
Di sebuah atap rumah sakit, memiliki sebuah taman kecil dimana banyak tumbuhan hijau hidup di sini.
Diantara itu, berdiri seorang pemuda sekitar 27 tahun dengan jas putih dan stetoskop yang menggantung di lehernya, "Ayah tidak juga menjawab telepon dariku," gumamnya. Ekspresinya begitu khawatir. Sejam yang lalu, ayahnya tiba tiba mengirimkan pesan aneh.
'Jika umurku tidak panjang, tolong jaga adikmu. Maaf karena belum bisa menjadi ayah yang bisa diandalkan.'
Itulah kata kata yang dikirimkan ayahnya. Namun, ia baru membuka pesan itu sekarang dan mencoba meneleponnya di atap rumah sakit ini. Tapi ayahnya tidak juga menjawab. "Sebenarnya apa yang terjadi?"
Saat ia sedang melamun, pintu yang menuju ke atap rumah sakit tiba tiba terbuka. Pemuda itu sedikit terkejut dan langsung melihat ke asal suara. Seorang pemuda yang jauh lebih muda darinya berlari mendekati tepian dan berdiri di depan tembok setinggi perut yang menjadi pengaman. Pemuda itu menggunakan pakaian rumah sakit. Dia pasti pasien.
Awalnya ia berpikir bila pemuda itu hanya ingin bersantai di sini. Karena tempat ini kosong tanpa ada siapapun dan hanya ada mereka. Ia mengabaikan pemuda itu dan masih mencoba menelepon ayahnya.
Sraakk Gusraakk
Namun pandangannya kembali teralihkan pada pemuda itu. Suara pakaian yang bergesekan dengan tembok yang agak kasar itu menciptakan suara hingga terdengar sampai telinganya. Ia terkejut saat melihat pemuda yang lebih muda darinya itu mencoba menaiki tembok dengan menggunakan satu tangannya dan berdiri di atas tembok pembatas, "Berbahaya!"
Ia lari secepat mungkin untuk menghentikan apa yang diperbuat pasien itu.
Kevin terdiam sambil menatap ke bawah. Ia seolah sedang memikirkan kesusahan yang selama ini ia alami. Ia ingin mengakhirinya sekarang juga, tak peduli bila ia harus mati sekalipun. Toh, tidak ada yang akan peduli.
Tinggi bangunan rumah sakit ini lebih dari cukup untuk membuatnya mati bila terjatuh. Ia siap dengan itu. Tangannya mengepal, lalu melemas kembali. Ia menutup matanya dan mencondongkan tubuhnya ke depan, membiarkan gravitasi untuk menjatuhkan tubuhnya dengan bebas.
Saat tubuhnya benar benar akan jatuh, sebuah tangan langsung melingkar di tubuhnya dan menariknya ke belakang.
Brruukk
__ADS_1
Tubuh Kevin terjatuh bersamaan dengan orang yang sudah menariknya. Ekspresi Kevin berubah menjadi terkejut. Seharusnya ia sudah terjun bebas saat ini. Kenapa ia malah jatuh ke belakang?
"Nyaris saja...," pemuda dengan jas dokter itu menghela nafas. Walaupun tubuhnya jadi merasa sakit karena menjadi bantalan untuk mencegahnya terluka, namun yang terpenting ia bisa menyelamatkan nyawa pasien.
"Apa kau terluka?" ucapnya dengan khawatir.
Kevin tersentak kaget saat ada orang yang bersuara di dekatnya. Ia pun semakin terkejut saat menyadari ada seseorang yang tertimpa tubuhnya. Ia segera menyingkir dengan cepat dan melihat orang itu.
"Apa yang baru saja kau lakukan itu? Kau ingin membahayakan nyawamu sendiri?" ucap dokter itu. Ia nampak lega, namun kesal di saat bersamaan. Ia pun mengubah posisinya menjadi duduk.
Kevin segera berdiri. Ia berekspresi datar, "Seharusnya kau tidak menolongku. Aku tidak membutuhkan pertolongan darimu."
Dokter muda itu berdiri dan tersenyum memaksakan, "Wah, anak kurang ajar. Padahal aku lebih tua darinya, seharusnya dia bersikap lebih sopan," batinnya.
"Apa kau berniat untuk bunuh diri?" Akhirnya ucapan itu yang bisa dikatakan dokter muda, "Kenapa?"
