
Pada akhirnya Ray mendapat sedikit penjelasan dari Melvin dan penjelasan itu benar benar mengiris perasaannya. Kenyataan bahwa Leon takkan kembali, itu sangat menamparnya.
Semua orang menenangkan diri masing masing. Radolf dan Ray berada di depan mayat Leon. Sedangkan Nevan dan Melvin, masih berada di hadapan Rafa yang kini menjadi Oliver. Yang paling histeris adalah Nevan. Ia menangis tersedu sambil terus mengatakan ingin Rafa kembali.
Bahkan ia terkadang memohon pada Oliver agar mengembalikan Rafa. Namun Oliver sama sekali tidak tahu apapun. Ia hanya bisa diam saat Nevan melampiaskan kesedihan itu padanya.
Radolf dan Ray yang sudah tenang memilih untuk menguburkan mayat Leon. Mayat yang telah dingin dengan wajah sangat pucat. Tidak ada yang menyangka bila Leon akan mati seperti ini.
"Hentikan, Nevan. Rafa tidak akan kembali bahkan bila kau merengek selama seharian penuh," ucap Melvin dengan wajah muram. Matanya sedikit berkaca kaca setelah sebelumnya sempat menangis.
Nevan tidak juga beranjak dari tempatnya. Ia terus memegangi bahu Oliver sambil memukul mukul dadanya pelan. Kepalanya tertunduk membuat buliran air mata jatuh ke tanah.
Karena tidak didengarkan, Melvin langsung menarik tubuh anaknya untuk menjauh dari Oliver.
"Hiks.. Lepaskan aku, Ayah.. Hiks.. Aku akan membuat Rafa kembali. Jangan hentikan hiks... Aku..," racau Nevan.
Melvin hanya diam dan masih terus memegangi tubuh anaknya. Ia tidak tega melihatnya terus seperti ini. Ternyata kehilangan Rafa membuat Nevan seterpukul ini. Mungkin karena mereka sudah lama berhubungan dekat, Nevan tidak rela jika saudaranya tergantikan oleh jiwa orang lain.
Jadi tak ada pilihan lain. Melvin memukul tengkuk Nevan dengan cukup keras. Apa yang dilakukannya membuat anak itu seketika pingsan, "Maafkan Ayah..."
Oliver memandangi Melvin dan Nevan. Ia jadi merasa bersalah walau sebenarnya tidak melakukan apapun. Ia sendiri masih bingung dengan keadaan ini dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Namun kejadian seperti ini terjadi di depan matanya. Ia seperti baru saja merenggut kebahagiaan orang lain dengan kehadirannya, "Maaf... Aku tidak tahu apapun."
Melvin tersenyum lirih walau terlihat jelas dipaksakan, "Ini bukan salahmu, tidak perlu minta maaf."
*
*
Oliver memilih mengikuti orang orang yang baru ditemui olehnya. Ia sempat melihat wajahnya di atas pantulan air sungai yang berada tak jauh dari tempat sebelumnya. Wajah itu memang sangat berbeda dibandingkan miliknya. Yang sama hanyalah matanya saja.
Entah apa saja yang sudah terjadi sejak tubuh aslinya diambil alih. Ia akan menanyakan semuanya pada mereka nanti dan mencaritahu keadaan saat ini.
Setelah beberapa jam, akhirnya mereka telah sampai di tempat Felix, Kay, Need, Lym, Nix, Farel dan Freed.
__ADS_1
Oliver menatap sekitar. Ternyata Melvin dan yang lain memiliki banyak teman. Namun keadaan tubuh mereka tidak baik. Entah apa yang baru saja terjadi sebelumnya.
Felix berdiri dan menatap satu persatu orang yang baru saja datang. Diantara mereka, ia tidak menemukan dua orang yang dicarinya, "Ray... Kemana Leon dan Ken? Lalu Kite.. Aku tidak melihatnya. Dimana mereka semua?"
Nix juga baru menyadari adanya 3 orang yang hilang. Padahal Rafa sudah kembali, tapi kenapa sekarang tiga orang tidak ada?
Semua orang menundukkan kepala, kecuali Oliver yang masih asik melihat satu persatu wajah asing. Namun diantara mereka, ia melihat satu wajah yang familiar.
"Kite... Berbohong. Dia adalah Osmond. Lalu Leon dan Ken... Mereka...," Ray menarik napas dalam dalam. Ia ingin mengucapkannya, namun kata itu seolah tertahan di kerongkongan dan sulit untuk dikeluarkan.
"Mereka sudah tiada," lanjut Radolf sambil menatap satu per satu orang di sana. Wajah mereka terlihat masih bingung, namun ada pula yang terkejut.
"Tiada... Apa maksud tiada? Leon dan Ken? Tidak mungkin," Kay menggeleng dan tidak percaya. Ia tahu Ray suka sekali bercanda, tapi bercanda di saat seperti ini sangat keterlaluan. Walau yang mengatakan tiada saat ini bukanlah Ray.
"Itu kenyataannya. Mereka... Sudah tiada," ucap Ray sambil menatap Kay dengan mata berkaca kaca. Ia serius mengatakan ini dan dirinya sendiri berharap bila ia hanya sedang bercanda sekarang. Tapi bagaimana bisa ia menganggap kejadian hari ini sebagai candaan? Sedangkan dirinya sendiri yang menguburkan jasad Leon dan Ken.
