Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 40 -Permintaan Maaf


__ADS_3

Selama mengikuti arahan dari ponsel, berkali kali telepon masuk dan tertulis nama 'Ash tersayang'. Namun Leon tidak menghiraukan dan membiarkannya.


Perjalanan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki sangatlah jauh. Ia bahkan tersesat terus menerus. Ini ternyata tidak semudah yang ia pikirkan. Jika saja Teddy tidak membawanya jauh ke tempat sepi, mungkin ia tidak akan berjalan sejauh ini. Namun ia tidak menyalahkannya, karena membawanya ke tempat sepi seperti ini pilihan yang tepat. Dengan begitu, kehebohan takkan terjadi.


Sayang sekali ia tidak bisa mengendarai kendaraan manusia yang disebut mobil itu. Jika saja ia bisa melakukannya, mungkin perjalanan ini tidak akan selama itu.


Tanpa terasa kini bahkan sudah sore. Lampu lampu jalan mulai dinyalakan. Langit pun menjadi semakin gelap. Pada akhirnya, Leon bisa sampai di rumah sakit setelah sore hari. Ia menanyakan kamar dimana Kevin dirawat pada orang orang berpakaian putih.


Setelah mendapatkan informasi, Leon mulai pergi ke tempat yang dimaksud. Karena rumah sakit yang besar, ia membutuhkan waktu belasan menit agar bisa menemukan kamarnya.


Untung saja ia sudah membersihkan lengannya di perjalanan menuju kemari. Dengan begitu, tidak akan ada kehebohan. Walau bajunya yang sedikit berantakan menjadi perhatian beberapa orang.


"Ini pasti kamarnya," gumam Leon. Ia mengeratkan kepalan tangannya dan menarik nafas panjang, lalu membuangnya.


Krieett


Pintu pun dibuka. Ia masuk ke dalam dan menutup pintu itu kembali.


"Aku minta maaf karena sudah melibatkan kalian..! Kalian bahkan sampai terluka seperti ini. Aku.. Benar benar minta maaf.."


Mendengar tidak adanya jawaban, Leon langsung menegakkan kepalanya. Dilihatnya seorang pria tua keriput tanpa rambut duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Pria itu tersenyum padanya dengan kepala yang berkilau.


"Apa aku terlalu lama sampai dia akhirnya berubah seperti ini?" batin Leon. Ia terdiam sesaat, lalu langsung menepuk kedua pipinya.


"Permisi..," Leon berbalik dan berjalan cepat keluar pintu dan menutupnya kembali. Kepalanya menengadah ke atas dan melihat tulisan di atas pintu. Ia salah kamar. Seharusnya ia pergi ke kamar di sebelahnya.


Leon bergegas pergi ke kamar di sebelahnya. Ia kini memperhatikan tulisan di atas pintu sebaik baiknya agar tidak salah kamar seperti tadi. Setelah benar benar yakin, ia membuka pintu itu dan melihat orang di dalam sana.


Seorang pemuda duduk bersandar dengan kening yang dililit perban. Cahaya dari jendela yang masuk ke kamar membuatnya bisa melihat wajah itu dengan jelas. Itu benar benar Kevin.


Leon menutup pintunya dan berjalan masuk ke dalam. Kevin sepertinya tidak menyadari pintu yang terbuka karena melamun.

__ADS_1


"Aku... Minta maaf.."


Kevin tersentak kaget saat mendengar suara yang ia kenal. Matanya menilik asal suara dan melihat Leon berdiri di dekat tiang infus. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Bagaimana bisa Leon berada di sini? Dimana Teddy? Bukankah seharusnya dia bersama dengannya?


"K-kau.." Kevin tidak bisa berkata kata saat melihat kehadiran Leon sekarang.


Leon menatap Kevin dengan raut bersalah. Jika Need melihat ekspresi ini, ia pasti akan heboh. Leon yang sering berekspresi datar dan kesal di depannya kini menunjukkan ekspresi bersalah.


"Aku minta maaf karena sudah membuat kalian terlibat dalam masalahku. Tapi... Aku sendiri tidak tahu akan ada masalah seperti ini. Aku tidak ingat dengan mereka semua. Aku minta maaf, benar benar–"


Kevin memotong ucapan Leon dengan nada keras, "Kau kemari hanya untuk mengatakan maaf?! Saat kejadian, kau bahkan menghilang entah kemana. Lalu sekarang kau muncul kembali hanya untuk mengatakan maaf?! Apa maaf saja cukup untuk menebusnya?!


Orang asing itu sampai menyerang kami. Dia melukai kami. Kau pikir maaf saja bisa mengembalikan segalanya?! Mengembalikan keadaan kami seperti sebelumnya?! Karenamu, kami jadi terlibat!"


Leon terdiam mendengar ucapan Kevin. Ia bisa melihat keadaannya sekarang. Kepalanya terluka, bahkan lengan kirinya terpotong. Itu adalah keadaan yang buruk. Jika saja saat itu Need membiarkannya kembali ke rumah Rafa, mungkin ia bisa mengalami hal serupa.


"Kenapa kau diam?! Apa kau tidak bisa membalas ucapanku, huh? Apa kau menyadari apa yang sudah kau perbuat? Kehadiranmu hanya akan membawa masalah.


Pada awalnya hanya orang itu yang datang dan mengirimku entah kemana. Tapi setelah itu, muncul orang asing lain yang melukai kami sampai masuk ke rumah sakit. Apa kau tidak cukup dengan semua itu? Apa kau masih ingin melukai kami lagi?! Kau ingin membahayakan Rafa?!"


