
Saat Rafa berbicara dengan Nevan, tanpa sengaja sudut matanya melihat ke arah belakang saudaranya. Ia bisa melihat kumpulan orang orang di sana. Keningnya seketika berkerut, "Kenapa ada banyak orang di sini? Apa yang terjadi?"
"Ah," Nevan ikut menatap arah yang dilihat pemuda itu, "Mereka adalah blizt. Mereka tanpa sengaja bertemu dengan kita di sini. Kami berencana untuk bekerja sama menyelesaikan masalah di dunia iblis. Tapi.. Aku juga tidak tahu apakah itu bisa dilakukan. Karena sebagian dari mereka ataupun Need, tidak setuju."
Rafa menjadi keheranan, "Kenapa ada blizt di sini? Ini bukan tempat mereka."
"Sebenarnya... Awalnya mereka ingin melakukan penyerangan diam diam di dunia iblis. Tapi mereka mengubah rencana setelah bertemu dengan mayat hidup–"
"Dia.. Dia Leon?"
Nevan berkedip beberapa kali ketika ucapannya malah dipotong dengan ucapan Rafa. Ia menatapnya dan tahu siapa yang dilihat Rafa. Ia baru akan bicara ketika Rafa malah berdiri dan berjalan mendekati kerumunan itu, "Rafa?" ia terkesiap dan mengikuti Rafa dari samping.
Mendengar namanya dipanggil, membuat Leon segera menghilangkan tekanan yang ia arahkan pada ketujuh manusia itu. Ia berbalik dan tertegun ketika melihat Rafa sudah berada di hadapannya.
Ekspresi Rafa terlihat sangat terkejut. Ia sampai tidak bisa berkata kata untuk beberapa saat sebepum akhirnya membuka suara, "Kau.. Benar.. Leon.. Kau Leon. K-kau... Kau Leon! Iya, Leon!"
Tindakan Rafa selanjutnya membuat Leon terkejut. Begitupun dengan Need dan Kite. Mereka melihat bagaimana Rafa memeluk Leon sambil menangis.
Tangan Need yang ada di samping tubuhnya terkepal kuat. Ia merasa iri karena Rafa dapat melakukan hal itu pada Leon. Ia pun berdecak.
Berbeda dengan Kite, ia malah tercengang. Ia tak menyangka bila Leon si gunung beku itu diperlakuan begitu baik oleh manusia. Padahal ia berpikir, karena sifat Leon yang dingin, membuat banyak orang tidak menyukainya dan menjauh darinya. Tapi ternyata tidak sepenuhnya benar. Lihatlah linangan air mata itu! Tatapan yang diperlihatkan penuh kerinduan dan kebahagiaan.
Leon mengulurkan tangannya dan mengelus punggung Rafa.
"Aku sangat merindukanmu.. Kau membuatku khawatir.. Sebelumnya aku mendengar... Kau tewas setelah bertarung dengan Raja iblis, hiks.. Tapi... Tapi kau ada di sini sekarang."
Leon terdiam sejenak ketika mendengar ucapan Rafa, "Aku baik baik saja, jangan cemaskan aku."
"Bagaimana aku tidak cemas?!" Rafa langsung melepaskan pelukannya dan menatap Leon sambil memegangi kedua bahunya, "Kau pergi kemari sendiri! Kau juga meninggalkanku tiba tiba saat itu! Kau melakukannya... Agar aku tidak terlibat masalah denganmu 'kan?" nadanya yang tinggi tiba tiba merendah.
Leon berkedip ketika melihat ketegasan dalam ucapan Rafa walau pemuda itu meneteskan air mata.
"Aku menyesal karena tidak bisa menahanmu saat itu. Kupikir... Aku mungkin tidak akan bisa bertemu denganmu lagi.. Tapi ternyata aku mendapat kesempatan untuk bisa pergi kemari dan mencarimu... Aku... Sangat bahagia," Rafa menghentikan ucapannya sejenak.
"...Tapi kemudian, aku malah mendapat berita jika kau sudah tewas. Kau pikir aku tidak sedih hah?! Aku berpikir jika kau telah mati, aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi! Karena itu... Karena itu aku sangat senang sekarang."
Leon merasa tersentuh ketika mendengar ucapan itu. Tidak banyak orang yang mempedulikan tentang dirinya seperti ini sebelumnya. Hanya Need, Radolf, dan beberapa iblis yang bisa dihitung dengan jari di satu tangan.
