Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 27 -Tidak Jadi Mati


__ADS_3

Tanpa memberikan waktu untuk Need menarik nafas, Leon langsung muncul di samping Need dan menendang tubuhnya hingga menghantam pohon lainnya.


Need kembali terbatuk. Ia langsung berdiri sebelum Leon kembali menyerangnya. Saat sebuah pukulan hampir mengenainya, Need langsung menggunakan pedangnya untuk menahan serangan. Pada saat itu pula, ia langsung berpindah tempat ke arah berlawanan.


Brruukk


Pukulan Leon yang sebelumnya sudah mengenai pedang Need, kini mengenai pohon hingga hampir roboh. Tanpa melirik ke belakang, ia sudah tahu Need bersiap untuk menyerangnya di belakang. Sebelum itu terjadi, ia menghilang dari sana dan muncul di sampingnya.


Need sedikit terkejut, namun ia segera melakukan tebasan ke arah samping hingga membuat Leon yang hendak menyerang mundur.


Kini keduanya mengambil kuda kuda menyerang. Mereka saling mengamati satu sama lain. Tapi, mungkin Leon tidak bisa dikatakan mengamati. Ia lebih seperti menyerang sesuai dengan amarahnya.


Sebuah daun terlepas dari ranting pohon. Pada saat daun menyentuh tanah, disaat itu pula keduanya saling mendekat dan memberikan serangan dengan cara masing masing. Leon dengan pukulan dan tendangan. Sementara, Need dengan pedangnya.


Berkali kali lengan Leon beradu dengan senjata milik Need, membuat luka di tubuhnya. Namun berkali kali pula luka itu sembuh dengan cepat tanpa dirinya sadari.


Tringg Bruuk Bruuk


Berkali kali tubuh salah satu diantara mereka terlempar hingga menabrak pohon. Tapi mereka kembali bangkit lagi dan lagi. Gerakan Leon menjadi semakin cepat saat melawan Need. Perlahan Need pun harus sedikit serius untuk menyerang Leon agar bisa mempertahankan diri.


Lukanya tidak akan sembuh secepat Leon, karena ia tidak memiliki kemampuan regenerasi cepat seperti yang dimiliki anak itu. Hal ini menjadikan suatu keunggulan bagi Leon dan kekurangan baginya.


Need berpindah pindah tempat berkali kali untuk mengecoh Leon. Tapi gerakan anak itu kini sangat cepat. Ia menjadi kesulitan untuk mengecohnya.


Saat Need berpikir Leon akan memukulnya, ia segera mengayunkan pedangnya dengan horizontal. Dalam sepersekian detik itu, Leon membungkukkan tubuhnya dan mengaitkan kakinya pada kaki Need hingga pemuda itu terjatuh dan pedangnya terlempar ke atas.

__ADS_1


Leon melompat dan mengambil pedang itu, ia pun menghunuskannya pada Need. Tatapannya terlihat begitu tajam, tapi dingin hingga bisa membuat lawan membeku di tempat.


Need menelan ludahnya. Pedangnya sendiri kini menghunus padanya. Ia pun tersenyum miring, "Reaksi seperti ini yang kuharapkan."


Leon memegang pedang dengan lebih kuat, "Apa maksudmu?"


"Dia belum mati. Aku hanya memindahkan tubuhnya ke tempat lain dan tubuh yang terpotong tadi adalah orang lain."


Leon sedikit bingung dengan ucapan Need. Ia jelas jelas melihat bila kepala itu adalah milik Kevin. Bagaimana bisa pemuda itu mengatakan hal seperti ini? Apa maksudnya? Ia pun hanya terdiam untuk mendengar penjelasan dari Need.


"Karena itulah, singkirkan dulu pedang itu," Need langsung menendang pedang miliknya dari tangan Leon hingga pedang terhempas dan menancap di tanah bagian lain.


Leon sesaat melihat tempat jatuhnya pedang itu, hingga pandangannya beralih kembali menatap Need. Tapi pemuda itu sudah tidak ada di sana. Ia langsung waspada dan melihat ke sekitar.


"Ayo tenang dulu."


Ya, Need menggunakan hampir seluruh auranya untuk menekan Leon. Ia tersenyum dengan kedua mata menutup. Ia memijat mijat bahu anak itu, mencoba untuk membuatnya tenang. "Kau tenang dulu, aku akan membuktikannya."


