang kau ucapkan saat di dunia roh?"


Kite menatap Nevan dengan polos, "Yang mana? Aku lupa."


"Saat kau mengatakan jika Leon hanya setengah."


Kite menatap langit langit yang gelap. Ia mengingat ingat ucapan apa saja yang dikatakannya pada pemuda itu saat di dunia roh. Matanya terpejam sejenak dan langsung membuka, "Ah.. Yang itu."

__ADS_1


Langkahnya terhenti ketika berada di dekat Rafa. Ia masih berdiri, namun menghadap Nevan, "Sepertinya kau sangat cerdas ya sampai bisa menyimpulkan dengan tepat seperti itu."


Nevan berekspresi serius, "Kalau begitu, apa maksudmu sebagian jiwa Leon adalah Rafa?"


__ADS_2