Leon menyentuh kepala Rafa. Ia yang sebelumnya berada di wujud anak kecil saat berhadapan dengan Rafa, kini memiliki tinggi yang sama dengannya membuatnya merasa sedikit berbeda, "Kau sudah bekerja keras. Karenamu, aku masih hidup. Terimakasih."
Rafa nampak keheranan, namun ia tidak bertanya apapun. Ia masih terlalu syok dan senang untuk ini.
__ADS_1
Leon memegang tangan Rafa yang saat ini masih di pundaknya. Ia pun menurunkannya secara perlahan dan tersenyum tipis ketika menatap anak itu, "Terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku."
"..Aku senang bisa bertemu denganmu lagi."
"Tapi kau.. Bagaimana–"
Belum sempat Rafa mengajukan pertanyaan, Leon sudah memotongnya, "Akan aku jelaskan nanti."
"Keponakan Tuan Melvin berhubungan dengan iblis?! Bahkan bukan iblis biasa.. Dia iblis... Yang sangat kuat," batin Freed dengan keringat yang bercucuran di keningnya. Ia merasa baru saja selamat dari kematian. Andai Rafa tidak memanggil nama iblis ini, mungkin ia masih mendapatkan tekanan mengerikan tadi.
Nix pun memiliki pemikiran yang tidak jauh berbeda dari Freed. Walaupun jika ini hanya kebetulan, tapi ia merasa berterimakasih pada Rafa di dalam lubuk hati terdalamnya.
Pria yang memiliki sebagian rambut putih di kepalanya sudah berdiri. Ekspresinya nampak pucat. Ia bahkan sampai terjatuh tadi karena aura mencekam itu, "Dia.. Bukan iblis biasa. Walaupun tadi sangat kuat, tapi itu hanya sebagian kecil kekuatannya. Seberapa.. Seberapa besar kekuatan yang dia miliki?!" batinnya dengan kalut.
Kini, tidak ada satu pun manusia yang berani mengusik Leon. Mereka merasa takut dengannya dan cemas akan apa yang akan terjadi jika tetap mencoba melukai Rafa.
"Hei, hei.. Setidaknya kenalkan manusia yang sudah mencairkan hati dinginmu itu padaku. Jangan pelit begitu. Lagi pula, aku tidak akan merebutnya darimu."
Ucapan Kite itu seketika membuat sunyi tempat ini. Semua tatapan langsung mengarah padanya. Ada yang berekspresi seolah berpikir apa yang dikatakan Kite lucu, dan ada yang merasa jika perkataannya membuat suasana sedikit terasa lega bagi ketujuh manusia di sana.
Leon menatap Kite dengan dingin. Ia jadi ingin memukul kepala iblis itu dengan keras, "Dia adalah Rafa."
Pemuda yang namanya disebutkan segera menatap Kite. Ia menyeka air yang masih tersisa. Ia tidak mengenalnya, namun dalam pandangannya, Kite terlihat baik.
Baru saja Kite akan memperkenalkan diri, Leon langsung memotong, "Orang berisik ini adalah Kite. Jangan terlalu dekat dengannya atau dia akan membuatmu mendengarkan ucapannya seharian."
Kite berekspresi masam ketika mendapat perkenalan diri dari Leon. Ia pun memprotes, "Aku tidak seperti itu! Lagi pula, kau terlalu sulit diajak bicara. Aku jadi harus mengeluarkan usaha ekstra untuk membuatmu bisa berbicara. Lalu lihat, inilah hasilnya. Akhirnya kau bisa banyak berbicara."
Leon menghela napas. Kite itu bisa dikatakan mirip dengan Nevan. Makhluk sejenis ini terkadang menyebalkan dan biasanya suka beradu mulut.
Brruukk
Suara sesuatu terjatuh membuat semua pandangan langsung tertuju pada asal suara. Para manusia berekspresi pucat. Sedangkan, Need, Nevan, Rafa dan yang lain terkejut.
Sesuatu yang jatuh itu adalah tubuh manusia yang merupakan rekan dari Freed. Tubuhnya tergenangi oleh darah. Dia sempat menggeram sakit, namun itu tidak berlangsung lama.
Hanya saja, yang paling mengejutkan bukanlah itu. Melainkan kupu kupu bersayap merah yang hinggap di punggung manusia yang kini telah menjadi mayat. Kupu kupu sebesar kepalan tangan orang dewasa itu memperlihatkan tentakel panjang, namun tipis miliknya yang tertancap di tubuh mayat.
Freed tanpa sadar menahan napas, "I-itu... Apa?"
