Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 65 -10 Tahun Kemudian


__ADS_3

Dia pun masuk kembali ke dalam ruanganku setelah selesai memasak. Dari baunya saja sudah enak. Bagaimana dengan rasanya?


"Karena hanya ada beras di dapur, kakak hanya bisa membuatkan bubur untukmu. Tidak apa?"


Raut Cecyl terlihat murung. Aku pun mengangguk sambil tersenyum. Aku tidak peduli makanan apapun itu, yang penting aku ingin memuaskan rasa laparku ini.


Dia segera duduk di kursi samping tempat tidur seperti tadi. Sedangkan, aku duduk di tempat tidur yang terbuat dari anyaman bambu.


Saat aku akan mengambil makanan itu, dia menjauhkannya dariku. Aku mengernyit heran ketika melihat apa yang dia lakukan. Karena itu pun, aku bertanya, "Kenapa?"


"Aku akan menyuapimu. Aaaa," dia menyodorkan se sendok bubur padaku.


"T-tapi aku bisa melakukannya sendiri," ucapku dengan gugup.


Nampaknya dia tidak mau mendengarkan ucapanku dan terus mendekatkan bubur itu ke mulutku. Aku pun tak memiliki pilihan lain, aku membuka mulut dan menerima suapannya.


Rasanya sungguh enak. Rasanya lembut dan gurih. Ini adalah makanan terenak yang pernah kumakan sejak Ibu tidak ada. Selama ini, aku selalu memakan makanan buatan Ayah. Hasil masakannya tidak enak, karena dia memang tidak bisa memasak. Bahkan setelah bertahun tahun memasak pun, hasil makanannya tidak pernah seenak ini.


"Nenak," ucapku dengan mulut berisi makanan.


Cecyl tertawa pelan ketika mendengar kata kataku. Aku tersenyum ketika melihatnya senang. Jika saja aku masih dalam tubuhku yang asli, maka aku akan berusaha untuk bisa menjadi pasangannya. Namun sayangnya, sekarang aku adalah adiknya. Aku hanya bisa terus mendukungnya sebagai adik dan tidak lebih dari itu.


Cecyl kembali menyuapiku, aku pun menerimanya, "Bagaimana dengan kakak? Apa kakak sudah makan?" tanyaku setelah menelan bubur itu.


"Iya, aku sudah makan. Jadi kau harus menghabiskannya," Cecyl tersenyum hingga matanya menyipit.


Aku mengangguk dan memakan makanan itu dengan senang.


Bertahun tahun akhirnya berlalu begitu saja. Tak terasa sudah 10 tahun sejak aku pindah ke dalam tubuh anak bernama Crocel. Walau sudah 10 tahun berlalu, tapi wujud fisikku seperti masih berumur 16 tahun. Fisik Cecyl pun masih terlihat seperti 10 tahun lalu. Begitulah iblis. Kami memiliki wajah yang tidak menua seberapa lama pun kami hidup. Karena penampilan iblis hanya sampai seperti 40 tahun saja, itupun bila iblis hidup sudah sangat lama.


Selama 10 tahun ini pun, aku memiliki informasi tentang pemilik tubuh ini sebelumnya. Ibunya adalah seorang penjual kue, sedangkan ayahnya adalah penebang kayu. Ibunya pergi bersama pria lain yang merupakan iblis bangsawan. Sejak itu ayahnya sakit sakitan hingga akhirnya meninggal. Karena itulah, aku dengan Cecyl hanya tinggal berdua.

__ADS_1


Apa yang diperbuat ibunya memang tidak bisa dimaafkan. Bagaimana bisa wanita itu pergi demi pria lain yang lebih kaya?


"Kakak, aku pulang!" sejak tinggal selama itu, aku sudah sangat terbiasa dengan panggilan 'kakak' pada Cecyl. Aku pun sangat dekat dengannya. Dia perhatian dan juga baik. Hanya saja, terkadang dia marah jika aku melakukan kesalahan atau membahayakan diri sendiri. Seperti pulang terlalu larut malam ataupun membuat rumah berantakan.


"Kakak?" Aku memanggilnya berkali kali dan mencarinya di setiap ruangan. Namun, tidak juga kutemukan tanda tanda keberadaan kakak. Padahal ini sudah hampir malam, biasanya dia sudah berada di rumah.


Saat aku sedang berada di kamar kakak, aku mendengar suara bising dari depan rumah. Aku bergegas keluar.


"Sudah kukatakan, sekarang aku tidak mau berhubungan denganmu lagi! Pergi dari sini!"


"Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku masih mau melanjutkan hubungan ini."


"Cepat pergilah dari sini! Kau membuat warga lain melihat kemari!"


"Kenapa? Kau merasa malu karena aku hanya anak kepala desa di sini? Atau karena kau takut rumor hubunganku denganmu menyebar?"


"Sudah kukatan, pergi dari sini!"


"Oh, hai. Kalau tidak salah, namamu adalah Crocel 'kan? Senang bertemu denganmu," ucapnya.


Aku menatap anak kepala desa. Senyumnya seolah memiliki pesan tersirat. Aku pun mengabaikannya dan memilih untuk menanyakan keadaan Cecyl, "Kakak kenapa baru pulang? Padahal kakak sendiri yang mengatakan agar tidak pulang terlalu larut."


