
"kalau begitu, untuk sekarang kau diam saja di sini. Aku yang akan menyusul anak bernama Leon itu," ucap Teddy.
Rafa menggelengkan kepalanya, "Aku akan semakin merepotkan paman jika seperti itu. Aku sendiri yang akan ke sana."
Teddy melipat tangannya di dada dan mendengus, "Sekarang kau harus menuruti ucapanku. Karena aku akan menjadi gurumu. Kau harus menurut. Diam dan istirahat di sini. Aku akan segera kembali. Kau mengerti? Jika menolak, maka aku tidak akan mengajarkanmu."
Rafa menjadi sedikit terkejut dengan ucapan itu. Ia pun bicara dengan terbata bata, "K-kalau begitu aku akan menyerahkannya pada paman. Tolong temukan Leon, paman–tidak, guru."
Teddy mendengus dengan bangga. Ia pun segera berjalan mendekati pintu keluar, "Aku pergi. Bersikap'lah dengan baik di sini."
Setelah pintu tertutup, hanya keheningan yang ada di ruangan. Rafa dan Kevin tidak saling menatap satu sama lain. Hal ini membuat Rafa merasa canggung. Ia sepertinya sudah menyinggung Kevin selama perdebatan tadi.
"Itu... Ekhem.. Kev, aku... Minta maaf. Aku tidak bisa melakukan apa yang kau minta. Aku benar benar.. Tidak bisa melakukannya. Maafkan aku.."
Tanpa menatap Rafa, Kevin bersuara dengan nada tinggi, "Tinggalkan aku sendiri."
"Tidak.."
Mendengar kata kata penolakan, Kevin langsung menatap Rafa dengan tajam, "Cepat! Tinggalkan aku sekarang!"
Rafa tersentak kaget. Ia pun bungkam dan langsung mengambil makanan yang disimpannya di kursi dan segera pergi mendekati pintu. Sebelum keluar, ia melirikkan kepalanya ke belakang, "Jika kau butuh sesuatu, katakan padaku. Aku ada di halaman depan. Kau bisa melihatnya dari ruangan ini."
Setelah mengatakannya, Rafa langsung keluar ruangan meninggalkan Kevin sendiri.
"Sialan!" umpat Kevin. Ia memukul kasur berkali kali tanpa peduli dengan infus yang menempel di punggung tangannya. Ia menjadi semakin frustasi sekarang.
***
__ADS_1
Setelah belasan menit mengendarai dengan mobil, akhirnya Teddy sampai di rumah Rafa. Ia memarkirkan mobilnya di lahan kosong yang tidak jauh dari sana.
Ia mulai masuk ke dalam rumah itu. Keadaan masih berantakan. Pintu rumah yang terbuka karena copot dan ruang tamu yang banyak mengalami kerusakan.
Dari cerita Kevin, sepertinya Leon adalah seorang iblis. Anak itu sudah menyembunyikan jati dirinya selama ini. Ia tidak percaya bila Leon kehilangan ingatan seperti yang dikatakan. Iblis itu pasti mencoba menipu Rafa dan Kevin. Ia akan segera menangkapnya sekarang juga.
"Siapa kau?"
Teddy sedikit terkejut. Ia menatap sumber suara. Di depannya, berdiri seorang anak kecil sambil memegang sapu seolah itu adalah senjatanya.
Ia semakin terkejut saat melihat wajah yang tidak asing. Walaupun saat itu keadaannya cukup gelap, tapi ia pasti tidak akan salah mengira. Anak di depannya adalah iblis yang pernah hampir memangsa manusia.
"Jawab! Siapa kau? Kenapa kau masuk kemari?" ucap Leon dengan tatapan tajam.
"Aku tidak bisa merasakan aura iblis darinya. Walaupun sedang menyamar, seharusnya aku bisa merasakan itu walau tidak begitu jelas. Tapi ini.. Dia sama sekali tidak memilikinya. Apa aku benar benar salah orang?" batin Teddy sambil memasang wajah menyelidik. Ia terus memperhatikan Leon dengan pandangan datar dan mengabaikan ucapan anak itu. "Sepertinya dia tidak mengenalku," batinnya lagi.
Leon menggertakkan giginya. Ia khawatir bila orang di depannya adalah iblis yang menyamar. Ia berlari maju mendekati Teddy, lalu mengayunkan bagian bawah sapu.
Leon mencengkram kedua pergelangan tangan Teddy. Keningnya berkerut dengan gigi menggemertak, "Lepaskan aku!"
