
Aku menarik senyum saat melihat kelopak matanya mulai membuka perlahan. Sejak malam dia pingsan hingga matahari terbit keesokannya. Aku sangat khawatir jika dia tidak akan pernah membuka matanya lagi. Tapi syukurlah dia akhirnya sadar.
"P-paman..?"
Aku menatapnya dengan cemas, "Iya, aku di sini. Apa tubuhmu sangat sakit?"
Ciel masih mengerjapkan mata hingga akhirnya dia melihatku. Kulihat matanya menjadi sembab dan berkaca kaca, "Paman, aku minta maaf.. Aku minta maaf karena sudah membuat masalah. Tadi aku tidak sengaja menabrak seseorang dan dia memukuliku. Maaf karena sudah menyusahkanmu, paman.."
Aku menyentuh kepalanya dan tersenyum, "Tidak, kau tidak melakukan kesalahan. Kau anak baik, kau adalah keponakanku. Pria itu 'lah yang keterlaluan. Aku sudah melaporkannya pada petugas keamanan dan dia langsung diurus mereka."
"T-tapi.. Tapi dia mengatakan jika dia adalah prakurit kekaisaran. Apa itu tidak apa? Aku juga sudah membuatnya marah," mata Ciel semakin berkaca seolah akan segera menumpahkan air mata yang terkumpul di pelupuk matanya.
"Iya, kau tidak perlu memikirkan itu. Yang penting, aku sudah menyelesaikannya. Maaf..., aku terlambat untuk pulang dan kau malah mengalami kejadian ini, Ciel. Aku benar benar minta maaf karena tidak bisa menjagamu," aku menundukkan kepala karena rasa bersalah.
Ciel menggelengkan kepala dengan cepat, "Tidak, tidak! Itu tidak benar. Paman sudah melakukan yang terbaik. Lagi pula, paman sudah mengatakan jika ingin membeli bahan makanan. Jadi paman pasti pulang terlambat dan kelelahan. Karena itu, aku ingin membelikan camilan untukmu, tapi aku tanpa sengaja malah menabrak pria garang tadi."
"Iya, tidak apa. Bagaimana kondisimu? Apa ada yang sakit?" tanyaku dengan kening berkerut cemas.
"Tidak apa, aku baik baik saja paman."
Melihatnya tersenyum seperti itu membuatku sedikit lega. Tapi aku khawatir bila orang orang yang sama seperti tadi akan datang lagi dan melukai Ciel. Mungkin saja di kota ini ada teman dari pria itu dan akan datang untuk membalasku. Aku tidak bisa melindungi Ciel seharian penuh, karena harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan.
Sepertinya Ciel mengetahui apa yang kupikirkan hingga dia membuka suara, "Aku bisa menjaga diriku. Saat ada orang seperti itu lagi, aku akan pergi sejauh mungkin darinya dan bersembunyi. Karena aku tidak memiliki kekuatan besar seperti orang tadi, jadi lebih baik aku menjauh darinya. Walau itu terkesan pengecut, hehehe.. Tapi yang terpenting aku selamat."
Aku tersenyum kecut ketika mendengarnya. Mungkin memang hanya itu yang bisa dilakukan. Aku tidak memiliki kekuasaan apapun di dunia ini. Aku tidak memiliki harta berlimpah dan tidak memiliki kekuatan. Karena semua itu, aku selalu diremehkan iblis lain dan selalu dipandang sebelah mata. Jika aku hidup sendiri dalam dunia seperti ini, mungkin aku tidak akan tahan dan pada akhirnya jatuh dengan sendirinya. Namun ada satu iblis yang selalu ada bersamaku dan memberikan tujuan serta kekuatan untukku hingga membuatku bisa bertahan sampai sekarang.
__ADS_1
Hanya Ciel yang kupunya. Dia satu satunya harta yang berharga bagiku. Aku tidak mau kehilangannya, seperti aku kehilangan kakak. Aku ingin bisa menjaganya dari segala ancaman. Harapanku satu satunya hanya dia.
Namun harapanku pupus saat dia berusia 15 tahun. Ciel tanpa sengaja menjatuhkan teh panas yang dibawanya pada wajah seorang anak bangsawan yang singgah di kota ini. Restoran yang kala itu sedang ramainya pengunjung, mendapat keributan besar karena anak itu memukuli Ciel di restoran.
Tidak ada yang berani menolongnya saat itu, karena anak yang memukuli Ciel adalah anak dari seorang bangsawan.
Aku yang juga bekerja di restoran itu ingin menolong Ciel, tapi aku malah ditahan para pengawal anak berumur 17 an tahun itu. Sekuat apapun aku memberontak, aku tidak bisa melepaskan cengkraman tangan mereka.
Pada akhirnya aku hanya bisa menyaksikan Ciel yang dipukuli dan dihabisi tepat di depan mataku. Aku.. Tidak bisa melakukan apapun.. Aku hanya bisa mematung di tempat. Usaha yang kulakukan untuk bebas dari para pengawal itu sia sia. Aku tidak memiliki kekuatan, aku lemah. Aku lemah, dan aku tidak bisa menolong Ciel walau dia berada tepat di depanku. Aku merasa tidak berdaya ketika tahu... Ciel telah mati. Bahkan tepat di depan mataku sendiri. Aku tidak melakukan apapun, aku tidak bisa menolongnya. Aku... Benar benar tidak bisa menolongnya. Aku tidak bisa menepati janjiku.
