Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 110 -Ingatan Nevan Kembali


__ADS_3

"Kau datang di waktu yang tepat," ucap Leon sambil menatap kehadiran Kite.


Kite berkedip dengan ekspresi tidak mengerti, "Hm? Ada apa?"


Radolf memperhatikan keberadaan Kite. Tidak pernah ia lihat wajah itu. Namun aura yang terpancar dari pemuda itu terasa biasa baginya, "Maaf jika kau merasa tersinggung, tapi kenapa kau masih bersama dengan Leon? Dari yang kurasakan, kau hanya iblis biasa."


Kite tidak serta merta langsung tersinggung. Ia malah tersenyum tipis dengan pandangan yang tertuju pada Radolf, "Karena aku ingin mengikutinya saja. Kenapa? Tidak boleh?"


Leon menggeleng mendengar jawaban Kite, "Dia tidak menyusahkanku. Jadi aku membolehkannya ikut. Lagi pula, dia tidak selemah itu, Radolf."


Kening Radolf seketika berkerut mendengar ucapan Leon. Ia memperhatikan Kite seksama dan yakin jika kekuatan Kite bahkan tidak sebanding dengannya, "Aku tidak merasa dia lebih kuat dariku."


"Menurutku dia sebanding denganku."


Radolf tersentak, "Benarkah?!"


Bukan hanya dirinya, tapi Need pun ikut tersentak mendengar ucapan Leon. Ia menggeleng tak percaya. Matanya memperhatikan Kite seksama dan memiliki pemikiran seperti Radolf.


"Kenapa Rafa adalah sebagian dari jiwaku? Padahal tahun lahir, ras dan masa hidup kami berbeda," ucap Leon tiba tiba mengubah topik.


Mendapat pertanyaan itu, Kite kembali menatap Leon, "Ini hanya perkiraanku. Tapi mungkin saja dia lahir di tahun yang sama denganmu. Hanya saja, dia mati pada beberapa tahun setelahnya, lalu bereinkarnasi bertahun tahun kemudian dengan identitas berbeda. Sedangkan, jika kau mati, maka kau akan kembali hidup beberapa jam atau beberapa hari setelah kematian."


Kite kini menatap Rafa, "Mungkin kau mengingat sesuatu tentang kehidupanmu sebelumnya?"


Rafa keheranan namun segera menggeleng, "Aku tidak tahu hal hal seperti itu. Tapi yang jelas, tidak ada ingatan kehidupan lain dalam pikiranku selain kehidupanku sekarang."


Kite mengangguk, "Bisa jadi kau bereinkarnasi tanpa memiliki ingatan kehidupan sebelumnya. Hm.. Ini sulit, tapi tidak masalah. Karena yang pasti, kau memang sebagian jiwa dari Leon."


Flashback End~


"Mn... Tapi sepertinya itu tidak masalah. Yang penting umurku tidak sampai 18 tahun saja," ucap Rafa dengan senyum.


Mendengar kata '18 tahun' membuat Nevan tiba tiba tersentak. Ia mulai menghitung jarinya sendiri dan kembali menatap Rafa dengan mata terbelalak, "Kau 'kan ulang tahun sekarang?!"


Rafa berkedip, "Apa iya? Aku lupa."


"Oh ya ampun... Karena keadaan seperti ini, aku hampir melupakannya. Setelah ini selesai, ayo kita rayakan!" Nevan berekspresi semangat.


"Aku bukan anak kecil lagi, tidak perlu repot repot."


"Tidak! Setelah ini selesai, kita akan merayakannya! Ayah juga pasti akan aku ajak ikut, lalu.. Ulang tahun untuk tahun ini spesial," Nevan mengelus elus dagunya dengan senyum kecil yang terpampang di wajahnya.


Rafa tiba tiba merinding mendengar ucapan 'spesial' dari saudaranya. Selama ini Nevan selalu mengatakan 'spesial' tentang hadiah yang sering diberikannya saat ulang tahun. Tapi setiap hadiah darinya selalu mengejutkan.

__ADS_1


Di suatu hari, saudaranya pernah memberikan bungkusan kotak kado berukuran sedang. Tanpa memikirkan apapun karena senang, ia langsung membukanya. Tapi ternyata di dalamnya berisi banyak kecoak.