Kevin tidak mau mendengarkan ucapan Leon sama sekali. Ia terus menekannya, "Hoo~ aku tahu. Apa sebenarnya kau hanya pura pura hilang ingatan agar ada orang yang membawamu ke rumahnya? Agar kau aman dari orang orang aneh itu? Karenanya, saat itu kau menolak untuk pergi ke panti asuhan.


Ah.., pasti seperti itu. Kau membohongi Rafa dan membohongiku agar bisa mendapatkan simpati. Hahaha, pada akhirnya kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Rafa membiarkanmu tinggal di rumahnya.


Seharusnya sejak awal aku menyadarinya. Seharusnya sejak awal aku melarang Rafa membawamu. Tapi aku tidak melakukannya dan pada akhirnya kejadian ini pun terjadi.


Aku menyesal karena sudah percaya padamu. Aku menyesal sudah mengenalmu. Kehadiranmu tidak dibutuhkan sekarang. Kau bisa pergi. Jangan mencampuri urusanku atau Rafa lagi. Jangan dekati kami. Menjauh dan pergilah."


Leon menggelengkan kepalanya, "Tapi–"


"Keadaan tidak akan berubah bila kau datang. Tanganku tidak akan kembali seperti sebelumnya. Keadaan tidak akan membaik sebelum kau pergi dari kehidupanku dan Rafa. Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum aku berbicara dengan kasar."

__ADS_1


"Aku–"


Lagi lagi, Kevin tidak mau mendengarkan ucapan Leon dan kembali memotong ucapannya dan berbicara dengan nada menyentak, "KUBILANG PERGI DARI SINI! JANGAN PERNAH MENAMPAKKAN DIRIMU LAGI DI HADAPANKU SELAMANYA! JANGAN PERNAH MUNCUL DALAM KEHIDUPANKU! AKU MUAK DENGANMU! KAU PEMBAWA MASALAH! AKU MEMBENCIMU! LEBIH BAIK KAU MATI SAJA!"


Nafas Kevin menjadi tidak beraturan karena terlalu emosi. Ia begitu naik darah saat melihat kehadiran Leon. Kedatangan Leon hanya membuatnya mengingat kejadian mengerikan itu.


Leon tidak bisa mengatakan apapun. Namun entah mengapa hatinya terasa sakit. Padahal tidak ada orang yang menyerangnya, namun ia merasa dadanya seperti ditekan.


Tanpa mengatakan apapun, Leon hanya bisa menatap Kevin dan pergi.


Beberapa menit setelahnya, Rafa kembali ke dalam ruangan dengan membawa kresek makanan, "Maaf aku tidak mengikuti apa yang kau ucapkan. Aku tidak bisa pulang saat tidak ada orang yang menjagamu di sini. Tapi aku membawakan makanan untukmu dan aku."


Walaupun masih merasa marah dengan kehadiran Leon tadi, ia menjadi sedikit tenang saat melihat kedatangan Rafa. Dilihat dari reaksi yang temannya berikan, sepertinya dia tidak tahu tentang kedatangan Leon kemari. Sebaiknya seperti ini.


"Kalau begitu, besok pulanglah. Kau harus mengurus dirimu sendiri," ucap Kevin sambil mengalihkan pandangannya ke jendela. Matahari mulai terbenam dan langit menampakkan warna oren yang indah. Ia merasa sedikit tenang saat melihatnya.


***


Pada malam harinya, rumah sakit sangat sepi. Sebagian besar orang yang ada di dalam rumah sakit sudah tertidur. Termasuk semua pasiennya. Walaupun begitu, lampu di lorong lorong menyala dengan terang.


Leon berjalan di lorong itu dengan perlahan agar tidak menimbulkan banyak suara. Kata kata Kevin tadi memang sangat menyakiti hatinya. Tapi ia ingin melakukan sesuatu sebelum pergi dan ia bisa melakukannya jika semua orang sudah tertidur. Dengan begitu, Kevin pasti tidak akan bisa menolak kehadirannya.


Ia masuk ke dalam kamar Kevin. Sofa yang berada di dekat jendela kini terisi oleh Rafa yang tertidur sambil duduk. Sementara, Kevin pun sudah tertidur di tempatnya sendiri. Jendela pun ditutup.


Sebenarnya, Leon memang berniat untuk pergi dari mereka berdua. Ia tidak bisa bersama mereka karena bisa membawa masalah bagi keduanya. Tapi awalnya ia merasa ragu dan pada akhirnya keputusannya itu dikuatkan oleh kata kata Kevin yang ingin dirinya pergi.


Leon berjalan mendekati Rafa. Berdasarkan apa yang dikatakan Teddy, lengan kirinya patah dan dia mengalami luka lebam. Teddy tidak mengatakan kebohongan. Wajah pemuda itu memang lebam dan mungkin bagian tubuhnya yang lain pun demikian.


Leon menyentuh lengan Rafa yang dililit oleh perban. Ia menyalurkan kekuatannya yang bisa menyembuhkan untuk mengobati semua luka pemuda itu.


Perlahan, luka yang dialaminya pulih. Lebam yang ada di wajahnya pun membaik. Leon merasa senang ketika ia bisa berhasil melakukannya. Setelah mengobati Rafa, ia berjalan mendekati Kevin.

__ADS_1


Rafa yang merasakan sentuhan di tangannya tadi kini mengerjapkan matanya. Ia merasa begitu mengantuk, namun ia tetap memaksakan dirinya. Ia bisa melihat punggung anak kecil yang berdiri di samping tempat tidur Kevin. Ia menggosok matanya dan mengejapkannya kembali agar bisa melihat dengan jelas. Ia menyipitkan mata dan menyadarinya.


Itu adalah Leon!


__ADS_2