
Keempatnya terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya Need membuka suara, "Sepertinya kejadian yang sekarang sedang terjadi menjadi penyebab kenapa kau tidak bisa mengirim mereka kembali ke dunia manusia.
Kemungkinan terburuk, tidak ada yang bisa keluar dari tempat ini. Bahkan retakan dimensi yang terkadang muncul mungkin menghilang. Kita benar benar tidak bisa keluar dari dunia ini meskipun ingin."
Nevan membalas sambil menatap Need, "Kalau begitu, bagaimana cara kita untuk kembali ke dunia manusia?"
Need mengendelikan bahunya sambil memasang ekspresi tak peduli, "Itu adalah masalah kalian. Bagiku, ini bukanlah masalah. Karena di sini adalah tempat tinggalku."
"Bahkan jika di tempat ini akan terjadi kerusuhan besar, apa kau tetap baik baik saja di sini?" tukas Rafa.
Need meliirk Rafa dengan mata sedikit menyipit sinis, "Apapun yang terjadi pada tanah kelahiranku, aku tetap di sini dan mencoba menyelesaikannya. Karena masalah di dunia iblis, termasuk masalahku. Aku memiliki tanggung jawab untuk menjaganya tetap ada."
Rafa mendengus singkat sebelum ikut menatap Need dengan sinis, "Kalau begitu, maju saja langsung dan temui orang yang sudah membuat masalah ini. Bukankah kau tadi menyebutkan namanya? Temui dia dan bereskan inti masalahnya agar kami bisa kembali. Jangan hanya bicara tanpa bertindak. Kau hanya mengatakan omong kosong."
Need terbelalak ketika mendengar ucapan Rafa. Ia tidak tahu ternyata manusia satu ini bisa mengatakan hal semacam ini. Padahal dia terlihat cukup baik walaupun anak dari Radolf, "Jika aku bisa menyelesaikannya semudah itu, maka sudah aku selesaikan sejak tadi."
Need terdiam sejenak dan melanjutkan, "Aku tidak bisa menemukan dimana Ralt berada walau sebelumnya dia berada di dekatku. Lalu sebaiknya kau tahu, Ralt bukanlah sembarang iblis. Dia bisa melakukan apapun. Jangan meremehkannya atau kau akan mati sia sia."
Rafa mendengus, "Oh ya? Apa aku juga akan berakhir semenyedihkan dirimu jika aku meremehkan iblis itu? Hah, ternyata begitu. Kau memang tidak mampu untuk menyelesaikan masalahnya, tapi kau bersikap seolah tahu segalanya dan bisa menyelesaikan semua persoalan. Aku sudah salah menilaimu.
Kau bukanlah orang yang seperti itu. Kau hanyalah pengecut yang lari dari inti masalah yang terjadi. Kau berkata tidak menemukannya, tapi kau bahkan tidak mencoba mencarinya dengan sungguh sungguh. Kau hanya beralasan tidak menemukannya saja."
Nevan tersentak mendengar kata kata Rafa. Ia tidak pernah mendengar Rafa mengucapkan kata kata yang bisa merendahkan orang lain seperti ini.
Tangan Need seketika terkepal erat ketika mendengar nada meremehkan yang keluar dari mulut Rafa, "Aku sudah mencoba mencarinya, tapi aku memang tidak menemukannya! Kau hanya bisa bicara, kau tidak melakukan apapun, jadi sebaiknya tutup mulutmu rapat rapat sebelum kau tidak bisa menggunakannya lagi."
Rafa tersenyum begitu tipis dengan mata yang terfokus pada Need, "Ah, benarkah? Maaf karena sudah mengingatkanmu dengan perilakumu yang sangat pengecut itu."
Walaupun yang dikatakan Rafa adalah 'maaf', namun nadanya tidak terdengar seperti itu. Bahkan apa yang ia ucapkan malah membuat Need semakin geram.
Rafa keluar dari tempat yang sebelumnya terlukis gambar lambang yang kini telah menghilang sebagian. Ia berjalan mendekati Need dan berdiri di depannya. Ia menunjuk wajahnya sendiri dan berucap, "Kau marah? Pukul saja. Ayo pukul aku. Kau bisa melampiaskannya seperti itu.