Di hari lain pernah pula saudaranya mengadakan drama penculikannya. Ia dibawa ke rumah kosong dan ditinggalkan di sana dalam keadaan terikat.


Jika saja saat itu ia tidak bisa melepaskan dirinya sendiri, mungkin sudah 3 hari dirinya ditinggal di rumah kosong itu tanpa makan minum. Kadang Rafa heran sebenarnya Nevan itu membencinya atau bagaimana.


"Eh, tapi apa kau sudah baik baik saja? Setelah kedatangan Leon, aku tidak memperhatikan keadaanmu," Nevan menggaruk pipinya dengan telunjuk.


"Aku melupakannya. Tapi aku merasa sudah lebih baik–Nev! Kau kenapa?"


Nevan memegangi kepalanya. Ia menggeleng beberapa kali ketika ingatan ingatan kecil mulai masuk. Kepalanya jadi terasa pusing.


Rafa berekspresi khawatir. Ia menepuk pundak kiri saudaranya beberapa kali, "Kau baik baik saja? Apa ada yang sakit? Aku akan menyembuhkannya."


Nevan menggeleng untuk kesekian kalinya, "Tidak.. Ini.. Ini..," dengan refleks ia menepis lengan Rafa yang ada di bahunya. Ekspresinya terlihat takut dan kesakitan namun tanpa mengeluarkan suara.


"Nev?" Rafa sontak saja terkejut melihat perilaku Nevan. Alisnya mengernyit dengan raut khawatir.


Semua orang fokus dengan dirinya sendiri. Lebih tepatnya, masalah mereka masing masing hingga tidak memperhatikan Nevan ataupun Rafa. Jadi tidak ada yang mendekat pada keduanya.


Kepala Nevan yang awalnya tertuduk mulai mengangkat wajahnya hingga Rafa dapat dengan jelas melihat ekspresi yang terpampang dari wajah saudaranya.


"Dia yang sudah membunuhku saat penyerangan kupu kupu itu," Nevan menunjuk ke tempat Kite sedang berbicara dengan Leon, Felix serta Kay.


Rafa melihat ke arah yang ditunjuk, "Kite?"


"Tidak mungkin, kau pasti salah mengira Nev. Tidak mungkin dia yang melakukannya."


"Aku tidak salah. Ingatanku sudah kembali dan aku tahu dia'lah yang sudah membunuhku."


Rafa berwajah syok, "T-tapi kenapa?"


Nevan menggeleng. Ekspresi wajahnya pucat ketika mengingat detik detik kematiannya. Apalagi pembunuhnya masih berada di sekitarnya, "Setelah mengatakan aku menjadi beban, dia langsung menusukku."


"Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana bisa dia melakukan ini?! Kita harus mengatakannya pada yang lain," ucap Rafa dengan wajah serius.


Nevan menggeleng cepat, "Bagaimana jika dia tahu aku yang mengatakan dia yang sudah membunuhku sebelumnya? Dia mungkin akan membunuhku lagi!"


Melihat wajah takut dan was was dari Nevan membuat Rafa tidak bisa tinggal diam. Ia jadi khawatir bila Kite adalah musuh, "Kita tetap harus mengatakannya. Membunuhmu disaat keadaan sedang kacau karena kupu kupu bersayap putih..."


Rafa menggeleng, "Tidak bisa. Kau tunggu di sini. Aku akan mengatakannya pada Leon."


"Tidak, Rafa!" Nevan terdiam kaku di tempatnya. Rafa sudah berjalan pergi menuju tempat Leon berkumpul. Raut wajahnya berubah panik. Ia ingin menghentikan Rafa, tapi takut tindakannya akan mengambil perhatian semua orang.

__ADS_1


Sesat Nevan menelan ludah, namun segera berdiri. Yang penting ia bisa menghentikan Rafa sekarang. Itu yang dipikirkannya.


Nevan menahan pergelangan tangan Rafa dari belakang hingga membuat pemuda itu seketika menghentikan langkahnya, "Jangan, sebaiknya kita awasi saja dulu. Jika terang terangan mengatakannya pada Leon, apalagi di depan Kite, apa yang akan dilakukan pembunuh itu?" bisiknya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan? Diam saja dan menganggap hal itu tidak pernah terjadi?" ekspresi Rafa terlihat marah. Bukan dirinya yang mendapat perlakuan seperti Nevan, namun dirinya ikut marah.