Teddy memperhatikan wajah Leon dari dekat. Bahkan setelah jaraknya sedekat ini, ia tidak bisa merasakan aura iblis darinya. Namun ia sangat yakin bila Leon adalah iblis yang sama dengan iblis yang pernah ia temui.
Melihat tanda lahir besar di pelipis Teddy, entah mengapa membuat Leon teringat sesuatu. Ia seperti pernah bertemu dengannya. Namun ia tidak ingat akan kejadian itu. Bagaimana dan kapan ia bertemu dengannya.
"Kau.. Aku yakin kau adalah iblis waktu itu. Jika aku telat datang sedikit saja, maka sudah dipastikan manusia yang kau serang saat itu sudah mati."
Leon tidak mendengarkan ucapan Teddy dan langsung melakukan tendangan pada pria itu, namun berhasil dihindari olehnya. Apa yang ia lakukan membuat Teddy melepaskannya. Ia pun terjatuh ke lantai dengan posisi jongkok. Pada saat itulah, ia melakukan tendangan sambil memutar tubuhnya.
__ADS_1
Pria itu melompat dan langsung jongkok. Tangannya pun menarik kaki Leon yang sebelumnya digunakan untuk menendangnya.
Dughh
Kepala Leon menghantam lantai dengan keras. Ia sampai meringis karena sakit.
Teddy tiba tiba menyadari sesuatu. Anak berumur 10 tahun dan mata merah. Selain itu, ini ada di rumah Rafa. Tidak salah lagi, dia pasti Leon! Bagaimana bisa seperti ini?!
Teddy mencoba menetralkan ekspresinya agar tidak terlihat terkejut. Ia tidak percaya bila Leon yang dimaksud adalah iblis ini! Tidak bisa dibiarkan. Iblis ini pernah hampir memangsa manusia. Jika ia membiarkannya terus bersama Rafa, mungkin suatu hari anak ini akan memangsanya. Itulah yang dipikirkan Teddy setelah menyadarinya.
Teddy seketika berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada Leon, "Ah maaf, aku benar benar tidak sengaja. Aku refleks melakukan hal itu karena kupikir kau adalah orang asing yang sebelumnya disebutkan Rafa dan Kevin. Tapi ternyata aku salah."
Leon menatap uluran tangan itu. Ekspresi Teddy menjadi ramah ketika melihatnya. Sepertinya yang terjadi adalah kesalahpahaman. Ia pun dengan ragu menerima uluran tangan itu dan berdiri dibantu olehnya.
"Kau pasti Leon, anak yang dimaksud oleh Kevin. Apa aku salah?"
Leon merasa waspada dengan Teddy. Walaupun wajahnya sekarang lebih ramah, namun entah mengapa ia masih merasa was was terhadapnya.
"A-Maaf, aku belum memperkenalkan diriku ya? Namaku adalah Teddy. Aku adalah orang tua dari teman Rafa, Katly."
Leon terkejut mendengar ucapan Teddy. Ia tidak percaya bila pria di depannya adalah Ayah dari Katly, gadis yang pernah bertemu dengannya dua kali.
"Aku sudah mendengar kejadian semalam. Itu adalah hal yang mengerikan. Memang sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat, aku bahkan tidak bisa mempercayainya. Tapi melihat keadaan Kevin dan Rafa, aku tidak tahu apakah harus percaya atau tidak," Teddy menggelengkan kepala dengan ******* nafas.
"Apa yang terjadi? Dimana mereka?" Leon menjadi sangat berdebar ketika mendengar kabar itu. Padahal ia belum menemukan keduanya, namun Teddy mengetahui keadaan mereka.
Teddy melirik Leon. Ekspresi yang dia tunjukkan terlihat tidak biasa. Sehebat apapun anak itu menyembunyikan ekspresinya yang sebenarnya, ia masih bisa melihat itu. Ekspresi khawatir iblis terhadap seorang manusia yang tidak pernah ia lihat, "Semalam ada penyerangan. Lalu mereka terluka. Rafa mengalami patah tulang pada lengan kirinya. Tubuhnya pun penuh dengan lebam, tapi dia sehat.
__ADS_1
Lalu Kevin, lengan kirinya terpotong karena kejadian itu. Kepalanya pun terluka. Walau sempat tidak sadarkan diri, namun sekarang dia sudah siuman. Kurasa untuk sekarang, keadaan mereka baik baik saja."
Kabar itu bagaikan sambaran petir yang begitu mengejutkan Leon. Ia tidak percaya bila Kevin sampai kehilangan tangannya. Setahunya, pemuda itu adalah manusia yang kuat. Bahkan dia bisa mengalahkan banyak manusia sekaligus. Namun keadaannya bahkan sampai seperti ini. Sekuat apa panglima itu?