Melampiaskan bagaimana tidak berdayanya dirimu dalam menghadapi musuh. Dan... Betapa tidak berdayanya kau dalam menahan sifat penakutmu itu."
__ADS_1
"Rafa?!" Nevan kaget bukan main mendengar pernyataan Rafa yang terdengar menantang. Ia menggeleng tak percaya. Sejak kapan saudaranya itu menjadi suka memancing emosi orang lain?!
Need tidak suka ketika dirinya direndahkan, apalagi diremehkan seperti ini oleh bocah yang bahkan baru lahir kemarin sore. Tangannya sudah terkepal dengan erat dan siap dilayangkan pada wajah Rafa andai tidak ada tangan yang menahan pergelangan tangannya ketika pukulan hampir ia daratkan.
Need melirik ke samping dan tahu jika yang menahannya adalah Radolf. Pria itu berucap dengan serius, "Hentikan ini, Need."
Need dengan segera melepaskan tangannya dari Radolf. Ekspresinya jelas mengandung rasa kekesalan terhadap Rafa, "Hmph! Orang tua dan anak sama saja, suka membuat masalah untuk orang lain."
"Kau juga Rafa, apa yang kau lakukan? Jangan mencari masalah di saat seperti ini," Radolf menatap Rafa dengan tegas. Ini seolah menjadi peringatan darinya untuk pemuda itu.
Rafa berekspresi dengan tenang, "Justru di situasi inilah kita harus membuat masalah. Kita akan pergi ke pohon besar yang dimaksud olehnya terlebih dahulu," ia menunjuk Need dengan tatapan mata.
"Lalu hancurkan pohon itu bagaimanapun caranya."
Need langsung menatap Rafa. Ia tidak habis pikir dengan ucapan yang terlontar itu, "Bagaimana kau bisa mengatakannya seperti itu adalah hal yang mudah?! Pohon itu sangat besar, kita tidak mungkin bisa menghancurkannya!"
"Hanya orang yang mudah menyerah yang mengatakan ucapan itu."
Ucapan Rafa membungkam mulut Need hingga tidak bisa membalas. Rafa pun melanjutkan, "Jika masih tidak bisa, kita harus meminta bantuan pada yang lain. Tadi kau mengatakan jika kau adalah panglima iblis. Berarti seharusnya kau memiliki pasukan, bukan?"
Ditambah lagi, mereka semua menganggap aku berkhianat. Jadi tidak akan ada pasukan manapun di kerajaan yang akan menuruti perintahku."
Radolf ikut menambahkan, "Ayah juga adalah panglima di kerajaan lain. Kerajaan yang dipimpin oleh Leon. Tapi kerajaan itu sudah hancur. Penduduknya tersebar di banyak tempat dan berakhir menjadi budak bagi iblis lain. Untuk pasukannya, mereka berpaling dari Leon dan mengikuti Raja lain."
Ucapan Radolf terdengar sedih dan bersalah ketika mengatakan itu. Ia merasa jika semua ini adalah salahnya. Tapi walau begitu, ia tidak pernah merasa menyesal telah berhubungan dengan manusia sampai sampai ia memiliki Rafa. Sejujurnya, ia merasa beruntung bisa bertemu istrinya hingga memiliki anak seperti ini. Pandangannya tentang dunia seolah menjadi lebih baik karena kehadiran mereka.
Disisi lain, Rafa terkejut ketika nama 'Leon' kembali dibahas, "A-ayah? Apa maksud ayah? Leon? Dipimpin Leon?"
Radolf mengangguk dengan pelan, "Iya, dia adalah 'Tuan' ku. Aku berada di bawah perintahnya dan dia merupakan seorang Raja di salah satu kerajaan yang ada di dunia ini."
Baik Rafa maupun Nevan sama sama tidak menduga hal ini. Mereka terkejut dan tidak tahu bagaimana harus merespon.
Rafa menggumam pelan hingga suaranya tidak terdengar jelas, "Aku tidak mengetahui banyak tentangnya. Bahkan aku tidak tahu hal seperti ini."
__ADS_1
"Jika kita memotong pohon itu, apa kekacauan ini akan selesai? Tidak. Masih ada monster yang menjadi masalah. Walaupun kita berhasil melakukannya, belum tentu keadaan saat ini akan berubah menjadi lebih baik," ucap Need dengan ekspresi serius.