Apa itu juga hanyalah candaan?
Kay terdiam. Ia tidak menangkap kebohongan dari ucapan Ray barusan, "Lalu dimana? Dimana mereka sekarang?" nada suaranya masih tenang tanpa banyak guratan wajah yang berubah. Namun sebenarnya ia sedang kalang kabut.
Disisi lain, Nix, Lym, Freed dan Farel berada di sekitar Melvin yang menggendong anaknya di punggung disertai Oliver yang berdiri di sampingnya.
"Syukurlah..., kalian berhasil selamat. Aku sudah khawatir. Kupikir sesuatu yang buruk terjadi pada ketua dan kalian semua," ucap Lym dengan senyuman senang.
"Tapi kenapa Tuan Melvin membawa Nevan seperti itu? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Nix dengan khawatir.
"Matamu... Kenapa berubah? Kau jadi seperti bunglon yang bisa merubah warna kulit," tambah Freed sambil memandangi Oliver.
"Rafa tidak berhasil kami selamatkan," ucap Melvin diantara suara senang dan haru para bawahannya.
Ucapan itu seketika membuat suasana hening sesaat, lalu Lym langsung saja tertawa, "Leluconmu itu tidak lucu, ketua. Rafa ada di sampingmu."
"Iya, lelucon seperti itu terdengar aneh," timpal Freed.
__ADS_1
"Aku tidak sedang bercanda. Rafa yang kalian lihat, bukan dia. Jiwanya sudah berganti menjadi orang lain. Sekarang dia adalah Oliver," balas Melvin sambil menatap para bawahannya.
Namun sayang, apa yang ia ucapkan malah dianggap lelucon bagi mereka. Mereka menyangka Melvin sedang melucu agar situasi sedikit lebih santai.
"Humftt... Hentikan itu, ketua," Lym tertawa sambil berusaha menahannya.
"Apa wajahku terlihat bercanda sekarang?"
Suara tegas itu membuat suasana berubah hening. Mereka saling berpandangan tidak mengerti dan sesekali menatap Oliver dan Melvin, "Maksud ketua?"
"Rafa yang kalian lihat sekarang, bukan dia. Sekarang jiwanya adalah Oliver, jiwa dari iblis di masa lalu. Rafa yang asli sudah tiada setelah ditusuk oleh iblis yang membawanya," Melvin mengatakan setiap kata dengan penuh penekanan agar semua tahu jika ia sedang tidak bercanda.
Oliver terdiam ketika semua manusia itu menatapnya dengan intens. Ia bahkan sedikit gugup karena mereka menatapnya lekat lekat.
"Jika kalian masih menganggapku bercanda, maka jangan anggap aku atasan kalian lagi."
Melvin berjalan melewati semua bawahannya dengan raut wajah tegas. Ia tidak mau dirinya yang lemah terlihat oleh orang lain, apalagi bawahannya.
"Apa yang dia ucapkan benar. Namaku Oliver."
"B-bagaimana bisa?! Apa yang terjadi?!" celetuk Freed.
Oliver bingung bagaimana harus mengatakannya. Ia pun hanya menceritakan hal yang baru saja terjadi tadi. Dimulai ia membuka mata dan melihat reaksi orang orang yang berada di sekitarnya.
Tidak ada yang berkomentar. Mereka semua diam dan kini percaya jika Rafa adalah Oliver.
"Tapi wajah ini... Mirip dengan Niel," batin Oliver dalam diam. "Sejak aku bangun sampai sekarang, aku menemukan dua wajah yang mirip dengan seseorang yang kukenal. Lalu tubuh ini pun sama," batinnya lagi.
Setelah semua orang tahu keadaan yang sebenarnya, mereka lebih banyak diam. Semuanya duduk secara terpisah pisah. Untuk memecah keheningan, Oliver membuka suara, "A-aku tidak tahu apa yang sudah terjadi di sini. Bisakah kalian ceritakan apa yang sedang terjadi sekarang?"
Felix mengatupkan bibirnya. Ia enggan memberikan jawaban. Begitupun dengan Ray yang biasanya selalu berisik, kini nampak tenang.
Karena tidak ada yang mau bersuara, akhirnya Need menceritakan apa yang sudah terjadi sejak musibah ini muncul. Namun saat Kite mengungkapkan diri dan mengaku sebagai Oliver, dikatakan oleh Radolf yang mau tak mau tetap memberikan penjelasan agar Oliver mengerti.
__ADS_1
Oliver mendengarkan semua penjelasan dengan serius disaat orang lain terpuruk. Ia bukannya tidak bersimpati dan mementingkan rasa penasarannya, namun ia sendiri tidak tahu masalah apa yang dialami mereka. Jadi bagaimana bisa ia menghibur?
Bahkan bisa dikatakan, kehadirannya ini malah membuat beberapa diantara mereka terluka tanpa membuatnya berdarah. Bagaimana bisa ia menghibur seperti itu? Kehadirannya seperti tak diinginkan karena ia mengambil alih tubuh yang bukan miliknya.