Cecyl melihat ke atas langit, seolah ia tidak menyadari berapa lama waktu telah berlalu, "Ah, iya.. Tapi ini masih sore, jadi belum bisa dikatakan sudah larut. Kau pulang lebih cepat sekarang."


Melihat senyum hangat dari kakak, membuat hatiku terenyuh dan ikut hangat. Walaupun tidak ada ibu, namun aku seolah memilikinya karena ada kakak, "Jualan buah hari ini habis sangat cepat, jadi aku bisa pulang."


Kakak mengangguk. Dia menatap anak kepala desa dengan tatapan galak, "Sekarang pergi dari sini! Jangan menunjukkan wajahmu di depanku!"


Anak kepala desa itu menatap kakak sejenak, lalu beralih menatapku. Dia pun segera berlalu pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Aku sedikit penasaran dengan hubungan mereka, tapi kupikir itu urusan pribadi, aku tidak boleh mencampurinya, sekalipun dia adalah kakakku.


"Sudah, ayo masuk. Jangan memikirkan hal itu," ucap kakak sambil menarik lenganku dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Semakin hari, aku melihat kesehatan kakak kurang baik. Sepertinya dia banyak pikiran akhir akhir ini, "Untuk hari ini kakak tidak perlu membuat kue. Aku saja yang akan menghasilkan uang. Kakak istirahat di rumah."


Awalnya kakak menolak, namun aku pun terus memaksa hingga dia menerima usulanku. Aku sebenarnya khawatir dengan keadaannya. Biasanya kakak tidak pernah sampai pucat seperti itu walaupun sakit. Sekarang aku harus bekerja keras agar bisa menghasilkan banyak uang untuknya.


Berbulan bulan berlalu, aku menghasilkan banyak uang dari usahaku selama ini. Aku tidak menyangka bila uang yang ku tabungkan hampir mencapai setengah uang untuk membeli rumah. Aku ingin membelikan pakaian dan lainnya untuk kakak. Sudah lama kami tidak pernah membeli pakaian.


Saat aku sampai di rumah, ternyata hari sudah malam. Kakak pasti akan mengomeliku kali ini. Aku pulang terlalu larut.


Aku segera masuk ke dalam rumah dan menyimpan beberapa lembar pakaian di atas meja, "Kira kira kakak akan mengatakan apa ya?" gumamku.


Aku masuk ke dalam kamar kakak sambil menelan ludah. Entah apa yang akan diperbuat kakak sekarang padaku. Saat aku baru saja membuka pintu, suara bayi terdengar di telingaku.


Di saat yang sama pula, aku melihat sebuah benda berkilat yang tergeletak di lantai bersimbah darah. Aku membelalakkan mata saat melihat tubuh kakak tergeletak di sana. Buru buru aku langsung mendekatinya dan memangku kepalanya.


"K–kakak?! Kakak..! Apa.. Apa yang terjadi di sini? Apa yang sudah terjadi? Kenapa kakak bisa seperti ini?" tanganku gemetar. Suaraku pun menjadi gemetar. Aku bisa melihat wajahnya yang sangat pucat dan darah di sudut bibirnya.


"C-crocel.. Maafkan.. Kakak.."


"Siapa yang sudah melakukan ini?! Katakan padaku, siapa yang melakukannya?!" teriakku dengan marah. "Tidak, tidak, lupakan itu. Kita harus segera menutup luka kakak terlebih dahulu."


"T-tidak..," kakak memegang tanganku dan bisa kurasakan tubuhnya yang sedikit dingin. "Sudah terlambat.. Aku tidak akan bisa bertahan.."


Gigiku menggeletak ketika mendengar ucapannya. Mataku menjadi panas ketika melihat ekspresi yang kakak tunjukkan.


"Tolong maafkan.. Kakak.., Kakak tidak bisa.. menjagamu lebih lama... Lalu.. Kakak ingin menitipkan satu hal padamu.. Tolong... Jaga anak... Itu.. Karena dia.. Adalah anak kakak."


Tanpa sadar air mataku jatuh hingga mengenai wajah kakak. Aku sangat sedih ketika melihat keadaannya. Apalagi saat dia mati matian untuk mengatakan beberapa kalimat itu, "Apa maksud kakak? Apa maksud dari ucapan itu?" aku merasa bingung dengan ucapannya.


Apa maksud kakak adalah anak yang berada di atas tempat tidur anyaman bambu itu? Kenapa? Sejak kapan kakak hamil? Sejak kapan dia memiliki anak?


"Maaf.. Dia adalah anak kakak dan Lio.. Walau itu terjadi... Karena keegoisannya.. Walaupun begitu, aku.. Tidak membenci anak itu... Aku tidak menggugurkannya. Karena... Aku tidak mau seperti ibu... Yang meninggalkan.. Anaknya.. Kakak mohon... Kakak mohon Crocel.. Jaga anak kakak dengan... Baik.. Jangan sampai.. Lio mencoba membunuhnya.. Lagi.."

__ADS_1


Genggaman tangan kakak padaku seketika terlepas dan terhentak ke lantai begitu saja, "K-kakak?" Aku melebarkan mata dengan tak percaya. "Kakak..?! Kakak..?! Kakak...!!"aku memanggilnya berkali kali, tapi tidak ada jawaban apapun darinya.


__ADS_2