"Kita tidak akan tahu sebelum mencoba," balas Rafa tanpa ekspresi. "Lagi pula, jika mencari orang yang menyebabkan masalah seperti ini dan kita menemukannya, apa masalah di sini akan dia hentikan begitu saja?"
"Setidaknya dia bisa memberitahukan cara agar bisa menghentikannya."
"Itu jika dia mau menjawabmu, bagaimana jika dia menolak?"
"..."
Tidak mendapat balasan apapun dari Need, membuat Rafa kembali buka suara, "Kita akan pergi menuju pohon itu. Lalu selama perjalanan ke sana, ajak sebanyak banyaknya iblis untuk ikut menyerang. Setidaknya kita bisa melakukan sesuatu, dibandingkan hanya meratapi permasalahan."
Rafa tahu, jika hanya memikirkan masalah, maka masalah tidak akan pernah selesai. Harus ada tindakan agar bisa menyelesaikannya.
Nevan menjadi gugup, "R-Rafa? Maksudmu, k-kita? Ayahmu, tukang sapu jalan, kau.. Dan aku?"
Need tiba tiba mengatakan protesan dengan keras, "Hei! Aku memiliki nama! Namaku Need! Sudah kukatakan jika itu hanya pekerjaan sementaraku saat itu!"
Nevan tidak mempedulikan protesan dari iblis itu dan hanya fokus pada Rafa. Ia berharap jika yang ia pikirkan salah. Namun ternyata tidak begitu.
Rafa menjawab, "Iya, kita berempat."
"T-tapi kita kemari hanya untuk mencari ayahmu dan.. Leon.. Tidak ada dalam rencana bila kita akan melakukan hal seperti itu di sini," Nevan menjadi sedikit panik. Ia tahu dunia iblis bukanlah tempat yang baik bagi manusia seperti mereka.
Jika selama perjalanan menuju pohon mereka bertemu banyak iblis dan para iblis itu tahu jika mereka manusia, apa yang akan terjadi? Bukan tidak mungkin mereka akan memangsanya dan Rafa. Lagi pula, memakan jantung manusia bisa membuat iblis bertambah kuat. Di keadaan yang kacau seperti ini, tentunya banyak iblis yang ingin mempertahankan hidupnya dari serangan kupu kupu mematikan itu ataupun dari monster. Dengan bertambah kuat, mereka bisa memperbesar persentase hidup.
Melihat ada hal yang bisa membuat mereka kuat seketika, tentunya bisa membuat iblis menjadi agresif dan semakin ingin memangsa mereka.
Rafa sedikit tahu apa yang menjadi pikiran Nevan saat ini, "Jika kau takut, tidak masalah. Kau bisa diam saja di sini dan tidak perlu ikut. Lagi pula, apa yang kau katakan memang benar. Mencoba melawan masalah yang menimpa dunia iblis bukanlah bagian dari rencana.
Aku tidak akan memaksamu untuk ikut, karena aku juga tahu apa yang akan terjadi kedepannya sangat berbahaya dan bisa menghilangkan nyawa. Aku tidak mau bila kau sampai terluka karena keegoisanku."
Radolf berniat buka suara saat Rafa malah memotong ucapannya dan menatap padanya, "Ayah juga tidak perlu melarangku. Aku tahu jika aku hanyalah manusia dan aku lemah. Aku tidak memiliki banyak pengalaman. Sangat besar kemungkinanku untuk mati, bahkan sebelum sampai di pohon itu berada. Tapi aku memiliki sesuatu yang ingin kucoba dan karena itu, aku ingin ikut.
__ADS_1
Ini juga merupakan hal yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku pada Leon. Kesalahan karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik dan malah membiarkannya pergi begitu saja yang kemudian berakhir pada ketiadaannya."
Radolf tertegun ketika melihat tatapan Rafa yang begitu dingin. Tubuhnya sampai membeku dan tanpa sadar menahan napas. Tatapan anaknya benar benar mirip dengan seseorang! Bahkan ia tanpa ragu akan menganggapnya adalah orang itu, andai ia tidak ingat jika yang di hadapannya adalah anaknya sendiri.