Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 79 -Kawanan Beruang Berduri


__ADS_3

Radolf melebarkan mata dengan sangat. Tatapan terkejut tak bisa ia sembunyikan. Berita itu seolah bagaikan petir yang bergemuruh di dalam dirinya. Langsung saja dirinya menarik lengan Need hingga pemuda itu tersentak dan menghadapkan tubuh padanya.


"Apa yang–"


Ucapan Need dipotong dengan cepat oleh Radolf, "Apa maksud ucapanmu itu? Leon.. Leon.. Jangan bercanda di saat seperti ini! Cepat katakan dimana dia?!" napasnya memburu dengan cepat.


Need melepaskan cengkraman tangan Radold darinya dengan kasar. Ia menatap pria itu dengan sengit, "Kau pikir aku sedang bercanda, hah? Padahal awalnya dia hanya ingin membebaskanmu dari penjara. Tapi akhirnya malah seperti ini.


Aku tertangkap oleh Raja Stev dan dijadikan sandera. Kau juga begitu, kau dibawa ke aula besar dan menjadi sandera agar Leon keluar. Pada saat itu ternyata, aku.. Dikendalikan oleh Raja Stev agar bisa menemukan Leon. Di saat itu lah, para Raja iblis kembali bertarung dan setelah bekerja sama, mereka berhasil...


Mereka berhasil membunuh Leon dan mengambil sebuah kristal hitam dari dalam dirinya. Kristal dimana kekuatan kuno itu tersimpan di tubuhnya. Mereka bertarung satu sama lain setelah berhasil menghabisi Leon. Apa kau masih tidak mengerti, hah?


Semuanya.. Semua ini karena salahmu! Jika sejak awal kau tidak berhubungan dengan manusia, jika saja kau.. Jika saja kau tidak tertangkap saat itu.. Mungkin sekarang ini aku sedang bersama dengan Leon. Mungkin.. Saja.. Dia masih ada di sini," suara Need kian mengecil. Tubuhnya terasa lemas, energinya seperti terkuras.


Kakinya tidak lagi kuat untuk menopang tubuhnya sendiri hingga ia jatuh terduduk di tanah, "Tidak.., tidak.. Ini tidak semuanya.. Salahmu... Karena kecerobohanku, karena aku tidak cukup kuat.. Aku tidak cukup kuat untuk membantunya.. Aku sangat lemah.. Begitu lemah sampai tidak bisa berbuat apapun... Aku lemah.."


Nyalinya seakan menciut dan langsung menggumamkan semua hal yang dia sesali. Dia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Ucapan yang ia lontarkan sebelumnya, seolah tidak benar benar menyalahkan Radolf karena ia hanya menggunakan Radolf untuk meyakini diri sendiri jika kematian Leon bukan karena salahnya.


Radolf pun tidak tahu bagaimana harus berekspresi. Tapi yang jelas, hatinya terasa dihantam sesuatu yang keras. Rasa ketidakpercayaan masih terlihat di wajahnya. Ia merasa bersalah, ia merasa kalut, hatinya seolah tertutup oleh kabut tebal. Pandangannya pun seperti tertutup dan tidak mendapatkan jalan keluar. Ia tidak mengatakan apapun, namun jauh di dalam hatinya, ia banyak memikirkan hal hal lain.


Rafa pun tidak begitu jauh berbeda kondisinya seperti dengan kedua iblis itu. Tatapan matanya kosong tanpa mengucap satu patah kata pun.


Nevan pun merasa tertekan dengan berita ini. Namun perasaannya tidak sesedih ketiga orang ini. Ia memang sedih, namun tidak begitu berlebihan. Karena ia tidak lama mengenal Leon dan tidak memiliki banyak kenangan dengannya.

__ADS_1


"Apa yang harus kulakukan sekarang?" batin Nevan dengan kebingungan.


Tanah mulai bergetar dengan kuat membuat mereka yang berada dalam kondisi berduka terkesiap. Nevan yang pertama kali merasakan getaran langsung melihat ke arah getaran terasa. Karena yang ia rasakan, ini bukanlah gempa, melainkan sesuatu yang sangat berat menuju kemari.


Dua buah belati sudah ada dalam genggamannya. Ia memperhatikan arah getaran dengan sangat waspada. Ia menarik napas dan berbicara, "Sebaiknya kalian tunda kegiatan berduka ini. Ada sesuatu yang datang kemari. Kalian harus bersiap, atau kita semua bisa mati."


Rafa melihat ke arah dimana Nevan melihat. Begitu pula dengan Need dan Radolf. Mereka melihat ke arah yang dirasa tempat getaran berasal. Mereka memang merasa sedih, namun mereka juga harus waspada pada sesuatu yang datang. Jangan sampai mereka malah mati konyol di tempat ini.