Kevin berhenti tanpa menatap dokter itu, "Aku sudah lelah hidup seperti ini. Keberadaanku tidak diterima oleh mereka. Ditambah dengan keadaanku yang cacat dengan satu tangan ini sekarang, mereka semakin tidak ingin mengakuiku. Dibandingkan hidup dengan terus tersiksa seperti ini, lebih baik aku mati saja. Aku sudah lelah."
Kevin mencoba untuk menaiki tembok itu lagi. Namun dokter langsung menarik kerah belakangnya agar ia tidak melakukan itu, "Jangan melakukan hal sia sia seperti itu."
Kevin menjadi geram, "Lepaskan aku!" ia langsung menyingkirkan lengan dokter yang menahan kerahnya. Ia berbalik dan menatap dokter itu, "Jika kau tidak ingin dianggap tersangka bunuh diri yang akan kulakukan, maka menyingkirlah dari sini. Jangan menggangguku!"
Dokter itu menggelengkan kepala. Ia menghela nafas, "Apa setelah mati kau akan tenang dengan membawa beban pikiran itu?"
"Itu akan membuatku tenang. Bahkan tidak ada hal yang lebih membuatku tenang dibandingkan itu."
__ADS_1
Dokter mengambil sesuatu dari saku jas nya. Ia mengulurkan itu pada Kevin, "Gunakan ini untuk membunuh dirimu sendiri."
Kevin menatap pisau kecil yang disodorkan dokter itu. Ia pun menatap dokter dengan tatapan tidak mengerti.
"Jika ingin mati, maka gunakan ini. Itu pun bila kau berani untuk menusuk lehermu sendiri. Jika kau berani melakukan itu, maka terserah kau boleh loncat dari sini saat kau masih memiliki sisa nafas. Ambilah.."
Kevin menatap dokter itu tak percaya. Dokter itu akan membiarkannya jika ia menusuk lehernya sendiri? Apa dia bercanda?
Seolah tahu apa yang dipikirkan Kevin, dokter itu membuka suara, "Aku sedang tidak bercanda. Gunakan pisau ini untuk menusuk lehermu sendiri."
Kevin menerima pisau itu dengan ragu ragu. Ia menatap kembali sang dokter. Ia masih mempertanyakan apa yang dilakukan dokter itu saat ini.
Kevin memegang pisau dengan kuat. Tidak ada bedanya dengan terjun dari atas sini. Menggunakan pisau bahkan jauh lebih cepat. Ia mengarahkan pisau di samping lehernya seolah siap untuk menusuknya kapan saja.
Namun, tangannya bergetar. Ada perasaan takut yang menyelimuti hatinya. Ia menutup matanya dan berusaha untuk menusuknya. Namun, entah kenapa ia merasa takut. Kematian seolah benar benar di hadapannya.
Dokter itu tersenyum dan menarik mundur lengan Kevin hingga pisau di tangannya menjauh. Tindakannya membuat Kevin membuka matanya, "Bagaimana kau bisa bunuh diri jika kau saja masih takut pada kematian? Sebaiknya kau menghentikan tindakanmu ini. Yang kau alami saat ini adalah perasaan meluap untuk sesaat.
Walaupun kau mengatakan sudah lelah dan ingin mengakhirinya dengan kematian, tapi sebenarnya tidak seperti itu, kan? Kau masih takut untuk mati. Kau takut dengan rasa sakit yang akan kau terima bila menusuk pisau ke lehermu. Itulah perasaanmu yang sebenarnya."
Tangan Kevin tiba tiba lemas, bahkan ia tak sanggup untuk memegang pisau itu lagi hingga akhirnya terjatuh ke lantai. Ia pun terduduk. Raut wajahnya nampak putus asa dan sedih, "Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?
Temanku berpikir aku tidak bisa diandalkan lagi. Ayah dan ibuku menolak kondisiku sekarang dan bertengkar. Bahkan tatapan ayah tadi terlihat jijik. Dia menyesal karena aku sudah lahir ke dunia ini. Lantas apa lagi yang harus kulakukan?
Perlakuan seperti apa lagi yang harus kudapatkan setelah ini agar aku berani untuk mati? Alasan apa lagi yang harus kugunakan untuk hidup? Aku muak.. Aku lelah.."
__ADS_1