Ia dan semua rekannya memang sudah bertemu dengan mayat hidup, namun mereka belum pernah bertemu kupu kupu bersayap merah itu. Ini terlihat asing, namun di saat yang sama juga terlihat mengerikan.
__ADS_1
"K-kalian.. Lihatlah..," pria berambut setengah putih melihat ke belakang, dimana kupu kupu yang hadir tidak hanya satu. Walau memiliki sayap putih yang bercahaya dan nampak indah, tapi ekspresinya tidak terlihat baik. Dalam pandangannya, kupu kupu itu bagaikan keindahan yang mematikan.
Semuanya seketika menatap arah yang ditunjuk hingga mereka tertegun untuk sejenak. Kupu kupu di hadapan mereka tidak hanya 3 atau 5, melainkan ada ratusan ekor kupu kupu.
Yang paling terkejut di sini adalah Leon beserta Kite. Mereka memiliki kekuatan yang besar, namun tidak bisa merasakan kehadiran serangga bersayap indah itu sama sekali.
Disaat semuanya diam, Need langsung berteriak, "LARI..!! LARI SECEPAT MUNGKIN! JAUHI SERANGGA ITU..!!"
Sontak para manusia terkejut. Mereka refleks langsung berlari menjauh dari tempat itu. Namun salah satu orang berhasil dicengram oleh tentakel dari 5 ekor kupu kupu, "Lepaskan, sialan!"
Ia mencoba memberontak, namun bukannya lepas, cengkraman tentakel itu malah semakin kuat. Rekannya mencoba untuk membantu melepaskan. Bahkan Nix pun ikut membantu. Namun kedua tangan mereka telah dilingkari oleh tentakel serangga itu.
"Sebenarnya mereka ini apa?!" batin Nix dengan gigi menggemertak. Saat ia akan mencoba lepas, temannya yang tubuhnya dililit berteriak kesakitan. Ia menoleh dan terkejut saat melihat jika kepala temannya tertusuk tentakel, "Tidak..!!"
Bukan hanya mereka, namun Leon dan yang lain pun nampak kesulitan. Rafa yang kondisinya masih belum membaik memaksakan diri dan menebas satu persatu kupu kupu itu dengan belati yang sebelumnya masih ia simpan.
Pada awalnya, Rafa memang berhasil menebas kupu kupu dengan mudah. Namun apa yang dilakukannya malah membuat semakin banyak kupu kupu mengerumuninya dan mengikat tubuhnya dengan tentakel yang mereka punya.
Tubuhnya membeku saat salah satu kupu kupu menampakkan diri tepat di depannya dengan tentakel yang bergerak gerak di udara. Ia menelan ludah. Firasatnya menjadi tidak enak.
Shuutt
Tentakel itu meluncur, hendak menusuk, namun sebuah kilauan senjata langsung memotong tentakel miliknya.
Bukan hanya tentakel itu, namun juga kupu kupu yang mengikatnya tak luput dari serangan.
Rafa tertegun ketika melihat punggung seseorang yang berdiri di depannya, "Huftt.. Untung saja sempat. Maaf Rafa, Ayah tidak sengaja tertidur tadi."
Tanpa melihat wajahnya pun, Rafa tahu jika yang di depan adalah Radolf, Ayahnya.
"Tapi.. Sepertinya ini adalah kupu kupu yang dimaksud. Memang mengerikan ya?" Radolf melirik ke belakang sejenak dan kembali menatap ke depan sambil menebas satu per satu tentakel yang ingin menangkapnya.
"Berhati hatilah, Rafa."
Sedetik kemudian, Radolf langsung menghilang dan berada di samping Need. Ia saling membelakangi dengan pemuda itu, dan terlihat seperti mereka saling melindungi bagian titik buta.
"Ggrrhh," Nevan menggeram saat tentakel serangga itu berhasil menusuk lengan bagian kanannya. Ia sampai tidak bisa menggunakan tangan kanan itu lagi untuk bertarung. Ia memindahkan belatinya ke bagian tangan kiri, walaupun bertarung dengan tangan kiri bukanlah keahliannya.
"Awas..!"
Cruaatt
__ADS_1
Nevan menelan ludah saat Kite muncul tepat waktu di sampingnya. Jika tidak, ia mungkin sudah tertusuk dari arah samping.
Tempat yang awalnya memiliki suasana sunyi dan tenteram kini berubah menjadi geraman kesakitan dan cipratan darah dari kedua belah pihak.