Benar saja apa yang dipikirkan oleh Nevan. Penyebab yang membuat tanah bergetar adalah monster. Namun yang membuatnya sedikit gentar adalah jumlah dan penampakan mereka.


Dari yang bisa dia tangkap dari indra menglihatannya, monster berbentuk beruang namun dengan duri besar di punggung. Ukuran mereka kurang lebih adalah 2 meter lebih.


Need menelan ludah. Telapak tangannya berkeringat dan kakinya serasa lemas. Keyakinannya untuk menang adalah 5%.


Rafa pun merasa tertekan ketika melihat jumlah dari beruang yang kini mengelilingi mereka semua. Jika dilihat dari sini, tidak terlihat berapa jumlah pastinya. Hanya saja, ini adalah situasi yang gawat.


Sepersekian detik kemudian, ia langsung melesat ke arah monster beruang. Sebuah sabit panjang muncul di tangannya dan langsung diayunkan dengan sangat kuat pada salah satu monster.


Groooaaa


Luka besar terbentuk di lengan beruang itu. Tidak berhenti di sana, setelah kakinya menapak di tanah, ia melakukan tolakan hingga ia meluncur dengan kuat ke udara. Ayunan kuat kembali ia lakukan hingga membuat luka tebasan besar pada leher beruang itu. Beruang itu bersuara kesakitan sebelum akhirnya tubuhnya jatuh ke tanah.


Whuusss

__ADS_1


Angit kejut tercipta saat tubuh beruang menghantam tanah. Ketika dedebuan masih beterbangan, Need datang menerjang dan langsung menusuk kepala beruang itu hingga monster berhenti bernapas, "Kalian pergi dari sini jika tidak ingin mati!" teriaknya.


Grooaaa


Para beruang menjadi marah. Mereka mulai menyerang dengan agresif pada kedua iblis ini.


Nevan menghilangkan satu belati dan langsung menggapai pergelangan tangan Rafa, "Kita pergi, mereka bisa mengatasinya."


Rafa masih terdiam. Ia begitu syok melihat keadaan ini. Padahal kabar tadi saja sudah membuatnya merasa begitu berat hati. Namun kini masalah kembali datang, "Sebenarnya.. Dunia iblis itu tempat seperti apa?"


Nevan sedikit tertegun ketika mendapat pertanyaan dari Rafa. Saudaranya bertanya tanpa memandang ke arahnya, sehingga ia tidak tahu bagaimana raut yang diperlihatkan Rafa saat ini, "Dunia iblis adalah tempat iblis dan monster seperti beruang itu tinggal. Selama di sini, kita akan melihat banyak hal yang sangat tidak logis. Sudah, sekarang kita–Rafa..?!"


Nevan tersentak saat Rafa melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar dan langsung menerjang monster yang ada di depannya. Ia refleks berteriak dengan syok, "RAFA... BERHENTI..!!"


Teriakannya itu sampai didengar oleh Need dan Radolf yang sedang bertarung. Perhatian mereka sedikit teralihkan pada Nevan. Pandangan keduanya pun segera tertuju pada apa yang dilihat pemuda itu.


"Rafa?!" Radolf ikut tersentak saat tahu apa yang dilakukan anaknya. Dirinya menjadi lengah hingga sebuah cakaran berhasil melukai salah satu bahunya. Ia mendesir kesakitan sebelum akhirnya melesatkan serangan pada monster di hadapannya.


Need sendiri langsung melesat cepat ke tempat Rafa berada. Ia memang sangat membenci Radolf dan juga Rafa. Tapi Leon sangat menjaga mereka berdua. Ia tidak ingin mengkhianati Leon dengan sengaja membiarkan mereka terluka.


Namun langkahnya tiba tiba terhenti ketika melihat sesuatu yang mengejutkan. Dirinya membeku di tempat ketika menyaksikannya. Padahal tinggal seperempat jalan lagi agar ia bisa sampai di tempat Rafa. Tapi yang ia lihat justru membuatnya tak bisa berkata kata.


Rafa bertarung dengan begitu gesit dan cepat. Pergerakannya seolah tanpa celah dan sulit diprediksi. Hanya mengandalkan sebuah belati yang ada di tangannya, namun ia mampu membunuh hingga 2 ekor monster tidak sampai satu menit.

__ADS_1


Serangannya begitu tajam dan kuat, seperti dia sudah sangat berpengalaman dalam bertarung. Namun yang membuatnya lebih terkejut adalah ekspresi yang diperlihatkan Rafa.


Itu bukanlah rasa takut atau nekat. Bukan pula keraguan. Itu adalah tatapan penuh rasa kebebasan, pengekspresian, kesenangan dan... Kepuasan. Senyuman terukir begitu lebar di wajahnya dan sejujurnya, itu tampak sedikit menyeramkan menurut Need.


__ADS_2