Dalam satu jentikan jari, Kevin muncul di depan keduanya. Ekspresi pemuda itu terlihat kebingungan. Padahal sebelumnya ia sudah berada di rumah dan Rafa mengobati luka di lehernya. Tapi, saat Rafa pergi untuk memasakkan makanan, ia kembali ke tempat ini lagi. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang.


Need mendekatkan mulutnya pada telinga Leon agar suaranya tidak terdengar Kevin. Ia pun mulai berbisik, "Kau lihat? Dia baik baik saja. Dia juga masih hidup. Karena itu, tenangkan dirimu. Yang kubunuh tadi adalah orang lain. Tepat saat aku akan memenggal kepalanya, aku menggantinya dengan orang lain.


Kepala yang sudah kau lihat pun memang terlihat seperti dia, tapi sebenarnya aku hanya mengubah wajah orang lain sedikit hingga itu terlihat seperti dia.


Mengubah wujud adalah hal yang bisa dilakukan oleh hampir semua iblis. Termasuk iblis tingkat rendah sekalipun. Tapi itu menghabiskan cukup banyak kekuatan. Jadi yang kau lihat sekarang memang dia yang asli. Untuk mayat tadi, aku sudah membuangnya, jadi tidak ada di sini."

__ADS_1


"Jauhkan tanganmu darinya!" ucap Kevin dengan nada dingin. Tatapannya terarah pada Need. Ia sekarang khawatir bila pemuda itu akan melakukan sesuatu pada Leon. Karena sebelumnya pemuda itu bahkan melukai lehernya dengan pedang tanpa ragu.


Need menatap Kevin dengan datar. Ia memang tidak suka dengan sikap manusia itu. Bagaimana bisa Leon menolong manusia semacam ini sebelumnya?


Ketika merasa Leon sudah lebih tenang dibanding sebelumnya, dan aura yang dikeluarkannya sudah hilang, Need pun menghapus auranya hingga membuat Leon bisa kembali bergerak dengan bebas.


Untuk sesaat, Leon bisa merasakan perasaan yang mengerikan tadi. Ia tertekan oleh sesuatu yang membuatnya sedikit sulit bernafas. Ia melirik Need yang masih memegangi kedua pundaknya.


Mengerti dengan maksud Leon, Need melepaskan lengannya dari bahu anak itu walau tidak rela. Ia masih ingin menyentuhnya. Tapi sepertinya itu tak bisa ia lakukan. Ia melirik pedang yang tertancap di tanah. Seketika itu pula, pedang langsung menghilang dari sana.


Leon berjalan mendekati Kevin. Ia memperhatikannya seksama. Ini bukanlah ilusi. Dia benar benar Kevin! "Apa kau baik baik saja?"


Kevin berkedip melihat sikap Leon kali ini. Padahal biasanya anak itu takkan perhatian seperti ini padanya. Namun sekarang dia bahkan menanyakan keadaannya, "Aku baik baik saja. Selain itu, apa saja yang sudah dilakukan orang asing ini padamu?"


Leon menetralkan ekspresi cemasnya dan bersikap seolah tidak ada apapun, "Dia mengajakku bermain. Cara yang dia lakukan sangat membuatku tertarik, jadi aku bermain dengannya sebentar."


"Sebaiknya kau jangan mendekatinya! Dia berbahaya. Entah bagaimana dia bisa tiba tiba berada di rumah, dan saat itu dia membuatku berada di sini. Setelahnya, aku kembali ke rumah dan kembali ke sini tanpa aku pahami," Kevin menatap Need dengan waspada. "Dia juga pasti yang sudah membuatmu berada di sini."


Leon menatap Need dengan datar. Pemuda itu hanya menaikkan kedua bahunya dengan ekspresi tanpa dosa.


Need menggerakkan mulutnya tanpa bersuara, "Jika kau masih menolak apa yang kusarankan tadi, maka dia akan benar benar mati. Bukan hanya dia, tapi pemuda yang bersamamu saat malam itu."


Tanpa suara, entah mengapa Leon bisa mengerti ucapan Need. "Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi.., jangan pernah melibatkan orang lain lagi."


Need memberikan jempol pada Leon, "Kita akan memulainya besok. Aku juga harus mempersiapkan beberapa hal lebih dulu. Jadi kau bisa kembali. Maaf untuk hari ini."

__ADS_1


Dalam sekejap, Leon dan Kevin sudah berada di kamar mereka. Pintu ditutup dan lampu menyala. Terlihat dari balik jendela bila kini sudah malam.


__ADS_2