Aku tidak bisa menyelamatkan satu satunya harta berhargaku. Aku terlalu lemah, bahkan hanya untuk melindunginya aku tidak sanggup. Dunia yang kulihat sekarang seolah telah berakhir. Aku tidak memiliki harapan untuk hidup lagi. Satu satunya harapanku kini sudah tidak ada.
Tidak ada motivasi untukku melanjutkan hidup. Tidak ada alasan untukku terus hidup. Aku merasa tidak berdaya.
Aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku sendiri tepat sehari setelah kematiannya.
Aku membuka mata perlahan saat mendengar suara suara yang masuk ke telingaku. Seharusnya sekarang aku sudah mati, kenapa aku masih mendengar suara lain? Bukankah seharusnya aku sudah di akhirat? Tapi apa ini?
Saat aku membuka mata, yang kulihat adalah langit langit sebuah ruangan dan wajah seorang wanita yang tepat berada di hadapan wajahku. Aku tersentak dan bersuara, "Oooaaa"
Hah! Tunggu! Apa ini? Apa yang terjadi? Suaraku? Kenapa suaranya seperti bayi? Aku mencoba menggerakkan tanganku, namun rasanya cukup sulit.
Jangan jangan...
"Lihatlah sayang, dia sangat tampan sepertimu. Dia juga lucu, hihihi.."
__ADS_1
Gadis itu bersuara dan aku seketika terdiam. Aku menatap wajahnya yang asing bagiku. Seorang pemuda yang berdiri tidak begitu jauh dariku langsung menyentuh hidungku dengan gemas.
"Dia juga manis sepertimu, sayang.. Lihatlah matanya yang sangat besar, hahaha.. Dia pasti bisa membuat banyak gadis menyukainya, hahaha.."
Pemuda itu tertawa dengan suara keras. Namun dari ekspresinya, dia terlihat senang. Aku masih menilai situasi saat ini. Seorang gadis dan pemuda. Lalu, gadis itu sedang menggendongku. Mereka tampak senang dan dari ucapan yang kudengar, aku mengambil kesimpulan. Aku.. Terlahir kembali menjadi seorang bayi?
Kenapa? Kenapa aku hidup kembali? Bukankah seharusnya aku mati? Apa dunia memberikan kesempatan untukku hidup lagi? Tapi kenapa? Aku tidak ingin hidup lagi, aku ingin mati. Aku tidak memiliki keinginan untuk hidup.
Di satu sisi aku merasa kesal dan sedih karena malah hidup kembali, apalagi di tubuh bayi kecil seperti ini. Tapi di sisi lain, aku senang karena kedua orang tuaku yang sekarang adalah orang baik. Bahkan keadaan ekonomi mereka dikatakan melimpah, karena ayah adalah seorang bangsawan. Kebutuhanku selalu tercukupi dan tidak pernah kurang. Bahkan aku merasa jika aku terlalu banyak dikelilingi harta.
Aku.. Tidak pernah berpikir bisa mendapatkan hal sebanyak ini. Andai saja dulu aku bisa memberikan semua ini pada Ciel. Andai dulu kedudukanku tinggi. Jika seperti itu, maka Ciel tidak harus mati karena bangsawan sial*n itu.
Aku sangat menyesal, aku merasa bersalah, aku merasa tidak bisa melakukan apapun dan aku tidak berdaya. Aku sangat frustasi atas kematiannya. Andai aku lebih kuat, maka hal seperti ini seharusnya tidak terjadi.
Saat aku sudah menginjak umur 7 tahun, aku meminta ayah untuk mengajarkanku cara bertarung. Kali ini, aku harus memanfaatkan kesempatan yang ada. Aku harus lebih kuat, lebih kuat dari siapapun! Aku tidak ingin orang yang kusayangi kembali direnggut. Aku tidak ingin itu terjadi. Akan kulakukan apapun untuk menghentikannya.
Aku berlatih dengan giat hingga menjadi cukup mahir. Saat aku berumur 15 tahun, aku baru menyadari jika aku memiliki suatu kemampuan. Aku tidak percaya memiliki hal semacam itu. Bahkan kekuatanku belum begitu kuat, namun aku memiliki hal semacam ini. Kemampuan yang kudapatkan adalah menggerakkan benda tanpa menyentuhnya. Aku harus mengeluarkan banyak tenaga hanya untuk memindahkan sebuah kertas pada awalnya. Namun seiring waktu, kemampuanku semakin mudah dikontrol.
Aku bahkan bisa menggerakkan sebuah kereta kuda tanpa menyentuhnya. Ini mengagumkan! Aku tidak pernah berpikir bisa mendapat hal semacam ini.
Semuanya begitu tenang pada awalnya, hingga usiaku pun menginjak umur 30 tahun namun dengan fisik 16 tahun.
Bangsawan lain menyerang kediaman ayah dan membunuh seluruh iblis yang ada di kediamanku, termasuk ayah dan ibu. Aku begitu marah hingga menyerang bangsawan itu. Tapi aku tidak bisa membunuhnya. Bahkan hanya untuk menggores tubuhnya pun aku tidak bisa.
Tujuannya menyerang kediamanku adalah karena ingin menyingkirkan bangsawan yang merupakan musuhnya. Lalu ayah adalah salah satu musuh bagi bangsawan itu.
__ADS_1
Semua orang mati, termasuk diriku. Kediaman yang sebelumnya tenang, menjadi porak poranda seperti terkena badai. Semua habis tak bersisa, tanpa menyisakan satu iblis pun yang hidup. Untuk ketiga kalinya, aku mati. Jujur saja, ini sangat menyakitkan. Bahkan aku harus merasakannya sampai ke yang ke 3 kalinya.