Nevan menggeleng dan segera melepaskan pergelangan tangan Rafa. Raut wajahnya terlihat tidak baik, tapi ia mencoba berbicara sebaik mungkin di hadapan Rafa, "Kita akan mengawasinya. Karena itu, tidak perlu katakan apapun. Aku baik baik saja. Yang terpenting, dia tidak mengambil nyawa banyak orang di sini."


Rafa menghela napas kasar, "Tapi jika dia melakukan hal mencurigakan, kita akan langsung mengatakannya pada Leon dan semuanya."


"Kenapa kalian di sana? Ada apa?"


Sebuah suara mengejutkan Nevan. Ia menilik ke belakang dengan raut terkejut, "A-ayah.. Tidak.. Tidak ada."


Melvin mengerutkan kening ketika melihat ekspresi aneh yang ditunjukkan anaknya, "Benar? Wajahmu sedikit pucat. Kau sakit, nak?"


"Tidak, aku baik baik saja. Ayah salah sangka. Lagi pula, bagaimana bisa aku sakit saat keadaan seperti ini?" balas Nevan dengan canggung. Namun keringat terlihat sedikit mengalir di keningnya. Ini akibat ingatannya yang masuk sebelumnya.


"Jika kau sakit, jangan menahannya. Katakan pada Ayah. Aku di sini," Melvin masih terlihat cemas. Setelah kehilangan banyak bawahannya, ia jadi semakin khawatir akan kondisi anaknya.


"Tidak, sudah kukatakan aku baik baik saja. Ayah tidak perlu cemas," ucapan Nevan yang terdengar sedikit ketus membuat Melvin seketika terdiam. Ia meneliti raut wajah anaknya, "Kau berkeringat. Tapi ekspresimu.. Takut? Kenapa? Ada apa?"


Nevan tersentak mendengar tebakan Melvin yang tepat. Ekspresinya menjadi gelagapan, "Eum.. Ini.. Aku tidak sengaja tertidur sebentar. Lalu aku bermimpi buruk, ya, seperti itu!"


Melvin menoleh pada Rafa, "Apa itu benar?"


Rafa menangkap sinyal mata dari tatapan saudaranya. Sepertinya dia tidak ingin Melvin pun tahu, "Tidak ada apa apa, Paman. Tidak perlu khawatir," ucapnya dengan senyum kecil.


"Ada apa memangnya?" Radolf ikut berbicara.


Melvin menatap kedatangan pria itu. Wajahnya berubah masam, "Kenapa kau terus mengikutiku? Ingin meminta maaf lagi? Huh, bahkan jika kau dicambuk 100 kali pun, aku tidak akan memaafkanmu."


"Kakak ipar.. Aku.."


"Kakak ipar?" Melvin mendengus dengan raut mengejek, "Kau memanggilku kakak ipar? Serius?"


Leon menoleh ke belakang karena mendengar sedikit keributan kecil di dekatnya. Ia melihat Rafa, Nevan, Radolf dan seorang pria yang tak ia kenal namanya.


Berdirinya Leon membuat ketiga iblis di dekatnya tersentak. Mereka segera menatap Leon yang langsung pergi ke sumber suara.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Leon dengan raut datar. Ia memang jarang menunjukkan emosinya jika ada orang asing yang tak dekat dengannya. Namun ekspresi datar ini adalah ekspresi terbaik yang pernah ditunjukannya pada orang asing.


Nevan terdiam melihat kehadiran Leon. Ia menjadi semakin gelisah jika saudaranya ternyata membongkar masalah Kite.

__ADS_1


"Leon sudah menjauh dari Kite. Jadi tidak akan ada masalah 'kan? Lagi pula, jika aku dan Nev saja yang mengamatinya, aku tidak yakin bisa melakukannya. Leon pernah mengatakan jika Kite sekuat dia. Karena itu, harus kukatakan sekarang juga!" batin Rafa.


Rafa mengambil napas sebanyak banyaknya dan mulai berucap, "Leon.. Sebenarnya.."


__ADS_2